NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Paris Milik Orang-Orang yang Terlupakan

Gang di belakang toko buku itu sempit.

Saking sempitnya...

Kalau dua orang bertubuh besar berpapasan, salah satunya harus mengalah.

Aku berjalan paling depan.

Topi lusuh menutupi sebagian wajahku.

Tanganku masuk ke saku jaket.

Langkahku otomatis melambat.

Bukan karena lelah.

Tapi karena...

Inilah dunia yang paling kukenal.

"Lewat sini."

kataku pelan.

Henri, Marcel, Léo, Camille, dan Étienne mengikutiku tanpa banyak bicara.

Aku belok ke kanan.

Lalu kiri.

Masuk ke lorong yang bahkan tidak memiliki nama.

Dinding-dindingnya dipenuhi mural warna-warni.

Ada gambar musisi.

Ada gambar anak kecil sedang memegang balon.

Ada pula gambar seekor rubah hitam yang dicoret dengan cat putih.

Aku berhenti sebentar.

"Mural ini baru."

gumamku.

Henri mendekat.

"Kau mengenalnya?"

Aku mengangguk.

"Dulu gambar rubah itu tidak ada."

"Yang menggambar..."

"...sedang mengirim pesan."

"Pesan apa?"

Aku menunjuk cat putih yang menutupi wajah rubah.

"Ada yang mulai melawan."

── Maël kepada kalian ──

Turis biasanya melihat Paris dari Menara Eiffel.

Aku?

Aku melihat Paris dari belakang tempat sampah.

Aneh memang.

Tapi justru dari sana...

Aku belajar bahwa kota ini punya dua wajah.

Yang satu dijual dalam kartu pos.

Yang satunya lagi...

Tidak pernah dipotret.

── Kembali ke cerita ──

Kami terus berjalan.

Beberapa orang mulai mengenaliku.

Seorang pria tua yang sedang memperbaiki sepeda mengangkat tangannya.

"Bonjour, Maël."

"Bonjour, Monsieur René."

"Masih hidup?"

"Masih."

"Bagus."

Aku melanjutkan langkah.

Léo mendekat.

"Semua orang kenal kau?"

Aku mengangguk.

"Aku tumbuh di sini."

"Kalau kau lapar..."

"...orang-orang akan memberimu roti."

"Kalau kau sakit..."

"...ada yang diam-diam memberikan obat."

"Kalau kau membuat masalah..."

"...mereka juga yang pertama memarahimu."

Léo tersenyum.

"Jadi..."

"...kau sebenarnya punya keluarga."

Aku diam.

Belum pernah kupikirkan seperti itu.

Mungkin...

Benar.

Bukan keluarga yang terikat darah.

Tetapi orang-orang yang sama-sama bertahan hidup.

Kami tiba di sebuah lapangan kecil.

Di tengahnya terdapat air mancur tua yang sudah lama tidak mengalir.

Beberapa anak sedang bermain bola menggunakan kaleng bekas.

Melihatku datang...

Mereka langsung berteriak.

"MAËL!"

"Eh! Kak Maël!"

"Katanya kau ditangkap polisi!"

Aku tertawa.

"Polisinya capek ngejar."

Anak-anak itu langsung tertawa.

Seorang bocah perempuan berlari menghampiriku.

Usianya mungkin delapan tahun.

Rambutnya dikepang asal.

Wajahnya penuh noda tepung.

"Kak."

"Iya?"

"Aku menang."

"Menang apa?"

"Aku berhasil jual dua puluh bunga hari ini."

"Wah."

Aku mengacak rambutnya.

"Hebat."

Ia tersenyum bangga.

"Jadi malam ini aku bisa makan ayam."

Aku menoleh kepada Henri.

Pelan.

"Namanya Chloé."

"Orang tuanya meninggal musim dingin lalu."

"Sekarang dia tinggal di sini."

Henri memandangi anak-anak itu cukup lama.

Sorot matanya berubah.

Sedih.

Sangat sedih.

"Maël!"

Suara lain memanggil.

Aku menoleh.

Seorang pria bertubuh besar keluar dari bengkel tua.

Lengannya penuh tato.

Janggutnya lebat.

Namun senyumnya hangat.

"Akhirnya muncul juga."

Ia langsung memelukku sampai hampir tidak bisa bernapas.

"Pierre..."

gumamku.

"Aku belum mati."

"Syukurlah."

Pierre melepaskan pelukannya.

Lalu melihat orang-orang di belakangku.

"Teman?"

Aku mengangguk.

"Untuk sementara."

Pierre tertawa keras.

"Itu jawaban paling Maël yang pernah kudengar."

── Maël kepada kalian ──

Namanya Pierre.

Dulu katanya petinju.

Sekarang lebih sering memperbaiki sepeda.

Kalau kalian lihat badannya...

Kalian bakal mengira dia makan batu setiap pagi.

Padahal...

Dia paling takut sama kucing.

Jangan tanya kenapa.

Aku juga tidak tahu.

── Kembali ke cerita ──

Pierre membawa kami masuk ke bengkelnya.

Di dalam ternyata jauh lebih luas.

Sepeda tua bergelantungan di langit-langit.

Peralatan memenuhi meja.

Namun...

Di balik lemari besi terdapat sebuah ruangan lain.

Aku tersenyum.

"Masih ada?"

Pierre mengangguk.

"Tentu."

"Kau pikir aku membongkarnya?"

Henri mengamati ruangan itu.

"Kau menyembunyikan orang di sini?"

Pierre mengangkat bahu.

"Kadang."

"Berapa banyak?"

"Kalau musim dingin..."

"...sekitar tiga puluh anak."

Camille menatap Pierre dengan kagum.

"Kau melakukan semua ini sendiri?"

Pierre menggeleng.

"Tidak."

Ia menunjuk ke luar jendela.

"Semua orang di lingkungan ini ikut membantu."

"Si tukang roti menyumbang roti."

"Pemilik laundry mencuci pakaian."

"Pemilik apotek memberi obat kedaluwarsa yang masih layak."

"Orang-orang di sini miskin."

"Tapi..."

"...tidak pernah pelit."

Aku tersenyum.

"Makanya aku betah."

Saat kami sedang berbicara...

Seorang anak laki-laki berlari masuk sambil terengah-engah.

"Pierre!"

"Ada apa?"

"Orang-orang itu datang lagi!"

Ruangan langsung hening.

Pierre berubah serius.

"Berapa orang?"

"Lima."

"Mobil hitam."

"Mereka muter-muter dari tadi."

Aku langsung berdiri.

"Léo."

"Iya?"

"Matikan lampu depan."

Pierre mengangguk.

"Kalian semua."

"Masuk ke belakang."

Anak-anak bergerak sangat cepat.

Tidak ada yang panik.

Tidak ada yang menangis.

Seolah mereka sudah terbiasa menghadapi keadaan seperti ini.

Henri memperhatikan semuanya.

"Anak-anak ini..."

"...terlatih."

Aku menjawab pelan.

"Bukan."

"Mereka hanya terlalu sering ketakutan."

Kalimat itu membuat semua orang terdiam.

Beberapa menit kemudian...

Suara mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan bengkel.

Ciiit...

Pintu mobil dibuka.

Langkah kaki.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lima orang.

Pierre memegang sebuah kunci inggris besar.

Aku mengambil ketapel dari saku belakangku.

Léo menatapku.

"Kau serius?"

"Apa?"

"Itu senjatamu?"

"Aku jago."

Henri hampir tersenyum.

"Kadang..."

"...senjata paling sederhana justru paling berguna."

Tok. Tok. Tok.

Seseorang mengetuk pintu bengkel.

Pierre membuka sedikit.

"Ada yang bisa kubantu?"

Pria di luar memakai jas hitam.

Senyumnya ramah.

Terlalu ramah.

"Kami sedang mencari seorang anak."

Pierre mengangguk.

"Di Paris ada banyak anak."

"Namanya Maël."

Pierre berpikir beberapa detik.

"Oh."

"Aku kenal."

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Léo menoleh panik.

Henri mengangkat revolver.

Namun Pierre tetap tersenyum santai.

"Maël..."

"...masih punya utang dua baguette sama aku."

Aku spontan menutup mulut agar tidak tertawa.

Pria itu tampak kesal.

"Kami serius."

Pierre ikut mengangguk.

"Aku juga."

"Kalau ketemu suruh dia bayar dulu."

Pintu langsung ditutup.

Brak!

Beberapa detik hening.

Lalu...

Kami semua tertawa pelan.

Bahkan Henri.

Namun tawa itu tidak berlangsung lama.

Karena terdengar suara seseorang dari luar berkata,

"Kalau begitu..."

"...bakar saja bengkelnya."

Tawa kami langsung menghilang.

Aku membeku.

Pierre juga.

Anak-anak di ruangan belakang saling berpelukan.

Lalu...

Terdengar suara bensin disiramkan ke pintu kayu.

Aku mengepalkan tangan.

Dadaku dipenuhi amarah.

Mereka bukan lagi mengejarku.

Mereka mulai mengincar siapa pun yang membantuku.

Aku menoleh kepada Henri.

"Selama ini aku terus lari."

kataku pelan.

"Tapi..."

"...kalau mereka mulai menyakiti orang-orangku..."

Aku mengambil ketapelku.

Lalu memasukkan sebuah mur besi ke dalam karetnya.

Sorot mataku tidak lagi dipenuhi kebingungan.

Hanya satu hal yang tersisa.

Keinginan untuk melawan.

"Mulai hari ini..."

"...aku tidak akan lari sendirian."

Api mulai menyala di depan pintu bengkel.

Dan untuk pertama kalinya...

Paris yang selama ini hanya menjadi tempatku bertahan hidup...

Kini berubah menjadi tempat yang harus kulindungi.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!