Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Berbeda
*
*
*
Hangat.
Itu yang selalu Qistina rasakan setiap kali bibir suaminya menyentuh kening.
Ia masih memejamkan mata, ketika kecupan itu mendarat begitu lembut, seolah menjadi alarm favorit Qistina setiap pagi.
"Sayang ... Mas berangkat ya ..."
Qistina membuka mata perlahan. Setelah menunaikan sholat subuh biasanya ia langsung menyiapkan sarapan. Namun beberapa hari ini, ia sering merasa kelelahan. Karna itu, pagi ini ia masih terbaring di tempat tidur.
Albie sudah berdiri di sampingnya dengan jas dokter membungkus tubuh yang selalu rapi. Stetoskop menggantung di lehernya, sementara jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan kirinya menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
Qistina tersenyum kecil. "Suami aku udah ganteng." ucapnya sambil beringsut bangkit. Tangannya mengusap dahinya sekilas.
Sudut bibir Albie ikut terangkat. "Senangnya, pagi-pagi sudah dirayu begini."
Pria beralis tebal dengan hidung lurus dan bermata gelap yang selalu tampak fokus itu selalu membuat Qistina sulit mengalihkan pandangan.
"Iya, biar semangat operasinya." Qistina mengalungkan tangan di leher suaminya. Suaranya terdengar sangat manja.
Di pernikahan yang hampir menginjak tahun kedua, kehidupan mereka begitu sempurna. Terlebih dengan kehadiran seorang bayi perempuan berusia tiga bulan yang semakin melengkapi kebahagiaan keduanya.
Albie tertawa pelan, lalu mengusap pipi istrinya menggunakan punggung jari. Sentuhan yang selalu berhasil membuat Qistina merasa tenang. "Kamu istirahat aja kalau masih capek. Nggak usah anterin Mas sampe pintu."
Qistina menggeleng. Kemudian berdiri. Bibirnya ia kerucutkan. Persis anak kecil yang lagi ngambek. "Nggak, aku harus anterin Mas, sampe depan pintu."
Albie menggeleng sambil terkekeh. Menjawil hidung bangir sang istri. "Istri Mas, susah banget sih nurutnya."
"Biarin." Qistina mengerling, tangannya sudah terselip di siku Albie. Menggelayut dengan dagu menempel di bahu. "Soalnya, suami aku ini suka lupa sama Istri kalau sudah pegang pisau bedah. Jadi setiap berangkat ke rumah sakit, harus di-ingatkan kalau ada istri yang selalu menunggu kepulangannya."
"Dih ... Siapa bilang Mas lupa sama Istri." Albie langsung menyanggah. "Mas itu, akan selalu ingat kalau istri Mas ini adalah satu-satunya yang jadi prioritas."
"Masa?"
"Buktiin aja, kalo nggak percaya."
Qistina manggut-manggut. Bagaimana tidak percaya, kalau selama ini apa yang Albie katakan selalu selaras dengan perbuatan.
"Tapi bener ya, nanti pulangnya jangan telat."
"Mas 'kan kalo pulang telat juga ngabarin."
"Iya, ngabarin." Qistina memutar tubuhnya tepat dihadapan Albie. "Tapi kan ... tetap terlambat namanya."
Albie mengusap puncak kepala istrinya, senyumnya selalu hangat. "Kenapa sih, bawel banget hari ini? Apa mau ikut aja, nemenin di rumah sakit?"
"Nggak ah ..." Qistina menggeleng, lantas ia mengambilkan tas hitam yang biasa Albie bawa. "Cuma ... Lagi mau manja aja." ucapnya sambil nyengir.
Albie tersenyum mendengarnya.
Walau bagi sebagian orang, Albie terkenal dengan pria yang kaku dan membosankan—Awal-awal kenal dulu Qistina juga menganggap begitu. Tapi setelah pernikahan mereka berjalan, seiring waktu anggapan Qistina tentangnya ternyata salah.
Albie adalah pria yang bertanggung jawab, memiliki komitmen dan selalu menghargai sebuah ikatan pernikahan. Sejauh perjalanan pernikahan mereka, Albie tidak pernah sekalipun melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami.
Sampai di depan pintu.
Putri kecil yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista, sedang berada di gendongan Rani—baby sitter.
Tangan Albie terangkat, mengelus pipi Eloise dengan lembut. "Papi berangkat ya..." ucapnya pada bayi mungil itu.
Kemudian beralih lagi pada sang istri. Ia raih tangan Qistina, mengecup punggungnya singkat sebelum kembali mencium keningnya.
"Mas berangkat ya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Qistina mengangguk, tangannya melambai pelan. Ia pandangi punggung suaminya sampai menjauh.
Mobil hitam yang dikendarai Albie perlahan keluar dari halaman. Seperti biasa, ia baru masuk kedalam rumah setelah mobil itu benar-benar menghilang di tikungan.
Rumah mendadak sunyi.
Qistina menarik napas panjang. Baru beberapa langkah menuju ruang tamu, kepalanya terasa seperti di tarik sesuatu dari dalam.
Ia spontan berhenti. Ujung jarinya menekan pelipis. Nyeri itu datang perlahan, lalu memukul lebih keras. Qistina memejamkan mata.
"Ibu nggak apa-apa?"
Rani yang berjalan di belakangnya ikut berhenti. Memperhatikan.
Qistina menggeleng. "Agak pusing sih, sepertinya memang harus beristirahat."
Sudah beberapa hari ini rasa seperti itu sering muncul. Awalnya hanya sebentar, lalu hilang sendiri. Qistina pikir hanya karna demam yang membuat tubuhnya tumbang dua hari terakhir.
Ia memilih beristirahat dan tidak memberitahu Albie soal pusing ini. "Nanti juga hilang kalau dibawa istirahat." Batinnya.
Hari ini badannya memang sudah jauh lebih ringan. Tidak demam lagi. Hanya saja, kenapa kepalanya terasa semakin berat.
Qistina menjatuhkan tubuh ke sofa. Punggungnya bersandar lemah. Kelopak matanya ikut terpejam.
"Apa karna aku kurang tidur ya?"
Ia mencoba mengatur napas. Namun denyutan itu justru semakin menjadi. Seakan memukul-mukul bagian dalam kepalanya menggunakan palu.
Ia meringis. Ada sesuatu yang hangat, mengalir melewati bibirnya. Qistina mengernyit. Refleks mengusap ujung hidung. Saat ia melihat jemarinya, ia terpaku.
"Darah?"
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Ia buru-buru meraih kotak tisu di atas meja. Satu lembar ia tempelkan ke hidung.
Belum sempat menarik napas lega, cairan hangat itu kembali merembes. Semakin deras membasahi tisu di tangannya.
Ia menarik lembar tisu lagi, lalu mengantinya lagi. Tangannya mulai gemetar. "Kenapa nggak berhenti?"
Ia berdiri, meski langkahnya sedikit goyah menuju kamar mandi lantai bawah. Berniat membasuh wajah, siapa tahu darahnya bisa berhenti.
Baru dua langkah, lantai di depannya seakan bergelombang. Ia berhenti. Dinding di kanan kiri, perlahan berputar.
Pandangannya seperti tertutup kabut putih. Qistina menggelengkan kepala. "Kenapa pandangan aku kabur begini?'
Tangannya meraba-raba dinding mencari pegangan. Namun jemarinya hanya menyentuh udara kosong. Suara detak jam di ruang tamu terdengar semakin jauh.
Darah masih menetes dari hidungnya. Menitik kelantai.
Ia mencoba memanggil seseorang.
"Bik Sarti ... Ran ... Rani ..."
Kabut tipis yang tadi menutupi pandangannya, kini berganti dengan bulatan-bulatan hitam, yang semakin lama semakin banyak.
Semakin gelap.
Lututnya tak lagi sanggup menompang tubuh.
Brugh!
Tubuhnya terhempas kelantai dingin kamar mandi. Pipi kanannya menyentuh keramik yang terasa dingin dan menusuk.
Pandangannya tinggal menyisakan seberkas cahaya dari pintu yang terbuka.
"Ya ... Allah ... Ibuk..."
"Ran ... Rani... cepat panggil Hilman. Ibuk pingsan di kamar mandi."
Suara Bik Sarti—ART yang selama ini bekerja di rumah Qistina, terdengar berteriak panik. Menggema di seluruh ruangan.
Langkah kaki berlarian memenuhi rumah. Qistina masih bisa merasakan, seseorang mengguncang bahunya.
Seseorang memanggil namanya berkali-kali.
Namun bibirnya tak lagi mampu menjawab.
Hanya suara itu yang Qistina dengar. Lalu semuanya benar-benar gelap. Dan suara-suara lainnya seolah datang dari tempat yang jauh. Kemudian sunyi. Dan tak ada lagi yang bisa Qistina rasakan.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔