Seorang gadis berusia menjelang 16 tahun, tinggal dan tumbuh di gunung sejak usianya 3 tahun. Tinggal bersama sng kakek, setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan.
Qaisara Aulia Syahrizky, gadis yang memiliki 2 sahabat makhluk tak kasat mata. Memiliki banyak keahlian, menyembunyikan identitasnya.
Happy Reading All🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan pada Tuan Besar
"Teman... Aulia?" tanya bu Ulfa, dengan wajah berbinar
"Iya tante, kami teman-temannya Aulia. Saya Dhira" jawab Dhira, sembari mengikuti Aulia. Mencium punggung tangan bu Ulfa, di susul kedua pria di belakangnya.
'Alhamdulillah, non Lia mau membuka hati. Tuan besar harus tau hal ini..' ucap bu Ulfa dalam hati
"Bapak di belakang bu?" tanya Aulia
"Iya, bapak ngawasin yang bikin rumah pohon. Ayo duduk, ibu bikinin minum sama ambilin cemilan ya. Kebetulan, ibu bikin rainbow cake kesukaan Lia." jawab bu Ulfa, seraya ke berbalik ke belakang.
"BUUU... KITA BELAJAR DI DEPAN AJA, DI GAZEBO" teriak Aulia, yang di iyakan oleh bu Ulfa.
"Kalian ke depan aja, gue ganti baju dulu. Dhir, lu mau ganti baju juga?" ucap Aulia, seraya bertanya pada Dhira.
"Emang boleh?" tanya Dhira tak percaya, dia bakalan pake baju idolanya. Ini bukan mimpi kan?
"Kenapa ga? Masih ada baju yang belum gue pake kok, tenang aja." tanya Aulia balik
"Baju bekas lo pake juga, ga masalah kok." jawab Dhira, yang langsung memeluk lengan Aulia. Aulia tertawa kecil, sepertinya ia nyaman dengan Dhira. Keduanya pergi ke kamar Aulia, sedangkan para pria pergi ke gazebo yang di maksud Aulia.
.
"Lia.. kamar lo... simple banget ya? Warnanya juga, cuma putih? Polos juga?" tanya Dhira, saat masuk ke kamar Aulia.
"Gue ga suka kamar terlalu rame" jawab Aulia, seraya mengambil baju ganti. Dia mengambil celana panjang, juga kaos untuk Dhira.
"Lu ganti pake ini" ucap Aulia, seraya memberikan sepasang baju pada Dhira. Dhira menerima bajunya, seraya mengangguk pelan.
Kamar Aulia, hanya ada ranjang, lemari baju besar. Besarnya, sebesar dinding kamar. Meja belajar, lemari buku kecil di sebelah kiri meja. Juga kulkas kecil, di samping kanan meja. Tak ada tempelan apapun di dinding, benar-benar polos.
"Gue ganti di kamar mandi ya" ucap Dhira, Aulia mengangguk dan membuka seragamnya.
'Cieeee... punya temen manusia juga kamu, Lia.' ucap Kia tiba-tiba
"Masalah?" tanya Aulia
'Ga sih, cuma ga nyangka aja secepet ini.' jawab Kia, ia duduk di ranjang.
"Mereka ga ribet, Dhira juga anaknya ceria. Ya... walau keliatan, masih kekanak-kanakan. Tapi anak itu polos dan jujur, gue suka." ucap Aulia, Kia mengangguk setuju.
'Baguslah... akhirnya kamu buka hati, setidaknya harapan kakek tercapai.' balas Kia, membuat Aulia berhenti bergerak.
Ia baru ingat, bila hari ini belum menghubungi sang kakek.
'Nanti malam saja' ucapnya dalam hati, seraya kembali memakai baju
Ceklek
"Udah?" tanya Aulia, Dhira mengangguk. Ia melihat ke sekitar, tak ada siapa-siapa. Tapi... tadi ia seperti mendengar Aulia berbincang dengan seseorang, atau hanya salah dengar?
"Masukin seragam lu ke sini" Aulia memberikan satu paper bag pada Dhira, Dhira menerimanya dan memasukkan seragamnya. Kia tertawa, melihat ekspresi wajah teman baru Aulia. Dia tau, apa yang ada dalam pikiran Dhira.
'Aku ke belakang ya' Aulia mengangguk, Kia pun menghilang
"Ayo, kita susul yang lain" ajak Aulia, Dhira tersenyum dan menggandeng Aulia.
.
Sedangkan di dapur...
"Tuan besar, nona muda membawa teman-temannya ke rumah." lapor bu Ulfa, seraya menyiapkan minuman dan menata kue buatannya.
'Benarkah? Cucuku sudah punya teman?' tanya kakek Pamir, suaranya terdengar bersemangat
"Serius tuan besar, 1 anak perempuan dan 2 anak lelaki. Sepertinya mereka mau mengerjakan sesuatu, nona muda juga terlihat nyaman bersama mereka." jawab ibu Ulfa
'Alhamdulillah, syukurlah... syukurlah... akhirnya ia mempunya teman manusia. Semoga mereka tulus berteman dengan Aulia.' ucap kakek Pamir
"Aamiin tuan besar"
'Ulfa, kirim vidio mereka. Aku akan mencari tau, latar belakang keluarga ketiga teman Aulia.' pinta kakek Pamir
"Baik tuan besar, kalau begitu saya tutup dulu panggilan ini. Assalamu'alaikum"
'Wa'alaikum salam'
Setelah selesai, ibu Ulfa segera keluar dengan membawa nampan.
.
"Jadi mau gimana yel-yel nya?" tanya Arkan
"Mana gue tau, gue ga pernah bikin yang kek beginian." jawab Aulia, keduanya menatap Danish dan Dhira. Kedua orang itu cukup absurd, pasti memiliki ide.
"Kenapa liatin kita kek gitu?" tanya Danish bingung
"Kalian pasti punya ide kan?" tanya Aulia, Danish menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aulia mengambil gelasnya, menyeruput minumannya.
"Mang nama kelompok kita apa sih?" tanya Danish, yang belum tau
"Pasukan Santuy, power ranger." jawab Dhira tersenyum
"HAH?!" teriak Danish
BRUSH
"UHUK" Aulia terbatuk, setelah ia menyemburkan isi mulutnya.
"Bjir lah Li, muka gue..." ucap Danish
"Sorry... sorry... ga sengaja Dan, serius" balas Aulia, ia mengambil tisu dan melap wajah Danish. Sedangkan Dhira, ia tertawa terbahak. Menurutnya, adegan di depan nya ini sangatlah menghibur. Arkan hanya menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka kelompoknya akan seseru ini.
"Ini... serius? Nama kelompok kita Pasukan santuy, power ranger?" tanya Aulia, Dhira dan Arkan mengangguk. Aulia dan yang lain, serempak melihat Danish.
"Lu kenapa?" tanya Aulia, melihat Danish menempelkan jari telunjuk ke keningnya.
"Gue ngedadak berpikir, jangan-jangan selama ini gue itu power ranger merah." jawab Danish, dengan wajah serius. Dhira kembali tertawa, memang sereceh itu. Tapi tidak di rumahnya, Dhira selalu menjaga diri. Karena aturan keluarga, yang membuatnya merasa tertekan. Hanya bersama Arkan, ia bisa merasa nyaman mengekpresikan diri. Dan sekarang, ia mempunyai teman baru yang membuatnya nyaman.
"Ck, jangan ngaco lu ah." ucap Aulia, seraya mengusap wajah Danish
"Lu mah ngerusak khayalan gue, biarin aja ngapa Li." balas Danish
"Jadi gimana ini yel-yel nya? Nyerah gue mah, kalo di suruh bikin beginian." ucap Aulia, ia turun dari gazebo. Karena melihat ada buah rambutan, yang sudah matang.
Ketiga orang di gazebo, menatap Aulia tanpa berkedip. Melihat dengan mudahnya, Aulia naik pohon. Tiba-tiba sudah nangkring, di salah satu dahan. Dan sekarang dengan santainya, Aulia memetik dan mengumpulkan rambutan di bajunya.
HUP
"Makan rambutan dulu, biar otaknya encer." ucap Aulia, dengan wajah biasa saja. Tanpa melihat ekspresi wajah teman-temannya, yang kini tengah terbengong-bengong.
"Gue pasti salah liat" gumam Dhira
"Kayanya tadi ada monyet naek, apa siluman monyet?" tanya Danish, pada dirinya sendiri
"Itu pasti cuma ilusi" ucap Arkan
Mendengar ucapan teman-temannya, membuat Aulia menatap mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Aulia, serempak ketiganya menggelengkan kepala. Danish tersenyum, ia mengambil satu buah rambutan. Begitu juga dengan Dhira dan Arkan, ketiganya mengusap dan memakan buah rambutan secara bersamaan.
"MANIS" ucap ketiganya
"Iya kan? Gue juga ngerasa gitu, makan makan. Baru deh mikir lagi, tugas yang aneh. Harus bikin yel-yel, ck ck" ucap Aulia
"Gue bikin name tag aja dulu deh, kalian kirim foto kalian. Biar gue bikinin sekalian, gue ga mau mikir bikin yel-yel." ucap Aulia lagi
"Oh iya, kita bikin grup chat aja kalo gitu. Nama grup nya... Circle of Trust, gimana?" saran Dhira
"Oke" jawab Danish dan Arkan, Aulia mengangguk saja. Senyuman Dhira melebar, karena sarannya tak di tolak. Gegas dia membuat grup chat, Circle of Trust. Dhira, Arkan dan Danish mengirimkan foto yang ada di galery mereka.
...****************...
Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....
lanjuttttt yg bykkkk🤭😄💪