Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
Malam harinya, kenyataan menghantam Naya jauh lebih keras daripada saat prosesi ijab kabul pagi tadi.
Dua buah koper besar berwarna merah marun milik Naya sudah berdiri tegak di sudut kamar lantai dua kediaman keluarga Pradipta. Kamar itu berukuran cukup luas dengan nuansa abu-abu dan putih maskulin, dilengkapi sebuah tempat tidur ukuran king size berdandankan sprei biru gelap yang sangat rapi. Di sudut lain terdapat meja belajar kayu minimalis yang bersih dari debu, lengkap dengan rak buku yang dipenuhi buku-buku pelajaran, ensiklopedia, dan map-map OSIS yang tertata sangat presisi berdasarkan abjad dan warna.
Ini murni kamar Arka. Dan sekarang, ini juga menjadi kamar Naya.
"Naya, Tante—eh, Ibu sudah minta pelayan rapikan lemari sebelah kanan buat pakaian kamu, ya," ujar Tante Elena ramah seraya menyandarkan kepalanya di ambang pintu kamar. Wajah wanita anggun itu memancarkan binar bahagia yang tak bisa disembunyikan. "Kalian beres-beres dulu. Kalau butuh apa-apa, panggil Ibu di bawah. Arka, bantu istri kamu."
"Iya, Bu," sahut Arka singkat dari tepi tempat tidur.
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki Tante Elena memudar menuruni tangga, atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu mendadak menjadi sesak dan dipenuhi rasa canggung yang luar biasa tebal.
Naya berdiri kaku di tengah ruangan, masih mengenakan celana kulot dan kaus oblong longgar. Tangannya meremas tali koper kuat-kuat, matanya menyapu sekeliling kamar dengan pandangan waspada, seolah-olah tempat tidur di hadapannya bisa mendadak berubah menjadi perangkap buaya.
"Kenapa cuma ada satu tempat tidur?!" sembur Naya tiba-tiba, suaranya ditahan sedemikian rupa agar tidak terdengar sampai luar. "Tante Elena tadi bilang kamar kita bersebelahan! Kenapa koper gue malah ditaruh di dalam kamar lo?!"
Arka tidak langsung menjawab. Laki-laki itu menghela napas pendek, lalu berdiri dan berjalan menghampiri meja belajarnya. Ia mengambil sebuah buku catatan bergaris dan pulpen hitam.
"Rumah ini memang punya banyak kamar guest house di lantai bawah, tapi Mama sengaja ngunci semuanya," terang Arka tenang, memutar tubuhnya menghadap Naya. "Kata Mama, pengantin baru tidak boleh tidur berpisah kamar. Kalau kamu maksa tidur di luar atau di sofa ruang tamu, Mama pasti curiga dan masalah kita bakal makin panjang."
"Tapi gue nggak mau tidur sekamar sama lo!" jerit Naya frustrasi, memegangi kepalanya yang mendadak pening. "Gue nggak sudi satu ruangan sama cowok, apalagi cowok itu lo!"
"Naya, tolong pakai logika kamu," potong Arka dengan nada bicara yang teramat datar dan rasional—tipikal Arka yang paling dibenci Naya. "Saya juga tidak berniat tidur satu kasur sama kamu. Kamu pikir saya sudi tidur di samping cewek yang kalau tidur suka menendang-nendang sprei?"
Naya membelalakkan matanya. "Lo tahu darimana gue suka nendang sprei?!"
"Ibu kamu yang cerita ke Mama tadi siang waktu syukuran," jawab Arka tanpa dosa, membuat wajah Naya mendadak merah padam karena malu. "Jadi, daripada kita berdebat tidak berguna sampai subuh, lebih baik kita buat aturan rumah tangga di kamar ini sekarang juga."
Arka membuka buku catatannya, menekan cetakan pulpennya hingga berbunyi klik, lalu menatap Naya lurus-lurus.
"Aturan pertama," kata Arka tegas. "Area tempat tidur dibagi dua secara rata. Garis imajiner tepat di tengah-tengah. Kamu di sisi kiri dekat jendela, saya di sisi kanan dekat pintu. Barang siapa yang anggota tubuhnya melewati garis batas saat tidur, wajib mencuci piring bekas makan malam seluruh rumah selama tiga hari berturut-turut."
Naya mengerutkan keningnya, melipat kedua tangannya di dada. "Oke! Fair! Tapi gue punya aturan tambahan!"
"Apa?"
"Aturan kedua!" Naya melangkah mendekat, menunjuk wajah Arka dengan jari telunjuknya. "Lo dilarang keras ganti baju di dalam kamar ini kalau ada gue! Lo harus ganti baju di kamar mandi! Dan dilarang keras jalan-jalan cuma pakai handuk atau telanjang dada!"
Ujung alis Arka terangkat sedikit. "Kamu pikir saya punya kebiasaan tidak sopan seperti itu? Saya selalu berpakaian rapi, Naya."
"Bagus kalau sadar!" cetus Naya tak mau kalah. "Aturan ketiga! Jadwal kamar mandi pagi. Gue sekolah butuh waktu dandan dan siap-siap minimal empat puluh lima menit. Jadi gue pakai kamar mandi jam enam kurang seperempat, lo jam lima!"
Arka mendengus pelan, jemarinya lincah menuliskan poin-poin tersebut di atas kertas. "Setuju. Tapi dengan syarat: aturan keempat, semua perlengkapan mandi dan skincare kamu tidak boleh berserakan di atas wastafel. Saya benci melihat botol-botol kosmetik menumpuk tidak rapi."
"Bawel banget sih lo! Itu kan tempat mandi, bukan museum!" omel Naya. "Aturan kelima! Di depan orang tua lo, kita pura-pura akur secukupnya aja. Jangan kelewatan sok mesra. Kalau lo berani pegang-pegang tangan gue atau manggil gue pakai sebutan aneh-aneh kayak 'Sayang' atau 'Istriku', gue jamin telinga lo bakal gue gigit sampai putus!"
Arka menghentikan coretan pulpennya, mendongak menatap Naya dengan pandangan aneh seolah-olah Naya baru saja menyebutkan kalimat dari bahasa planet lain.
"Manggil kamu 'Sayang'?" gumam Arka, sebuah tawa samar yang terkesan mengejek kembali muncul di sudut bibirnya. "Jangan bermimpi terlalu tinggi, Naya. Memikirkan kata itu diucapkan buat kamu saja sudah bikin tenggorokan saya gatal."
"Arka Pradipta!" pekik Naya menahan geram.
"Aturan terakhir dari saya," potong Arka cepat sebelum Naya sempat mengamuk. "Aturan keenam. Pekerjaan rumah tangga dibagi adil. Saya yang menyapu dan merapikan kamar, kamu yang mengepel dan membuang sampah setiap sore. Jam belajar saya dari jam delapan sampai jam sepuluh malam. Selama jam itu, kamu dilarang menyalakan musik keras-keras atau menelepon Saskia sambil teriak-teriak."
Arka membalikkan buku catatan itu ke arah Naya, menyodorkan pulpennya. "Tanda tangan di bawah sini. Ini Rules of the House kita."
Naya menyambar pulpen itu kasar, membaca enam poin aturan yang tertulis dengan sangat rapi di sana, lalu membubuhkan tanda tangannya yang berukuran besar dengan luapan emosi.
"Selesai!" sahut Naya melemparkan pulpen itu ke dada Arka yang dengan sigap ditangkap oleh laki-laki itu. "Sekarang gue mau mandi dan bongkar koper. Awas lo kalau berani lirik-lirik!"
Naya menyambar handuk dan baju tidurnya dari dalam koper, lalu berjalan menghentakkan kaki masuk ke dalam kamar mandi dalam dan membanting pintunya keras-keras.
Arka menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu dengan helaan napas panjang. Ia melipat kertas aturan tersebut dan meletakkannya di atas meja belajar.
Namun, daftar aturan yang mereka susun dengan sangat serius itu terbukti tidak bertahan bahkan untuk durasi dua puluh empat jam pertama.
Satu jam kemudian, perang kecil resmi pecah.
Masalahnya sepele: bantal guling.
"Naya, ini guling punya saya!" protes Arka tegas, menunjuk guling berunsur kain abu-abu yang kini dipeluk erat oleh Naya di dalam selimut sisi kiri tempat tidur.
Naya yang sudah merebahkan tubuhnya hanya menyisakan matanya yang menatap Arka galak dari balik selimut. "Di kamar ini cuma ada dua guling! Masa gue cuma dapat bantal tipis begini?! Gue nggak bisa tidur kalau nggak meluk guling!"
"Tapi itu guling kesayangan saya yang biasa dipakai!" balasan Arka mulai kehilangan kesabaran tenangnya. "Di dalam lemari masih ada bantal cadangan, kamu bisa pakai itu!"
"Nggak mau! Bantal di lemari itu keras kayak batu bata!" keluh Naya, makin mengeratkan pelukannya pada guling tersebut. "Lagian lo kan cowok! Masa masalah guling aja pelit banget sih?!"
"Ini bukan soal pelit, ini soal batas wilayah dan barang pribadi yang ada di aturan nomor tiga!" tegas Arka, melangkah mendekati tepi tempat tidur dan mencoba menarik ujung guling tersebut.
"Lepasin nggak!" Naya ikut menarik guling itu ke arahnya.
"Kamu yang lepasin, Naya!"
"Nggak sudi!"
Terjadilah aksi tarik-menarik guling yang sangat sengit di atas tempat tidur berukuran king size itu. Naya mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan tawa campur kesal, sementara Arka yang biasanya selalu bersikap elegan kini terpaksa menarik guling itu dengan wajah memerah menahan gemas.
Klek.
Tiba-tiba, gagang pintu kamar bergerak turun. Pintu kamar terbuka sedikit.
"Arka? Naya? Kok berisik banget... kalian belum tidur—" Suara Tante Elena terdengar dari ambang pintu yang terbuka sedikit.
Seketika itu juga, panik melanda Naya dan Arka.
Dalam gerakan refleks tanpa pikir panjang demi menyelamatkan rahasia mereka, Arka melepaskan cengkeramannya pada guling dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Naya. Di saat yang sama, Naya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arka, menarik tubuh cowok itu mendekat dan membenamkan wajahnya di dada bidang Arka, berpura-pura tidur nyenyak di bawah satu selimut yang sama.
Tante Elena yang mengintip dari celah pintu terpaku sejenak. Matanya berbinar haru melihat pemandangan pasangan pengantin baru yang tampak begitu manis dan saling memeluk erat di balik selimut.
"Aduh... maaf ya Ibu ganggu," bisik Tante Elena sangat pelan dengan senyum merekah lebar. "Selamat tidur, anak-anak manis..."
Pintu kembali tertutup rapat. Suara kunci berputar pelan dari luar.
Keheningan total mendadak menyelimuti kamar tersebut.
Naya membeku. Hidungnya tertanam tepat di perpotongan leher Arka, menghirup aroma sabun mandi mandi dan parfum kayu yang sangat kuat. Sementara itu, kedua tangan Arka kaku di udara, tidak tahu harus diletakkan di mana, sementara dadanya bertabrakan langsung dengan napas hangat Naya yang memburu.
Jantung Naya berdegup begitu kencang hingga ia takut Arka bisa mendengarnya melalui dada mereka yang menempel erat.
Perlahan-lahan, Naya mendongakkan kepalanya sedikit. Matanya yang bulat bertabrakan langsung dengan manik mata hitam Arka yang berada hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya.
Napas Arka terdengar agak tidak teratur. Tatapannya yang biasa dingin kini menyiratkan kegugupan yang teramat sangat.
"Naya..." bisik Arka pendek, suaranya terdengar amat serak di kegelapan kamar. "...tangan kamu bisa lepasin pinggang saya sekarang?"