"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah tanpa cinta.
"Saya Terima nikah dan kawinnya Gladys Clara binti Bapak Kusuma dengan seperangkat alat shalat dan emas 100 gram tunai."
"Bagaimana saksi?"
"SAH!"
Suara para saksi terdengar hampir bersamaan.
"Alhamdulillah..."
Ucapan syukur memenuhi ruangan akad yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.
Namun bagi Gladis, suara-suara itu terdengar semakin jauh.
Seolah berasal dari tempat yang berbeda.
Seolah bukan dirinya yang sedang duduk di sana.
Bukan dirinya yang baru saja resmi menjadi istri seorang pria bernama Arsen Wijaya.
Tangannya terasa dingin.
Kepalanya sedikit pusing.
Dan ketika kalimat ijab kabul itu selesai diucapkan, sesuatu di dalam dirinya seolah ikut runtuh.
Ia menikah.
Di usia dua puluh tahun.
Saat teman-temannya masih sibuk mengerjakan tugas kuliah, mengikuti organisasi kampus, dan merencanakan masa depan.
Sedangkan dirinya...
Baru saja menjadi istri seorang duda berusia tiga puluh tiga tahun.
Ayah dari tiga anak.
Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.
Bukan karena bahagia.
Bukan pula karena terharu.
Melainkan karena kenyataan yang begitu cepat mengubah hidupnya.
"Gladis menangis bahagia."
Salah seorang kerabat berbisik.
Yang lain ikut tersenyum.
Tak seorang pun tahu bahwa gadis itu sedang berusaha menahan sesak di dadanya.
Ibunya yang duduk di samping segera mengusap air mata Gladis.
"Jangan menangis lagi, Nak."
Justru kalimat itu membuat air matanya semakin deras.
Karena ia tahu.
Mulai hari ini tidak ada jalan untuk kembali.
Pernikahan ini nyata.
Benar-benar nyata.
"Pengantin wanita dipersilakan berjabat tangan dengan suaminya."
Suara penghulu membuat tubuh Gladis menegang.
Jantungnya langsung berdebar semakin cepat.
Suaminya.
Kata itu terasa asing.
Sangat asing.
Ibunya tersenyum lembut.
"Ayo, Nak."
Gladis mengangkat kepala perlahan.
Dan untuk pertama kalinya melihat pria yang kini menjadi suaminya dari jarak yang begitu dekat.
Arsen Wijaya.
Tinggi.
Sangat tinggi.
Mungkin hampir seratus sembilan puluh sentimeter.
Tubuhnya tegap dan proporsional.
Jas hitam yang dikenakannya terlihat mahal dan sempurna.
Rahang tegas.
Hidung mancung.
Tatapan tajam.
Dan aura dingin yang membuat siapa pun sulit bernapas dengan tenang di dekatnya.
Pria itu tampan.
Sangat tampan.
Namun bukan tipe pria yang membuat seseorang merasa nyaman.
Justru sebaliknya.
Ia terlihat seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah dan tidak pernah menerima penolakan.
Gladis menelan ludah.
Tangannya mulai berkeringat.
"Ayo."
Bisik ibunya sekali lagi.
Dengan langkah pelan, Gladis bangkit.
Setiap langkah terasa berat.
Semakin dekat kepada Arsen.
Semakin keras pula detak jantungnya.
Deg.
Deg.
Deg.
Entah karena gugup.
Atau takut.
Mungkin keduanya.
Saat akhirnya berdiri tepat di hadapan pria itu, Gladis harus sedikit mendongak.
Terlalu tinggi.
Pria ini benar-benar tinggi.
Sementara Arsen memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
Tatapan mata hitam pekat itu membuat Gladis semakin gugup.
Tangannya gemetar saat mengulurkan tangan.
"Assalamualaikum..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
Arsen menatapnya beberapa detik.
Kemudian menjawab.
"Waalaikumsalam."
Suara baritonnya rendah dan dalam.
Membuat Gladis sedikit terkejut.
Suara itu terdengar lebih mengintimidasi daripada yang ia bayangkan.
Pria itu menerima uluran tangannya.
Hangat.
Kuat.
Dan jauh lebih besar dibanding tangannya.
Seketika Gladis menunduk.
Tidak berani menatap terlalu lama.
Sementara beberapa tamu tersenyum melihat momen tersebut.
Namun tidak dengan Arsen.
Wajahnya tetap datar.
Nyaris tanpa ekspresi.
"Aku Arsen."
Kalimat sederhana itu membuat Gladis mengangkat kepala.
Hah?
Pria ini memperkenalkan diri?
Ia sempat mengira Arsen tidak akan berbicara sama sekali.
"Aku... Gladis."
Arsen mengangguk.
"Aku tahu."
Pipinya langsung memanas.
Bodoh sekali.
Tentu saja pria itu tahu namanya.
Mereka baru saja menikah.
Beberapa detik keheningan terjadi.
Hingga tanpa sadar Gladis berkata,
"Kamu Gladis?"
Begitu kalimat itu keluar, matanya langsung membulat.
Ya ampun.
Apa yang barusan ia katakan?
Karena terlalu gugup, kata-kata dalam kepalanya justru keluar dengan berantakan.
Wajahnya langsung merah.
"Iya Pak."
Lalu buru-buru menggeleng.
"Eh..."
"Om."
Begitu kata "Om" keluar, beberapa orang yang berada di dekat mereka langsung tersedak menahan tawa.
Bahkan penghulu sampai berdeham pelan.
Gladis berharap lantai segera terbuka dan menelannya hidup-hidup.
Ya Allah.
Kenapa dia memanggil suaminya om?
Arsen sendiri terlihat terdiam.
Tatapan dinginnya menatap Gladis beberapa saat.
Membuat jantung gadis itu semakin tidak karuan.
Namun yang mengejutkan.
Sudut bibir pria itu bergerak sedikit.
Sangat sedikit.
Seolah menahan sesuatu.
Apakah...
Dia hampir tersenyum?
"Kau gugup."
Suara Arsen terdengar tenang.
Gladis langsung mengangguk cepat.
"Sangat."
Jawaban jujur itu membuat beberapa tamu kembali tersenyum.
Biasanya pengantin perempuan akan berusaha terlihat anggun.
Namun Gladis terlalu gugup untuk berpura-pura.
"Aku tidak menggigit."
ucap Arsen datar.
Gladis berkedip.
Lalu beberapa detik kemudian baru menyadari maksud kalimat itu.
Beberapa kerabat langsung tertawa kecil.
Sedangkan Gladis justru semakin malu.
Ternyata CEO dingin ini bisa bercanda?
Meski ekspresinya sama sekali tidak berubah.
Arsen lalu melepaskan tangannya perlahan.
Tatapannya kembali serius.
"Setelah acara selesai, kita akan langsung pulang."
Gladis mengangguk.
"Baik."
"Kampusmu?"
Gadis itu terkejut.
Pria ini tahu dirinya kuliah?
"Aku akan tetap kuliah, kalau boleh."
Arsen menatapnya.
Beberapa detik.
Kemudian menjawab singkat.
"Tidak ada yang melarang."
Gladis sedikit terkejut.
Jawaban itu jauh lebih baik dari yang ia bayangkan.
"Terima kasih."
Arsen kembali mengangguk.
Lalu pandangannya beralih ke para tamu.
Percakapan mereka selesai.
Namun di dalam hati Gladis, rasa gugup justru semakin besar.
Karena sebentar lagi ia akan pergi bersama pria ini.
Ke rumahnya.
Ke kehidupan barunya.
Dan yang paling membuatnya cemas...
Pertemuannya dengan ketiga anak Arsen.
Anak-anak yang bahkan belum tahu bahwa ayah mereka baru saja menikah lagi.
Anak-anak yang mungkin tidak menginginkan kehadirannya.
Anak-anak yang mungkin membencinya.
Sementara itu, tanpa diketahui Gladis.
Arsen memperhatikannya dari sudut mata.
Gadis ini jauh berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia temui.
Tidak dibuat-buat.
Tidak mencoba menarik perhatiannya.
Bahkan terlalu polos.
Sangat polos.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun terakhir...
Arsen merasa sedikit penasaran.
Apakah gadis dua puluh tahun ini mampu bertahan di rumahnya?
Mampukah ia menghadapi si kembar yang keras kepala?
Atau si bungsu yang sangat lengket kepadanya?
Karena satu hal yang pasti.
Menjadi istrinya mungkin tidak sulit.
Namun menjadi ibu bagi ketiga anaknya...
Adalah tantangan yang sama sekali berbeda.