Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Kembali Tanpa Nama
Nama Anindya tercetak di daftar panitia, tetapi bukan nama yang dicari para tamu.
Di bawah kolom perwakilan program beasiswa penerbangan, ia hanya tertulis sebagai Anindya, kopilot Adiwijaya Airlines dan mitra program Klub Enggar. Tidak ada jabatan pemilik, tidak ada nama keluarga Wicaksana, dan tidak ada petunjuk bahwa persetujuan akhir atas seluruh dana malam itu berada di tangannya.
Enam minggu setelah sumpahnya di teras Klub Enggar, ia kembali ke ballroom hotel di SCBD dengan gaun biru tua tanpa perhiasan mencolok. Bahunya sudah cukup kuat untuk jadwal penerbangan reguler yang dipantau, meski pemeriksaan berkala dan latihan penguatan belum selesai.
“Meja sekolah penerbangan dari Makassar sudah datang,” kata Sisi sambil memeriksa tablet. “Dokumen penerima manfaat juga lengkap. Media hanya mendapat angka total dana, bukan identitas penyumbang terbesar.”
“Pastikan laporan penggunaan dana dikirim per tiga bulan.”
“Sudah masuk perjanjian.”
Enggar menghampiri mereka dengan senyum seorang tuan rumah. “Bos, dua direktur bertanya kenapa seorang kopilot ikut memeriksa klausul audit.”
“Lalu jawabanmu?”
“Karena kopilot itu lebih teliti daripada mereka.”
Anindya menatapnya.
Enggar segera membetulkan manset. “Saya bilang Anda anggota inti program pendidikan.”
“Lebih aman.”
“Jauh lebih membosankan.”
“Itu tujuannya.”
Di atas panggung, pembawa acara mengumumkan perwakilan Grup Adiwijaya. Percakapan di ballroom mereda ketika Arkana naik ke podium bersama Fajar.
Arka mengenakan setelan hitam, bukan seragam kapten. Namun sikap tubuhnya masih seperti saat memberi pengarahan sebelum terbang, tegak dan terkendali. Hanya bayangan lelah di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan lampu panggung.
“Keselamatan penerbangan tidak dimulai ketika pesawat meninggalkan landasan,” katanya. “Ia dimulai dari kesempatan belajar, pelatihan yang jujur, dan keberanian menghentikan proses ketika standar belum terpenuhi.”
Anindya teringat ruang kokpit statis, nyeri tujuh dari sepuluh, dan catatan evaluasi yang tidak dilunakkan untuknya. Kalimat itu terdengar benar. Itu justru membuat dadanya terasa lebih berat.
Arka melanjutkan pidato tentang akses pendidikan bagi calon penerbang dari daerah. Tidak ada janji kosong. Setiap angka sudah melewati tim hukum dan audit gabungan. Ia tetap laki-laki yang bisa bertanggung jawab atas ribuan penumpang, lalu gagal bertanggung jawab atas satu perempuan yang pernah menjadi istrinya.
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
“Waktunya menyapa mitra utama,” bisik Enggar.
Anindya mengambil satu napas sebelum mengikuti. Ia tidak boleh menghindari Arka setiap kali Klub Enggar dan Adiwijaya berada dalam ruangan yang sama. Kalau ia ingin bergerak di dunia terbuka, ia harus sanggup berdiri di hadapannya tanpa kehilangan arah.
Fajar adalah orang pertama yang melihat mereka. “Pak Enggar. Bu Anindya.”
Tidak ada keterkejutan dalam sapaan itu. Fajar tahu ia hidup, tahu ia kembali terbang, dan pernah melihatnya berdarah di Merapi. Yang belum ia ketahui hanyalah alasan seorang kopilot berada di sisi pengelola Klub Enggar sebagai mitra utama.
Enggar berjabat tangan dengannya. “Dana tahap pertama bisa dicairkan setelah daftar sekolah diverifikasi bersama. Anindya memimpin peninjauan penerima manfaat dari sisi kami.”
Arka menoleh.
Tatapan mereka bertemu tanpa topeng untuk pertama kalinya sejak malam amal sebelumnya. Kali ini ia langsung mengenali Anindya. Tidak mungkin sebaliknya.
Namun ada sesuatu yang tetap membuat Arka terdiam.
Di hanggar, Anindya berdiri sebagai kopilot di bawah struktur perusahaan miliknya. Di sini, Enggar yang disambut para komisaris justru menunggu Anindya selesai bicara sebelum mengambil keputusan. Perbedaan kecil itu hanya berlangsung sesaat, tetapi Arka menangkapnya.
“Saya tidak tahu kamu terlibat dalam program ini,” katanya.
“Banyak hal tidak masuk dalam laporan awak penerbangan, Pak Arkana.”
Sapaan formal itu jatuh seperti pintu yang ditutup perlahan.
Fajar melirik Arka, lalu mengalihkan perhatian kepada Enggar. “Tim kami siap memeriksa daftar akhir besok.”
“Bagus,” jawab Anindya. “Kami tidak ingin beasiswa ini menjadi bahan foto satu malam.”
Arka masih memandangnya. “Bahu kamu?”
“Memenuhi syarat medis untuk tugas saya. Pemantauan berjalan sesuai jadwal.”
Jawaban itu tidak memberi ruang bagi pertanyaan pribadi.
Seorang rektor sekolah penerbangan mendekat untuk meminta penjelasan soal kuota. Anindya memanfaatkan kedatangannya dengan tenang.
“Maaf, saya harus menemui penerima manfaat.” Ia mengangguk kepada Fajar dan Arka. “Selamat malam.”
Ia pergi bersama Sisi, meninggalkan Enggar untuk membahas administrasi. Langkahnya tidak terburu-buru, meski telapak tangannya dingin. Ia baru mengendurkan jari setelah mencapai meja panitia di sisi lain ruangan.
“Risiko?” tanya Sisi pelan.
“Pak Arkana memperhatikan urutan keputusan.”
“Perlu kita ubah pola?”
Anindya menggeleng. “Kalau berubah mendadak, justru terlihat. Setelah ini, semua persetujuan tetap lewat Enggar di depan pihak luar.”
Seorang calon penerima beasiswa menghampiri mereka dengan map yang dipeluk di dada. Gadis asal Makassar itu bertanya apakah biaya pemeriksaan kesehatan awal juga ditanggung, sebab keluarganya sanggup melepasnya belajar tetapi tidak mampu menghadapi biaya tambahan yang terus muncul.
Anindya membuka salinan perjanjian dan menunjukkan klausul pemeriksaan dasar, perjalanan pertama, serta mekanisme pengaduan jika sekolah meminta pembayaran di luar ketentuan.
“Simpan nomor ini,” katanya sambil menunjuk kontak sekretariat. “Jangan membayar apa pun tanpa kuitansi resmi. Kesempatan belajar tidak boleh berubah menjadi utang yang disembunyikan.”
Ketegangan di wajah gadis itu berkurang. Ucapan terima kasihnya sederhana, tetapi membuat semua kehati-hatian malam itu terasa layak.
Menjelang tengah malam, laporan acara menunjukkan dana pendidikan melampaui target. Identitas penyumbang terbesar tetap terlindungi, sementara nama Anindya hanya muncul pada dokumen kerja yang memang sah untuk ia tandatangani.
Di teras hotel, Arka berdiri sendiri dengan kota di bawahnya. Fajar telah kembali ke ballroom, tetapi satu pemandangan terus terulang dalam kepalanya: Enggar menunggu keputusan Anindya.
Ia selalu tahu siapa Anindya di kokpit. Ia pernah tahu bagaimana perempuan itu menyeduh kopi, menyimpan rasa sakit, dan diam ketika terluka. Rupanya semua itu belum cukup untuk mengatakan bahwa ia mengenalnya.
Arka menatap pantulan dirinya pada kaca dan berbisik, “Berapa banyak sisi dirimu yang tidak pernah kukenal, Nindya?”