NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Terobosan Berdarah, Lahirnya Master Bela Diri

Dengungan dari langit terasa seperti bor menembus tengkorak setiap manusia di Desa Fajar.

Moncong meriam kristal Armada Udara bersinar menyilaukan. Perpaduan elemen api dan petir yang dikompresi menciptakan gravitasi kecil di bawahnya. Debu, bebatuan kecil, bahkan atap jerami mulai melayang, terisap tarikan energi pemusnah itu.

Lima puluh ribu penduduk berdesakan menuju terowongan evakuasi di barat lembah, mustahil memindahkan lautan manusia itu dalam hitungan menit.

"Sialan! Jarak tembaknya mencakup seluruh alun-alun!" Xing Yun berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh deru meriam. Wajahnya sepucat mayat. Otaknya berputar mencari solusi—tapi di hadapan kekuatan pemusnah berskala kota, kecerdasan tidak ada gunanya.

"Mundur dari garis tembak!" Long Zhan meraung.

Tapi ia sendiri tak mundur. Ia mengambil kuda-kuda lempar di ujung tebing, urat lengannya menonjol hingga kulitnya retak berdarah. Ia memompa seluruh Qi Tingkat 2 ke tombaknya sampai senjata itu bergetar hebat.

Satu raungan menggetarkan tanah—ia melempar tombaknya ke langit.

Tombak besi itu melesat seperti rudal membelah badai, mengarah tepat ke lambung kapal. Kekuatannya cukup menembus sepuluh lapis baja fana.

Claaannnggg!!!

Bunga api raksasa meledak di langit. Tapi tombak itu tidak menembus—ia bengkok, dan terpental jatuh kembali ke tanah. Zirah logam dewa yang melapisi kapal itu terlalu keras. Serangan fisik apa pun dari bawah tak akan menjatuhkannya.

Long Zhan menghantam tanah berbatu dengan tinjunya. "Sialan!"

Di ruang komando Armada Udara, seorang Jenderal Dewa bersandar di singgasananya, menyesap anggur merah. Ia melihat percikan api kecil di layar pemantau dan tersenyum meremehkan.

"Serangga di bawah mencoba menggigit sepatu bot kita." Ia terkekeh. "Hapus dari peta. Tembak."

Duaaaarrrrrr!!!

Moncong kristal melepaskan muatannya. Pilar energi merah-ungu raksasa melesat turun, membelah udara dengan panas yang menguapkan sisa awan di sekitarnya. Apa pun yang tersentuh langsung lenyap.

Kematian turun dari langit. Seluruh penduduk Desa Fajar hanya bisa memejamkan mata.

Tapi di antara lima puluh ribu manusia yang pasrah, ada satu pria yang menolak tunduk.

Ye Cangtian menekuk lutut hingga pilar batu obsidian tempatnya berdiri hancur lebur. Dengan daya ledak maksimal, ia melompat, melesat seperti busur hijau-emas, memotong lintasan pilar energi itu sebelum menyentuh tanah.

"Cangtian! jangan!" Su Ling'er menjerit histeris, air matanya pecah melihat pemuda itu seolah bunuh diri.

Di udara, Cangtian menyilangkan kedua pedang perak di atas kepala, melepaskan seluruh Qi di Dantiannya—membentuk perisai hijau-emas terkuat yang bisa dihasilkan Ahli Persilatan Tingkat Puncak.

Blaamm!!!!

Pilar pemusnah itu menghantamnya.

Gelombang kejut meratakan puluhan pohon di sekeliling lembah. Cangtian mengerang, rasa sakit yang tak terlukiskan ia rasakan, seolah seluruh Kerajaan Surga Tiran baru saja dijatuhkan ke pundaknya.

Pedang peraknya, rampasan dari perwira elit, memerah lalu meleleh dalam hitungan detik. Jubah kulitnya hangus jadi abu. Kulit lengan dan wajahnya retak-retak, darah mengalir dan langsung menguap oleh panas ekstrem.

Tekanannya terlalu kuat. Tubuh Cangtian terdorong turun, semakin dekat ke atap-atap rumah. Tiga puluh meter. Dua puluh meter. Sepuluh meter.

Aku tidak bisa menahannya...

Darah mengalir dari mata, hidung dan telinganya. Dantiannya menjerit. Lautan Qi Tingkat 3 di perutnya sudah mencapai batasnya. Menghindar, pilar ini akan meratakan seluruh desa—puluhan ribu rakyatnya, Long Zhan, Xing Yun, Ling'er, semua akan menjadi debu.

Bayangan tumpukan mayat budak di Gunung Darah melintas di benaknya. Janjinya untuk membangun jalan bagi umat manusia bergema di telinganya.

Di tengah rasa sakit yang merobek jiwanya, matanya terbuka lebar. Cahaya keemasan di pupilnya menyala terang.

Kalau langit ini menolak memberi jalan... Ia menggertakkan giginya yang berlumuran darah. ...aku akan menghancurkan jalanku sendiri.

Dalam langkah yang tak akan berani diambil oleh siapapun, Cangtian berhenti mendorong Qi-nya keluar. Sebaliknya, ia menarik seluruh energinya ke dalam secara instan—dan sengaja menghancurkan meridian serta Dantian Tingkat 3-nya sendiri.

Kraaak!

Terdengar suara retakan mengerikan dari dalam tubuhnya. Lautan energi di perutnya meledak ke dalam.

Sakitnya seribu kali lipat lebih mengerikan dari patah tulang. Tapi dari kehancuran total pondasi fananya itu, keajaiban evolusi terjadi.

Energi yang meledak tidak menghilang. Terjebak dalam ruang Dantiannya yang hancur, ia terkompresi hingga titik ekstrem. Bentuk gas Qi yang selama ini ia pakai berubah jadi pusaran cairan energi yang sangat padat.

Sebuah Pusaran Emas terbentuk di perutnya. Jaringan meridian baru, sepuluh kali lebih lebar dan kokoh dari baja dewa, menyebar secepat kilat, membungkus setiap otot dan tulangnya.

Dengungan pilar energi dewa tenggelam oleh detak jantung Ye Cangtian. Terdengar seperti genderang perang dewa kematian.

Ledakan aura baru menyapu seluruh lembah. Bukan lagi kabut tipis Ahli Persilatan—aura solid yang menekan gravitasi di sekitarnya.

Di udara, Ye Cangtian membuka mata. Ia telah mendobrak batasan fana. Master Bela Diri Tingkat 1 pertama dalam sejarah alam semesta.

Pedang peraknya sudah meleleh, tersisa gagangnya saja. Tak masalah. Melalui Pusaran Emas di Dantiannya, ia mengalirkan Qi padat ke sisa gagang itu. Dalam sekejap, bilah raksasa bercahaya keemasan sepanjang sepuluh meter memanjang dari gagang tersebut—murni energi spiritual terkompresi.

Cangtian menatap pilar pemusnah yang masih menindihnya. Ia menarik napas panjang, lalu mengayunkan kedua pedang energi keemasan ke atas dalam satu tebasan silang.

"Terbelahlah, Langit!"

Tebasan silang keemasan itu melesat ke atas, menabrak pilar elemen api dan petir milik Armada Udara.

Dunia seakan membeku sedetik.

Lalu hal paling mustahil terjadi. Tebasan Master Bela Diri Ye Cangtian memotong lurus tepat di tengah pilar energi pemusnah itu, membelahnya jadi dua.

Kedua paruh pilar terbelokkan ke kiri dan kanan lembah, meleset jauh dari pemukiman, menghantam tebing kosong dengan ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan bebatuan. Desa Fajar sama sekali tak tersentuh.

Tapi tebasan keemasan Cangtian belum berhenti. Bentuk silang itu terus melesat ke atas menembus langit, menghantam lambung bawah Armada Udara.

Craaaasshhh!!

Suara logam robek menggema di langit. Zirah yang tadi gagal ditembus tombak Long Zhan, kini robek sepanjang lima puluh meter oleh tebasan energi Cangtian. Asap hitam dan percikan listrik menyembur dari perut kapal.

Di ruang komando, sang Jenderal Dewa menjatuhkan gelas anggurnya hingga pecah di lantai. Matanya terbelalak menatap monitor, tak percaya dengan apa yang baru disaksikannya.

Di bawah, melayang perlahan turun ke atas sebuah sisa pilar batu, berdiri seorang manusia fana. Bajunya hangus, tubuhnya dipenuhi luka bakar—tapi aura keemasan yang mengelilinginya menyala begitu terang hingga meredupkan cahaya matahari.

Itu bukan lagi aura serangga pemberontak. Itu aura seorang raja yang siap menyeret para dewa turun ke bumi.

Puluhan ribu rakyat Desa Fajar, Long Zhan, Xing Yun, dan Su Ling'er menatap punggung Ye Cangtian dalam keheningan penuh pemujaan.

Saat itulah mereka sadar—perang baru saja naik ke level yang sama sekali berbeda.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!