NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Runtuhnya Keluarga Permata

Ya.

Satu kata itu dikirim dari ponsel Arya, lalu malam di Gedung Takdir kembali tenang.

Tidak ada teriakan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada deklarasi panjang. Bagi orang biasa, satu kata itu tampak terlalu kecil untuk mengubah apa pun.

Tetapi di lantai empat puluh dua, divisi hukum PT Takdir Nusantara Group langsung bergerak.

Dalam waktu tujuh menit, surat elektronik resmi dikirim ke seluruh anak perusahaan terkait. Dalam lima belas menit, notifikasi terminasi kerja sama masuk ke sistem vendor. Dalam tiga puluh menit, tiga bank mitra menerima pemberitahuan risiko bisnis terhadap Keluarga Permata. Dalam satu jam, semua invoice berjalan yang terkait PT Suara Kreatif dan afiliasi Permata ditandai untuk audit ulang.

Pukul tujuh pagi, Kota Awan mulai membaca beritanya.

PT Takdir Nusantara Group mengumumkan penghentian seluruh kerja sama strategis dengan Keluarga Permata dan entitas bisnis terkait, efektif segera, dengan alasan audit kepatuhan internal dan evaluasi risiko reputasi.

Kalimatnya sopan.

Efeknya seperti palu.

Di Rumah Besar Keluarga Permata, Maryam masih duduk di meja makan dengan cangkir kopi susu ketika ponselnya berdering untuk kelima kalinya. Ia menolak panggilan itu dengan kesal.

"Pagi-pagi sudah ribut. Orang kantor memang tidak tahu sopan santun."

Sinta duduk di seberangnya, mengenakan kemeja kerja biru muda. Wajahnya pucat sejak malam sebelumnya. Ia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia teringat suara pintu tertutup di belakang Arya dan kalimat lelaki itu sebelum pergi.

Keluarga Permata akan lebih membutuhkannya daripada aku.

Ponsel Sinta ikut bergetar.

Nama manajer keuangan muncul di layar.

Sinta mengangkat. "Ya, Pak Rudi?"

Di seberang sana, suara pria itu hampir pecah. "Bu Sinta, Takdir memutus kerja sama."

Sendok di tangan Sinta berhenti.

"Apa?"

"Surat resminya masuk pagi ini. Semua proyek iklan, kontrak media, dan paket promosi yang terhubung dengan Takdir dihentikan. Invoice kita ditahan untuk audit. Vendor juga mulai menelepon. Mereka bertanya apakah benar Permata masuk daftar risiko."

Maryam menoleh. "Risiko apa?"

Sinta tidak menjawab ibunya. "Tenang dulu. Kirim semua dokumen ke email saya."

"Bu, bukan cuma kita. Permata Logistics juga kena. Permata Property dipanggil bank. Supplier bahan cetak meminta pembayaran di muka. Kalau ini tidak diselesaikan hari ini, cash flow kita bisa macet."

Kata-kata itu membuat ruang makan yang mewah mendadak terasa sempit.

Sinta menutup telepon dengan jari dingin.

Maryam menatapnya. "Ada apa?"

Sebelum Sinta menjawab, pintu ruang makan terbuka. Dua sepupu Permata masuk dengan wajah panik. Di belakang mereka, Om Besar Permata, ketua bisnis keluarga, berjalan cepat sambil memegang tablet.

"Sinta," katanya tanpa basa-basi, "apa yang kau lakukan pada Takdir?"

Sinta berdiri. "Saya tidak melakukan apa-apa."

"Jangan bohong." Om Besar melempar tablet ke meja. Layar menampilkan berita bisnis yang baru naik sepuluh menit lalu. "Semua kerja sama dihentikan. Bank Mandiri memanggil kita. BCA menahan fasilitas kredit. Tiga supplier utama meminta jaminan tunai. Ini bukan masalah kecil."

Maryam merebut tablet, membaca sekilas, lalu wajahnya memerah.

"Ini pasti ulah si pengemis itu!"

Ruangan membeku.

Om Besar menatap Maryam seperti ingin menampar meja. "Pengemis mana yang bisa membuat Takdir mengirim notifikasi risiko ke bank dalam satu malam?"

Maryam tersedak.

Sinta menggenggam sandaran kursi. "Waktunya..."

"Apa?"

"Pengumuman ini keluar tepat setelah Arya pergi."

Maryam langsung mencibir. "Kebetulan! Kamu jangan mulai membela laki-laki tidak berguna itu."

"Aku tidak membela dia." Suara Sinta melemah. "Tapi tadi malam dia bilang..."

"Dia bilang apa?" tanya Om Besar tajam.

Sinta mengingat wajah Arya di ambang pintu. Tenang. Terlalu tenang untuk orang yang baru kehilangan rumah, istri, dan nama baik.

"Dia bilang keluarga kita akan lebih membutuhkan tawaran pekerjaan itu daripada dia."

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Lalu Maryam tertawa keras, terlalu keras sampai terdengar seperti retak. "Kalian semua gila kalau percaya itu ancaman. Dia hanya sakit hati. Paling sekarang tidur di kos murah, makan mi instan."

Namun tidak ada yang ikut tertawa.

Di kantor pusat PT Takdir, Arya duduk di ruang kerja privat yang hanya bisa diakses dengan kartu biometrik. Di atas meja ada secangkir kopi hitam. Di layar besar, laporan dampak bergerak seperti peta perang: rekening, kredit, kontrak, vendor, respons media.

Pak Satria berdiri di samping meja. "Efek tahap pertama sudah muncul, Tuan Muda. Empat puluh delapan jam ke depan, Keluarga Permata akan kehilangan akses kredit jangka pendek. Jika mereka tidak menemukan penjamin baru, proyek mereka berhenti."

"Jangan sentuh pembayaran karyawan."

"Sudah saya pisahkan. Gaji staf bawah tetap aman. Yang dibekukan hanya arus dana perusahaan dan invoice bermasalah."

Dewi yang duduk di sofa mengangkat alis. "Masih memberi jalan untuk pegawai kecil?"

"Yang menghina aku bukan mereka."

Dewi tersenyum kecil. "Itu sebabnya orang-orang bawah lebih setia padamu daripada banyak kepala cabang keluarga."

Arya menyeruput kopi. Tidak ada kemenangan di wajahnya. Hanya ketenangan seseorang yang tahu batu pertama sudah jatuh dan semua batu lain akan menyusul.

Di Rumah Besar Permata, telepon terus berdering.

Satu per satu kabar datang.

Perusahaan logistik membatalkan pengiriman.

Mitra iklan menarik proposal.

Kontraktor meminta pembayaran penuh sebelum melanjutkan proyek.

Dua klien besar meminta klarifikasi tertulis soal audit reputasi Takdir.

Menjelang siang, Maryam tidak lagi berteriak. Ia duduk dengan wajah pucat, kedua tangan menggenggam tas branded seperti benda itu bisa melindunginya dari kebangkrutan.

Om Besar mondar-mandir. "Hubungi Revan Hadinata."

Sinta mendongak. "Kenapa Revan?"

"Dia yang paling sering mendekatimu belakangan ini. Kalau Hadinata mau masuk sebagai penjamin, kita bisa bertahan."

Sinta ragu. "Tapi..."

"Tidak ada tapi." Om Besar menatapnya tajam. "Kamu sudah membuang suamimu. Kalau itu bagian dari rencana dengan Revan, sekarang pastikan rencana itu berguna."

Wajah Sinta memucat.

Maryam segera berkata, "Benar. Hubungi Mas Revan. Dia jauh lebih pantas daripada Arya."

Sinta mengambil ponselnya dengan tangan gemetar.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Panggilan kedua masuk ke nada tunggu panjang.

Panggilan ketiga akhirnya tersambung.

Suara Revan terdengar dingin dan lelah. "Ada apa, Sinta?"

"Revan, Takdir memutus kerja sama dengan keluarga kami. Kamu tahu sesuatu?"

Ada jeda singkat.

"Aku sedang sibuk."

"Tapi kamu bilang..."

"Sinta," potong Revan, suaranya menajam, "jangan seret aku ke masalah keluargamu. Hadinata tidak akan menjadi bemper untuk bisnis yang sedang terbakar."

Sambungan terputus.

Sinta menatap layar ponsel.

Untuk pertama kalinya, ia merasa lantai marmer di bawah kakinya tidak lagi kokoh.

Sore itu, ia akhirnya menekan nomor Arya.

Panggilan ditolak.

Ia mencoba lagi.

Ditolak.

Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia mencoba untuk ketiga kalinya.

Kali ini tersambung.

Tetapi bukan suara Arya yang terdengar.

"Selamat sore, Nona Sinta," kata suara pria tua yang tenang. "Tuan Muda tidak dapat menerima panggilan Anda."

Sinta berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.

"Siapa ini?"

"Pak Satria."

"Saya ingin bicara dengan Arya."

"Jika ini urusan pribadi, Tuan Muda belum bersedia. Jika ini urusan bisnis, silakan menghubungi departemen public relations PT Takdir Nusantara Group."

Tangan Sinta gemetar.

"Tuan Muda?" bisiknya. "Kenapa Anda memanggil Arya... Tuan Muda?"

Di seberang sana, Pak Satria diam sesaat.

Lalu ia menjawab dengan sopan, "Karena itu sebutan yang seharusnya digunakan sejak awal."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!