NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian yang Terlambat

Bab 1: Kematian yang Terlambat

Hujan turun tanpa ampun di sebuah gang sempit di sudut Kota Ardhana.

Air bercampur darah mengalir mengikuti retakan aspal yang rusak. Lampu jalan yang berkedip-kedip memantulkan bayangan seorang pemuda yang tergeletak tak bergerak di antara tumpukan kardus basah dan tong sampah berkarat.

Tubuhnya penuh luka.

Wajahnya bengkak.

Tulang rusuknya patah.

Napasnya nyaris tak terdengar.

Pemuda itu bernama Ethan Mahendra.

Beberapa menit lalu, tiga pria suruhan seseorang telah meninggalkannya di sana setelah memastikan ia tidak mungkin bertahan hidup.

"Bos bilang cukup. Dia pasti mati."

"Itu yang terjadi kalau berani melawan Keluarga Wijaya."

Tawa mereka masih terngiang di udara sebelum akhirnya menghilang bersama suara mesin mobil.

Kini hanya tersisa hujan.

Dan kematian.

Setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.

Namun jauh di tempat lain...

Di dunia yang berbeda...

Di puncak Gunung Langit Abadi.

Ledakan dahsyat mengguncang langit.

Ribuan kilometer awan spiritual tercabik.

Petir merah menyambar tanpa henti.

Seorang pria berjubah hitam berdiri di tengah badai.

Tubuhnya dipenuhi luka mengerikan.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Namun tatapannya tetap dingin.

Di sekelilingnya berdiri sembilan tokoh terkuat dunia kultivasi.

Mereka adalah pemimpin sembilan sekte besar.

Mereka yang dahulu memanggilnya sahabat.

Mereka yang dahulu berlutut memohon bantuannya.

Dan mereka pula yang baru saja menusukkan pedang ke punggungnya.

"Kaisar Bayangan," kata salah satu dari mereka. "Serahkan warisanmu. Kami akan memberimu kematian yang cepat."

Pria berjubah hitam tertawa pelan.

Tawa itu membuat langit bergetar.

"Lima ratus tahun."

Suaranya bergema.

"Aku menghabiskan lima ratus tahun membangun jalan menuju puncak."

Tatapannya menyapu seluruh musuh.

"Dan kalian mengira aku akan menyerahkan semuanya begitu saja?"

Wajah para pemimpin sekte berubah.

Mereka merasakan sesuatu.

Sesuatu yang sangat buruk.

Terlambat.

Pria itu mengangkat kedua tangannya.

Energi spiritual di seluruh gunung mulai berputar liar.

Retakan muncul di tubuhnya.

Lalu semakin banyak.

Semakin besar.

"Kalian ingin hartaku?"

Senyumnya berubah menyeramkan.

"Datang dan ambillah di neraka."

BOOOOOOM!

Langit runtuh.

Gunung hancur.

Ledakan inti spiritual seorang kultivator Alam Kenaikan Abadi Bintang 9 melahap segalanya.

Jeritan memenuhi dunia.

Kemudian...

Gelap.

Total.

Sunyi.

Tak ada suara.

Tak ada rasa.

Tak ada waktu.

Hingga tiba-tiba...

Sakit.

Sakit yang luar biasa.

Mata Ethan terbuka.

Ia langsung batuk keras.

"Uhuk!"

Darah segar keluar dari mulutnya.

Paru-parunya terasa terbakar.

Setiap bagian tubuhnya menjerit kesakitan.

Namun bukan rasa sakit itu yang membuatnya terkejut.

Melainkan lingkungan di sekelilingnya.

Gang sempit.

Bangunan beton.

Lampu jalan.

Mobil yang melintas di kejauhan.

Ethan membeku.

Lalu perlahan duduk.

Hujan terus membasahi tubuhnya.

Matanya menyipit.

Ingatan yang telah lama terkubur mulai muncul.

Kota Ardhana.

Bumi.

Tahun 2026.

Tubuh ini...

Tubuh aslinya.

"Sungguh..." gumamnya pelan.

Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.

Lima ratus tahun.

Ia menghabiskan lima ratus tahun di dunia kultivasi.

Bertarung.

Membunuh.

Bertahan hidup.

Menjadi legenda.

Menjadi Kaisar Bayangan yang ditakuti seluruh dunia.

Namun sekarang ia kembali.

Kembali ke awal segalanya.

Kembali ke tubuh yang seharusnya sudah mati.

Ethan menunduk.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut.

Melainkan karena marah.

Sangat marah.

Ingatan kehidupan pertamanya mulai menyatu dengan kesadaran saat ini.

Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan misterius.

Formula medis revolusioner yang mereka ciptakan dicuri.

Dirinya difitnah.

Kekayaannya dirampas.

Kemudian dipukuli hingga tewas.

Dalangnya hanya satu.

Keluarga Wijaya.

Keluarga konglomerat terbesar di kota.

Ethan mengangkat kepala.

Tatapan matanya perlahan berubah.

Tidak ada lagi kelemahan.

Tidak ada lagi kepolosan.

Yang tersisa hanyalah ketenangan seorang monster yang telah melewati ratusan perang.

"Aku kembali."

Suaranya tenggelam dalam suara hujan.

"Tunggu aku."

Ia tidak menyebut nama siapa pun.

Tidak perlu.

Orang-orang itu akan tahu.

Cepat atau lambat.

Ethan berusaha berdiri.

Tubuhnya hampir jatuh.

Terlalu lemah.

Jauh terlalu lemah.

Dantian yang dahulu mampu menampung lautan energi kini kosong.

Meridiannya rapuh.

Bahkan kekuatan fisiknya tidak lebih baik dari manusia biasa.

Namun wajah Ethan tetap tenang.

Karena kekuatan bisa dicari kembali.

Pengetahuan tidak.

Dan ia memiliki pengetahuan lima ratus tahun.

Ia berjalan perlahan keluar dari gang.

Beberapa menit kemudian ia menemukan sebuah bangunan tua yang terbengkalai.

Tidak ada penghuni.

Tidak ada kamera.

Tempat yang sempurna.

Ethan masuk dan duduk bersila di lantai berdebu.

Matanya terpejam.

Kesadarannya menyebar.

Mencari.

Mengamati.

Merasakan.

Beberapa saat kemudian alisnya berkerut.

"Tipis sekali..."

Energi spiritual di Bumi jauh lebih sedikit dibanding dunia kultivasi.

Bahkan tidak sampai sepersepuluh ribu.

Namun masih ada.

Sangat tipis.

Hampir tak terlihat.

Tetapi cukup.

Ethan mulai menjalankan teknik kultivasi yang dahulu mengguncang dunia.

Teknik Surgawi Kaisar Bayangan.

Napasnya menjadi stabil.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Energi spiritual mulai berkumpul.

Seperti kabut tipis yang ditarik menuju tubuhnya.

Satu menit.

Sepuluh menit.

Satu jam.

Rasa sakit di tubuhnya mulai berkurang.

Luka-luka dalam perlahan membaik.

Namun tiba-tiba...

Ethan membuka mata.

Tatapannya berubah tajam.

Seseorang datang.

Tidak.

Tiga orang.

Langkah kaki mereka terdengar dari luar bangunan.

"Dia pasti sembunyi di sekitar sini."

"Bos bilang pastikan dia benar-benar mati."

"Kalau masih hidup, habisi."

Suara itu semakin dekat.

Ethan mengenali salah satunya.

Riko.

Orang yang tadi memukulnya.

Pria itu rupanya kembali untuk memastikan pekerjaannya selesai.

Pintu bangunan terbuka kasar.

Tiga pria masuk sambil membawa tongkat besi.

Ketika melihat Ethan duduk di tengah ruangan, mereka langsung membeku.

"Mustahil..."

Riko menatapnya dengan mata melebar.

"Kau masih hidup?"

Ethan berdiri perlahan.

Tubuhnya masih lemah.

Sangat lemah.

Namun cukup untuk menghadapi manusia biasa.

"Aku juga berpikir begitu."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Sayangnya aku sulit mati."

Salah satu pria langsung maju.

Tongkat besi menghantam ke arah kepala Ethan.

Gerakannya cepat.

Bagi manusia biasa.

Namun di mata Ethan, serangan itu penuh celah.

Ia hanya memiringkan kepala sedikit.

Tongkat itu meleset.

Kemudian Ethan melangkah masuk ke area lawan.

Satu pukulan.

Buk!

Pria itu terpental ke belakang dan menghantam dinding.

Tidak mati.

Tetapi pingsan.

Riko langsung pucat.

"Apa..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Ethan sudah berada di depannya.

Kecepatan itu membuatnya tidak sempat bereaksi.

Tangan Ethan mencengkeram pergelangannya.

Krek!

Tulang patah.

Riko menjerit.

"Aaaaaa!"

Namun jeritannya berhenti ketika tatapan mereka bertemu.

Mata Ethan membuat darahnya membeku.

Itu bukan mata seorang mahasiswa.

Itu mata seseorang yang telah membunuh ribuan orang.

"K-Kau siapa sebenarnya?"

Ethan terdiam sesaat.

Lalu menjawab dengan tenang.

"Orang yang seharusnya sudah mati."

Tubuh Riko gemetar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Ethan melepaskannya.

"Aku hanya ingin satu jawaban."

Riko buru-buru mengangguk.

"Siapa yang menyuruh kalian?"

Pria itu menelan ludah.

"Ardi..."

Ethan menyipitkan mata.

"Ardi siapa?"

"Ardi Wijaya!"

Ruangan mendadak sunyi.

Nama itu akhirnya muncul.

Nama yang telah ia tunggu.

Ardi Wijaya.

Pewaris utama Keluarga Wijaya.

Orang yang menghancurkan kehidupan Ethan.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Namun senyum itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan.

"Bagus."

Riko merasa lega.

Ia mengira akan dibiarkan hidup.

Namun detik berikutnya ekspresinya berubah.

Karena ia melihat sesuatu yang aneh.

Untuk sesaat.

Sangat singkat.

Bayangan hitam raksasa muncul di belakang Ethan.

Seolah seekor monster kuno sedang menatapnya.

Riko bahkan tidak sempat berteriak.

Pandangannya menjadi gelap.

Tubuhnya roboh ke lantai.

Ethan berdiri diam.

Napasnya sedikit berat.

Tubuh ini memang masih terlalu lemah.

Ia harus menjadi lebih kuat.

Jauh lebih kuat.

Namun saat hendak kembali berkultivasi, alisnya tiba-tiba berkerut.

Ia menoleh ke arah jendela yang pecah.

Jauh di luar sana.

Di atas gedung tinggi yang tertutup hujan.

Seseorang sedang mengamatinya.

Sosok itu mengenakan mantel hitam panjang.

Wajahnya tertutup bayangan.

Namun satu hal terlihat jelas.

Mata emasnya menyala samar di tengah kegelapan.

Dan sosok misterius itu baru saja menyaksikan seluruh kejadian sejak awal.

"Menarik..."

Suara perempuan terdengar pelan.

Kemudian sosok itu menghilang bersama hembusan angin malam.

Sementara Ethan masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya menatap ke arah gedung tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Bumi, ia merasakan sesuatu yang tak seharusnya ada.

Aura spiritual.

Dan itu berarti satu hal.

Bumi menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!