Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Mari silakan dimakan," ucap Yuna memecah keheningan. Lima orang dewasa dan satu anak kecil kini duduk mengelilingi meja makan panjang.
"Terima kasih. Kebetulan aku sudah sangat lapar... Aduh!" Andrew meringis kesakitan saat mengunyah karena rahangnya memar, namun ia tetap melanjutkan makan dengan santai seolah tak terjadi apa-apa, padahal dialah sumber semua keributan itu.
"Tuan Dante, jangan terus menatapku begitu. Apa hanya dengan menatap kau sudah merasa kenyang?" Andrew sengaja menggoda.
Baginya pria di hadapannya sungguh unik, seolah memiliki dua sifat yang sangat bertolak belakang. Di depan istrinya tatapannya begitu hangat dan lembut, namun di depan orang lain ia tampak mengerikan seolah siap mencabik siapa saja yang berani melangkah.
"Kau.."
"Jangan diladeni, Kak. Aaah..." Clark memotong cepat, lalu membuka mulutnya lebar memberi isyarat agar Dante menyuapinya. Dante segera menurut. Andrew, Hudson, dan Yuna hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan itu, sementara Josua menatap polos.
"Paman Dante, kenapa makanannya disuapi?" tanya bocah itu.
"Tangan Paman terluka," jawab Dante singkat sambil menunjukkan perban di tangannya.
"Ah, cuma luka kecil begitu saja sudah dibesar-besarkan. Kalau begitu bagaimana dengan wajahku yang kau buat babak belur begini? Kau merusak ketampananku!" omel Andrew.
Clark terkekeh pelan. "Suamiku tidak salah. Kau yang memulainya duluan. Seandainya kau tak cari gara-gara, wajahmu pasti masih utuh."
"Meskipun aku yang paling dirugikan, tapi karena kau sudah berkata begitu... ya sudah, aku tak akan menyalahkannya lagi," desah Andrew pasrah.
"Tuan Andrew, kalau begitu tolong kurangi bicara omong kosong. Cepat habiskan makanmu lalu segera pergi," ucap Clark tegas.
"Bagaimana aku bisa pergi? Kepalaku masih pening dan pandanganku masih kabur. Aku tak bisa ke mana-mana. Lebih baik aku menginap di sini saja. Dokter, kau yang paling tahu kondisiku..." Andrew menatap Hudson memelas, sementara Dante menatapnya tajam. Hudson serba salah, lalu melirik istrinya meminta bantuan.
"Masih ada satu kamar kosong. Tuan Andrew boleh menginap malam ini," putus Yuna. Dante mendengus kesal.
"Dante, bagaimanapun dia sedang terluka, dan kau yang melukainya. Tak perlu protes," ucap Yuna tenang. Hudson pun menghela napas lega, istrinya selalu tahu cara menenangkan keadaan. Andrew tersenyum puas, sedangkan Dante semakin menahan emosi.
Setelah makan selesai, semua kembali ke kamar masing-masing. Dante langsung menggendong istrinya masuk ke kamar, membuat yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala.
'Bisa-bisa mengangkat sendok saja tak sanggup, tapi menggendong istrinya kok sekuat tenaga,' batin mereka serentak.
Andrew pun menjadi penghuni tak diundang selama dua hari berikutnya. Pria blasteran itu selalu saja mengikuti ke mana pun Clark pergi, membuat Dante semakin geram tak keruan. Clark sendiri bingung, entah kenapa pria itu tak kapok terus-menerus mengganggu suaminya. Merasa tak nyaman, Dante akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal ke kediaman mereka.
"Akhirnya kita pulang juga..." Clark merebahkan diri di atas kasur empuknya sambil menghela napas lega.
"Lelah?" tanya Dante sambil ikut berbaring di sampingnya.
"Sedikit saja. Kenapa?" Clark menoleh menatap wajah suaminya.
"Mau melakukannya?"
"Melakukan apa?" Clark pura-pura bingung sambil mengedipkan mata manja.
Dante menangkup wajah istrinya, mencubit pipinya gemas hingga bibirnya mengerucut. "Sudah, jangan pura-pura bodoh."
"Ya sudah, lepaskan tanganku. Aku mengerti..." Clark memelas. "Ayo kita lakukan sampai Kakak berhasil membuatku hamil."
Kalimat itu terucap begitu saja, namun seketika mengubah raut wajah Dante menjadi sedih.
"Kau masih memikirkan ucapan Paman?"
"Bukan... aku hanya bicara sembarangan," elak Clark cepat. Padahal dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat menginginkannya.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭