Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : SERANGAN KEJUTAN
Embun pagi masih menempel tebal di ujung daun. Udara dingin menusuk tulang, namun Bayu dan Karta tak beranjak sedikit pun dari tempat persembunyian mereka di balik semak tebal tepi jurang. Matanya menatap tajam ke arah jembatan kayu tua yang melintas di atas sungai berarus deras. Papan-papannya sudah lapuk, jalannya sempit tak lebih dari dua orang berpapasan. Tempat yang paling tepat untuk menyergap.
Karta menyisir keringat dingin di pelipisnya dengan lengan, suaranya berbisik nyaris tak terdengar.
"Yakin sekarang lewat?"
Bayu mengangguk pelan, matanya tak beralih dari ujung jalan yang masih samar tertutup kabut.
"Setiap pagi jam begini. Mereka berjalan berempat. Dua di depan, dua di belakang. Tak pernah lebih. Tak pernah kurang."
Karta mencengkeram erat sebilah kayu keras yang ujungnya diruncingkan dan dibakar. Napasnya diatur perlahan, berusaha menenangkan jantung yang berpacu cepat.
"Dan rencananya... kita biarkan dua orang depan lewat dulu, lalu..."
"Lalu kita putus jalan mereka," potong Bayu singkat.
"Yang di belakang tak bisa maju, tak bisa mundur dengan cepat. Di kiri tebing curam, di kanan sungai dalam. Di tengah... jembatan sempit yang tak punya tempat untuk berlindung."
Belum selesai percakapan itu, terdengar suara sepatu bot menginjak batu dan tanah becek. Langkah teratur. Tegap. Semakin lama semakin jelas mendekat.
Bayu memberi isyarat tangan. Diam. Tetap rendah.
Empat prajurit Belanda muncul dari balik tikungan. Berseragam rapi, senapan tergenggam erat di tangan. Mereka berjalan berpasangan, mata menyapu sekeliling dengan waspada. Wajah mereka tampak lelah dan gelisah. Sejak dua malam lalu, tak ada satu pun yang berani berjalan dengan tenang di jalur ini.
"Vooruit! Blijf kijken!" (Maju! Terus awasi!) bentak prajurit di depan yang tampak pemimpin regu. Suaranya berusaha tegas namun terdengar tegang.
"Kapitan, ik voel mij hier niet veilig... te veel struiken, te veel schaduw..." (Kapten, saya merasa tidak aman di sini... terlalu banyak semak, terlalu banyak bayangan...) gumam prajurit muda di sebelahnya sambil memeluk senapan erat-erat.
"Onzin! Het is slechts woud! Vooruit!" (Omong kosong! Ini hanya hutan! Maju!) Pemimpin itu membentak, namun langkah kakinya sendiri perlahan melambat saat memasuki jembatan kayu yang sempit.
Dua orang pertama sudah melangkah di atas papan jembatan yang berderit pelan. Di belakangnya dua orang lain ikut melangkah perlahan. Jarak mereka rapat. Tak ada ruang untuk menghindar.
Bayu menarik napas dalam. Saatnya.
"SEKARANG!" teriaknya pelan namun tajam.
Dari atas tebing, Bayu mendorong sebatang batang kayu besar yang sudah disiapkan sejak subuh. Kayu itu meluncur deras, menghantam papan jembatan tepat di tengah dengan dentuman keras membelah udara.
BRAK!!
Papan jembatan retak dan miring seketika. Dua prajurit di belakang langsung terhuyung mundur kaget. Dua orang di depan terjebak di bagian ujung jembatan yang masih utuh, terpisah dari kawan-kawannya.
"Wat gebeurt er?! Wat is dat?!" (Apa yang terjadi?! Apa itu?!) teriak mereka serentak panik.
Belum sempat mereka mengangkat senjata, dari balik semak di kedua sisi jalan terdengar suara gemuruh dan teriakan. Bayu dan Karta melempari mereka dengan batu-batu besar dan tanah gembur dari tempat tersembunyi di atas. Batu menghantam papan jembatan, menabrak pagar kayu, serpihan beterbangan ke segala arah.
"Musuh! Di atas! Di kiri! Di kanan!" teriak Bayu sekuat tenaga, suaranya digema-gemakan seolah datang dari puluhan orang sekaligus.
"Turunkan senjata! Kalian sudah dikepung!" sambung Karta dengan suara yang diubah nadanya, seolah ada pasukan besar yang mengepung mereka dari segala penjuru.
Prajurit-prajurit itu bingung tak tahu harus menembak ke mana. Batu terus menghujani mereka dari atas. Suara teriakan datang dari mana-mana. Bagian tengah jembatan sudah rusak parah, tak bisa dilewati ke depan maupun ke belakang.
"Schiet! Schiet naar boven! Er zijn vijanden!" (Tembak! Tembak ke atas! Ada musuh!) perintah pemimpin regu itu sambil menembakkan senapannya membabi-buta ke arah puncak bukit yang tertutup kabut.
Peluru melesat ke atas, menembus dedaunan, namun tak menyentuh siapa pun. Bayu dan Karta sudah bergeser ke tempat lain sebelum peluru itu datang.
"Kita serang dari sisi lain!" bisik Bayu sambil melompat turun dari balik semak, menyusuri lereng curam dengan gerakan cepat dan lincah.
Karta mengikuti di belakangnya, napas memburu namun matanya berbinar penuh semangat. Mereka muncul di sisi lain jembatan, melemparkan batu lagi sambil berteriak dengan suara berbeda-beda.
"Jangan biarkan mereka lari!"
"Kepung dari belakang!"
"Lempar kayu besar!"
Kepanikan di jembatan itu makin menjadi-jadi. Empat prajurit itu saling berdesakan di tempat sempit. Senjata mereka saling bertabrakan. Tak ada yang tahu berapa banyak musuh yang menyerang. Yang mereka tahu hanya suara teriakan dari segala arah dan batu yang terus menghujani tanpa henti.
"Terlalu banyak musuh! Kita harus mundur!" seru salah satu prajurit di belakang dengan suara gemetar.
"Tidak bisa mundur! Jembatan rusak di belakang!" balas yang lain panik.
Pemimpin regu itu berusaha menenangkan namun suaranya hilang ditelan kepanikan kawan-kawannya.
"Blijf kalm! Blijf schieten! Ze zijn maar weinig!" (Tetap tenang! Terus menembak! Mereka sedikit saja!) teriaknya, meski ia sendiri tak yakin akan ucapannya.
Bayu melihat celah itu. Mereka bingung. Mereka tak berani maju, tak berani mundur. Mereka menembak bayangan.
"Karta, ikat ujung tali ke pohon besar," perintah Bayu pelan sambil menarik seutas tali rami tebal yang sudah disiapkan.
"Kita tarik ujung jembatan yang miring. Buat mereka semakin tak bergerak."
Mereka bekerja cepat dan diam. Sambil terus melempari batu dan berteriak dari tempat berbeda, mereka mengikat tali ke ujung papan jembatan yang miring, lalu menariknya dari balik pepohonan di sisi tebing. Papan itu berderit keras, semakin miring hingga hampir tegak lurus.
Jalan mereka benar-benar terputus sekarang.
Empat prajurit itu kini terjebak di ujung jembatan yang sempit dan rapuh. Di bawah mereka sungai berarus deras bergemuruh. Di atas dan di sekeliling mereka... suara teriakan dan hantaman batu terus datang tanpa terlihat siapa pelakunya.
"Ze breken de brug! Wij vallen! Laten we springen!" (Mereka merusak jembatan! Kita jatuh! Mari kita melompat!) teriak prajurit muda itu ketakutan setengah mati, wajahnya pucat pasi.
"Stil! Niet springen! De stroom is te sterk!" (Diam! Jangan melompat! Arusnya terlalu kuat!) Pemimpin regu itu berusaha menahannya, namun kakinya sendiri gemetar melihat papan di bawah kakinya semakin miring dan berderit keras.
Bayu melihat saatnya. Tak perlu membunuh. Cukup membuat mereka takut dan melarikan diri tanpa membawa senjata.
"Karta, teriak seakan kita akan menyerang langsung!" bisik Bayu.
"SIAP! MAJU SEMUA! SERANG SEKARANG!" teriak Karta sekuat tenaga.
"MAJU! JANGAN BIARKAN MEREKA LARI!" sambung Bayu dengan suara yang berbeda.
Suara langkah kaki berlari di atas dedaunan kering terdengar dibuat-buat dengan cepat dan berisik. Seolah puluhan orang sedang berlari mendekat dari segala arah.
Itu cukup. Ketakutan yang sudah memuncak akhirnya meledak.
"Ze komen! Ze komen eraan! Wij zijn verloren!" (Mereka datang! Mereka mendekat! Kita tamat!)
Prajurit-prajurit itu melempar senjata dan tas mereka begitu saja, lalu berusaha melompat ke sisi sungai yang dangkal sambil berpegangan pada akar pohon menjuntai. Mereka tak peduli lagi pada senjata, tak peduli pada tugas jaga. Yang mereka inginkan hanya satu — menjauh dari jembatan maut itu secepat mungkin.
Mereka merangkak turun dengan panik, terpeleset, tergores batu, namun terus berlari menyusuri tepi sungai tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan senapan, tas bekal, dan beberapa butir peluru yang terjatuh di papan jembatan yang miring itu.
Bayu memberi isyarat tangan. Berhenti. Jangan kejar.
Suara langkah kaki mereka menjauh perlahan. Hening kembali menyelimuti lembah. Hanya suara air sungai yang terus bergemuruh di bawah sana.
Karta berdiri terengah-engah di samping Bayu, matanya melotot tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Napasnya memburu keras, dadanya naik turun.
"Mereka... lari..." gumam Karta pelan seolah tak percaya.
"Empat orang bersenjata lengkap... lari dari kita berdua?"
Bayu menatap ke arah jembatan yang miring itu, lalu melangkah maju perlahan. Matanya menyapu papan-papan yang retak, benda-benda yang tertinggal di sana.
"Mereka tak kalah oleh kekuatan kita," jawab Bayu pelan namun tegas.
"Mereka kalah oleh ketakutan mereka sendiri. Kita tak perlu menembak satu peluru pun. Kita hanya perlu membuat mereka yakin bahwa mereka sudah kalah sebelum bertarung."
Bayu mengambil sebatang senapan yang tergeletak di papan miring itu. Kayunya masih baru besinya berkilau terkena cahaya matahari pagi yang mulai menembus kabut. Di sampingnya ada tas berisi bekal roti dan beberapa butir peluru terbungkus kain minyak.
Karta melangkah mendekat, menatap senapan di tangan Bayu dengan mata berbinar-binar.
"Itu... senjata sungguhan, Bayu. Bukan bambu runcing."
Bayu memegang senapan itu dengan hati-hati, meraba setiap bagiannya. Berat. Dingin. Namun di tangannya terasa asing sekaligus berharga.
"Hadiah pertama," gumam Bayu pelan.
"Dan belum yang terakhir."
Karta segera mengambil tas bekal dan peluru yang terjatuh. Matanya berbinar gembira melihat roti yang masih utuh di dalamnya.
"Mereka lari begitu saja... meninggalkan semuanya. Bahkan sarapan mereka." Karta tersenyum lebar sambil menyelipkan roti ke ikat pinggangnya.
"Kau hebat, Bayu. Rencananya sempurna. Tak ada darah yang tumpah. Tapi mereka lari ketakutan setengah mati."
Bayu menatap ke arah jalan yang masih sepi di kejauhan. Ia tahu, kemenangan pagi ini tak akan berlangsung lama. Keempat prajurit itu pasti akan melaporkan kejadian ini kepada atasan mereka. Pasukan yang lebih besar pasti akan dikirim untuk memeriksa. Dan saat itu tiba... taktik menakut-nakuti saja tak akan cukup lagi.
Namun hari ini... hari ini mereka menang. Hari ini mereka membuktikan bahwa tanah yang mereka pijak bukan milik mereka yang datang membawa senjata. Tanah ini milik mereka yang hafal setiap jengkalnya, yang tahu cara menyembunyikan diri di balik bayangan, yang tahu cara memanfaatkan angin dan air untuk berbicara.
"Mereka akan kembali," ucap Bayu pelan sambil menyandang senapan itu di bahu.
"Dengan jumlah lebih banyak."
"Biarkan saja," jawab Karta sambil memikul tas bekal dan senapan kedua yang sempat tersangkut di akar pohon.
"Kali ini kita sudah punya senjata mereka. Dan kalau mereka kembali... kita akan menyambut mereka dengan cara yang lebih mengejutkan lagi."
Bayu menatap sahabatnya itu. Di mata Karta tak lagi terlihat keraguan atau ketakutan seperti dulu. Ada percikan keberanian yang baru tumbuh. Ada keyakinan bahwa mereka bisa. Bahwa dua orang pun bisa mengalahkan banyak musuh asal tahu cara dan berani memulainya.
"Ayo pergi," ajak Bayu sambil berbalik arah.
"Sebelum mereka sadar bahwa yang menyerang tadi hanya kita berdua."
Mereka berjalan menyusuri lereng curam, menghilang di balik rimbunan pepohonan sebelum bayangan itu terlihat oleh siapa pun. Di belakang mereka, jembatan kayu yang rusak itu berdiri miring di atas sungai yang terus mengalir. Sebuah tanda bahwa di tanah ini... yang terlihat lemah belum tentu benar-benar lemah. Dan serangan yang tak disangka-sangka... adalah serangan yang paling mematikan.