Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Pertemuan yang tidak di sengaja
Bab 6: Pertemuan Tak Terduga di Kafe
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Aira selalu membangunkan Azam tepat pukul 02.30 dini hari.
"Zam! Bangun!" panggil Aira tak berperasaan.
Azam yang masih tertidur pulas langsung terbangun saat merasakan rambutnya ditarik paksa oleh Aira.
"Azam, bangun! Ih, kamu tuh ya, kalau udah tidur tuh kayak kebo, susah bener dibanguninnya," omel Aira.
Azam mengusap wajahnya pelan, lalu membawa tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya. "Maaf ya, Sayang. Aku mungkin kecapekan, makanya agak susah dibanguninnya," kata Azam lembut.
Aira yang awalnya sempat memberontak, seketika langsung terdiam. Dengan erat, Aira membalas pelukan suaminya. "Iya deh, iya. Nggak apa-apa kok, udah aku maafin. Ya udah, yuk mandi," kata Aira, yang dibalas anggukan oleh Azam.
Sejak pertama menikah, rutinitas setiap pagi mereka adalah mandi pagi dan melaksanakan salat sunah serta subuh berjamaah.
"Aku dulu apa kamu, Sayang, yang mandi? Apa mau bar...?"
PUK!
Belum sempat Azam menyelesaikan kalimatnya, boneka kucing milik Aira sudah terlebih dahulu mengenai wajah tampannya.
"Aku dulu! Kamu tunggu aja dulu. Awas aja ya kalau kamu tidur lagi," kesal Aira lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Azam hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali merebahkan tubuhnya.
Setelah mandi dan mengganti baju khusus untuk salat, Aira langsung menghampiri Azam agar segera mandi. Azam yang melihat kedatangan Aira langsung pura-pura tertidur lelap.
"Ihhhh, Mas Azam!" pekik Aira kesal saat melihat suaminya kembali tidur lelap. "Mas, bangun."
"Hmmm..."
"Mas, bangun!"
"Hmmm..."
"Mas, bangun!"
"Hmmm..."
"Bangun atau aku marah nih," ancam Aira lalu menghentakkan kakinya kesal.
Namun tiba-tiba, Azam memeluknya dari belakang dan menyentuh kedua tangan Aira.
"Ih, lepasin, Mas! Aku udah wudu tahu," kata Aira cemberut.
"Biarin, siapa suruh kamu sewangi ini."
Aira merasakan jantungnya berdebar sangat cepat. Namun tiba-tiba, Azam menggendong tubuh mungilnya dan Aira pun tidak bisa menolaknya.
***
Beberapa jam kemudian, waktu menunjukkan jam keberangkatan kerja. Azam mencium kening sang istri yang saat itu kembali tertidur pulas di kasur.
"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya. Kamu jangan lupa sarapan," bisik Azam lembut.
"Hmmm..." gumam Aira pelan.
"Kalau ada..." Mas Azam menghentikan kalimatnya saat tiba-tiba Aira terbangun.
"Mas, nanti aku boleh izin ke kafe nggak? Aku pengen jalan-jalan gitu, sebentar aja," kata Aira memelas.
Azam berpikir sejenak lalu mengangguk. "Tapi ingat satu hal, langsung hubungi aku kalau kamu ada apa-apa. Jangan lupa hubungi aku, oke?" tegas Azam, yang dibalas anggukan oleh Aira.
Setelah keberangkatan Azam, Aira langsung bersiap-siap untuk ke kafe langganan dia dan Azam sejak SMP.
"Mbak, Nutella Frozen Mocha-nya satu ya, sama cumi bakar asam manis satu porsi di meja nomor lima," kata Aira kepada mbak kasir.
"Baik, Kak. Mohon tunggu sebentar ya," kata mbak kasir.
Aira berjalan menuju meja nomor lima. Namun tanpa sengaja, mata bulatnya melihat sosok perempuan berhijab sedang duduk sendirian di meja nomor tujuh.
"Kok kayak nggak asing ya? Siapa ya?" gumam Aira berusaha keras mengingat sosok perempuan cantik berhijab itu.
"Assalamualaikum, Aira," salam perempuan itu saat menyadari tatapan Aira yang seperti orang bingung.
Aira tersentak sekilas lalu tersenyum canggung. "Mbaknya siapa ya? Kok aku lupa, tapi kayak pernah ketemu gitu," kata Aira tidak enak.
Perempuan itu tertawa kecil saat melihat raut wajah Aira yang polos dan menggemaskan. "Aku Safira, Dek. Perawat yang waktu beberapa minggu lalu ketemu kamu di rumah sakit," kekeh perempuan berhijab itu.
Aira mengangguk mengerti lalu meminta izin kepada Safira untuk duduk di depannya. "Makanya aku kayak pernah lihat mbaknya gitu, tapi aku lupa di mana," cengir Aira.
Safira menoleh ke arah Aira yang sudah berdiri tepat di depannya. "Sebelumnya maaf ya, Aira. Tempat duduk di depanku sudah ditempati seseorang," kata Safira meminta maaf.
Aira mengangguk mengerti. Dan benar saja, tak lama kemudian seorang laki-laki tampan datang menghampiri Safira.
"Mas Adam, kenalin ini Aira. Dulu pertama kenal di rumah sakit saat kakinya terluka," kata Safira kepada laki-laki di depannya.
Aira mengangguk canggung. "Halo, aku Aira. Oh ya udah, Mbak, aku ke sana dulu ya. Assalamualaikum," pamit Aira lalu meninggalkan meja Safira begitu saja.
"Waalaikumussalam," jawab Safira lembut.
***
Setelah menghabiskan pesanannya di kafe, Aira langsung menuju perpustakaan pusat kota.
"Mas, kamu udah makan belum?" tanya Aira saat panggilan video diterima oleh Azam.
"Assalamualaikum, Sayang," salam Azam lembut.
"Waalaikumussalam, Mas," jawab Aira.
"Kamu di mana? Masih di jalan? Udah makan belum?" tanya Azam lembut.
Aira mengangguk. "Aku udah makan, Mas. Ini baru mau ke perpustakaan pusat."
Azam tersenyum manis, membuat "gula darah" Aira selalu melonjak saat berada di dekatnya.
"Dih, apaan sih senyum-senyum gitu? Pasti mikir yang enggak-enggak, kan?" omel Aira.
"Iya, Sayang. Ya udah, hati-hati ya. Aku ada meeting siang ini," sahut Azam.
"Iya, Mas. Semangat kerjanya! Ingat, udah punya istri, jangan nakal ya, apalagi dekat cewek lain," kata Aira tegas.
"Iya, Sayangku, iya," sahut Azam gemas.
"Ya udah, aku matiin dulu ya. Assalamualaikum, Ganteng."
"Waalaikumussalam, Sayangku," jawab Azam sembari tertawa kecil.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍