Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Tidak Tertarik
Belvina menutup kotak P3K itu kembali, lalu menyerahkannya tanpa melihat.
Sopir segera menerimanya dan kembali ke kursi kemudi. Dalam hati ia bergumam,
"Malam ini... nyonya berbeda. Aku kayak gak kenal dia." Ia melirik Belvina dari kaca spion.
"Nyonya itu… diam."
Alden bersandar. Tatapannya masih tertuju pada wanita di sampingnya, sejenak lebih lama dari yang seharusnya.
“Jalan.”
Satu kata. Pendek. Tegas.
“Baik, Tuan.”
Mesin mobil berdengung pelan. Lampu kota melintas di balik kaca.
Belvina tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan. Seolah pria di sampingnya… tidak ada.
Alden menyilangkan kaki, bersandar santai. Namun matanya tidak lepas dari wanita itu.
“Cukup dramanya?” Nada suaranya datar. Rendah. Tajam.
Tidak ada jawaban. Belvina bahkan tidak berkedip.
Alden tersenyum tipis. Sinis.
“Jatuh di depan banyak orang, lalu berpura-pura berubah?” ia memiringkan kepala sedikit. “Metode baru untuk cari perhatian?”
Belvina bergeming. Satu detik. Dua detik. Lalu—
“Kalau aku butuh perhatian,” jawab Belvina akhirnya, suaranya tenang, “aku tidak akan memilih cara yang mempermalukan diri sendiri.”
Alden terdiam. Singkat. Namun cukup untuk membuat udara di dalam mobil berubah.
Tatapan pria itu mengeras. “Berani sekali bicaramu hari ini.”
Dina akhirnya menoleh. Perlahan. Tatapannya bertemu langsung dengan Alden. Tidak goyah. Sedikit pun.
“Baru hari ini kamu sadar?” balasnya ringan.
Alden menatapnya beberapa detik lebih lama. Mencari sesuatu. Celah. Kepalsuan. Kepanikan.
Namun yang ia temukan-- tidak ada. Hanya ketenangan yang asing.
“Jangan lupa posisimu,” ucapnya dingin. Satu kalimat. Tapi penuh tekanan.
Belvina mengangguk kecil. Seolah mengerti. Namun yang keluar dari bibirnya—
“Sebagai istri?” Nada suaranya tipis. Hampir seperti mengejek. “Tenang saja. Aku tidak tertarik melanggar batas.”
Alis Alden bergerak tipis. “Aku juga tidak tertarik,” balasnya cepat.
Dina tersenyum samar. Kali ini benar-benar terlihat.
“Bagus,” katanya pelan. “Berarti kita sepakat.”
Alden mengalihkan pandangannya ke depan. Sejak ia mengenalnya, baru kali ini ia tidak bisa membaca wanita di sampingnya ini. Dan itu… mengganggunya.
Sang supir kembali melirik dari kaca spion. "Apa ini masih Nyonya Belvina yang aku kenal?" batinnya penuh tanya.
Sementara Belvina kembali menatap ke luar jendela. Lampu kota berpendar di matanya. Di balik ketenangannya, satu keputusan sudah bulat.
"Cukup."
Ia tidak akan menguranginya.
"Harga diriku terlalu mahal untuk mengemis cinta. Apalagi..." ia melirik Alden. "...padanya. Dia bukan satu-satunya pria tampan dan mapan di dunia.”
-
Mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah besar bergaya modern klasik.
Pintu terbuka.
Alden turun lebih dulu tanpa menoleh.
Belvina keluar beberapa detik kemudian. Langkahnya pelan. Matanya terangkat, baru pertama kali ini ia melihat tempat itu.
Rumah itu besar. Terlalu besar.
Pilar tinggi. Lampu gantung berkilauan dari dalam. Halaman luas yang terawat sempurna.
"Ini rumah atau istana?"
Namun wajah Belvina tetap datar. Tidak ada kekaguman berlebihan. Tidak ada kegugupan.
Hanya… mengamati. Detail demi detail. Seolah sedang memetakan tempat yang akan ia tinggali.
Di dalam, para pelayan sudah berbaris rapi.
“Selamat datang, Tuan. Nyonya.”
Suara mereka serempak.
Beberapa pelayan saling melirik. Lalu diam.
Belvina berjalan lurus. Tenang. Menjaga jarak. Tanpa satu pun usaha mendekat. Langkahnya bahkan tidak menyesuaikan langkah Alden. Seolah, mereka bukan pasangan.
Alden juga menyadarinya. Namun ia tidak berkata apa-apa.
“Siapkan makan malam,” ucapnya singkat.
“Baik, Tuan.”
Belvina berhenti sejenak di tengah ruangan. Matanya kembali berkeliling.
Tangga besar di sisi kanan. Ruang keluarga di kiri. Lorong panjang menuju bagian dalam.
Potongan-potongan ingatan mulai muncul.
Kamar utama di lantai dua. Ruang kerja Alden, tidak boleh dimasuki sembarangan.
Area makan keluarga, tempat paling sering dipenuhi keheningan.
Ia mengerjap pelan. "Jadi… ini rumah Belvina."
Namun ia langsung meralatnya. Matanya melirik Alden sekilas. "Ah, tidak. Ini rumah si es balok arogan itu."
Di belakangnya, bisik-bisik mulai muncul, nyaris tak terdengar.
“Kenapa Nyonya diam saja…?”
“Biasanya langsung ke Tuan…”
“Aneh ya…”
Belvina mendengarnya. Namun tidak menoleh. Tidak peduli. Karena, Belvina yang sekarang tidak hidup untuk dilihat orang lain.
-
Makan malam disiapkan dengan cepat. Di atas meja panjang, hidangan lengkap.
Alden sudah duduk lebih dulu.
Belvina datang beberapa saat kemudian. Ia menarik kursi, dan duduk. Di seberang Alden.
Bukan di sampingnya.
Satu gerakan kecil. Namun cukup untuk membuat seorang pelayan hampir menjatuhkan gelas.
Alden mengangkat alis tipis. Sikap Belvina jelas menarik perhatiannya.
“Kenapa di sana?” tanyanya datar.
Belvina menatapnya sebentar. “Lebih nyaman.”
Jawaban singkat. Tanpa basa-basi. Tanpa senyum. Tanpa usaha menyenangkan.
Alden tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelasnya, menyeruput pelan. Matanya tidak lepas dari wanita itu.
“Tidak ingin duduk di dekatku?” nada suaranya tipis, mengandung sesuatu yang sulit ditebak. Menguji.
Dulu, wanita ini akan langsung duduk di sampingnya tanpa diminta.
Sekarang?
“Tidak.”
Jawaban itu datang cepat. Tenang. Tanpa ragu.
Sendok di tangan pelayan berhenti sesaat.
Alden menyandarkan tubuhnya. Tatapannya menajam.
“Atau memang tidak berani?”
Serangan halus.
Belvina terdiam sejenak. Lalu, ia mengangkat kepalanya. Tatapan mereka bertemu.
“Tidak tertarik.”
Jawaban itu ringan. Namun seperti batu yang jatuh di keheningan.
Alden terdiam.
Sejak jatuh di lobby hotel tadi, tidak ada usaha dari Belvina untuk mendekat. Tidak ada obsesi. Tidak ada rasa ingin memiliki.
Dan justru itu, terasa jauh lebih mengganggu.
Alden meletakkan gelasnya pelan. Bunyinya kecil. Namun cukup jelas di tengah suasana yang menegang.
“Jangan main permainan yang tidak bisa kau selesaikan.” Nada suaranya turun. Lebih dingin. Lebih berat.
Belvina menatapnya beberapa detik. Lalu, ia tersenyum tipis. Bukan senyum manis. Bukan juga penuh arti.
Lebih ke… tajam.
“Tenang saja,” katanya pelan. “Aku tidak tertarik pada hal yang tidak bernilai.”
Satu detik. Dua detik. Tidak ada yang bergerak. Namun sesuatu berubah.
Jari Alden yang tadi bertumpu di meja berhenti. Tatapannya mengeras samar, garis rahangnya menegang tipis. Bukan marah yang meledak, lebih seperti ada bagian yang terusik.
Ia tidak langsung membalas. Hanya menatap wanita di depannya. Lebih lama. Lebih dalam. Seolah memastikan kalimat itu benar-benar keluar dari Belvina.
“Kau sekarang suka merendahkan sesuatu tanpa melihat cerminnya dulu?” ucapnya akhirnya, pelan. Tenang, tapi jelas bukan datar lagi.
...✨“Cinta yang harus diminta berulang kali… bukan cinta, tapi kebiasaan merendahkan diri.”...
...“Ketika perhatian berhenti, barulah rasa penasaran dimulai.”✨...
.
To be continued
Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.
Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.
Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.
Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.
Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.
Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.
Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.
Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.
Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.
Dimas takut Seraphina berbuat nekat.
Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.
Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.
Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.
Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.
Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.
Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.
Seraphina menahan amarah.
Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.
Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.
Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.
Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.
Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.
Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.
Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.
Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.
Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.