Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 ~ Ingin Tau Semuanya
Setelah acara berakhir, Damian berjalan keluar dari ballroom bersama Haris. Wajahnya masih terlihat tenang, meski pikirannya terus dipenuhi sosok Evan.
Baru beberapa langkah menuju pintu keluar, ponsel di saku jasnya bergetar.
Damian segera mengangkatnya.
"Halo?"
Suara seorang wanita terdengar dari seberang. ["Damian, dimana kamu sekarang?"]
"Aku sedang menghadiri forum investasi di Grand Emerald Hotel." balas Damian.
Wanita itu terdiam sejenak sebelum terdengar helaan napas kecil. ["Apakah kamu lupa?"]
Alis Damian sedikit berkerut.
["Hari ini kamu sudah berjanji akan memilih cincin untuk pertunanganmu dengan Eliza."]
Damian terdiam. Ingatan tentang jadwal yang sejak beberapa hari lalu sudah diberitahukan kepadanya seketika muncul kembali.
["Eliza sudah menunggumu sejak tadi,"] lanjut wanita itu lembut. ["Toko perhiasannya juga sudah dipesan khusus untuk kalian."]
Damian memejamkan mata sesaat. Di kepalanya masih terbayang wajah Evan.
Damian memejamkan mata sesaat. Di kepalanya masih terbayang wajah Evan.
Tiga tahun. Sekretaris yang selalu berada di sisinya. Anehnya... selama tiga tahun itu, Damian selalu merasa nyaman ketika Evan berada di dekatnya. Bukan sekadar nyaman seperti seorang atasan terhadap sekretaris yang dapat diandalkan. Ada sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.
Kehadiran Evan selalu terasa begitu alami di sisinya. Dan ketika pria itu tiba-tiba pergi, Damian baru menyadari bahwa kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi.
Saat itu Damian sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Mengapa?
Mengapa kepergian seorang pria bisa membuatnya merasa kehilangan? Namun Damian selalu menolak kemungkinan apa pun yang menurutnya tidak masuk akal.
Evan adalah seorang pria. Dan Damian tahu dirinya menyukai wanita. Setidaknya... itulah yang selama ini ia yakini.
Bahkan malam itu, ketika ia menghabiskan satu malam bersama seorang wanita yang sampai sekarang tidak pernah berhasil ditemukannya, Damian sempat menganggap semuanya sebagai jawaban.
Ia tertarik pada wanita.
Ia masih normal.
Hanya saja, wanita itu menghilang begitu saja setelah malam tersebut. Damian telah mencarinya selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah menemukan jejaknya.
Dan sekarang, ibunya justru mulai mendesaknya untuk menjalin hubungan dengan Eliza, wanita yang baik. Cantik, cerdas, dan memiliki latar belakang keluarga yang setara dengannya.
Damian tahu wanita itu tertarik kepadanya. Bahkan mungkin jauh lebih tertarik daripada yang pernah ia tunjukkan.
Namun masalahnya... Damian tidak merasakan apa pun ketika berada di dekat Eliza.
Tidak ada rasa nyaman yang aneh seperti ketika bersama Evan. Tidak ada perasaan kehilangan ketika Eliza tidak berada di sisinya.
Dan yang paling mengganggunya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, Damian masih mengingat sosok Evan dengan begitu jelas.
Ia mengembuskan napas panjang sebelum membuka kembali matanya.
'Sudahlah.' Damian berusaha mengakhiri pikirannya sendiri.
Apa pun yang ia rasakan terhadap Evan, itu tidak penting. Evan adalah putra sulung keluarga Harley. Mulai hari ini, mereka berada di dua sisi yang berbeda.
Namun Damian segera menyingkirkan pikirannya.
"Baiklah. Aku ke sana sekarang." Suaranya kembali terdengar tenang.
["Hati-hati.. Jangan kecewakan Eliza kali ini."]
"Iya."
Panggilan berakhir. Damian memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas.
Haris yang berdiri di sampingnya hanya diam, menunggu instruksi.
"Kita pergi."
"Ke mana, Tuan?"
Damian berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh. "Toko perhiasan. Etoile Royale."
Langkahnya tetap tenang. Damian baru saja keluar dari pintu utama ketika dari arah samping terdengar langkah kaki tergesa-gesa.
Evan sedang berjalan cepat sambil menempelkan ponsel di telinganya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada percakapan di seberang sana, hingga tanpa sengaja ia berbelok terlalu cepat.
"Iya. Sebentar lagi aku akan sampai. Lima belas menit, jaga Axel."
Bruk!
Tubuhnya menabrak punggung seseorang di depannya.
Evan kehilangan keseimbangan. Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, sebuah tangan langsung meraih pinggangnya dan menahannya.
Seketika suasana seolah membeku.
Evan terdiam.
Begitu pula Damian.
Jarak mereka begitu dekat. Tangan Damian masih melingkar di pinggang Evan, sementara tubuh pria itu nyaris bersandar sepenuhnya di dadanya.
Untuk sesaat, Damian merasakan sesuatu yang aneh. Detak jantungnya mendadak berpacu hanya karena sentuhan sederhana itu.
Perasaan yang sama. Perasaan yang dulu selalu muncul ketika Evan berada terlalu dekat dengannya.
Sementara itu, jantung Evan berdebar begitu kencang hingga ia sendiri takut Damian dapat mendengarnya.
Ia buru-buru mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada satu pun dari keduanya yang langsung bergerak.
Hingga suara tangisan kecil dari ponsel Evan memecahkan keheningan.
"Mommy...!!"
Deg!
Mata Evan langsung melebar. Ia segera menarik tubuhnya dari pegangan Damian dan menjauh satu langkah.
"Maaf."
Tanpa menunggu respons, Evan kembali menempelkan ponsel ke telinganya.
"Iya, Sayang... sabar ya.." Suara tangisan Axel terdengar lagi dari seberang.
Damian membeku.
Mommy?
Tatapannya perlahan berubah.
Ia memperhatikan Evan yang kini tengah berbicara lembut melalui telepon. Ekspresi dingin yang biasanya melekat di wajah pria itu menghilang begitu saja.
"Kenapa menangis? Hmm? Jangan takut. Mommy sebentar lagi pulang."
Damian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Ada sesuatu yang terasa tidak masuk akal. Evan adalah seorang pria. Lalu siapa anak yang baru saja memanggilnya Mommy?
Dan mengapa suara Evan ketika berbicara kepada anak itu terdengar begitu lembut?
Haris yang berdiri tidak jauh dari Damian juga sempat melirik ke arah Evan, tetapi Damian tidak mengatakan apa pun.
Sementara Evan sama sekali tidak menyadari tatapan penuh pertanyaan yang terus mengikutinya. Ia hanya berusaha menenangkan Axel sambil terus berjalan cepat menuju ke arah mobilnya.
"Jangan menangis lagi, ya. Mommy sedang ada urusan. Nanti Mommy pulang."
Damian mengepalkan tangannya perlahan. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Siapa anak itu?
Dan yang lebih mengganggunya... Mengapa anak itu memanggil Evan dengan sebutan Mommy?
"Mari, Tuan," ucap Haris.
Damian masih terdiam beberapa saat. Tatapannya mengikuti punggung Evan yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobilnya, ponsel masih berada di tangannya. Pria itu sama sekali tidak menoleh lagi.
Damian akhirnya mengangguk pelan. Ia pun melangkah bersama Haris menuju mobil.
Namun sepanjang perjalanan, pikirannya tetap tertinggal pada satu hal.
Apa lagi yang disembunyikan Evan darinya selama ini?
Selama tiga tahun, ia merasa mengenal pria itu dengan baik. Namun ternyata... semua yang Damian ketahui tentang Evan hanyalah sebagian kecil dari dirinya.
Identitas sebagai putra sulung keluarga Harley saja sudah cukup membuatnya terkejut. Sekarang muncul seorang anak yang memanggil Evan dengan sebutan Mommy.
Damian mengerutkan kening. Semakin ia memikirkannya, semakin kuat perasaan bahwa Evan menyimpan begitu banyak rahasia.
Dan entah mengapa... Damian mulai ingin mengetahui semuanya.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya