Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Dua Darah
Wilayah Ragonves terbentang luas di barat laut Kerajaan Divente, dikelilingi pegunungan yang diselimuti kabut dan hutan lebat yang menyimpan bisu. Negeri ini subur, makmur, dan selama berabad-abad menjadi poros perdagangan yang penting. Namun, di balik ketenteramannya, Ragonves menyimpan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh—pertikaian dua keluarga besar yang membagi kekuasaan dengan cara bertolak belakang.
Di satu sisi, Keluarga Vincentes memimpin dengan tangan besi yang tetap berujung beludru. Mereka menegakkan hukum tanpa pandang bulu, tetapi juga mendengar keluh kesah rakyatnya. Di sisi lain, Keluarga Sienta menguasai dengan bayang-bayang ketakutan. Siapa pun yang berani menyuarakan perlawanan akan lenyap dalam malam, dan mayatnya tak pernah ditemukan—hanya bisik-bisik ketakutan yang tersisa.
Rakyat Ragonves belajar untuk memilih. Mereka menghormati Vincentes, tetapi mereka takut pada Sienta.
Selama ratusan tahun, dua keluarga itu saling menebas dalam diam. Intrik, racun, tikaman dari bayangan—semuanya telah terjadi. Namun, takdir berkata lain. Perang tak berujung hanya melemahkan keduanya, dan ancaman dari luar mulai mengintai. Maka, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah perjanjian damai ditegakkan.
Di Aula Agung Kristal, di bawah cahaya lilin yang berkelap-kelip dan langit-langit berukir naga purba, Gran Vincentes dan Kenta Sienta membubuhkan tanda tangan mereka di atas perkamen emas. Isi perjanjian itu sederhana: perdamaian melalui pernikahan. Penerus kedua keluarga akan dipersatukan, darah lama bercampur, dan permusuhan pun sirna.
Grey Vincentes berdiri di depan altar, dadanya membuncah dengan rasa syukur yang hampir meluap. Rambut putihnya tersisir rapi, pakaian kebesarannya berkilauan di bawah sorot lampu kristal. Senyumnya cerah—terlalu cerah, bagi sebagian orang yang tahu.
Ia menatap gadis di hadapannya.
Keilla Sienta.
Gadis itu berdiri seperti patung marmer yang diukir dewi. Wajahnya putih bersih, rambut hitam pekatnya tergerai jatuh menutupi bahu mungilnya, dan matanya—dua lautan biru tua yang dingin nan memikat. Ia tidak tersenyum. Tetapi bagi Grey, itu justru membuatnya semakin cantik.
"Apa aku bermimpi?"
Grey menggenggam tangan Keilla dengan lembut. Hangat kulitnya terasa nyata, namun Keilla seperti tidak merasakannya sama sekali.
"Setelah sekian lama... akhirnya kita bisa bersama, Keilla," bisik Grey, suaranya bergetar oleh bahagia.
Sorak-sorai memenuhi aula. Keluarga Vincentes bersorak penuh kelegaan—perang saudara yang telah merenggut banyak nyawa akhirnya berakhir. Kerabat jauh saling berpelukan, anggur bersoda memenuhi gelas, dan orkestra memainkan melodi kegembiraan.
Namun, di sisi lain aula, sorak-sorai dari Keluarga Sienta terdengar hampa. Tepuk tangan mereka seragam, datar, seperti ritual yang dipaksakan. Wajah-wajah mereka tidak merekah, hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi batu. Beberapa di antaranya bahkan menatap Keilla dengan sorot yang sulit diartikan—ibarat belas kasih yang bercampur pengkhianatan.
Keilla merasakan genggaman Grey di tangannya. Hangat. Tulus. Menyiksa.
Ia ingin melepaskannya. Ia ingin berlari meninggalkan aula ini, meninggalkan senyum bodoh pemuda itu, dan terbang sejauh mungkin dari takdir yang ia benci. Tapi ia tidak bisa. Kakinya terpaku, bukan karena cinta, tetapi karena beban yang ia pikul.
"Jika aku pergi, ayah dan ibu akan binasa. Keluarga Sienta akan terkoyak. Dan Ragonves... akan kembali berlumuran darah."
Keilla menarik napas dalam-dalam. Lalu, ia menguatkan senyumnya.
"Iya, Grey. Aku juga senang," ucapnya, suara lembutnya bagai lonceng perak. "Kedua keluarga kini berdamai. Tidak ada lagi permusuhan. Itulah yang terpenting."
Grey menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Baginya, Keilla adalah anugerah—seorang gadis sempurna yang tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas, berbakat, dan kini menjadi miliknya.
"Kau tahu, Keilla?" Grey menatap tajam ke matanya. "Kita akan mengubah takdir ini. Aku berjanji. Keluarga Vincentes dan Sienta tidak akan pernah saling bermusuhan lagi. Aku akan membuatnya nyata."
Keilla hanya mengangguk pelan. Tapi di dalam hatinya, ia mendecih.
"Kau pikir aku mau? Tentu tidak. Aku sangat terpaksa menerima semua ini."
Di belakang panggung, Kenta Sienta dan istrinya, Belinda Helrena, menyaksikan putri mereka. Sang Patriark berdiri kaku, tangannya menggenggam erat pegangan kursi, sementara Belinda menahan napas. Mereka berdua memasang wajah datar, seperti topeng yang tak pernah retak.
Namun, jika seseorang menatap cukup dekat, mereka akan melihat urat di tangan Kenta menegang, dan sudut mata Belinda berkaca—sedikit, sekilas, sebelum ia mengedipkannya.
Di tengah keramaian dan sorak sorai, Grey menatap langit-langit aula dan berbisik penuh harap.
"Aku harap tidak ada masalah bagi kedamaian yang tenang ini."
Di kejauhan, di bawah cahaya lilin yang memudar, Keilla menunduk. Tangan kirinya diam-diam menggenggam erat ujung gaunnya, hingga buku-buku jarinya memutih.
Masalah?
Masalah akan selalu muncul, pikirnya.
Terutama ketika damai itu dibangun di atas kebohongan.