Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
.
Jika Arga merasa semakin tertekan dengan kehidupan barunya, berbeda halnya dengan Rania. Kehidupan wanita itu perlahan berubah menjadi jauh lebih tenang. Sedikit demi sedikit, ia berhasil menyingkirkan bayang-bayang Arga dari sudut hatinya yang paling dalam. Meskipun sesekali kenangan tiga tahun pernikahan itu muncul tanpa diundang, dan membuat dadanya terasa sesak, namun Rania berhasil melanjutkan hidupnya seolah tak terjadi apa-apa.
Kesibukan di kantor, kehangatan perhatian Bu Soraya, pergaulan dengan teman-teman di tempat kerja membuat luka lama itu perlahan tertutup.
Dan tanpa terasa… tiga bulan pun berlalu begitu saja. Masa iddah Rania akhirnya resmi berakhir. Dan wanita itu kini bernafas lega, seolah baru saja terlepas dari belenggu yang menjerat kaki dan tangannya.
*
Sore itu, suasana ruang keluarga kediaman Mahendra terasa begitu hangat. Tuan Aksara sedang asyik membaca berita di ponselnya sambil sesekali menyesap teh hangat. Bu Soraya yang sedang duduk di samping ya, terlihat sibuk memotong buah dengan mata sesekali melirik ke arah putranya yang duduk termenung jauh dari posisi mereka.
Alvino terlihat lebih pendiam dan serius dari biasanya. Matanya melirik ke arah kalender yang tergantung di dinding, seolah sedang menghitung hari.
“Ma… perceraian Rania dan Arga sudah lebih dari tiga bulan, kan?” tanyanya tiba-tiba memecah keheningan. “Berarti masa iddah Rania sudah selesai. Betul, kan?”
Bu Soraya mengangkat wajah, tangannya yang memegang garpu kecil dan hendak menyuapkan potongan buah ke mulut suaminya, terhenti di udara. “Memangnya kenapa?”
Alvino berdehem pelan, sedikit menegakkan punggungnya. “Kenapa bagaimana? Ya itu artinya Mama sama Papa harus segera melamarnya untukku.”
Klotak!
Garpu yang ada di tangan Bu Soraya terjatuh. Mata wanita paruh baya itu terbelalak tak percaya. “Apa? Kamu bilang apa tadi?”
Bahkan Tuan Aksara sampai menurunkan kacamatanya dan menekan tombol off di ponselnya lalu menatap putranya dengan tatapan penasaran.
Alvino menatap kedua orang tuanya bergantian, suaranya tenang tapi tegas. “Aku serius, Ma. Aku tidak bercanda.”
Bu Soraya menatap ke arah putranya dengan mata micin sengit. “Memangnya kamu sudah mengutarakan perasaan kamu? Kenapa tidak kamu sendiri saja yang melamarnya? Bukannya belakangan ini kalian semakin akrab?”
Alvino menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Memang terlihat akrab. Dia selalu tersenyum, berbicara sopan, bahkan sesekali tertawa mendengar candaanku.”
Alvino menjeda ucapannya dan menatap ibunya lekat-lekat. “Tapi dia tetap menjaga jarak. Meskipun dia selalu terlihat tersenyum, tapi sebenarnya dia selalu membangun benteng yang sangat tinggi untuk melindungi hatinya. Aku bisa merasakan itu.”
Bu Soraya terdiam, apa yang dikatakan oleh putranya itu memang benar. Dia sendiri juga merasakannya.
Tuan Aksara meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap serius ke arah putranya. “Itu sangat wajar,” ucapnya. “Wanita itu baru saja terluka. Dan orang yang pernah sakit hati seperti itu tidak akan mudah membuka kembali pintu hatinya.”
Alvino mengangguk setuju. “Aku paham itu, Pa. Tapi aku sudah sudah menunggu kesempatan ini lama. Nanti kalau ada laki-laki lain yang tiba-tiba mendekati Rania gimana?”
Ia menatap ayahnya dengan pandangan memohon dukungan. “Papa sama Mama setuju, kan? Kalau aku menikah dengannya?”
Sepasang suami istri itu saling berpandangan sejenak, lalu senyum tipis terukir di bibir Tuan Aksara.
“Papa memang tidak mengenalnya secara dekat,” ucapnya pelan. “Tapi Papa sering mendengar cerita Mama kamu. Dan kalau menurut mamamu dia baik, itu pasti baik. Papa percaya dengan penilaian Mama kamu.”
Wajah Alvino seketika berseri cerah, matanya berbinar tak bisa disembunyikan. “Beneran, Pa? Makasih, Pa!”
Bu Soraya tersenyum geli melihat tingkah putranya, tapi segera mengerutkan kening seolah teringat sesuatu. “Tapi sayangnya… Mama rasa tidak semudah itu.”
Alvino dan Tuan Aksara menoleh bersamaan. “Maksud Mama?”
“Selain karena dia baru pulih dari luka, dia pasti memikirkan soal status dan latar belakang,” jelas Bu Soraya. “Rania itu terlalu rendah hati. Dia pasti merasa dirinya tidak pantas masuk ke keluarga kita, apalagi dengan masa lalunya. Dia pasti akan mundur sendiri demi menjaga harga dirinya.”
Alvino menghela nafas berat. “Terus gimana dong, Ma?”
“Entahlah,” sahut Bu Soraya sambil mengusap pelipisnya.
Alvino tersenyum antusias lalu berdiri dari tempat duduknya dan menerobos duduk di tengah-tengah antara mama dan papanya. Tuan Aksara yang merasa digusur, menghela nafas sambil memutar bola matanya malas dan berdecak kesal.
“Vino gak mau tahu. Pokoknya Vino percayakan semuanya sama Mama. Mama sama dia kan sama-sama wanita. Mama bisa mendekatinya dengan cara yang lembut,” ucapnya sambil merangkul bahu mamanya bahkan mencium pipi wanita paruh baya itu.
“Enak saja bicaramu!” Bu Soraya langsung melotot sambil melepaskan pelukan itu. “Kamu yang jatuh cinta, kenapa Mama yang disuruh berjuang sampai akhir?”
Tangannya meraih bantal sofa di belakang punggungnya untuk memukul tubuh Alvino.
Plak!
“Aduh! Sakit, Ma!” seru Alvino sambil memegang bahunya dan berpura-pura meringis kesakitan.
“Dasar bujang lapuk!” omel Bu Soraya sambil tersenyum kesal. “Kamu cuma mau duduk manis saja menunggu hasilnya? Terus tugasmu apa cuma? Senyum-senyum sendiri kayak orang gak waras?”
“Tugasku mendukung Mama dari belakang,” jawab Alvino santai sambil kembali memeluk mamanya.
“Dukung kepalamu itu!”
Tuan Aksara menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli melihat perdebatan ibu dan anak itu. “Sudah tiga puluh tahun, masa menaklukkan wanita saja gak becus. CK ck ck… kalah sama anak SD!”
“Kenapa Papa malah ikut-ikutan membuliku?” protes Alvino pura-pura kesal.
Bu Soraya tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah putranya. “Bener, Pa. Lihat matanya itu! Kayak anak kecil minta permen!”
“Pokoknya aku serahkan tanggung jawab melamar Rania pada Mama sama Papa,” kata Alvino sambil menyilangkan dua tangan di depan dada dengan wajah merengut kesal.
Dari ekor matanya, ia melihat tangan ibunya sudah meraih bantal kedua. Alvino langsung berdiri dan melompat menjauh.
“Eh, mau ke mana kamu?” teriak Bu Soraya sambil melempar bantal di tangannya.
“Tidak kena… tidak kena…!” Alvino tertawa terbahak-bahak sambil berlari cepat menuju tangga.
Tuan Aksara kembali menggelengkan kepalanya. Putranya yang di luar sana terkenal sebagai CEO berwajah dingin, di rumah tak lebih dari seorang anak manja.
Setelah kegaduhan itu reda, wajah Bu Soraya perlahan kembali melembut. mengingat sosok Rania. Sudah lama dia juga menyukai Rania. Bahkan sejak pertama wanita itu menginjak rumah keluarga Pratama sebagai istri Arga. Wanita yang begitu lemah lembut, sabar, sederhana, bersahaja, juga tidak sombong meski telah menjadi menantu orang kaya.
Dalam hatinya ia berdoa, “Ya Allah, jika Rania memang jodoh terbaik untuk Alvino, lembutkanlah hatinya, dan dekatkan mereka, permudah jalan mereka untuk bersatu.”
*
Sementara itu, di dalam kamarnya di lantai atas, Alvino berdiri di dekat jendela sambil tersenyum sendiri. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka satu foto yang pernah ia ambil diam-diam, foto Rania yang saat itu ia ambil ketika ada acara keluarga besar.
Jari-jarinya mengusap layar ponsel itu dengan lembut.
“Rania…” bisiknya pelan. “Aku pasti akan membahagiakan kamu.”
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.