NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekasih & Selingkuhannya

Nowi membenturkan gelas ke gelas milik sahabatnya, lalu meneguk habis isi Anggur Merah di dalamnya. Dia meringis, kemudian mengisap irisan lemon untuk menghilangkan rasa panas di mulut.

“Anak tolol itu!” teriaknya kesal.

“Yuk, cheers buat itu,” jawab Agnia santai sambil mengangkat gelasnya lagi.

Nowi menunduk dengan bahu terkulai lemas. Dia merasa putus asa karena tidak tahu harus berbuat apa.

“Gimana hidup aku bisa jadi kayak gini? Serius, Agnia, sekarang aku harus ngapain? Aku nggak bakal sanggup bayar sewa apartemen di Lagoon sendirian.”

Tadi siang, dia pulang lebih cepat dan memergoki pacarnya berselingkuh. Pria itu sedang bercinta dengan barista kedai kopi dekat apartemennya, tepat di ranjang mereka sendiri.

Yang lebih membuatnya marah, pria itu tidak terkejut sama sekali, malah menatapnya Seakan Nowi lah yang bersalah.

“Bayangin coba?” gumam Nowi pelan, lalu menyandarkan dahinya ke meja bar.

Masalahnya tidak hanya sampai di situ.

Apartemen yang ditempatinya adalah milik pria itu. Restoran tempat dia bekerja sebagai Chef juga milik orang tua pria tersebut. Selama ini Nowi hidup dengan nyaman. Untungnya dia sempat pergi sebelum melakukan hal bodoh. Pikiran untuk memukul kepala pria itu dengan lampu meja sempat terlintas, tetapi dia tidak mau masuk penjara.

Kini dia duduk di sini, minum segelas demi segelas.

“Hmm, sebenernya aku kepikiran sesuatu...” kata Agnia tiba-tiba.

“Kalau kamu mulai berpikir, biasanya nggak pernah bagus buat aku, Agnia...” potong Nowi cepat.

“Hey ... Hemm ... Tapi... kamu sebenernya masih bisa pulang ke rumah, kan? Maksud aku, ke Batu. Rumah orang tuamu masih kosong di sana,” usul Agnia pelan-pelan.

Nowi tertawa sinis. “Hah, kamu bercanda ya? Mending aku tidur di jalanan daripada balik ke sana. Aku nggak mau ketemu kenangan buruk yang ada di rumah itu maupun di kota itu.”

“Nowi, dengerin aku. Aku ngerti banget apa yang kamu rasain dan apa yang udah kamu lalui.”

Nowi hendak menyela, tetapi Agnia mengangkat tangan menyuruhnya diam.

“Aku tahu apa yang mau kamu bilang. Soal kenangan, soal arti rumah itu buat kamu. Aku ngerti, sayang. Serius. Tapi rumah itu kosong, dan gak dihuni siapa pun. Kalau kamu jual, hidup kamu bisa berubah. Aku nggak nyuruh kamu tinggal lama-lama di sana, tapi pikirin lagi. Kalau aku jadi kamu, aku bakal manfaatin kesempatan ini. Nggak semua orang bisa dapet warisan, Nowi.”

Nowi hanya terdiam dan hampir tidak mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu. Dia teringat masa lalu keluarganya. Ibunya hamil di usia sembilan belas tahun, sedangkan ayahnya sudah berusia tiga puluh empat. Kejadian itu menjadi bahan gunjingan seluruh penduduk kota kecil mereka, Kota Batu. Kakek dan neneknya marah besar hingga memutuskan hubungan karena merasa malu dan tidak mau mendukung keputusan putri mereka.

Sejak lulus SMA, Nowi sudah meninggalkan kota Batu, menjelajahi dunia, dan meraih mimpinya sendiri. Ibunya ingin dia hidup bebas, sesuatu yang tidak pernah sempat dirasakan oleh ibunya. Nowi tidak pernah bertemu atau berhubungan lagi dengan keluarga dari pihak ibu.

Dulu Ayahnya jarang berada di rumah. Jika pun ada, Nowi tidak pernah melihat tanda kasih sayang di antara keduanya. Pria itu bersikap dingin, tidak peduli pada istri maupun anaknya. Luka di hati ibunya semakin jelas hingga akhirnya perempuan itu jatuh sakit akibat depresi berat. Ayahnya tega mengeksploitasi kepolosan ibunya. Orang tua Nowi sudah meninggal dalam kecelakaan mobil lima belas bulan lalu.

“Itu rumah Papa aku, Agnia. aku nggak mau apa pun dari dia. Dia udah ngasih cukup banyak masalah buat aku, dan tagihan terapi aku jadi buktinya. Ngerti?”

“Oke, oke. aku ngerti. Tapi kamu tahu, kan, kamu bisa tinggal di apartemen aku selama yang kamu butuhin. Kita cari jalan bareng sampai kamu pulih.”

“Nah gitu dong.” Nowi menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi lalu menarik napas panjang. “Kenapa sih cowok tuh susah banget buat jaga titidnya? Emang setia ke satu pasangan sesakit itu, ya?”

“Karena aku nggak punya titit, jadi aku juga nggak terlalu yakin,” balas Agnia santai. “Oktavian itu bajingan, Nowi. Tapi malam ini kita lupain aja pengkhianat itu dan kita nikmati hari ini seperti perempuan cantik. Besok baru kita hadapi masalah ini.”

Nowi hanya memberikan senyum tipis. Ia tidak suka pergi keluar di malam hari. Hal itu bukan dunianya. Ia lebih suka duduk santai sambil minum bir, lalu menghangatkan diri di dekat api unggun. Namun, ia tetap menghargai usaha Agnia yang telah berusaha menghiburnya.

“Kita nggak bisa balik ke apartemen kamu aja, pesen pizza, terus nonton TV?”

“Uh, nggak bisa. kamu harus keluar dan berhenti mikirin apa yang tadi terjadi.”

“Kamu tuh nyebelin.”

“Tapi kamu sayang aku.”

Agnia melambaikan tangan untuk memanggil pelayan bar yang sejak kedatangan mereka telah diamati secara diam-diam.

“Hei, mau pesan apa?”

“Hm. aku lagi pingin minuman yang luar biasa sih, kalau itu ada di menu,” jawab Agnia sambil mengedip genit.

“Abaikan aja. Dia emang gila. Vodka, Kahlua, Irish cream, sama amaretto, kayaknya.” Nowi berusaha mengingat dengan tepat minuman kesukaan Agnia.

Setelah pelayan bar itu pergi, Agnia langsung menepuk lengan Nowi. “Kamu tuh ngebosenin.”

“Malam ini kita lagi ngurus hidup aku yang berantakan, inget? Kayak kata kamu tadi. Jadi nggak ada acara deketin bartender, seberapa ganteng pun dia.”

“Hei, itu ide bagus. kamu juga bisa ambil beberapa shift jadi bartender buat nambah uang. Bisa banget, tuh.”

Nowi mengerang dengan keras. “aku nggak bisa balik jadi bartender lagi, Agnia. Ayolah. Itu kayak mundur dalam hidup aku. Bahkan mundur dalam karier. Siang jadi chef, malam jadi bartender? Nggak, terima kasih. Lagian, cowok tuh emang babi.”

Pekerjaan sebagai pelayan bar kini masuk ke dalam daftar hal yang paling tidak ingin ia lakukan. Memang, pendapatan tambahan dari pemberian tamu di tempat kerja sebelumnya sangat banyak. Namun pekerjaan itu melelahkan, dan lingkungan di sana sering membuat Nowi merasa tidak nyaman.

Keberanian Agnia tidak ada batasnya. Ia selalu menjadi pusat perhatian di mana saja. Mereka berkenalan saat berkuliah di Jogjakarta dan bekerja di bar yang sama. Ketika Nowi memutuskan pulang ke Surabaya, Agnia ikut pindah bersamanya. Persahabatan mereka terjalin dengan mudah sejak awal.

Sifat mereka sangat bertolak belakang, namun justru hal itu yang membuat hubungan mereka semakin erat. Rambut Agnia berwarna pirang muda dengan potongan gaya kekinian. Sebaliknya, rambut Nowi berwarna hitam pekat dan panjang hingga ke pinggang. Agnia bersuara lantang serta penuh energi, sedangkan Nowi pendiam dan gemar membaca buku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!