NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Pusaka yang Bergolak dan Siasat Dua Sayap

Suasana di dalam ruang utama Benteng Sayap Barat berubah menjadi sangat sunyi setelah pintu kayu jati dikunci rapat dari dalam.

Cahaya matahari siang menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi tinggi, membentuk berkas-berkas sinar keemasan yang menyorot debu-debu halus yang beterbangan di udara.

Di atas kursi jati besar, Dyah Sekar Ayu bersandar pasrah pada dada bidang Satria Pamungkas. Napasnya yang hangat berembus teratur, sementara kulit seputih pualamnya memancarkan rona merah samar akibat aliran energi Darah Suci Dewi Sri yang bergejolak karena kedekatan spiritual mereka.

Satria tidak terburu-buru melakukan penyelarasan sukma seperti malam sebelumnya. Sepasang matanya yang hitam pekat menatap lurus ke depan, sementara fokus batinnya sepenuhnya tertuju pada layar hologram semi-transparan yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

"Sistem, tunjukkan sisa saldo poin milikku dan buka Toko Kategori 2 secara penuh. Aku membutuhkan teknik pendukung untuk Sekar Ayu dan penguatan fisik tingkat lanjut untuk diriku sendiri," perintah Satria di dalam benaknya.

[Bip! Menampilkan Status Sistem:]

Saldo Poin Saat Ini: 38.000 Poin.

Rekomendasi Toko Kategori 2 (Pusaka & Kitab Ghaib):

Kitab Mantra Cundamani (Bagian Pertama) – Harga: 15.000 Poin. (Sangat selaras dengan 'Darah Suci Dewi Sri', memungkinkan pengguna memanipulasi Prana menjadi jarum-jarum penyembuh sekaligus pembunuh jarak jauh).

Cincin Intan Segoro Muncar – Harga: 10.000 Poin. (Aksesori tingkat ghaib yang mempercepat pemulihan Prana sebesar 50% untuk pengguna wanita).

Pil Pengeras Tulang Segoro Wedi – Harga: 10.000 Poin. (Menggandakan kepadatan struktur tulang dan sendi Inang, sangat cocok dipadukan dengan Ajian Kebal Jolo Sutro).

Satria menganalisis opsi tersebut dengan cepat. Ia tahu betul bahwa memperkuat aset atau bidak utamanya seperti Sekar Ayu secara langsung akan memberikan timbal balik yang besar melalui fungsi Harem Feedback Loop.

"Beli Kitab Mantra Cundamani, Cincin Intan Segoro Muncar, dan dua butir Pil Pengeras Tulang Segoro Wedi," perintah Satria tanpa ragu.

[Bip! Memotong 35.000 Poin Sistem. Saldo Anda saat ini: 3.000 Poin.]

[Proses manifestasi barang selesai! Barang-barang telah dimasukkan ke dalam Ruang Penyimpanan Sistem.]

Wush!

Sebuah kilatan cahaya biru redup muncul di atas meja kayu yang kosong. Sebuah kitab kuno dengan sampul kulit lembu berwarna cokelat tua, sebuah cincin perak berkilau dengan batu intan biru laut di tengahnya, serta sebuah botol giok kecil berisikan dua butir pil berwarna hitam pekat muncul secara misterius.

Dyah Sekar Ayu yang merasakan fluktuasi ruang di depannya perlahan membuka mata esnya yang indah. Ia menatap tiga objek yang tiba-tiba mewujud dari ketiadaan tersebut dengan ekspresi takjub. Pengalamannya sebagai putri mahkota yang terbiasa melihat perbendaharaan pusaka kerajaan besar sekalipun tidak mampu menjelaskan bagaimana Satria selalu bisa memanggil benda-benda tingkat ghaib seolah-olah membalikkan telapak tangan.

"Benda-benda ini..." Sekar Ayu berbisik, jemari halusnya menyentuh botol giok kecil tersebut.

"Ini adalah bagian dari takdirmu yang baru, Sekar Ayu," ucap Satria, suaranya terdengar berat dan penuh wibawa di telinga sang putri. Satria mengambil cincin intan biru tersebut lalu meraih tangan kanan Sekar Ayu, memasangkan cincin itu ke jari manisnya yang lentik dengan perlahan.

Begitu cincin itu terpasang sempurna, Sekar Ayu tersentak pelan. Ia bisa merasakan energi dingin yang sangat murni mengalir dari batu intan tersebut, menyusup ke dalam urat nadi di pergelangan tangannya dan langsung menstabilkan pusaran Prana di dalam dantiannya yang baru saja menembus Ranah Satria Tahap 3 semalam. Rasa lelah yang sempat tersisa di tubuhnya lenyap seketika.

"Kitab ini adalah Mantra Cundamani," lanjut Satria sembari menggeser kitab kulit lembu ke hadapan sang putri. "Gunakan metode Integrasi Jiwa yang akan kupandu melalui hubungan sukma kita. Kitab ini akan mengubah energi penyembuhan dari darah sucimu menjadi senjata jarak jauh yang mematikan. Di medan perang besok lusa, aku tidak ingin kau hanya berdiri di belakangku."

"Aku mengerti," jawab Sekar Ayu dengan tatapan yang dipenuhi kepatuhan mutlak dan rasa kagum yang kian mendalam. "Aku tidak akan mengecewakanmu, Satria."

Satria kemudian mengambil botol giok, mengeluarkan dua butir pil Segoro Wedi, lalu menelannya sekaligus tanpa air. Begitu pil-pil itu masuk ke dalam tenggorokannya, rasa panas yang membakar langsung meledak di dalam dada Satria. Energi pil tersebut menyebar, menghantam seluruh kerangka tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Krak... Krak...

Suara gemeretak halus terdengar dari dalam tubuh Satria saat struktur tulangnya dipadatkan hingga ke tingkat yang tidak masuk akal oleh efek obat ghaib tersebut. Ditambah dengan Ajian Kebal Jolo Sutro yang telah mengeras, pertahanan fisik Satria kini telah mencapai titik di mana senjata tajam tingkat biasa bahkan tidak akan mampu menggores kulit arinya.

Melihat Satria sedang dalam proses penyerapan energi pil, Sekar Ayu tidak membuang waktu. Ia membuka kitab kuno di depannya. Di bawah bimbingan pancaran Prana biru milik Satria yang menyelimuti tubuh mereka berdua, Sekar Ayu mulai meresapi bait demi bait mantra ghaib tersebut. Fluktuasi energi di dalam ruang utama benteng kembali bergejolak, menciptakan kehangatan yang intim sekaligus mematikan di antara dua insan yang sedang bersiap mengguncang tatanan Dwipantara.

Sementara itu, di pusat ibu kota Kadipaten Blambangan, suasana berubah drastis menjadi kepanikan masif yang belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir.

Matahari baru saja tergelincir ke arah barat ketika gerbang utama kota luar Blambangan diterobos oleh sekelompok prajurit berkuda yang tampak berantakan. Bagus Tejo, dengan zirah besi yang tergores dan wajah yang pucat pasi karena kelelahan serta ketakutan, memimpin belasan sisa pasukannya menuju langsung ke kompleks istana dalam.

Kabar tentang runtuhnya Benteng Sayap Barat dan tewasnya Senopati kembar Surogento dan Suroganti menyebar seperti api yang ditiup angin kencang di tengah pasar dan permukiman warga. Para penduduk kota mulai berbisik-bisik ketakutan, menyebut nama Satria Pamungkas seolah-olah pria itu adalah iblis yang keluar dari Alas Purwo untuk menuntut balas atas pembantaian masal faksi pelarian setahun yang lalu.

Di dalam aula pertemuan agung istana Blambangan, suasana terasa mencekam dan sangat dingin. Lilin-lilin besar yang menerangi ruangan tidak mampu mengusir aura kegelapan yang memancar dari atas singgasana emas.

Adipati Bhre Wirabhumi duduk dengan mencengkeram erat lengan kursi singgasananya hingga kayu jati berlapis emas tersebut retak. Wajahnya yang keriput namun memancarkan wibawa Ranah Senopati Tahap 3 tampak sangat murka, sekaligus terselip gurat kecemasan yang mendalam. Di bawah undakan singgasana, Bagus Tejo berlutut gemetar dengan dahi yang menempel rapat di lantai marmer.

"Kau... katakan sekali lagi, Bagus Tejo!" raung Bhre Wirabhumi, suaranya menggelegar, membuat para menteri dan perwira di dalam aula menundukkan kepala mereka lebih dalam. "Bagaimana mungkin Surogento dan Suroganti tewas hanya dalam satu kali benturan?!"

"Am... ampun, Gusti Adipati!" ucap Bagus Tejo dengan suara terbata-bata. "Hamba melihatnya dengan mata kepala hamba sendiri. Bocah bajingan bernama Satria Pamungkas itu... dia memiliki ilmu kebal yang tidak masuk akal. Pedang kembar pusaka milik Senopati kembar hancur berkeping-keping saat menghantam dadanya, dan... dan dalam satu tebakan pedang hitam ghaib miliknya, kepala kedua Senopati langsung terlepas!"

"Bukan hanya itu, Gusti..." Bagus Tejo menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan. "Putri Mahkota Kadiri, Dyah Sekar Ayu, berdiri di sampingnya dengan wajah asli tanpa samaran. Beliau menyatakan secara terbuka bahwa Kadiri menganggap tindakan kita di perbatasan sebagai pengkhianatan, dan... dan Satria Pamungkas memberi waktu tiga hari kepada Gusti Adipati sebelum dia datang untuk mengambil kepala Anda!"

BRAK!

Bhre Wirabhumi berdiri dari singgasananya, menendang meja kayu di depannya hingga hancur berantakan. "Gadis sialan itu! Berani-beraninya dia membawa nama Kadiri untuk mendukung seorang buronan kasta rendah!"

Dari sudut aula, sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan wajah yang dipenuhi bekas luka bakar melangkah maju. Ia membawa sebuah gada emas raksasa yang memancarkan aura Prana kuning keemasan yang sangat berat—dia adalah Senopati Menak Jingga, pendekar terkuat yang tersisa di Blambangan dengan kekuatan Ranah Satria Tahap 9.

"Gusti Adipati, tidak perlu cemas," ucap Menak Jingga dengan nada suara yang sombong namun penuh keyakinan. "Surogento dan Suroganti hanyalah sekumpulan bocah yang terlalu mengandalkan trik bayangan. Di depan Gada Kencana milikku, ilmu kebal macam apa pun milik tikus Alas Purwo itu akan hancur menjadi bubur daging. Izinkan hamba memimpin pasukan gajah selatan bersama Senopati Kebo Marcuet untuk mencegat mereka di dataran tinggi sebelum mereka menyentuh gerbang kota dalam."

Bhre Wirabhumi menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak amarahnya. Sifat rubah tuanya tahu bahwa situasi ini sudah berada di luar kendali normal.

"Menak Jingga, aku akan memberikanmu otoritas penuh atas seluruh sisa pasukan kadipaten," perintah sang Adipati dengan mata yang berkilat kejam. "Bawa Kebo Marcuet dan hancurkan mereka tanpa sisa. Sementara itu..." Bhre Wirabhumi menoleh ke arah ruang rahasia di balik singgasananya, "...aku sendiri yang akan mengaktifkan Altar Komunikasi Ghaib untuk menghubungi para kultivator dari faksi Laut Selatan. Jika bocah itu ingin bermain-main dengan takdir, maka aku akan memastikan seluruh Blambangan menjadi kuburan massal untuknya dan Putri Kadiri tersebut!"

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!