NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Happy reading guys

 

## Bab 6: Konfrontasi dan Pelacakan

Pintu jati ganda ruang rapat utama baru saja tertutup rapat, meninggalkan Devan Mahendra yang masih terpaku di kursinya.

Pandangan matanya kosong, namun pikirannya bergolak hebat bagaikan dihantam badai topan.

Kalimat sedingin es dari Anastasia Wijaya yang menolak mengakui dirinya sebagai Anya terus menggema, mencabik-cabik dinding egonya yang kokoh.

Tidak tahan dengan atmosfer ruang rapat yang mendadak terasa mencekik lehernya, Devan bangkit berdiri dengan kasar.

Ia mengabaikan panggilan Siska yang terus merengek di belakangnya, lalu melangkah lebar keluar menuju koridor VIP lantai teratas untuk mencari udara segar.

Namun, baru beberapa meter melangkah, langkah kaki Devan mendadak terkunci rapat.

Di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota, berdiri sepasang anak kecil yang mengenakan pakaian kasual sangat berkelas.

Mereka adalah sepasang anak kembar identik yang berusia sekitar empat tahun.

Saat salah satu dari mereka menoleh, jantung Devan seolah berhenti berdetak dalam satu ketukan yang menyakitkan.

Kemiripan fisik di antara mereka terlalu mutlak.

Struktur rahang, bentuk bibir, hingga sepasang netra elang yang tajam... anak-anak itu adalah replika dirinya sendiri di masa kecil.

"Orang asing...?" Devan mengulang kata-kata yang sempat terlintas di benaknya dengan suara yang parau.

Pria itu melangkah maju dengan tubuh yang gemetar.

Devan perlahan berlutut di atas karpet tebal, menyamakan tinggi badannya dengan kedua bocah tersebut—sebuah tindakan rendah hati yang tidak pernah ia lakukan kepada siapa pun sepanjang hidupnya.

"Siapa nama kalian? Dan... siapa ibu kalian?"

Devan mengulurkan tangannya yang gemetar, berniat menyentuh bahu kecil anak yang berdiri di depan untuk mencari kebenaran.

Sebuah harapan liar dan rasa takut yang amat besar bercampur aduk menjadi satu di ulu hatinya.

‘Apakah mereka... anak-anak Anya? Anak-anak yang dulu kukutuk sebagai anak haram dan kuusir di malam badai itu?’

Alih-alih merasa takut, anak yang berdiri di depan—Alta—justru melangkah mundur, menghindari jangkauan tangan Devan dengan gerakan yang sangat tenang namun sarat akan penolakan.

Sorot mata elangnya menatap Devan tanpa sepeser pun rasa gentar.

"Ibu kami adalah wanita terhebat di dunia, Tuan Mahendra. Dan beliau mengajarkan kami untuk tidak pernah memberikan informasi kepada pria yang tidak memiliki integritas," ucap Alta.

Setiap kata yang keluar dari bibir mungil itu terdengar begitu tajam, laksana belati yang mengoyak telak harga diri Devan.

Sementara Devan terpaku oleh ketajaman Alta, anak yang satunya lagi—Arka—menatap Devan dengan pandangan mata bulatnya yang polos namun menyimpan kekecewaan.

"Paman, apakah paman sering membuat orang lain menangis? Kakek pernah bilang, pria yang suka membuang hal berharga demi egonya sendiri adalah pria yang paling malang di dunia. Aku rasa... Paman adalah pria malang itu."

Kalimat polos dari Arka seketika menghujam tepat ke pusat rasa bersalah Devan.

Luka lama yang selama lima tahun ini ia coba kubur dalam-dalam, kini dikorek paksa.

"Kalian... anak Anya, kan? Katakan padaku! Anastasia Wijaya adalah ibu kalian?!" Devan kehilangan kendali emosinya. Ia maju dan langsung mencengkeram kedua lengan atas Alta dan Arka dengan sedikit penekanan, menuntut sebuah jawaban pasti. "Katakan yang sebenarnya pada saya!".

 

Di saat yang bersamaan, di dalam lift VIP yang sedang bergerak turun menuju lobi utama, gawai di dalam tas kerja Anastasia Wijaya berdering dengan nada khusus.

Anastasia mengernyitkan dahi, perasaan tidak tenang mendadak menyelimuti dadanya saat melihat nama pengasuh pribadi si kembar tertera di layar.

Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Halo, Bi? Ada apa?"

"N-Nona Anastasia... Tolong saya, Nona..." suara di seberang telepon terdengar bergetar hebat, diiringi isak tangis panik yang luar biasa.

"Den Alta dan Den Arka... mereka hilang dari kamar hotel, Nona!"

Deg!

Darah Anastasia seolah berhenti mengalir seketika. Wajahnya yang semula anggun dan tenang mendadak pias tanpa warna.

"Apa kamu bilang, Bi?! Bagaimana bisa mereka hilang?! Lantai Penthouse dijaga ketat oleh pengawal!"

"T-Tadi saya ke kamar mandi sebentar untuk mencuci pakaian mereka, Nona. Tapi saat saya keluar, pintu balkon sudah terbuka dan mereka sudah tidak ada. Pengawal bilang... Den Alta sempat meminjam kartu akses cadangan dengan alasan ingin meminta es krim ke dapur bawah... Saya mohon maaf, Nona..."

Anastasia tidak mendengarkan kelanjutan isak tangis itu lagi.

Ia memutuskan sambungan telepon dengan tangan yang gemetar hebat akibat rasa takut yang amat sangat.

Kehilangan kedua putranya adalah mimpi buruk terbesar dalam hidupnya.

"Hendra! Hentikan liftnya sekarang juga!" perintah Anastasia dengan suara yang meninggi penuh kepanikan kepada sekretaris pribadinya.

"Alta dan Arka hilang dari hotel!"

Sekretaris Hendra terkejut, namun dengan sigap langsung menekan tombol darurat untuk menghentikan lift di lantai terdekat, lalu mengeluarkan komputer tabletnya.

"Nona, tenanglah. Jam tangan pintar yang dipakai Den Alta dan Den Arka dilengkapi dengan pelacak GPS militer terenkripsi. Saya akan melacak posisinya sekarang juga."

Jemari Hendra bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik yang terasa laksana keabadian bagi Anastasia.

Jantung wanita itu berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa nyeri yang samar di dadanya.

"Bagaimana, Hendra?! Di mana anak-anakku?!" tuntut Anastasia dengan napas yang memburu.

"Sinyal GPS mereka aktif, Nona. Dan... posisinya sangat dekat dengan kita," Hendra menatap layar tabletnya dengan dahi berkerut heran.

"Titik koordinat mereka menunjukkan bahwa mereka berada di dalam gedung ini, Nona. Tepatnya di koridor lantai teratas Mahendra Group. Mereka menyelinap masuk saat rombongan kita tiba tadi pagi."

Mendengar fakta bahwa putra kembarnya berada di sarang Devan Mahendra, rasa takut di hati Anastasia seketika meledak menjadi kemurkaan yang teramat pekat.

Otak genius Alta pasti sengaja merencanakan ini untuk menyelidiki ayahnya sendiri.

"### Naikkan liftnya kembali ke lantai teratas sekarang juga! Kerahkan seluruh pengawal!" titah Anastasia, sepasang matanya berkilat memancarkan aura membunuh yang begitu nyata.

Kembali ke koridor lantai teratas, Devan masih mencengkeram lengan Alta dan Arka dengan tatapan mata yang frustrasi, menuntut pengakuan dari sepasang bocah tersebut.

"Lepaskan tangan kotormu dari putra-putraku, Devan Mahendra!"

Sebuah suara dingin yang menggelegar penuh amarah mendadak memotong kalimat Devan dari arah belokan koridor.

Pintu lift VIP terbuka dengan kasar, memunculkan sosok Anastasia yang melangkah maju dengan kecepatan penuh.

Wajahnya merah padam oleh murka seorang ibu yang jiwanya siap mencabik siapa pun yang berani menyentuh darah dagingnya.

Di belakangnya, Sekretaris Hendra dan delapan pengawal berjas hitam langsung merangsek maju, memisahkan Devan dari kedua anak tersebut dengan barikade tubuh yang kokoh.

"Mami!"

Arka langsung berlari dan memeluk erat kaki Anastasia, mencari perlindungan, sementara Alta kembali berdiri dengan tenang di samping ibunya, menatap Devan dengan pandangan datar.

Anastasia merangkul kedua anaknya, memastikan tidak ada luka fisik pada tubuh mereka akibat cengkeraman Devan.

Setelah memastikan putra-putranya aman, ia menegakkan tubuhnya kembali, menatap Devan dengan pandangan yang penuh kebencian yang mendalam.

"Berani sekali kamu menyentuh anak-anakku, Tuan Mahendra," desis Anastasia, suaranya merendah hingga ke titik beku, mampu membuat atmosfer koridor mewah itu seketika mendingin.

"Anya... mereka anak-anakku, kan? Mereka darah dagingku!"

Devan bangkit berdiri dengan tubuh yang limbung, menunjuk ke arah Alta dan Arka dengan tangan yang gemetar hebat.

"Lihat wajah mereka! Mereka sangat mirip denganku! Kamu memalsukan kematianmu, dan kamu menyembunyikan anak-anakku selama lima tahun ini!"

Anastasia tertawa getir, sebuah tawa kering yang sarat akan ironi.

Ia melangkah maju satu langkah, menatap Devan seolah pria di hadapannya adalah makhluk yang paling menjijikkan.

"Darah dagingmu?" Anastasia mendesis tajam.

"Seingat saya, lima tahun lalu di gedung ini, seorang pria bernama Devan Mahendra melemparkan surat cerai dan berteriak bahwa anak di dalam kandungan Anya adalah anak haram yang menjijikkan. Apakah Anda lupa dengan ingatan itu, Tuan CEO?"

Setiap patah kata yang diucapkan Anastasia laksana gergaji yang mengoyak paksa luka lama di hati Devan.

Pria itu terhuyung mundur satu langkah, wajahnya pias tanpa darah.

"Aku... aku terhasut fitnah, Anya. Aku tidak tahu—"

"Cukup!"

potong Anastasia dengan tegas, menghentikan kalimat pembelaan diri Devan yang terdengar memuakkan.

Ia memakai kembali kacamata hitam besarnya, menggandeng tangan Alta dan Arka dengan erat.

"Hendra, batalkan seluruh draf investasi dua triliun rupiah untuk Mahendra Group hari ini juga," perintah Anastasia tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan.

"Tarik seluruh modal Wijaya Corps dari semua lini bisnis yang terafiliasi dengan perusahaan ini. Saya tidak sudi bekerja sama dengan instansi yang dipimpin oleh pria yang gemar melakukan kekerasan terhadap anak-anak."

"Baik, dimengerti, Nona Anastasia," jawab Sekretaris Hendra dengan tegas dan patuh.

"Anya, jangan lakukan ini! Tolong dengarkan aku dulu!"

Devan mencoba mengejar, namun para pengawal Wijaya Corps langsung mendorong tubuh Devan mundur dengan kasar tanpa memedulikan statusnya sebagai pemilik gedung.

Pintu lift VIP tertutup rapat dengan bunyi klik yang tajam, membawa Anastasia dan sepasang anak kembarnya pergi dari lantai tersebut.

Devan Mahendra jatuh terduduk di atas lantai koridor yang sunyi, mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi yang teramat dalam.

Neraka penyesalan yang sesungguhnya baru saja resmi dimulai bagi seorang Devan Mahendra.

Bersambung.......

Wahhh seruuuu bangetttt yaaaaa jadiii ngga sabarrr episode selanjutnya nichhhhh hihihi

Nantikan bab selanjutnya

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!