Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Senyum di Atas Pelaminan
Resepsi pernikahan Shaka dan Jenna berlangsung sangat meriah.
Ballroom utama hotel bintang lima milik keluarga Kalandra dipenuhi cahaya lampu kristal, aroma bunga segar, dan suara lembut musik instrumental yang mengalun dari sudut ruangan. Pelaminan besar di ujung ballroom tampak megah dengan hiasan fresh flower bernuansa pink, putih, dan dusty pink. Mawar, peony, hydrangea, dan baby’s breath memenuhi setiap sisi, menciptakan suasana indah seperti taman dalam ruangan.
Namun di tengah segala kemewahan itu, dua orang yang menjadi pusat perhatian justru berdiri dalam diam.
Shaka dan Jenna berdiri berdampingan di atas pelaminan.
Dekat secara jarak, tetapi jauh secara hati.
Jenna mengenakan gaun resepsi berwarna hijau emerald rancangan Syana. Gaun itu membuatnya tampak anggun dan berkelas. Cadar senada menutupi wajahnya, menyisakan sepasang mata cokelat terang yang biasanya teduh, tetapi malam itu terlihat sedikit lelah.
Di sampingnya, Shaka berdiri dengan setelan jas gelap yang membuat auranya semakin tegas. Wajahnya tetap dingin, nyaris tanpa ekspresi. Sesekali ia menoleh kepada tamu, memberi senyum tipis yang sangat formal, lalu kembali diam.
Di antara mereka, tidak ada percakapan.
Tidak ada bisikan hangat antara pengantin baru.
Tidak ada tawa kecil.
Tidak ada rasa canggung yang manis seperti pasangan yang baru menikah.
Yang ada hanya diam yang berat.
Namun setiap kali tamu datang menyalami, keduanya seolah berubah.
Jenna akan menunduk sopan, matanya melengkung lembut seakan tersenyum.
“Terima kasih sudah datang. Mohon doanya,” ucapnya dengan suara halus.
Shaka akan berdiri tegap di sampingnya, mengangguk singkat kepada tamu yang memberi selamat.
“Terima kasih.”
Dari luar, mereka tampak seperti pasangan pengantin yang sempurna.
Putra tunggal keluarga Kalandra dan putri bungsu keluarga Nirankara.
Serasi.
Berwibawa.
Mewah.
Bahagia.
Tidak ada yang tahu bahwa beberapa saat sebelumnya, di salah satu kamar hotel, hati Jenna baru saja terluka oleh kalimat dingin suaminya sendiri.
Tidak ada yang tahu bahwa senyum Jenna malam itu hanyalah bentuk adab, bukan cerminan hatinya.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah datar Shaka, ada rasa bersalah yang sejak tadi tidak kunjung pergi.
Orang tua mereka sibuk menyambut tamu undangan. Reza dan Aditya berdiri di sisi kanan pelaminan, sesekali turun untuk menyapa kolega lama. Zahra dan Aruna tidak kalah sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu perempuan yang datang bergantian.
Tamu undangan malam itu lebih dari seribu orang.
Bagaimana tidak?
Hampir seluruh jajaran penting AZ Global Enterprises diundang ke acara itu. Mulai dari direksi, kepala divisi, manajer cabang, hingga beberapa karyawan lama yang sudah dianggap bagian dari perjalanan keluarga Kalandra.
Belum lagi karyawan NK Media Group, perusahaan media terbesar di Indonesia yang didirikan Reza Nirankara. Banyak wajah penting dari dunia media hadir malam itu. Pemimpin redaksi, produser senior, presenter terkenal, hingga jajaran komisaris tampak memenuhi ballroom.
Karyawan Jenna’s Bloom Café juga hadir.
Naya, Kevin, Arya, Alya, dan Amanda berdiri di salah satu sisi ruangan dengan wajah haru dan bangga. Mereka beberapa kali melambaikan tangan kecil kepada Jenna dari kejauhan. Jenna membalas dengan tatapan lembut, meski hatinya masih terasa berat.
Dan tentu saja, wartawan datang dalam jumlah yang tidak sedikit.
Pernikahan keluarga Kalandra dan Nirankara terlalu besar untuk tidak menjadi perhatian publik. Kamera-kamera profesional menangkap setiap momen. Kilatan lampu beberapa kali menyala saat Shaka dan Jenna menerima tamu penting.
“Pengantin terlihat serasi sekali.”
“Putri bungsu Reza Nirankara ternyata benar-benar anggun.”
“Arshaka Kalandra akhirnya menikah juga.”
Bisik-bisik itu terdengar samar dari berbagai sudut ruangan.
Jenna mendengarnya, tetapi tidak bereaksi.
Ia sudah terbiasa menjadi bagian dari keluarga besar yang diperhatikan publik. Namun malam itu, sorotan terasa lebih melelahkan dari biasanya.
Karena ia harus terlihat bahagia ketika hatinya sedang menahan perih.
Shaka berdiri di samping Jenna tanpa bicara. Sesekali, dari sudut matanya, ia memperhatikan istrinya.
Jenna tampak tenang.
Terlalu tenang.
Namun Shaka mulai menyadari sesuatu.
Ketenangan Jenna malam itu bukan ketenangan yang sama seperti saat ia melihatnya di kafe. Bukan ketenangan yang hangat dan teduh. Ini ketenangan yang dipaksakan. Ketenangan seseorang yang sedang menahan banyak hal sendirian.
Shaka mengencangkan rahangnya.
Ia tahu penyebabnya.
Dirinya sendiri.
Sebelum pikirannya semakin jauh, seorang laki-laki datang mendekati pelaminan dengan langkah santai dan senyum lebar.
Rafa.
Sahabat sekaligus sekretaris pribadi Shaka itu tampil rapi dengan setelan jas navy. Namun aura jahilnya tetap tidak bisa ditutupi oleh pakaian formal semahal apa pun.
“Assalamu’alaikum,” sapa Rafa sambil naik ke pelaminan.
Jenna menoleh, lalu menunduk sopan.
“Wa’alaikumussalam.”
Rafa tersenyum ramah kepada Jenna.
“Selamat, Bu Jenna. Akhirnya resmi juga jadi Nyonya Kalandra.”
Jenna berusaha tersenyum melalui matanya.
“Terima kasih, Mas Rafa.”
“Semoga pernikahannya penuh keberkahan, ya. Dan semoga sabar menghadapi Shaka.”
Jenna terdiam sebentar.
Shaka langsung menatap Rafa tajam.
Rafa pura-pura tidak melihat.
“Serius, Bu Jenna. Ini orang memang kelihatannya dingin, tapi sebenarnya masih manusia. Cuma kadang perlu diingatkan.”
“Rafa,” suara Shaka rendah dan berbahaya.
Rafa menoleh kepada Shaka dengan senyum polos.
“Apa? Gue lagi kasih testimoni sahabat.”
“Tidak perlu.”
“Perlu, dong. Biar istri lo tahu bahwa di balik wajah galak itu, lo punya sisi—”
Tatapan Shaka semakin tajam.
Rafa langsung menghentikan kalimatnya.
“Oke. Sisi itu masih dalam tahap pencarian.”
Jenna tidak bisa menahan sedikit lengkungan di matanya. Bukan tawa, tetapi cukup untuk membuat Rafa merasa berhasil.
“Nah,” Rafa menunjuk Jenna dengan hati-hati. “Bu Jenna masih bisa senyum. Berarti acara ini belum sepenuhnya kaku.”
Shaka mendengus pelan.
Rafa mendekat sedikit kepada Shaka, lalu berbisik cukup pelan, tetapi masih bisa didengar Jenna.
“Bro, jangan berdiri kayak patung pajangan. Ini nikahan lo, bukan rapat tahunan.”
“Rafa.”
“Baik, baik.” Rafa kembali menatap Jenna. “Bu Jenna, kalau nanti Shaka terlalu menyebalkan, lapor saya. Saya punya daftar kelemahannya.”
Jenna menunduk, tidak tahu harus menjawab apa.
Shaka memberikan tatapan tajam yang jelas berarti ancaman.
Rafa langsung tertawa kecil.
“Ya sudah, saya turun dulu sebelum dipecat di acara nikahan bos sendiri.”
Ia menyalami Shaka, lalu menepuk bahunya pelan.
“Selamat, Ka. Jaga dia baik-baik.”
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada lebih serius.
Shaka menatap Rafa sesaat.
Rafa kemudian turun dari pelaminan, meninggalkan keduanya kembali dalam diam.
Beberapa tamu lain kembali datang bersalaman. Jenna menjalankan perannya dengan baik. Ia menunduk sopan, mengucapkan terima kasih, menerima doa, dan berdiri anggun di sisi suaminya.
Namun semakin lama, tubuhnya mulai terasa tidak nyaman.
Gaun resepsi itu indah, tetapi cukup berat. Sepatunya juga mulai membuat kakinya pegal. Sejak pagi ia hampir tidak benar-benar makan. Ditambah lagi, hatinya masih belum stabil setelah percakapan di kamar tadi.
Jenna berusaha menahan semuanya.
Ia tidak ingin terlihat lemah.
Tidak ingin membuat keluarganya khawatir.
Tidak ingin memberi celah kepada wartawan untuk menangkap ekspresi yang salah.
Tetapi Shaka melihatnya.
Ia melihat bagaimana Jenna sesekali memindahkan tumpuan kakinya. Bagaimana jemarinya diam-diam meremas kecil ujung gaun. Bagaimana bahunya yang tegak mulai sedikit turun. Bagaimana matanya tampak lebih redup setiap kali tamu berganti.
Shaka menoleh sedikit.
“Kamu lelah?”
Nada suaranya tetap dingin.
Jenna tidak langsung menjawab.
Ia masih menatap ke arah tamu yang turun dari pelaminan. Setelah tamu itu menjauh, barulah ia menoleh kepada Shaka.
“Tidak.”
Shaka mengernyit tipis.
“Kamu terlihat tidak nyaman.”
Kalimat itu sebenarnya bentuk perhatian.
Tetapi karena keluar dengan nada datar dan dingin, bagi Jenna terdengar seperti pemeriksaan tanpa perasaan.
Hatinya yang sejak tadi menahan sakit akhirnya sedikit terusik.
Jenna menatap Shaka.
“Mas tidak usah peduli denganku.”
Shaka terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, Jenna bicara dengan nada ketus.
Tidak keras.
Tidak kasar.
Tetapi cukup tajam untuk membuat Shaka diam.
Mata Jenna tetap basah oleh kelelahan, tetapi kali ini ada luka yang berubah menjadi keberanian kecil.
“Bukankah tadi Mas sudah bilang, Jenna tidak berhak mencampuri hidup Mas?” lanjut Jenna pelan, masih menjaga agar tidak terdengar tamu. “Jadi Mas juga tidak perlu repot-repot memperhatikan Jenna.”
Rahang Shaka mengeras.
Bukan karena marah.
Melainkan karena kata-kata Jenna memantulkan kembali ucapannya sendiri.
Dan pantulan itu terasa buruk.
“Jenna,” ucapnya rendah.
Jenna segera mengalihkan pandangan ke depan, kembali memasang wajah tenang ketika tamu berikutnya naik ke pelaminan.
Dalam sekejap, ia berubah lagi.
Matanya melengkung lembut.
“Terima kasih sudah datang. Mohon doanya.”
Shaka memperhatikan perubahan itu dalam diam.
Di hadapan orang lain, Jenna tetap menjaga sikap. Tetap lembut. Tetap anggun. Tetap menjadi istri yang tidak mempermalukan suaminya.
Namun ketika hanya ada mereka berdua, meski dikelilingi ratusan orang, Jenna menarik jarak.
Jarak yang tadi Shaka sendiri ciptakan.
Tamu demi tamu datang. Ucapan selamat terus mengalir. Kamera terus menangkap momen indah. Musik terus mengalun. Bunga-bunga segar tetap tampak sempurna.
Tetapi di antara Shaka dan Jenna, ada sesuatu yang berubah.
Bukan lagi sekadar canggung.
Kini ada luka.
Luka kecil yang baru saja lahir di hari pertama pernikahan mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Shaka merasa tidak tahu bagaimana memperbaikinya.
Beberapa menit kemudian, saat tidak ada tamu yang naik ke pelaminan, Shaka kembali menoleh kepada Jenna.
“Kamu bisa duduk sebentar.”
Jenna tetap menatap lurus ke depan.
“Tidak perlu.”
“Jangan memaksakan diri.”
Jenna menoleh kepadanya, matanya tenang tetapi dingin dengan cara yang tidak biasa.
“Mas Shaka juga jangan memaksakan diri untuk peduli.”
Kalimat itu kembali menusuk.
Shaka terdiam.
Ia tidak pernah menyangka Jenna yang lembut bisa menjawab seperti itu. Namun anehnya, ia tidak bisa menyalahkannya.
Karena Jenna tidak sedang menyerang.
Ia hanya sedang melindungi dirinya dari luka yang baru saja Shaka berikan.
Dari kejauhan, Aruna menatap keduanya dengan senyum penuh haru, tidak menyadari ketegangan kecil di antara mereka. Zahra berbincang dengan tamu lain sambil sesekali melirik Jenna dengan bangga. Reza dan Aditya tampak sibuk menerima ucapan selamat dari kolega lama.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang melihat.
Atau mungkin tidak ada yang cukup dekat untuk membaca diam di antara pengantin itu.
Shaka kembali menatap ke depan.
Ia tahu Jenna benar.
Ia sudah mengatakan bahwa ia tidak ingin hidupnya dicampuri. Ia sudah meminta batas. Ia sudah berbicara seolah pernikahan ini hanya kontrak tanggung jawab. Dan sekarang, ketika Jenna membalas dengan jarak yang sama, ia merasa tidak nyaman.
Itu tidak adil.
Ia ingin Jenna tidak berharap terlalu banyak, tetapi ia sendiri terganggu ketika Jenna berhenti berharap.
Ia ingin Jenna tidak masuk terlalu jauh, tetapi ia merasa sesak ketika Jenna mulai mundur.
Shaka mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
Di sebelahnya, Jenna tetap berdiri anggun, menyambut tamu dengan senyum yang hanya terlihat dari matanya. Tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa di balik cadar hijau emerald itu, ia sedang menahan kecewa.
Malam itu, resepsi mereka tetap berjalan sempurna.
Mewah.
Megah.
Dipuji banyak orang.
Difoto banyak kamera.
Dibicarakan para tamu sebagai pernikahan paling indah tahun itu.
Namun hanya Shaka dan Jenna yang tahu, di balik pelaminan penuh bunga segar itu, pernikahan mereka baru saja dimulai dengan jarak yang menyakitkan.
Dan Shaka, yang sejak awal mengaku tidak percaya cinta, mulai memahami satu hal yang jauh lebih sulit dari mencintai.
Menjaga hati seseorang yang sudah terlanjur ia lukai.