NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

happy reading guys

------------------------------

BAB 7: Siasat Ular di Ujung Tanduk

Di dalam kamar tidur utama kediaman keluarga Bramantara, suasananya terasa begitu mencekam.

Siska Wijaya duduk meringkuk di sudut lantai dengan tubuh yang gemetar hebat.

Rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut berantakan, dan riasan wajahnya hancur karena air mata bercampur darah dari sudut bibirnya yang robek akibat tamparan Bram beberapa jam lalu.

Ting! Ting! Ting!

Gawai pintar di genggamannya terus bergetar tanpa henti, memunculkan ribuan notifikasi hujatan dari netizen di media sosial.

Rekaman suaranya di toilet hotel semalam telah tersebar luas, membuat nama Siska seketika dicap sebagai wanita iblis pencuri suami kakak tirinya sendiri.

"Nggak... nggak mungkin... aku nggak boleh hancur kayak gini!"

Siska menjerit frustrasi, melempar gawai itu ke dinding hingga layarnya hancur berkeping-keping.

Rasa takut dan stres yang luar biasa sempat mencengkeram dadanya.

Namun, Siska bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan pasrah diseret ke dalam penjara.

Di tengah kepanikannya, otaknya yang licik mulai berputar hebat mencari celah untuk selamat.

Tiba-tiba, sepasang matanya yang memerah berkilat tajam.

Siska teringat sesuatu.

" Nicholas Syailendra... kamu pikir kamu adalah dewa yang nggak punya celah di kota ini?"

desis Siska kejam, sebuah senyuman miring yang terlihat mengerikan mendadak terukir di bibirnya yang terluka.

Siska segera bangkit berdiri. Ia berjalan tergesa-gesa menuju laci meja riasnya, menekan kompartemen rahasia di bagian paling bawah, lalu mengeluarkan sebuah kilat kandar (flashdisk) berwarna merah darah.

Di dalam benda kecil ini tersimpan dokumen internal ilegal mengenai proyek pelabuhan Syailendra Group tiga tahun lalu—senjata rahasia yang disimpan oleh mendiang ayahnya sebelum meninggal untuk jaga-jaga.

Dengan menggenggam erat flashdisk tersebut, Siska melangkah lebar keluar dari kamar.

Ia menuruni anak tangga dengan cepat, menuju ruang kerja Bramantara yang berada di lantai bawah.

Cklek!

Siska membuka pintu ruang kerja tanpa mengetuk.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Bram sedang duduk di balik meja kerja dengan kepala yang dibenamkan di kedua telapak tangannya.

Pria itu tampak sangat frustrasi memikirkan saham Bram Corp yang anjlok total hingga batas bawah pagi ini.

"Mau apa lagi kamu ke sini, Siska?! Keluar! Aku muak melihat wajah penipumu!"

bentak Bram begitu mendongak dan melihat Siska masuk.

Matanya memancarkan rasa benci yang mendalam.

Siska tidak mundur sejengkal pun.

Ia melangkah tenang, lalu meletakkan flashdisk merah itu tepat di atas meja kerja, tepat di hadapan wajah Bram yang kebingungan.

"Kalau Kakak mengusirku sekarang, maka besok pagi kita berdua akan sama-sama menjadi gelandangan miskin yang mendekam di dalam sel penjara, Kak Bram,"

ucap Siska dengan nada suara berbisik yang sarat akan ancaman dan hasutan.

"Apa maksudmu?! Perusahaan kita sudah hancur karena skandalmu! Nicholas Syailendra juga sudah memutus pasokan berlian secara sepihak! Kita bangkrut dalam hitungan hari!" raung Bram, memukul meja kerja dengan kepalan tangannya yang bergetar.

"Nicholas melakukan itu karena dia ingin melindungi jalang bernama Elena Vance itu! Tapi Kakak lupa? Nicholas Syailendra punya dosa besar yang terkunci di dalam flashdisk ini!"

Siska mencondongkan tubuhnya ke depan meja kerja, menatap Bram dengan pandangan mengintimidasi. "

Di dalam sini ada data korupsi proyek pelabuhan Syailendra Group tiga tahun lalu. Jika kita membocorkan data hitam ini ke seluruh media massa sekarang juga, fokus publik akan langsung beralih dari skandal toiletku ke kejahatan korporasi Nicholas Syailendra!"

Bram tertegun, matanya menatap flashdisk merah itu dengan pandangan beralih-alih antara ragu dan takut.

"Menyerang Nicholas? Kamu gila, Siska?! Pria itu bisa menghancurkan kita dalam semalam!"

"Dia nggak akan bisa menyentuh kita kalau dia sendiri sibuk menyelamatkan perusahaannya dari jerat hukum negara, Kak Bram!"

Siska memutari meja kerja, merapatkan tubuhnya ke punggung Bram, lalu membisikkan kalimat beracun tepat di samping telinga suaminya yang sedang dalam kondisi buntu.

Siska menyuntikkan ancaman terakhirnya untuk mengunci persekutuan mereka.

"Pikirkan baik-baik, Kak. Kalau Kakak menolak bekerja sama dan berniat menceraikanku, aku bersumpah akan menyeret nama Kakak dan seluruh aset Bram Corp ke dalam penyelidikan polisi atas kasus foto palsu Adeline sebulan lalu. Kita bisa hancur bersama, atau... kita bekerja sama malam ini untuk membalikkan keadaan."

Ancaman Siska perlahan-lahan merayap masuk dan merusak sisa logika di dalam otak Bram.

Rasa bersalahnya pada Adeline seketika terkikis habis oleh rasa egois dan ketakutan setengah mati jika harus jatuh miskin dan mendekam di penjara.

Bram mengangkat kepalanya, menatap Siska dengan napas yang tertahan.

"Kamu... kamu yakin rencana ini bisa berhasil membalikkan narasi publik?"

"Tentu saja berhasil, Kak. Aku sudah menyiapkan ratusan akun robot di internet. Begitu data Nicholas bocor, kita sebar rumor bahwa rekaman suaraku di toilet hotel adalah hasil editan teknologi AI yang sengaja dibuat oleh Elena Vance untuk memeras saham Bram Corp! Masyarakat kita itu bodoh, Kak. Mereka akan lebih memercayai drama bahwa Elena Vance adalah penipu internasional yang ingin menghancurkan nama baik kita!"

Bram mengambil flashdisk merah itu, mencengkeramnya erat, lalu mengangguk dengan mata yang memancarkan ambisi gelap yang kembali tersulut.

Sepasang suami istri penuh dosa itu akhirnya sepakat bekerja sama untuk mengobarkan perang media malam itu juga.

------------------------------

Sementara itu, di dalam kantor penthouse megah berlantai delapan puluh milik Syailendra Group pada malam harinya, suasana mendadak berubah menjadi tegang.

Nicholas Syailendra berdiri di depan jendela kaca raksasa dengan rahang yang mengeras.

Di hadapannya, Yan—asisten pribadinya—menyerahkan sebuah tablet dengan tangan yang gemetar.

Di layar tablet tersebut, berita baru hasil konspirasi Bram dan Siska sedang memuncaki daftar tren di seluruh platform media sosial dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

‘Skandal Baru: Proyek Gelap Syailendra Group Terbongkar! Elena Vance Diduga Menjadi Mata-Mata Asing dalam Kasus Pemerasan Saham Bram Corp!’

"Tuan Besar, seseorang telah merilis dokumen internal proyek lama kita ke publik. Akun-akun di internet juga serempak menyerang Nona Elena, menuduhnya sebagai penipu dengan bukti suara toilet yang diklaim sebagai hasil editan AI,"

lapor Yan dengan peluh yang bercucuran di dahi.

Nicholas mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat di dalam ruangan.

"Ular-ular kecil itu... berani sekali mereka menggunakan taktik murahan ini untuk menyentuh areaku."

Elena Vance yang sejak tadi duduk di sofa kulit berbalik perlahan.

Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan ketukan yang pelan namun tegas. Wajah cantiknya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

Di bawah bimbingan Nicholas, mental Elena telah berubah menjadi baja.

Elena bangkit dari sofa, berjalan dengan keanggunan seorang ratu menuju ke arah Nicholas.

Ia menatap layar tablet yang memuat foto dirinya disandingkan dengan kata 'Penipu Internasional'.

"Mereka berdua bekerja sama untuk melawan balik,"

bisik Elena, sudut bingkai bibirnya justru terangkat membentuk senyuman miring yang terlihat sangat dingin.

"Bram ternyata memilih untuk menyelamatkan takhtanya daripada hati nuraninya. Baguslah. Jika permainan ini selesai terlalu cepat, rasanya akan sangat membosankan, Nicholas."

Nicholas menoleh, menatap wanita di sampingnya dengan sepasang mata elang yang dipenuhi rasa kagum sekaligus protektif yang teramat sangat.

Ia mengulurkan tangan kekarnya, menarik pinggang Elena dengan lembut hingga tubuh wanita itu merapat sempurna ke dada bidangnya.

"Mereka sedang menggali kuburan mereka sendiri dengan menyentuh Syailendra Group, Elena," desis Nicholas, suaranya rendah namun penuh dengan ancaman mutlak.

"Mereka pikir mereka bisa mengalihkan perhatian hukum dengan dokumen lama milik mendiang ayah Siska?"

Elena mendongak, menatap langsung ke manik mata sang penguasa kota.

"Nicholas, biarkan mereka bersenang-senang dengan kemenangan palsunya hari ini. Biarkan mereka merasa di atas angin. Semakin tinggi ular-ular itu terbang menggunakan kelicikannya..."

Elena menjeda kalimatnya, kilat mata indahnya berubah menjadi sangat kejam laksana malaikat pencabut nyawa.

"...maka akan semakin hancur tubuh mereka saat kita menjatuhkannya langsung ke dasar neraka besok pagi. Aku punya kartu as yang jauh lebih mematikan dari sekadar rekaman suara toilet itu."

Nicholas tersenyum miring, sebuah senyuman kejam yang terlihat sangat serasi dengan ekspresi wajah Elena.

Ia mempererat dekapannya pada pinggang Elena, mengecup kening wanita itu dengan posesif.

"Gunakan seluruh kekuatan Syailendra Group sesukamu, Elena. Hancurkan mereka sampai ke akarnya."

Malam itu, Kota Jakarta menjadi saksi dari perang media yang paling berdarah antara aliansi maut Sang Penguasa Kota dan perlawanan nekat dari sepasang suami istri penuh dosa.

Bram dan Siska merasa mereka telah memenangkan babak ini, tanpa menyadari bahwa Elena Vance baru saja bersiap membuka kotak pandora yang akan melenyapkan nama mereka berdua dari muka bumi untuk selamanya.

------------------------------

Bersambung.....

jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!