NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Semakin Tipis

Pagi itu, udara di ruang makan terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Viona. Ia duduk mematung di kursinya, menatap piring nasi goreng yang masih utuh. Langkah kaki terdengar dari arah tangga—berat, teratur, dan sangat dikenali.

Zidan turun dengan kemeja putih yang sudah disetrika licin. Ia tidak langsung duduk, melainkan berjalan ke mesin kopi, menyeduh secangkir espresso tanpa gula.

"Kamu tidak makan?" tanya Zidan tanpa menoleh, suaranya datar khas pagi hari.

Viona tersentak. "Oh... iya. Aku..." Ia mengambil garpu, mencoba terlihat sibuk. "Lagi mikirin bab empat skripsi, Kak."

Zidan berbalik, membawa cangkir kopinya, dan duduk di seberang Viona. Matanya menyapu wajah gadis itu, lalu turun ke piringnya.

"Mikirin skripsi bukan alasan untuk melewatkan sarapan. Otak butuh glukosa, Vion. Kalau kau pingsan di kampus, aku yang repot menjemputmu lagi."

"Selain itu aku juga harus menahan malu, mempunyai seoarang adik yang tiba-tiba pingsan di Kampus." Zidan dan Viona tertawa kecil

Viona mendengus pelan, meski sudut bibirnya tertarik naik.

"Kakak khawatir sama aku, atau khawatir sama jadwal Kakak yang bakal kacau?"

Zidan mengangkat alis, meneguk kopinya perlahan.

"Apa bedanya? Hasil akhirnya sama: aku harus mengurusmu."

"Bedanya besar, Kak," bantah Viona, memberanikan diri menatap mata pria itu.

"Kalau karena jadwal, itu egois. Kalau karena aku... itu peduli."

Hening sejenak. Zidan meletakkan cangkirnya dengan bunyi ting halus. Tatapannya tajam, menyelami niat Viona.

"Jangan main-main dengan definisi, Vion. Aku melakukan ini karena efisiensi. Menjaga kesehatanmu lebih murah daripada biaya rumah sakit."

Viona tertawa kecil, geli dengan alasan klise itu.

"Ya udahlah, Tuan Efisiensi. Aku makan kok."

Ia mulai menyendok nasinya. Zidan mengamati sebentar, lalu membuka tablet di depannya. Namun, matanya sesekali melirik ke arah Viona, memastikan gadis itu benar-benar makan.

Sore harinya, Viona berdiri di ambang pintu ruang kerja Zidan. Pria itu sedang menelepon seseorang dalam bahasa Inggris, suaranya rendah dan tegas. Viona menunggu sampai telepon selesai sebelum mengetuk pintu terbuka.

"Masuk," ucap Zidan singkat, meletakkan ponselnya.

"Aku mau ke perpustakaan kota sore ini."

Kata Viona langsung pada intinya.

"Bisa antar aku Ka?"

Zidan menatapnya, jari-jarinya mengetuk meja kayu mahoni.

"Perpustakaan kota? Jam segini macetnya parah. lebih berangkat sendiri, cari angkutan online saja?"

"Buku referensinya langka, Kak. Cuma ada versi fisik di sana," jelas Viona.

Zidan menghela napas panjang, seolah permintaan Viona adalah beban logistik yang berat.

Zidan berdiri, mengambil kunci mobil dari laci meja.

"Baik! Aku antar."

"Tapi Kakak kan ada meeting jam dua ya?

Gak apa-apa Kan?"

"Meeting-ku selesai ja. Aku punya waktu luang dua jam sebelum makan malam," jawab Zidan santai.

Zidan berhenti di depan Viona, menatapnya lurus.

"Kau bagian dari tanggung jawabku, Vion. Dan aku tidak pernah lalai pada tanggung jawab."

Kalimat itu terdengar dingin, tapi nada suaranya... ada getaran halus di sana. Viona menunduk, menyembunyikan senyumnya.

"Baiklah, Tuan Penjaga Aset. Aku siap jam setengah tiga.

"Jam tiga lewat dua puluh menit" koreksi Zidan. "Jangan bikin aku menunggu."

Di dalam mobil, keheningan kembali menguasai mereka. Tapi kali ini, Viona merasa lebih berani. Ia memandangi wajah Zidan yang fokus menyetir.

"Kak," panggil Viona pelan.

"Hm?"

"Kenapa Kakak nggak pernah tanya tentang kenapa aku pilih Sastra Inggris?"

Zidan melirik sekilas, lalu kembali ke jalan.

"Karena itu pilihanmu. Dan selama IPK-mu terjaga, alasannya tidak relevan bagi performa akademismu."

"Itu jawaban robot, Kak," keluh Viona.

"Manusia biasa bertanya karena ingin tahu cerita di balik pilihannya."

Zidan diam beberapa detik. Jari-jarinya mengetuk setir. "Baik. Ceritakan."

Viona terkejut. "Serius?"

"Aku sedang mendengarkan. Waktu kita terbatas sebelum sampai perpustakaan."

Viona tersenyum, hatinya berdebar. "Aku pilih sastra karena... kata-kata itu bisa menyembuhkan. Saat ayah meninggal, dunia terasa bising banget. Tapi pas aku baca puisi, ada ketenangan. Seolah ada orang yang ngerti rasa sakitku tanpa aku harus jelasin."

Ia berhenti, menatap jendela. "Aku ingin belajar cara menyampaikan perasaan itu ke orang lain. Lewat tulisan."

Mobil melaju lancar. Zidan tidak langsung menjawab. Ia tampak sedang mencerna informasi itu.

"Subjektif," ucap Zidan akhirnya.

Viona menghela napas kecewa.

"Tuh, kan. Kakak emang nggak bisa appreciate seni."

"Tapi," lanjut Zidan, suaranya lebih lembut, "logikamu masuk akal. Jika kata-kata bisa memberikan stabilitas emosional padamu, maka mempelajarinya adalah investasi kesehatan mental yang valid."

Viona menoleh, menatap Zidan dengan takjub.

"Kakak baru aja bilang itu 'investasi kesehatan mental'?"

"Ya. Apakah ada masalah?" tanya Zidan polos.

Viona tertawa terbahak-bahak. "Nggak, Kak. Nggak ada masalah. Itu... sebenarnya manis, kalau dipikir-pikir."

Wajah Zidan sedikit memerah, meski ia berusaha menutupinya dengan batuk kecil.

"Jangan berlebihan. Aku hanya menyatakan fakta."

"Fakta yang manis," goda Viona.

"Vion," peringatan Zidan terdengar, tapi tanpa kemarahan.

"Fokus pada bukumu nanti. Jangan banyak bicara."

"Iya, Bos," jawab Viona sambil tersenyum lebar.

Saat mereka tiba di perpustakaan, Zidan mematikan mesin mobil. Viona bersiap membuka pintu, tapi Zidan menahan lengannya sebentar.

"Vion."

Viona menoleh. "Ya, Kak?"

"Hati-hati di dalam. Jangan terlalu lama. Dan..." Zidan ragu sejenak, matanya menghindari tatapan Viona.

"Jika kau menemukan buku yang berat, jangan dipaksa angkat sendiri. Tunggu aku."

Viona terdiam, merasakan kehangatan menyebar di dadanya.

"Ka.. Apakah ada buku seberat Beton-beton bangunan pencakar langit puluhan tingkat?"

"Sedikit terdengar konyol bukan?"

"Hmmm...Bisa jadi ada buku yang tingginya seperti beribu-ribu bangunan gedung pencakar langit. Karena tebal nya buku itu."

"Sepertinya tidak ada Ka"

Mereka tertawa kecil bersama. Candaan yang aneh tapi sangat menghangatkan.

"Tapi jika nanti ada yang benar-benar berat, Kaka mau angkatin buat Aku?."

"Jelas. Untuk seorang Adik sepertimu, seperti nya itu satu pengorbanan yang harus dilakukan Kakanya."

"Sebenarnya Aku cuma tidak ingin tulang punggungmu cedera. Itu akan mengganggu produktivitasmu," alasan Zidan cepat.

Viona mengangguk, menahan tawa. "Siap, Kak. Terima kasih."

Ia turun dari mobil, membawa tas kosong. Sebelum masuk gedung, ia menoleh sekali lagi. Zidan masih duduk di dalam mobil, menatapnya melalui kaca jendela. Saat mata mereka bertemu, Zidan mengangguk singkat. Sebuah isyarat kecil, hampir tak terlihat, tapi bagi Viona, itu berarti lebih dari seribu kata.

"Aku di sini. Aku menunggu."

"Ingat waktunya tidak banyak. Jangan sampai telat untuk kembali."

Viona tersenyum, lalu berlari kecil masuk ke perpustakaan. Di balik rak-rak buku yang tinggi, ia merasa tidak sendirian. Karena di luar sana, ada seseorang yang memilih untuk menunggu—bukan karena kewajiban, tapi karena sesuatu yang bahkan logika Zidan sendiri belum sepenuhnya mampu jelaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!