NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Hangatnya Kedamaian dan Kilasan Masa Depan

Setelah piring sarapan mereka kosong, Chen meletakkan sumpitnya dan tersenyum menatap Mei. "Masakanmu enak sekali, Mei. Kalau begitu, aku pamit kembali ke kamarku dulu ya, mau mandi dan ganti baju."

Mendengar pamitnya Chen, gerakan Mei yang sedang merapikan meja makan seketika terhenti. Gadis itu berbalik, lalu berjalan mendekati Chen dengan langkah pelan. Bukannya membukakan pintu, Mei malah mencengkeram ujung kaus Chen sambil memasang wajah memelas yang begitu menggemaskan—kedua matanya yang bulat menatap Chen penuh harap, seolah-olah Chen akan pergi ke tempat yang sangat jauh.

"Jangan dulu pulang... Tetap di sini bersamaku hari ini, ya?" bisik Mei dengan nada manja yang sangat sulit untuk ditolak.

Melihat wajah memelas sang kekasih, runtuhlah sudah seluruh pertahanan Chen. Ia menghela napas panjang sembari tersenyum pasrah, tak tega untuk melangkah pergi. "Baiklah, baiklah. Aku tidak jadi pulang."

"Benar? Kalau begitu, kamu mandi di kamar mandiku saja!" seru Mei dengan wajah yang seketika berubah ceria berlipat ganda.

Masalahnya, Chen tidak membawa baju ganti. Melihat kebingungan kekasihnya, Mei dengan riang membuka lemarinya dan mengeluarkan sebuah kaus putih polos berukuran oversized miliknya. Karena postur tubuh Chen yang tegap dan atletis akibat bertahun-tahun menjadi kuli angkut, kaus Mei itu terasa agak ketat di tubuh Chen, namun tetap nyaman dipakai. Setelah mandi dan mengenakan baju milik Mei, penampilan Chen justru terlihat kasual dan santai.

Sandaran Paling Nyaman

Setelah urusan membersihkan diri selesai, keduanya kembali ke atas ranjang. Suasana kamar kos terasa sangat tenang, hanya ditemani oleh suara embusan angin pagi dari luar jendela.

Mei bersandar di kepala ranjang sambil membuka sebuah buku novel yang sedang ia baca. Sementara Chen, dengan perasaan tanpa beban, memposisikan tubuhnya secara perlahan hingga kepalanya mendarat dengan pas di atas paha mulus Mei yang terasa sangat empuk dan hangat.

Mei tidak keberatan. Sambil terus membaca bukunya dengan tangan kiri, jemari tangan kanan Mei bergerak lembut menyusuri rambut Chen, mengusapnya dengan penuh kasih sayang.

Sentuhan lembut di kepalanya serta aroma harum tubuh Mei yang menenangkan perlahan membuat mata Chen terasa berat. Aliran energi hangat di belakang kepalanya, yang biasanya bergejolak hebat untuk mengaktifkan mata ajaib, kali ini mengalir dengan sangat lembut dan sinkron dengan detak jantungnya. Chen merasa begitu aman. Dalam hitungan menit, ia telah terbuai masuk ke dalam tidur yang sangat nyanyal—tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Mimpi tentang Masa Depan

Di dalam tidurnya yang lelap, kesadaran Chen tidak menjadi gelap. Aliran hangat dari sepasang matanya justru menciptakan sebuah mimpi yang begitu nyata, seolah-olah matanya sedang memproyeksikan masa depan jangka panjang yang sangat indah.

Dalam mimpinya, Chen melihat dirinya sedang berdiri di sebuah aula pernikahan yang sangat megah dan mewah. Alunan musik klasik bergema indah. Chen mengenakan setelan tuksedo hitam yang sangat gagah. Di ujung karpet merah, pintu besar terbuka.

Sesosok wanita dengan gaun pengantin putih yang sangat anggun berjalan perlahan mendekatinya, memegang buket bunga mawar. Ketika wanita itu membuka cadar tipisnya, wajah cantik Mei tersenyum dengan air mata kebahagiaan yang berlinang di pipinya. Mereka berdua berdiri di hadapan altar, saling menyematkan cincin emas, dan berjanji untuk sehidup semati. Mimpi itu terasa begitu nyata, dipenuhi rasa cinta yang sangat pekat, hingga membuat Chen yang masih tertidur di paha Mei tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat manis di bibirnya.

Mei yang sedang membaca buku perlahan menurunkan pandangannya ke arah wajah Chen. Melihat kekasihnya tersenyum begitu manis dalam tidurnya, Mei menghentikan usapan tangannya sejenak. Ia merunduk sedikit, lalu mengecup kening Chen dengan lembut.

"Mimpi indah, Chen-ku," bisik Mei lirih, ikut tersenyum bahagia melihat ketenangan pria yang teramat dicintainya itu.

1
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!