Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Lembur Pertama
Bab 3: Lembur Pertama
Pertemuan dengan klien berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Saat Nara dan Damar keluar dari gedung perusahaan klien, langit sudah berubah gelap.
Lampu-lampu kota mulai menyala.
Jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak perlahan di tengah kemacetan sore.
Nara mengembuskan napas panjang.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Sejak pagi ia nyaris tidak memiliki waktu untuk beristirahat.
Namun yang paling mengejutkan adalah kenyataan bahwa Damar ternyata sangat berbeda saat berhadapan dengan klien.
Pria itu tetap tegas dan serius.
Tetapi cara bicaranya jauh lebih tenang dibanding saat berada di kantor.
Ia bahkan beberapa kali tersenyum.
Meski hanya tipis.
Tetap saja membuat Nara hampir tidak percaya.
"Ternyata dia bisa tersenyum juga."
Tanpa sadar kalimat itu terucap pelan.
"Apa?"
Nara langsung menoleh.
Damar ternyata mendengarnya.
"Ti-tidak ada."
Damar mengangkat sebelah alis.
Namun ia tidak bertanya lebih lanjut.
Mereka berjalan menuju area parkir.
Nara hendak memesan ojek online ketika sebuah suara menghentikannya.
"Masuk."
Nara menatap mobil hitam yang terparkir di depan mereka.
Lalu menatap Damar.
"Hah?"
"Saya akan mengantar Anda kembali ke kantor."
"Kembali ke kantor?"
Damar menatapnya datar.
"Masih ada pekerjaan."
Seketika wajah Nara berubah.
"Jam kerja sudah selesai."
"Tim proyek sedang mengejar target."
"Artinya?"
"Kita lembur."
Nara ingin menangis.
Benar-benar ingin menangis.
Hari ini baru hari kedua.
Dan ia sudah dipaksa lembur.
Melihat ekspresinya, Damar berkata singkat.
"Itu bagian dari pekerjaan."
Nara menggigit bibir.
Dalam hati ia mengucapkan berbagai protes.
Namun pada akhirnya ia tetap masuk ke mobil.
---
Sepanjang perjalanan suasana sangat hening.
Nara sengaja melihat ke luar jendela.
Ia tidak berniat memulai percakapan.
Sementara Damar fokus menyetir.
Anehnya, pria itu tidak memainkan musik.
Tidak menelepon siapa pun.
Tidak melakukan apa pun selain mengemudi.
Benar-benar membosankan.
Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba kembali di kantor.
Sebagian besar lantai gedung sudah kosong.
Hanya beberapa divisi yang masih bekerja.
Dan tentu saja...
Tim proyek mereka.
"Selamat datang di dunia lembur."
Siska menyambut mereka sambil tertawa kecil.
Nara langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
"Aku baru sadar kenapa semua orang takut masuk tim ini."
Siska mengangguk.
"Aku juga."
---
Malam semakin larut.
Jam menunjukkan pukul delapan.
Lalu sembilan.
Kemudian sepuluh.
Sebagian anggota tim mulai terlihat kelelahan.
Namun Damar masih bekerja seperti mesin.
Tidak ada tanda-tanda melambat.
Tidak ada tanda-tanda lelah.
Nara mulai curiga.
Jangan-jangan pria itu memang robot.
Ia sedang menyusun laporan ketika perutnya tiba-tiba berbunyi.
Sangat keras.
Beberapa orang menoleh.
Termasuk Damar.
Nara langsung memejamkan mata.
Malu.
Sangat malu.
Ia memang belum makan malam.
Karena terlalu sibuk sejak sore.
Siska menahan tawa.
"Aku punya roti."
"Berikan sekarang."
Namun sebelum Siska sempat mengambil tasnya, Damar berdiri.
"Ayo."
Nara mengangkat kepala.
"Apa?"
"Makan."
"Kita masih kerja."
"Karyawan yang pingsan tidak membantu proyek."
Jawaban itu membuat seluruh ruangan terdiam.
Damar berjalan keluar.
Beberapa detik kemudian Nara menyadari semua orang sedang menatapnya.
"Kenapa?"
Siska terlihat syok.
"Damar mengajakmu makan?"
"Memangnya kenapa?"
"Itu pertama kalinya."
"Hah?"
"Biasanya dia bahkan lupa makan."
Nara menatap pintu yang baru saja dilewati Damar.
Perasaannya menjadi aneh.
Namun ia segera mengusir pikiran itu.
Mungkin pria itu hanya tidak ingin anggota timnya tumbang.
Tidak lebih.
---
Mereka akhirnya makan di sebuah warung yang masih buka dekat kantor.
Tempatnya sederhana.
Jauh dari kesan mewah.
Nara cukup terkejut.
Ia mengira orang seperti Damar hanya makan di restoran mahal.
"Ternyata Anda makan di tempat seperti ini."
Damar menatapnya.
"Memangnya kenapa?"
"Saya kira Anda lebih suka restoran bintang lima."
Damar kembali fokus pada makanannya.
"Saya datang untuk makan. Bukan untuk memotret makanan."
Nara hampir tersedak.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu, ia merasa ingin tertawa.
Meski kalimat itu terdengar datar.
Tetap saja lucu.
"Anda sering ke sini?"
"Kadang."
Nara mengangguk pelan.
Setelah itu mereka kembali diam.
Namun entah kenapa suasana kali ini tidak secanggung sebelumnya.
Sampai seorang wanita tiba-tiba datang.
"Damar?"
Mereka berdua menoleh.
Seorang wanita berpenampilan elegan berdiri di dekat meja mereka.
Rambut panjang.
Gaun mahal.
Dan wajah cantik yang menarik perhatian.
Ekspresi wanita itu berubah saat melihat Nara.
"Damar, kamu makan malam dengan seseorang?"
Nara langsung merasa tidak nyaman.
Ia bisa merasakan tatapan tajam wanita itu.
"Kami sedang bekerja."
jawab Damar singkat.
"Oh."
Wanita itu tersenyum.
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Damar, aku sudah menghubungimu sejak siang."
"Saya sibuk."
"Kamu selalu sibuk."
Wanita itu menghela napas.
Lalu menatap Nara lagi.
"Siapa dia?"
"Karyawan baru."
Jawaban Damar sangat cepat.
Entah kenapa Nara merasa seperti sedang diperkenalkan sebagai dokumen kantor.
Wanita itu mengangguk.
Namun tatapannya tetap membuat Nara tidak nyaman.
"Baiklah. Kita bicara lain waktu."
Setelah wanita itu pergi, Nara akhirnya bertanya.
"Pacar Anda?"
"Tidak."
"Mantan?"
"Bukan."
"Lalu?"
Damar meletakkan gelasnya.
"Kenapa Anda sangat ingin tahu?"
Nara langsung terdiam.
Benar juga.
Kenapa ia bertanya?
"Maaf."
Damar tidak menjawab lagi.
Namun untuk beberapa alasan, suasana menjadi sedikit aneh setelah itu.
---
Ketika mereka kembali ke kantor, hujan mulai turun.
Awalnya hanya gerimis.
Lalu semakin deras.
Suara hujan menghantam kaca gedung dengan keras.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika pekerjaan akhirnya selesai.
"Kita lanjut besok."
kata Damar.
Seluruh tim langsung bersorak lega.
Nara segera membereskan barang-barangnya.
Ia tidak sabar pulang.
Namun saat membuka aplikasi ojek online, wajahnya langsung berubah.
Tidak ada pengemudi yang tersedia.
Ia mencoba lagi.
Tetap sama.
Hujan terlalu deras.
Sebagian besar pengemudi menolak pesanan.
"Jangan bilang..."
Nara mencoba berkali-kali.
Tetap gagal.
Siska menghampirinya.
"Aku sudah dijemput pacarku."
"Beruntung sekali."
"Semangat ya."
Lalu wanita itu pergi.
Satu per satu anggota tim meninggalkan kantor.
Hingga akhirnya hanya tersisa dua orang.
Nara.
Dan Damar.
Hening.
Sangat hening.
Nara mulai gelisah.
Ia melihat ke luar jendela.
Hujan masih turun tanpa tanda akan berhenti.
"Kamu belum pulang?"
Suara Damar membuatnya menoleh.
"Tidak dapat kendaraan."
Damar melirik layar ponselnya.
"Sudah berapa lama mencoba?"
"Hampir tiga puluh menit."
Damar mengangguk pelan.
Kemudian kembali bekerja.
Nara menghela napas.
Tentu saja.
Ia tidak berharap bantuan apa pun dari pria itu.
Namun beberapa menit kemudian...
Damar menutup laptopnya.
"Ayo."
Nara berkedip.
"Ke mana?"
"Saya antar pulang."
Nara langsung membeku.
"Apa?"
"Saya tidak mengulang kalimat yang sama dua kali."
Nara menatap pria itu.
Mencoba memastikan dirinya tidak salah dengar.
Damar mengantar pulang?
Musuhnya?
Pria yang selalu membuatnya kesal?
Ini pasti mimpi.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Damar sudah berjalan menuju lift.
Meninggalkannya yang masih berdiri mematung.
Dan tanpa mereka sadari...
Malam hujan itu akan menjadi awal dari perubahan kecil dalam hubungan mereka.
Perubahan yang belum mampu dilihat oleh keduanya.
Karena di balik kebencian yang terus mereka tunjukkan...
Takdir perlahan mulai mempersempit jarak di antara mereka.
bersambung....