Warning⚠️ dilarang boom like, jika tidak suka dengan karya ini, ... kalian boleh skip.
Bangun dari koma, Calista Nandini menatap aneh sekelilingnya. Asing, terlihat sangat asing. Lalu, siapa lelaki itu? Kenapa dia mengaku sebagai suaminya? Semua itu terus menari-nari di dalam otaknya, dan berusaha mencari sebuah jawaban atas dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB (1)
“Akhirnya kamu bangun juga.” Suara seseorang terdengar asing di telinga seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang pasien.
“Ma-af, kamu siapa?” Terdengar suara lemah lembut dan diliputi oleh tanda tanya dia—Calista, dengan tatapan penuh kebingungan mencoba mencari sebuah jawaban.
“Bukankah seharusnya kamu jauh lebih waras dibanding sebelumnya? Terlebih sudah terbaring dua minggu di sini,” jawab lelaki bernama Leonard.
“Sekarang jawab aku, kenapa kamu bisa tenggelam di kolam renang?” tanya Leonard dengan wajah datar.
“Bahkan aku tidak tahu kenapa bisa ada di sana.” Dengan wajah bingung, Calista menjawab pertanyaan Leo dalam hati.
“Jawab aku!” bentak Leo kembali.
Lelaki itu sudah cukup lama bertahan dengan sikap bodoh dari istrinya. Dua tahun bukanlah waktu yang pendek, karena ia harus memiliki kesabaran penuh untuk menghadapi istri macam Calista.
“Aku … aku tidak tahu,” jawab Calista dengan kedua tangan berada di kepala. Rasa sakit tiba-tiba mendera, ketika berusaha mengingat semua kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu.
“Jangan pura-pura terjadi sesuatu di otakmu!” seru Leo dengan kesal.
“Sakit … kepalaku sakit, … argh ini sangat menyakitkan.” teriak Calista.
Leo yang melihat jika Calista benar-benar menahan sakit, akhirnya ia pun meminta dokter memeriksanya. Ia takut, takut jika gilanya semakin parah karena gegar otak. Terlebih komanya karena tengelam.
Beberapa saat kemudian.
“Tuan, istri Anda seharusnya baik-baik saja. Bahkan setelah diperiksa dan ini hasilnya,” ucap dokter seraya memberikan map berisikan hasil pemeriksaan Calista.
“Lantas kenapa dia semakin idiot?” tanya Leo dengan nada frustasi.
Dokter pun menghela napas, tapi kali ini pasiennya benar baik-baik saja dan kepalanya pun tak ada yang cedera.
“Saya yakin Tuan, jika nona Calista baik-baik saja.” Jawab sang dokter tanpa ragu.
Lagi pula Dokter Luffy tidak akan salah diagnosa, pasien bernama Calista Nandini, istri dari pria terkaya yang terhormat memang sedikit tak masuk akal, bukankah lelaki seperti Leonard seharusnya memiliki istri pintar, cantik, dan wanita terhormat? Namun, kenyataannya ia tidak bisa melawan kehendak orang tuanya untuk menikahi Calista yang seorang wanita idiot dan bodoh, serta berperilaku selayaknya anak berusia 10 tahun.
Tanpa meninggalkan pertanyaan lagi, Leo pergi tanpa pamit kepada dokter dan langsung masuk ke ruang di mana Calista berada.
Berdiri diambang pintu dan kembali memperingatkan Calista.
“Jika kamu terus membuat masalah, siap-siap saja aku akan membuangmu di tepi jembatan!” Setelah berucap, Leo juga meninggalkan Calista seorang diri.
Sedangkan Calista sendiri kini sedang berpikir keras, rasanya sungguh sulit untuk dijelaskan. Meski ia mencoba mengatakan sebuah kejujuran, mungkin semua orang tak akan percaya dengan bualannya? Dan Calista rasa itu tak akan mungkin bisa ia ungkapkan secara terang-terangan.
“Bukankah seharusnya aku berada di rumah dan sedang tidur? Tapi kenapa malah berada di rumah sakit.” Semua yang ia alami kini bertempur di dalam pikirannya. Mencoba memahami dan sayangnya … lagi-lagi membuatnya sakit kepala. Yang ia ingat, di kota lain di mana seharusnya Freya itu tinggal. Namun, yang membuatnya terus berpikir. Jika dirinya terbangun dan berada di rumah sakit.
Sejenak ketika matanya terpejam akibat rasa sakit, tiba-tiba suara ketukan membuat Calista menoleh. Seorang wanita cantik dengan setelan rok span dipadukan dengan blazer warna senada. Perempuan cantik itu menghampirinya dengan penuh keangkuhan.
“Nona, tuan Leo memintaku untuk membawamu pulang, asisten Genta sedang mengurus administrasi.”
Bahkan Calista tidak menjawab, ia langsung turun tanpa bertanya apa pun. Masih dengan pikiran bentrok, mencoba mencari jawaban. Sebelum dirinya tertidur. Ia dan kekasihnya usai menyelesaikan acara pertunangan. Akan tetapi, yang sampai sekarang mengganjal, kenapa sudah berada di tempat lain dan asing baginya.
“Nona, ingat. Kamu hanya seorang wanita idiot yang beruntung dinikahi oleh tuan Leo, jadi jangan membuat ulah hingga membuatnya hampir ikut menjadi gila karenamu.” Lagi, terdengar seperti nada peringatan, sekretaris dari Leonard Sage pun terus memandang rendah ke arah Calista.
“Jika begitu, kenapa dia tidak menceraikanku!” Jawab Calista dengan nada kesal setelah cukup lama terdiam.
“Cih, bukankah aku sudah mengatakan. Kamu hanya beruntung dinikahi seorang pria terkaya, jadi berhentilah bersikap impulsif. Jika tidak—,”
“Apa ‘jika tidak’ apa maksudmu?” potong Calista sekaligus menirukan kalimat sekretaris suaminya.
“Aku akan benar-benar merebutnya dari perempuan idiot sepertimu.” Dengan senyum licik, sekretaris itu pun berkata.
Sedangkan di kota lain.
Dua hari lalu, ada berita perampokan di sebuah rumah mewah. Hingga pemilik dari rumah tersebut meninggal akibat tusukan senjata tajam. Polisi pun sudah bertindak dan kekasih dari korban merasa kehilangan. Di hadapan penyidik, bahkan lelaki itu bersumpah untuk mengusut kasus dengan tuntas.
“Tuan, mungkin kekasih Anda selama ini memiliki musuh?” Penyidik bertanya, membuat lelaki yang diperiksanya tertunduk sebelum memberi jawaban.
“Tidak, yang aku tahu jika kekasihku sama sekali tidak memiliki musuh.” Jawab lelaki tersebut.
“Baik, berarti dalam kasus ini murni perampokan,” kata penyidik.
“Kalau bukan perampokan, mungkin barang-barang berharga milik kekasihku tidak akan hilang, Pak!” Sedikit kesal karena respons penyidik yang tak menyenangkan, akhirnya kekasih dari korban perampokan hingga berakhir pembunuhan dengan lantang menentang.
“Baik, Tuan, pihak kami akan terus mencari tersangka dan Tuan tenang saja.” Begitulah lagi-lagi jawaban dari pihak kepolisian.
"Pak, tolong. Kami baru saja bertunangan dan akan segera menikah, tapi tunanganku harus pergi dengan tragis. Apa menurut kalian itu adil?"
Pernyataan dari tunangan sang korban pun merasa terpukul. Tidak mengira jika Freya pergi meninggalkannya lebih awal. "Sayang, kamu tenang saja. Aku pasti memberimu keadilan," gumamnya di depan penyidik.
Penyidik pun dibuat bungkam. Di mana seharusnya menjadi awal kebahagiaan, tetapi dua orang yang saling mencintai harus dipisahkan secara keji. Helaan napas terdengar begitu berat, penyidik membenarkan kacamatanya dan berkata. "Bapak tenang saja. Kami anggota kepolisian akan membantu mengungkap kasus pembunuhan ini secepatnya,"
Kekasih dari korban itu pun lantas tersenyum. Mengangguk dan mempercayakan semuanya pada pihak yang berwajib. "Baik, terima kasih untuk kerjasamanya Pak, semoga tunanganku segera mendapat keadilan."
………………
Di rumah yang luas dan megah, wajah Calista terlihat kebingungan. Ia terus memandangi pelataran tersebut, hingga membuat asisten Genta ikut penasaran.
“Nona, kita masuk. Lantas, untuk apa Nona terus menatap bangunan ini?”
Sebuah pertanyaan keluar begitu saja, Calista yang diambang kebingungan tak tahu harus berkata apa.
“Ini rumah siapa Tuan?”
Asisten Genta mengerutkan keningnya. Nona mudanya bukan kehilangan ingatan, dia hanya wanita selayaknya berusia 10 tahun, lalu kenapa bisa tidak mengenali rumah yang ditempatinya selama dua tahun?
“Nona, sebaiknya kita masuk saja dan lekas istirahat. Mungkin efek tenggelam hingga membuat kepala Nona bentrok,” ucap asisten Genta.
“Secara tidak langsung kamu mengataiku gila, bukan.”
“Tidak Nona tidak, aku hanya—.”
“Lain kali jika masih berbicara manis di depanku, aku akan mencekikmu!”
Asisten Genta seketika mundur beberapa langkah. Bahkan mendengar kalimat seperti sekarang pun, untuk pertama kalinya hingga membuatnya merinding.
Menghilangkan rasa bingung untuk sementara, Calista memilih masuk diikuti oleh asisten Genta.
Siapa sangka, usai dirinya masuk. Tiga membantu berdiri di depan pintu guna menyambut kepulangan nona mudanya.
“Apa lagi ini? Bahkan mereka terlalu sopan di depanku,” batin Calista.
“Nona, selamat datang, kami minta maaf karena tidak bisa menjaga Nona dengan baik, sampai akhirnya harus dibawa ke rumah sakit.” Suara pembantu mewakili para pekerja lainnya, karena keteledorannya sampai nona muda itu tenggelam di area kolam renang.
“Aku lapar, ingin makan sesuatu! ketus Calista karena merasa sudah muak.
“Ba-baik Nona.”
Semua pembantu tergopoh-gopoh pergi ke dapur, dan inilah yang menjadi masalah bagi mereka.
Asisten Genta pun masih berdiri di belakang Calista setelah menerima telepon dari tuannya.
Beberapa menit kemudian.
“Apa yang kamu lakukan? Menyuruh bibi untuk menemanimu bermain, huh!” Terdengar suara lantang tepat dari belakang Calista.
“Bisa tidak kamu menjadi manusia normal tanpa membuat seseorang mendapat serangan jantung,” dengus Calista.
“Memangnya kamu normal? Bahkan baru setengah jam pulang dari rumah sakit harus membuat para bibi kesulitan.”
pokoknya harus tuntas tuhhh buat terus kasih Clue siapa istrinya yg sekarang 👍😍😁