NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Asura

Kebangkitan Kaisar Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan Lencana Jiwa

Namun, di mata Huang, serangan Lu Chen terlalu banyak membuang energi demi estetika. Kecepatan angin itu masih jauh lebih lambat dibandingkan cakaran Siluman Laba-laba atau terjangan Jenderal Gorgon yang pernah dihadapinya.

Huang tidak memicu energi Asura-nya. Sesuai nasihat Mu, dia harus menyembunyikan identitasnya. Namun, fisik perunggu yang telah ditempa secara ekstrem dan dimurnikan oleh energi purba sudah lebih dari cukup.

Saat bilah angin Lu Chen tinggal seujung kuku dari wajahnya, Huang maju satu langkah—bukan mundur.

TAP!

Huang memiringkan tubuhnya dengan presisi yang mengerikan, membiarkan angin tajam itu lewat begitu saja di samping telinganya. Di detik yang sama, tangan kanan Huang melesat maju bagai ular kobra yang keluar dari sarangnya, menembus pertahanan angin Lu Chen dan mencengkeram leher pemuda angkuh itu dengan kuat.

"Uhuk!"

Gerakan Lu Chen terhenti seketika. Pusaran angin di sekeliling tubuhnya lenyap, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa saat tubuhnya perlahan terangkat ke udara hanya dengan satu tangan Huang. Kedua kaki Lu Chen menendang-nendang udara dengan panik, wajahnya yang tadinya merona angkuh kini berubah menjadi merah keunguan karena kehabisan napas.

"K-Kau..." Lu Chen terbata-bata, matanya melebar penuh horor saat menatap sepasang mata hitam Huang yang sedingin es. Kekuatan fisik tangan Huang terasa seperti jepitan besi kuno yang mustahil untuk dipatahkan.

Dua pelayan kekar Lu Chen yang berada di belakangnya baru saja hendak bergerak maju ketika Huang melirik mereka dengan tatapan tajam. Semburan aura niat membunuh yang murni hasil dari bertahan hidup di Hutan Kematian melesat keluar, membuat kedua pelayan itu membeku di tempat dengan keringat dingin yang mengucur deras.

Insting mereka berteriak bahwa remaja di depan mereka telah membantai makhluk yang jauh lebih mengerikan dari mereka.

"Konflik pribadi sebelum gerbang pendaftaran dibuka... potongan sepuluh poin nilai ujian bagi pelaku!"

Sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa tiba-tiba memotong keheningan. Dari atas gerbang putih melayang, turun seorang pria paruh baya mengenakan jubah abu-abu dengan lambang empat jagat di dadanya. Dia adalah salah satu Penguji Akademi.

Huang menatap penguji itu sejenak, lalu dengan santai melemparkan tubuh Lu Chen ke tanah seperti membuang karung beras kosong.

Lu Chen terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang memar, tidak berani lagi menatap wajah Huang. Dia dibantu berdiri oleh kedua pelayannya dan segera mundur ke belakang kerumunan dengan rasa malu yang mendalam.

Penguji jubah abu-abu itu menatap Huang dengan pandangan penuh minat. Sebagai seorang kultivator Ranah Jiwa Nascent, dia bisa melihat bahwa Huang tidak menggunakan Qi sama sekali saat melumpuhkan Lu Chen, murni kekuatan fisik yang mengerikan.

"Kalian semua, dengar!" Penguji itu beralih menatap ribuan calon murid. "Akademi Empat Jagat tidak peduli apakah kau pangeran kekaisaran manusia, bangsawan Ras Iblis, sekte siluman, atau elit Ras Peri. Di sini, hanya ada satu hukum: Yang Kuat Bertahan, Yang Lemah Tersingkir!"

Dia melambaikan tangannya, dan gerbang batu putih yang megah itu perlahan terbuka, menampilkan sebuah jembatan cahaya yang membentang menuju sebuah pulau melayang di mana sebuah hutan berkabut tebal berada.

"Ujian pertama: Perburuan Lencana Jiwa. Di dalam Hutan Ilusi di depan kalian, terdapat seribu lencana yang disembunyikan. Kalian bebas menggunakan cara apa pun—termasuk merebut dari peserta lain—untuk mendapatkan minimal satu lencana dalam waktu enam jam. Hanya seribu orang pertama yang membawa lencana yang akan diterima di akademi ini. Ujian... DIMULAI!"

BOOM!

Begitu kata "dimulai" bergema, ribuan calon murid langsung melesat bagai anak panah lepas dari busurnya, saling sikut dan berlarian menyeberangi jembatan cahaya untuk masuk ke dalam hutan.

Huang menarik napas dalam-dalam, menyatukan emosinya. Tatapannya tertuju pada hutan berkabut di depan. Di tempat di mana semua ras dihalalkan untuk saling serang, dia tahu ujian ini akan berubah menjadi pertumpahan darah yang kejam.

Namun, inilah panggung yang dia cari. Dengan langkah tenang namun cepat, Lin Huang melangkah masuk ke dalam kabut, siap menggoncang Akademi Empat Jagat.

---

Kabut tebal Hutan Ilusi langsung menelan sosok Huang begitu dia menapakkan kaki di dalam area ujian. Udara di sini terasa ganjil, dipenuhi oleh ilusi magis yang perlahan mencoba mengaburkan arah mata angin dan mengacaukan fokus pikiran. Bagi peserta biasa, kabut ini adalah siksaan. Namun, dengan indra batin Huang yang telah dimurnikan oleh energi purba, kabut ini tidak lebih dari sekadar asap tipis.

Hanya dalam waktu sepuluh menit sejak ujian dimulai, suara dentang senjata, ledakan Qi, dan jeritan histeris mulai menggema dari berbagai penjuru hutan. Perburuan ini telah berubah menjadi ajang saling bantai.

Huang memilih untuk bergerak melompat dari satu dahan pohon raksasa ke dahan lainnya, menjaga hawa keberadaannya agar tetap sekecil mungkin. Dia tidak terburu-buru berburu lencana; dia tahu bahwa target terbaik adalah mereka yang mengumpulkan lencana terlalu cepat tanpa memiliki kekuatan untuk mempertahankannya.

Sret!

Tiba-tiba, telinga Huang menangkap desingan halus di udara. Dengan refleks yang terlatih, dia memiringkan kepalanya ke belakang. Sebuah anak panah kayu bermata tulang melesat tipis di depan hidungnya, menancap di batang pohon dan seketika meledakkan racun hijau yang melelehkan kulit kayu.

"Sial, seranganku meleset!" sebuah suara desisan kesal terdengar dari balik rimbunnya semak-semak di dahan seberang.

Sesosok remaja dari Ras Siluman Ular melompat keluar. Tubuh bagian atasnya adalah manusia berkulit pucat dengan sisik hijau di pipinya, sementara matanya vertikal tajam penuh kelicikan. Di tangannya, dia memegang busur pendek yang terbuat dari tulang binatang.

"Manusia, serahkan lencanamu atau kau akan membusuk di sini karena racunku!" ancam siluman ular itu, sambil kembali menarik tali busurnya.

Huang menatapnya datar. "Aku bahkan belum mencari lencana."

"Kalau begitu, serahkan nyawamu!"

Wush! Wush! 

Dua anak panah beracun kembali melesat cepat. Namun, kali ini Huang tidak menghindar. Dia melompat maju menantang arah panah. Dengan kecepatan Ranah Fondasi Jiwa yang disamarkan, tangan kanan Huang bergerak meliuk, menangkap kedua anak panah itu tepat di bagian batangnya sebelum sempat meledak, lalu memutarnya ke arah balik.

JLEB!

Huang melemparkan kembali panah tersebut dengan kekuatan fisik murninya. Anak panah itu melesat dua kali lebih cepat, menembus kedua bahu siluman ular itu hingga dia menjerit kesakitan dan jatuh dari dahan pohon, menghantam tanah di bawah.

Huang mendarat di samping tubuh siluman ular yang kini mengerang kesakitan. Saat Huang memeriksa kantong pinggang makhluk itu, dia menemukan sebuah lencana perunggu dengan ukiran angka '42'.

"Terima kasih atas lencananya," ucap Huang tenang sambil mengantongi benda tersebut. Satu lencana sudah di tangan, artinya dia sudah mengamankan posisi aman untuk lolos.

Namun, tepat ketika Huang hendak kembali melompat ke atas pohon, aura energi yang sangat pekat dan berbau darah murni tiba-tiba meledak dari arah jantung hutan. Udara di sekitar tempat itu mendadak menjadi sangat dingin, memaksa kabut ilusi di sekitarnya tersibak paksa.

Dari balik kabut yang menipis, muncul tiga orang peserta yang sedang berlari kencang dengan wajah penuh ketakutan. Mereka adalah para kultivator dari ras manusia yang mengenakan zirah perang mewah. Namun, zirah mereka kini telah hancur dan berlumuran darah.

"Lari! Dia bukan peserta biasa! Dia adalah monster!" salah satu dari mereka berteriak histeris ke arah Huang, sebelum sebuah bayangan hitam melesat dari belakang dan menembus dadanya hingga tembus ke kedepan.

CRASH!

Pria itu tumbang seketika. Di belakangnya, berdiri seorang pemuda dari Ras Iblis dengan penampilan yang sangat mencolok. Kulitnya kelabu pucat, rambutnya hitam legam yang acak-acakan, dan sepasang sayap kelelawar raksasa yang robek-robek di punggungnya memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat.

Yang paling mengerikan adalah tangannya yang telah berubah menjadi cakar hitam besar yang meneteskan darah segar.

1
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
Libz Adoel
👍👍👍👍👍
Libz Adoel
Mantappp 👍👍😍
Yann_Story: makasih😇
total 1 replies
yos helmi
🤭🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
bagus.. lebih bagus kalao sampe tamat n up minimal 3 bab / hari.. sy ng sayang kasih dukungan..
Yann_Story: siapp😇
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!