Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 20
"Jangan bangga dulu karena dia membelamu hari ini, Alysia. Dia hanya sedang berusaha mempertahankan asetnya, bukan mempertahankan dirimu. Ingat itu baik-baik."
Setelah memberikan tatapan menghina terakhir, Bu Chintya melangkah keluar dengan suara hak tinggi yang bergema angkuh di lantai marmer, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang makan.
Damian masih berdiri di sana, terengah-engah dengan dada yang naik-turun. Saat dia berbalik untuk menatap Alysia, dia mendapati istrinya sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang kini telah kehilangan kehangatan yang dulu pernah ada.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Alysia pelan, suaranya nyaris seperti gumaman.
"Melakukan apa?" tanya Damian balik, mencoba melangkah mendekat, namun Alysia segera mundur satu langkah.
"Membelaku. Kamu tidak perlu berpura-pura di depan Ibu. Kita berdua tahu siapa kita sebenarnya di rumah ini," ujar Alysia.
"Kamu tidak perlu menjadi pahlawan bagiku, Damian. Itu hanya akan membuat drama ini menjadi jauh lebih menyakitkan."
Damian menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan di balik kesibukan dan kebohongan, kini meledak dalam bentuk ketakutan yang luar biasa. Dia menyadari satu hal yang baru saja disadari oleh ibunya, Alysia sudah tidak peduli. Perisai yang biasa dia pasang, bahu tegapnya yang menghalangi ibunya, ternyata tidak membuat Alysia kembali kepadanya.
"Aku... aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak ingin kamu pergi," suara Damian merendah, hampir memohon.
"Tapi itulah yang seharusnya terjadi, bukan?" Alysia memotong dengan tenang.
"Jika aku pergi Pak Kuncoro tak akan menarik Modalnya di perusahaan keluarga yang di agungkan ibumu. Dan kamu juga tak perlu berbohong padaku dan Arkhasa untuk bertemu anaknya, Berlian. Dengan alasan bertemu klien ke Singapura atau menemani Klien Singapura sampai harus menginap di ho-tel itu bersamanya!" ujar Alysia dengan suara bergetar dan air mata yang mengkhianati dia.
Karena terjun dengan deras di kedua matanya. Padahal dari sekarang dia sedang berusaha membangun benteng tinggi dan juga berusaha tegar setelah mengetahui semua kenyataan pahit itu. Sedangkan Damian terlihat kaget. Ternyata benar, perubahan Alysia akhir-akhir ini karena dia sudah tahu pertemuannya dengan Berlian. Di tambah dengan semalam pembicaraannya dengan Arga. Lengkap sudah rasa sakit Alysia.
"Alysia... Kamu ..." ujar Damian pelan.
"Iya aku tahu, aku melihat sendiri kamu di sana tersenyum padanya. Apa itulah alasannya kamu tak pernah melihatku sebagai seorang istri? Karena ada wanita lain itu? Berlian dan entah wanita mana lagi. Aku disini, kamu nikahi hanya sebagai Ibu untuk Arkhasa, Kan? Enam tahun apa belum cukup untukmu menyiksa perasaanku setiap hari?"
"Aku bahkan selalu merasa menjadi wanita yang memiliki banyak kekurangan hingga suamiku yang menikahiku baik-baik bahkan tak mau menyentuhku. Jangan terlalu jauh dengan menyentuh sebagai suami istri. Bahkan menatapku dan tak sengaja bersen-tu-han saja sepertinya aku sangat menji-jikan untukmu, Pak Damian!"
Damian terhuyung mundur seolah baru saja menerima hantaman fisik yang telak. Setiap kata yang meluncur dari bibir Alysia adalah kebenaran yang selama ini dia kubur hidup-hidup di balik kemunafikan. Wajahnya yang pucat pasi kini berubah menjadi kelabu.
"Alysia, dengarkan aku..." suara Damian pecah, sarat dengan keputusasaan yang tidak bisa dia tutupi lagi.
"Aku tidak pernah menganggapmu menjijikkan. Tidak pernah!"
"Lalu apa?" Alysia memotong tajam, air matanya kini mengalir deras, membasahi pipinya yang sejak tadi ia usahakan untuk tetap tegar.
"Apa sebutan yang tepat untuk seseorang yang mengabaikan istrinya selama enam tahun, namun sangat protektif terhadap rahasia pertemuannya dengan wanita lain? Apa sebutannya untuk pria yang membiarkan ibunya mencaci maki wanita yang telah merawat anaknya, hanya karena dia terlalu pengecut untuk mengakui kebenaran?"
Damian terdiam.
Lidahnya kelu. Dia ingin menjelaskan tentang masa lalu, tentang janji-janji yang mengikatnya pada Berlian, atau tentang betapa rumitnya perasaan yang dia miliki, tapi dia sadar, di depan Alysia yang kini telah hancur hatinya, semua penjelasan itu terdengar seperti sampah.
"Kamu benar," lanjut Alysia, suaranya kini bergetar hebat.
"Aku hanyalah seorang ibu untuk Arkhasa. Mungkin itu satu-satunya gunaku di rumah ini. Tapi mulai hari ini, status itu pun akan kupertimbangkan kembali. Karena aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kebohongan, pengkhianatan, dan kebencian seperti ini."
Alysia menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya yang tersisa.
"Terima kasih telah membela saya di depan Ibu tadi, Damian. Itu hal paling manusiawi yang pernah kamu lakukan selama enam tahun pernikahan kita. Tapi jangan harap itu akan memperbaiki apa yang sudah hancur."
Alysia berbalik, langkahnya terhuyung namun pasti menuju pintu keluar.
"Alysia... Kami memang benar saya bertemu dengan Berlian di restoran hotel itu dengan alasan klien luar negri. Tapi kamu salah, selama enam tahun aku tak pernah juga menyentuh siapapun. Bahkan aku juga tak pernah tidur dengan Berlian seperti yang kamu pikirkan!"
"Apapun itu! Aku tak peduli lagi!"
"Alysia!" Damian berteriak, suaranya memekakkan telinga, penuh dengan ketakutan yang tak tertahankan.
Dia mencoba mengejar, untuk pertama kalinya dia menaruh tangan Alysia hingga istrinya berbalik dan berhadapan dengannya.
"Lepaskan!" Pinta Alysia dengan suara yang meninggi.
Tapi Damian malah menarik Alysia kedalam dekapannya untuk pertama kalinya. Alysia berontak, baginya sekarang tak ada artinya pelukan suami yang dia rindukan selama enam tahun setelah semua yang terjadi. Semakin Alysia berontak semakin Damian memeluk istrinya dengan erat.
"Aku tak butuh pelukanmu! Peluk saja wanita yang ada dalam pikiran dan hatimu, dan itu bukan Aku! Lagi pula semuanya tak ada artinya!" Alysia mendorong Damian sekuat tenaga dan pergi dari sana. Kemudian dia berbalik.
"Jangan ikuti aku," ucap Alysia dingin tanpa menoleh.
"Jika kamu masih memiliki sedikit saja rasa hormat atas enam tahun yang telah kita lalui sebagai dua orang asing di bawah satu atap, biarkan aku pergi menemui Arkha. Setelah itu, aku akan pergi ke rumah Uti. Aku butuh ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh rumah ini. Jangan susul aku kesana! Aku tak mau melihat wajahmu lagi! Barangku, aku akan minta bibi membereskannya dan mengirim ke rumah Uti!"
Tanpa menunggu jawaban Damian, Alysia melangkah keluar, meninggalkan Damian yang kini terduduk di lantai ruang makan, menatap kosong pada lantai marmer yang dingin. Di benaknya, dia baru saja kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya, hanya demi mempertahankan bayang-bayang masa lalu yang bahkan tidak pernah memberinya kebahagiaan sejati.
Hening kembali merajai ruang makan tersebut. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar, seolah menghitung mundur kehancuran hidup Damian yang kini benar-benar di depan mata.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat