NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah

Seorang pemuda tampan berkulit kuning langsat dan berhidung mancung yang sedari tadi berjalan menunduk, tiba-tiba dikagetkan dengan suara bentakan kepadanya.

"Minggir kau, Pecundang!" bentak seorang pemuda bertubuh tinggi besar.

Dia adalah Jaya, anak kepala desa yang juga pemilik sebuah perguruan silat. Di samping kanan dan kirinya, 3 orang pemuda seumuran dengan Jaya, terlihat tersenyum menyeringai melihat apa yang dilakukan temannya.

Bugh!

Brak!

Tiba-tiba saja sebuah tendangan keras yang dilepaskan Jaya dengan telak mengenai perut si pemuda tampan.

Pemuda bernama Wira Soka Witjaksana yang terkena tendangan di perutnya langsung terdorong beberapa langkah ke belakang, hingga menabrak sebuah lapak milik seorang pedagang yang sudah tutup. Lapak yang terbuat dari kayu itu langsung berantakan akibat tertimpa tubuh pemuda tersebut. Beberapa bagian lapak yang terbuat dari kayu rusak berat tidak kuat menahan luncuran tubuh Wira.

"Angkat tubuh pecundang itu! Aku belum puas menghajarnya!" teriak Jaya dengan nada memerintah.

Ketiga teman Jaya segera berlari dan mengangkat tubuh Wira yang masih tergeletak di tanah. Pemuda tampan itu meringkuk memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat terkena tendangan tepat mengenai ulu hatinya.

Kedua tangan Wira masing-masing dipegangi seorang pemuda. Dan seorang lagi memegangi kepalanya hingga tidak bisa berkutik lagi.

"Wira Soka Witjaksana ... Nama yang terlalu bagus untuk seorang gembel sepertimu!" Jaya mencibir hingga satu sudut bibirnya terangkat naik. "Sudah kubilang berkali-kali kepadamu, pecundang sepertimu jangan lagi berkeliaran di sini. Kau hanya membuat kotor desa ini!"

Bugh!

Sebuah hajaran keras kembali mendarat di perut Wira. Karena kedua tangannya dalam keadaan terpegang erat, Wira tidak bisa berbuat banyak. Dia harus merelakan perutnya untuk kedua kalinya terkena hajaran dari Jaya.

"Apa salahku padamu, Jaya? Setiap kali bertemu denganku kau selalu ingin menghajarku." Wira bersuara lirih. Dia bisa merasakan rasa asin darah yang meleleh keluar dari sudut bibirnya.

"Hahahaha ... dasar pecundang! Kau ini hanyalah sampah masyarakat. Sudah berapa kali aku bilang, jika kau tidak ingin tubuhmu itu menjadi sasaran empuk tangan dan kakiku, pergilah dari desa ini!" bentak Jaya.

Kembali pukulan Jaya mendarat dengan telak. Dan kali ini paras rupawan Wira yang menjadi sasarannya, hingga membuat bibir pemuda yang memiliki ketampanan di atas rata-rata tersebut robek dan mengeluarkan darah.

Tidak terdengar suara mengaduh sedikitpun keluar dari bibir Wira meski dia merasakan sakit yang teramat sangat di wajahnya. Dia sudah biasa merasakan rasa sakit semenjak ditinggal kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

Wira mengangkat wajahnya yang sudah berlumuran darah seolah memberi tantangan kepada Jaya.

Apa yang dilakukannya tentu saja membuat Jaya meradang. Emosinya semakin meningkat hingga ke puncak.

"Kau berani menatapku seperti itu, apa kau sudah lupa aku siapa?"

Tanpa merasa takut, Wira tertawa lepas mendengar pertanyaan Jaya. "Siapapun di desa ini pasti tahu tentang anak kepala desa yang terkenal sombong dan tidak punya tata krama sepertimu!" jawabnya tegas.

"Bajingan! kalian bertiga, hajar dia sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau perlu, buat dia mampus sekalian!" teriak Jaya memberi perintah.

"Sampai mati?" tanya seorang teman Jaya.

"Kalian jangan takut. Ayahku adalah kepala desa di sini. Jika dia mati, tidak akan ada yang berani menuntut kalian. Apalagi dia hanyalah pecundang yang bisanya hanya mengotori desa ini!"

Serasa mendapat angin segar, seketika ketiga teman Jaya melepaskan pegangan mereka ke tubuh Wira dan menghajarnya. Pukulan serta tendangan mereka lepaskan bertubi-tubi sampai pemuda yang memiliki rahang kokoh itu tidak bisa bergerak sama sekali.

Ketika seorang temannya mengambil sebuah bangku dan hendak memukulkannya ke arah kepala Wira yang sudah pingsan, tiba-tiba saja Jaya menghentikannya. Dia berubah pikiran dan tidak jadi untuk membunuh Wira yang sudah tergeletak pingsan.

"Sudah ... sudah! Jika dia mati, kita tidak akan mempunyai sasaran yang bisa kita hajar lagi. Jika pemilik lapak ini tahu kalau lapaknya sudah hancur berantakan, dia pasti akan menduga jika pecundang ini yang menghancurkannya dan pasti akan menghajarnya. Sekarang ayo kita pergi sebelum ada yang melihat!"

Keempat pemuda itupun pergi meninggalkan tubuh Wira yang tergeletak pingsan dengan tawa lepas. Mereka sepertinya puas telah berhasil membuat Wira menderita untuk kesekian kali.

Keesokan paginya, Wira tersadar dari pingsan setelah mukanya tersiram air dalam jumlah tidak sedikit. Sesaat berikutnya, dia merasakan sebuah tendangan yang tiba-tiba saja menghajar telak perutnya.

Bugh!

Tubuh Wira menekuk menahan nyeri di perutnya. Dia tidak menyangka deritanya akan kembali berlanjut setelah dihajar Jaya dan teman-temannya.

Dengan sedikit menolehkan kepala, dia melihat pemilik lapak yang hancur sedang berkacak pinggang dan memandangnya dengan tatapan marah.

"Pasti kau yang sudah membuat lapakku hancur? Atau jangan-jangan kau hendak membobol lapak daganganku ini?" bentak lelaki bertubuh kekar yang juga pemilik lapak.

"Bukan aku pelakunya, Paman, tapi Jaya dan teman-temannya yang melakukannya," bantah Wira dengan suara lirih menahan nyeri di sekujur tubuh.

"Kau berani memfitnah anak kepala desa? Yang aku lihat di sini hanya kau, dasar anak maling!" Lelaki itu terus mencecar Wira dengan bentakannya. Padahal sejatinya dia tahu jika Jaya dan teman-temannya yang sudah menghajar Wira hingga membuat lapak dagangannya hancur. Namun pastinya dia butuh tersangka untuk bisa meluapkan emosinya.

"Siapa yang anak maling, Paman?"

"Siapa lagi kalau bukan kau! Perlu kau ketahui, kedua orang tuamu dihukum mati oleh penduduk desa karena terbukti kuat menjadi pelaku pencurian yang menggasak harta benda penduduk desa ini. Dan yang pasti, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Seorang maling pasti akan melahirkan maling juga!"

Wira tertegun mendengar ucapan lelaki itu. Pertanyaan demi pertanyaan pun akhirnya muncul di pikirannya. "Kenapa orang tuaku dituduh sebagai maling? Apa benar aku anak maling seperti yang dituduhkannya?"

Dengan tenaganya yang tersisa, Wira bangkit berdiri dan menatap tajam lelaki itu. "Orang tuaku bukan maling!" teriaknya membantah.

"Kau tahu apa tentang kedua orang tuamu, Anak maling? Saat itu kau masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Dan sekarang aku akan menghajarmu karena kau hendak mencuri barang daganganku!"

Tiba-tiba saja kepalan tangan lelaki itu mengayun dengan kuat ke arah kepala Wira. Namun pemuda tampan itu seolah mendapatkan kekuatan baru dan berhasil menangkap kepalan tangan yang mengincar kepalanya.

Mata lelaki itu membelalak lebar. Emosinya bertambah tinggi karena Wira bisa menahan pukulannya. Dia merasa dipermalukan dengan amat sangat oleh pemuda itu. Terlebih lagi ada beberapa penduduk desa melihat kepalan tangannya bisa ditangkap dengan mudah oleh Wira.

Dengan kekuatan fisik yang lebih besar, lelaki itu berhasil melepaskan tangannya dan kembali melepaskan pukulan.

Kali ini pukulannya berhasil mengenai dada Wira dan membuat pemuda itu memuntahkan darah segar. Belum hilang rasa sakit akibat dihajar Jaya dan teman-temannya, kali ini ditambah pula pukulan yang dengan telak mengenai dadanya. Lengkap sudah deritanya.

Lelaki itu tertawa lebar melihat pukulannya berhasil membuat Wira sampai memuntahkan darah.

Melihat ada kesempatan untuk meloloskan diri dari hajaran si pemilik lapak, Wira langsung berlari kencang tanpa menoleh ke belakang.

Namun apa yang dilakukannya justru membuat lelaki tersebut semakin geram. Dia langsung berteriak berulang-ulang sekuat tenaga sambil berlari mengejar Wira.

"Maling! Tangkap maling itu!"

Beberapa penduduk yang terprovokasi teriakan itu ikut berlari mengejar Wira. Mereka juga ikut berteriak hingga memancing perhatian penduduk yang lain.

Lebih dari 20 orang berlari mengejar Wira dengan semangat membara karena ingin menghajar pemuda yang dituduh sebagai maling tersebut.

Pada akhirnya, pemuda itupun tersudut karena salah memasuki jalan buntu.

"Sial! Mati aku!"

 

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!