"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.5. Teman baru
Kara memperhatikan apa yang ayah nya tanam, dan senyum nya terbit saat dia mengenali daun dari tanaman yang ayah nya tanam tadi.
"Ayah nanem pohon rambutan dan kelengkeng, kan kamu suka toh.. karena mulai sekarang kita tinggal di sini, ayah akan mulai menanam sendiri buah - buahan buat anak ayah." Ucap ayah Kara, mendengar itu Kara pun tersenyum.
"Wihh.. jadi aku boleh nanem - nanem yang lain dong, yah?" Tanya Kara antusias, dia memang suka menanam pohon - pohon buah, bahkan di rumah lama nya pun dia yang meminta agar di tanami pohon - pohon buah.
"Ya jelas dong, halaman rumah kakek luas sekali kan.. bebas kalo kamu mau tanami apapun, ayah dukung." Ucap ayah nya, Kara tersenyum senang mendengar nya.
"Hore.. nanti kalo aku bisa telpon mbak, aku mau suruh mbak main kesini buat nanem pohon bareng - bareng." Ucap Kara, ayah nya hanya tersenyum saja. Tapi setelah nya Kara mengendus - endus seperti mencari sesuatu yang mengganggu indera penciuman nya.
"Hm! Tapi ini bau apa, yah? Kok bau nya kayak bangkai?" Tanya Kara, selain dia mencium aroma tanah yang basah yang belum lama di timbun oleh ayah nya, Kara juga mencium bau busuk bangkai.
"Seperti nya kang Jupri lama ndak datang bersihkan rumah, ayah tadi nemu bangkai kucing yang mati.. jadi ayah kubur sekalian." Ucap ayah nya, Kara pun manggut - manggut.
"Kasian.." Gumam Kara.
"Sudah yuk, di sini bau nya ndak enak.. ayah sudah siapkan sarapan kamu sarapan dulu, ayah tak mandi dulu." Ucap ayah Kara, Kara pun manggut - manggut.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Kara memakan sarapan yang sudah ayah nya buatkan, dan ada juga buah - buahan segar yang sepertinya itu ayahnya petik dari kebun di sekitar rumah kakek nya itu. Lalu sambil makan jambu air besar di tangan nya, Kara berjalan melihat kembali ruangan - ruangan rumah itu yang membuat Kara merasa sedikit janggal.
"Kok nggak ada sama sekali foto kakek di rumah ini, ya." Gumam Kara, dia tidak melihat satupun foto lawas milik kakek nya atau ayah nya di sana.
Di dinding nya terpajang hiasan - hiasan tapi kebanyakan adalah dari kepala binatang yang seperti nya di awetkan, seperti kepala rusa, harimau, kerbau bertanduk, dan ada juga burung yang di awetkan di sana. Kara tidak tahu itu burung apa burung nya sangat indah dengan ekor yang panjang, tapi untuk burung itu sendiri di letakan di dalam kotak kaca besar setinggi 150 cm dengan lebar 70 cm yang di beri ranting pohon di dalam nya sehingga burung itu seolah sedang hinggap di atas ranting itu.
"Kayak nya kekek dulu nya pengoleksi binatang buruan." Gumam Kara, dia bahkan melihat kulit harimau yang di pajang di dinding.
"Woah, kalo di jual in ini pasti mahal banget." Gumam Kara lagi, dia sangat penasaran dan ingin menyentuh kulit harimau itu, tapi tiba - tiba..
"JANGAN!!"
"Hh!!" Kara terkejut karena tiba - tiba muncul ada suara laki - laki tua yang berucap tepat di telinga nya.
Kara tentu terkejut mendengar itu, dia sampai menjatuhkan jambu yang dia pegang dan menoleh kesana kemari mencari sumber suara nya. Tapi memang tidak ada siapapun di sana, dia hanya berdiri sendirian.. menyadari itu, Kara langsung kembali ke meja makan nya sambil sedikit berlari.
"Kenapa, dek?" Tanya tanya ayah nya yang sedang menuruni tangga dan melihat Kara seperti orang panik.
"Ayah, tadi.." Kara hendak bercerita tapi dia juga tidak yakin apa dia sungguh dengar atau dia salah dengar.
"Nggak ada yah, hehe.." Ucap Kara, ayah nya pun akhir nya manggut - manggut lalu duduk.
Sementara Kara, dia masih memikirkan suara apa tadi, dia yakin itu seperti suara laki - laki tua yang bicara tepat di telinga nya, tapi karena Kara tidak melihat apapun dan siapapun di sana.. Kara menjadi tidak yakin dan menganggap dia salah dengar.
"Dek, kamu kan sudah menginjak umur dewasa, ayah juga kan harus kerja.. kalo kamu ayah tinggal sendiri, ndak apa - apa toh?" Tanya ayah Kara, mendengar ucapan ayah nya Kara langsung manyun..
"Ayahhh.. kan ayah tau aku penakut." Rengek Kara dengan wajah sedih nya, ayah nya terkekeh.
"Ndak sendirian benar - benar sendirian, lah dek.. nanti ada anak nya mang Jupri kesini, dia seumuran sama kamu jadi bisa jadi temanmu di sini." Ucap ayah Kara, Kara pun diam berpikir..
"Ya udah deh." Jawab Kara, ayah nya pun tersenyum.
"Ngomong - ngomong.. mobil ayah kemana?" Tanya Kara..
"Oh, di bawa montir tadi pagi, ban nya kan pecah gara - gara kemarin ndak sengaja masuk lubang genangan air." Ucap ayah nya, Kara pun manggut - manggut.
Setelah sarapan selesai, ayah Kara sungguhan langsung pamit pergi untuk bekerja padahal anak dari kang Jupri belum sampai di sana. Alhasil Kara pun sendirian di rumah tua ynag terlihat mengerikan itu, dia hanya bisa menonton tv yang kala itu hanya berisi dengan berita kematian para korban Covid 19.
"Makin banyak aja yang meninggal setiap harinya, kasian.." Gumam Kara, dia sangat prihatin dengan semua warga yang terpapar virus.
Sambil Kara menonton tv, dia juga sambil mencoba menghubungi ibu dan kakak nya yang sudah beberapa hari itu tidak bisa di hubungi.. Kara sedih karena dia merasa ibu dan kakak nya bahkan tidak mempedulikan nya lagi setelah mereka keluar dari rumah utama mereka. Tapi saat sedang fokus - fokus nya, Kara tiba - tiba terkejut karena dia mendengar ada suara seseorang yang terdengar seperti sedang membuka hordeng.
"Srak! Srak! Srak!"
"Siapa!?" Kara yang tidak menyadari kedatangan siapapun tentu saja kaget mendengar itu.
Kara langsung bangun dan mencari dari mana sumber suara nya, dan saat itu Kara melihat ada seorang perempuan menggunakan rok span cokelat panjang sebetis dan atasan nya menggunakan baju cokelat dengan lengan pendek dan ada dua saku di bagian depan perut nya, seperti pakaian seorang guru.
Kara bisa melihat dengan jelas pakaian nya karena perempuan yang dia pergoki itu menghadap ke arah nya sambil tersenyum.
"Kamu anak nya mang Jupri?" Tanya Kara, karena ayah nya bilang nanti anak perempuan mang Jupri akan datang.
Perempuan itu tidak mengangguk tapi tidak juga menggeleng, perempuan itu justru berjalan menghampiri Kara lalu menyentuh kedua tangan Kara dan menggenggam nya sambil tersenyum dan bertanya..
"Kamu Kara, ya?" Tanya nya dengan tersenyum. Tapi meski perempuan itu tersenyum.. entah kenapa Kara malah takut dengan senyum nya.
"I- iya.. kamu siapa?" Tanya Kara balik, sambil mencoba melepaskan tangan nya dari perempuan itu, tapi perempuan itu tidak melepaskan tangan nya.
"Nurmala Sari, Kara bisa panggil saya Nurma." Jawab perempuan itu lagi masih sambil tersenyum sambil mengamati kedau mata Kara.
"Kara sudah besar, ya.. cantik sekali." Ucap Nurma, Kara sampai risih di tatap sedemikian rupa.
"Terimakasih.. bisa tolong lepasin tanganku, maaf." Ucap Kara, sambil menarik tangan nya.
Perempuan yang di panggil Nurma tadi agak keberatan tapi kemudian dia tersenyum kembali sambil menatap Kara, entah hanya perasaan Kara saja atau bagaimana, Kara merasa perempuan itu seolah ingin memakan nya.. tatapan matanya seperti berbinar dan tidak mau menjauh darinya, sampai tiba - tiba hp nya di sofa berdering.. Kara pun pergi menuju kembali ke sofa.
"Halo, ayah.." Kara menjawab panggilan dari ayah nya.
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk