"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Labirin
Malam berlanjut tanpa ampun. Ketika Jakarta mulai meredup di bawah selimut kabut polusi dan sisa gerimis, sebuah mobil sedan hitam tanpa pelat nomor resmi bergerak lambat memasuki sebuah kawasan elite di bilangan Menteng. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah kolonial megah dengan pagar besi setinggi tiga meter yang tertutup rapat.
Di dalam salah satu ruangan di rumah tersebut, cahaya lampu temaram menerangi sosok seorang pria paruh baya yang sedang duduk di balik meja kerja mahoni. Pria itu adalah kusir sejati di balik faksi-faksi kecil dewan komisaris yang tidak senang dengan dominasi mutlak Arkananta—Kendra Pradipta, sepupu jauh Arka yang selama ini selalu bermain aman di bawah bayang-bayang Elena.
TOK! TOK!
Pintu ruang kerja itu diketuk, dan pria dengan bekas luka di alis kirinya—pemimpin tim investigasi bayangan yang gagal di bawah Pradipta Tower sore tadi—melangkah masuk dengan kepala tertunduk.
"Kendra," sapa pria itu, suaranya parau. "Rencana di balkon gagal total. Dokter itu menggunakan teknik penanganan fisik yang terlalu cepat. Kami tidak mendapatkan rekaman visual Arkananta yang sedang kehilangan kendali syarafnya."
Kendra Pradipta tidak langsung marah. Pria paruh baya itu justru menuangkan cerutu ke dalam asbak kristal, lalu mengembuskan asap tebal ke udara. Matanya menyipit, memancarkan kalkulasi dingin yang jauh lebih taktis dibanding kegilaan Elena yang impulsif.
"Elena terlalu bodoh karena menyerang Arka di bidang keuangan dan media massa secara terang-terangan," ujar Kendra, suaranya berat dan penuh intrik. "Arka adalah monster di lantai bursa. Menantangnya di sana sama saja dengan bunuh diri. Tapi dokter muda itu... Ayana Sheenaz..." Kendra mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. "Dia adalah poros baru. Dia bukan sekadar dokter pribadi; dia adalah dinding pertahanan sekaligus satu-satunya kelemahan fisik Arkananta saat ini."
Kendra mengambil sebuah foto dari dalam laci mejanya—foto Ayana saat masih mengenakan jas putih laboratorium di Rumah Sakit Utama Jakarta beberapa bulan lalu. "Jika kita ingin batu karang itu hancur, kita tidak perlu memukul batu karangnya. Kita hanya perlu menyingkirkan orang yang menahannya agar tidak pecah. Cari tahu tentang jadwal luar ruangan Dokter Ayana. Minggu depan, dia memiliki jadwal simposium medis tahunan di Bandung, bukan? Pastikan dia tidak pernah sampai ke tempat itu tanpa gangguan."
Pria di depannya mengangguk paham. "Dimengerti, Pak Kendra. Kami akan mengatur skenario yang bersih."
Sementara itu, di lantai lima puluh Pradipta Tower, malam terasa berjalan lebih lambat setelah ketegangan terapi Hyper-Grounding di balkon tadi sore.
Ayana sedang duduk di meja bar dapur bersih, membolak-balik lembaran grafik medis Arka dengan kening yang berkerut serius. Di bawah pendar lampu neon gantung yang putih, jemarinya yang lentik sesekali menuliskan beberapa catatan dengan pulpen gel hitamnya.
"Denyut nadi puncak saat paparan turun dari seratus empat puluh ke seratus lima belas dalam waktu delapan puluh detik... ini kemajuan yang signifikan," gumam Ayana pada dirinya sendiri. "Tapi respons memori visualnya masih terlalu kuat. Aroma bensin dan asap fiktif itu masih menjadi pemicu utama korsleting di otaknya."
"Dan dokternya masih terlalu sering bekerja lembur hingga mengabaikan waktu istirahatnya sendiri."
Suara berat Arka mendadak terdengar dari arah belakang. Ayana menoleh dan menemukan pria itu sedang berjalan mendekat sembari membawa sebuah cangkir keramik berisi susu cokelat hangat yang mengepulkan uap tipis. Arka telah mengganti pakaian linen hitamnya dengan kaus abu-abu santai, membuat siluet tubuh tegapnya tampak lebih rileks.
Arka meletakkan cangkir susu cokelat itu tepat di samping papan jalan Ayana. "Minum ini. Dan tutup berkas medis itu sekarang juga, Dokter Ayana. Ini perintah dari pemilik gedung."
Ayana menaikkan sebelah alisnya, gaya rewelnya yang biasa seketika kembali. "Pak Arka, Anda tidak bisa memecat atau memerintah saya dalam urusan jam kerja medis. Saya sedang merancang modul untuk volume dua puluh persen untuk minggu depan. Kita tidak bisa bersantai hanya karena faksi Tante Elena sudah runtuh."
Arka mendudukkan dirinya di kursi bar tepat di sebelah Ayana, sangat dekat hingga Ayana bisa mencium aroma sabun mandi maskulin bercampur sisa wangi minyak esensial peppermint yang melekat di kulit pria itu.
"Tante Elena hanyalah sumbu kecil, Ayana," ujar Arka, pandangan matanya mendadak berubah menjadi sangat serius dan dalam. "Di dalam Pradipta Group, ada banyak mata yang sedang menunggu saya goyah. Dan setelah apa yang terjadi di balkon sore tadi... saya sadar satu hal."
Arka mengulurkan tangan kanannya, melintasi jarak pendek di antara mereka di atas meja bar, lalu perlahan menutup folder berkas medis Ayata dengan telapak tangannya yang besar. Matanya mengunci pandangan Ayana dengan intensitas yang membuat napas wanita itu kembali tertahan.
"Saya tidak lagi mengkhawatirkan diri saya sendiri, Ayana," ucap Arka lirih, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan yang sarat akan proteksi mutlak. "Saya mengkhawatirkanmu. Hari ini, tim siber saya mendeteksi adanya aktivitas transmisi frekuensi ilegal dari gedung seberang saat kita berada di balkon. Seseorang sedang mengintai kita. Seseorang sedang mengintaimu."
Jantung Ayana berdegup kencang, bukan karena takut pada pengintai tersebut, melainkan karena kedekatan fisik mereka yang teramat intens. "Pengintai? Jadi... faksi Tante Elena masih memiliki sisa-sisa anak buah?"
"Bukan Elena. Ini orang baru yang jauh lebih taktis," jawab Arka, rahangnya mengetat samar. "Karena itu, mulai besok pagi, saya sudah menempatkan dua tim pengawal siber dan fisik di bawah komando langsung Karina untuk menjagamu sepanjang waktu. Ke mana pun kamu pergi, bahkan saat kamu kembali ke rumah sakit atau menghadiri simposium di luar kota pekan depan... kamu akan berada di bawah perlindungan saya."
Ayana menatap tangan Arka yang masih berada di atas folder medisnya. Rasa hangat menjalar dari titik sentuhan tersebut, merayap naik dan melumerkan sisa-sisa pertahanan profesionalitas yang selama ini ia bangun dengan kokoh.
"Pak Bos..." Ayana memanggilnya dengan suara yang melembut, kehilangan seluruh nada rewelnya. "Terima kasih. Tapi Anda harus ingat... fokus utama kita adalah kesembuhan Anda. Jangan biarkan keselamatan saya mengalihkan fokus syaraf Anda dari terapi menuju volume dua puluh persen."
Arka tersenyum tipis—sebuah senyuman yang teramat jarang ia perlihatkan kepada dunia, sebuah senyuman yang hanya diciptakan khusus untuk dokter pribadinya. Pria itu memajukan tubuhnya beberapa senti, hingga jarak di antara wajah mereka hanya tersisa sebatas jengkauan tangan.
"Kamu salah, Dokter Ayana," bisik Arka, sepasang mata elangnya berkilat penuh determinasi yang mutlak. "Bagi saya, kesembuhan syaraf saya tidak akan ada artinya jika saya gagal melindungi satu-satunya wanita yang berani berdiri di depan saya untuk menjadi perisai dari badai masa lalu saya. Jadi... biarkan saya menjadi pelindungmu, seperti kamu yang telah menjadi penyembuh bagi jiwa saya."
Kata-kata yang begitu dalam itu bertindak seperti palu yang meruntuhkan batas terakhir di antara hubungan dokter dan pasien di antara mereka. Di bawah temaram dapur bersih lantai lima puluh, di tengah rintik hujan Jakarta yang kian menipis, sebuah sumpah yang tak tertulis namun teramat mengikat telah resmi terjalin di antara sang penguasa korporat dan dokter pribadinya, siap menghadapi babak baru yang jauh lebih berbahaya di depan mereka.
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪