Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebuah keputusan
Maara dan Lisa telah sampai didepan kediaman Revan.
Suasana rumah nampak sepi dan mobil Revan yang biasa parkir juga tak terlihat yang artinya, laki-laki itu sedang berada diluar atau masih di kantor.
"Kita masuk sekarang?" tanya Lisa menoleh kepada Maara.
Maara mengangguk lalu perlahan turun dari mobil.
"Kamu tunggu disini saja Lis... Aku nggak lama karena barang-barang ku nggak banyak... Cuma ada satu koper..."
"Baiklah.... "
Maara menekan handle pintu yang rupanya terkunci yang artinya, tidak ada siapapun dirumah.
Beruntung dirinya masih memegang kunci serap jadi tak perlu ada drama menunggu Revan atau istrinya pulang.
Cepat, Maara merapikan semua barang-barangnya dalam satu koper besar.
Tak lama, sebuah sedan putih berhenti tepat didepan rumah.
Laura turun dengan kening berkerut. Apalagi saat dirinya melihat Maara menggeret sebuah koper keluar dari rumah.
"Kamu mau kemana?" cegat Laura cepat.
Lisa yang berdiri di sisi mobil sambil berbalas pesan dengan suaminya dibuat kaget karenanya.
"Maaf, aku masuk tanpa izin kalian... Aku hanya mau mengambil sisa barang-barang ku. Dan kedepannya, aku tidak akan tinggal dirumah ini lagi, jadi kalian bebas melakukan apa saja tanpa takut terciduk oleh orang lain." ujar Maara sedikit sindiran diujung kalimatnya.
Laura melipat kedua tangannya didepan dada.
Wajahnya terlihat angkuh.
"Apa sudah izin mas Revan? Karena setahuku, jika istri hendak keluar rumah harus seizin suaminya jika tak ingin disebut istri durhaka. Apalagi dengan penampilanmu yang terlihat agamis pasti kamu tahu itu kan?" cecar Laura membalas.
"Ya... Istri yang bagaimana dulu...? Jika suaminya sama kayak Firaun ya ngapain...! Ayo Ra... Jangan didengarin...!" sinis Lisa.
Laura melirik sahabat dari Maara itu dengan tatapan kesal.
"Aku nggak tahu jika kamu rupanya teman istri dari suamiku.. Jika aku tahu dari awal, maka aku akan katakan untuk jaga sahabat mu ini agar tidak menggoda dan jadi istri siri kekasih ku...!" lagi kalimat sarkas keluar dari mulut perempuan yang katanya berpendidikan itu.
Lisa mendengus.
"Dan jika dari awal aku tahu jika laki-laki pengecut yang menikahi sahabat ku adalah kekasihmu, maka aku duluan yang akan memaki-makinya. Kalau perlu, aku jambak rambutnya biar botak sekalian!" balas Lisa tak kalah pedas.
Laura mengepal kedua tangannya karena kalah argumen.
"Ternyata kalian sama saja! Pantas kalian berteman, cocok sifatnya. Kasar!" desisnya sebagai jurus terakhir.
Baru saja Lisa akan membalas ucapan Laura kembali, Maara lebih dulu menahan tangan Lisa karena jika perempuan ini sudah emosi, maka mereka pasti akan berakhir di pos security.
"Sa... udah..." lerai Maara.
"Tapi Ra, dia ngatain kita?!" sanggah Lisa tak terima.
Maara mengeleng pelan sabagai upaya meredam amarah Lisa.
Lisa mendengus kasar, namun tetap menurut.
Pandangan Maara kini beralih kepada Laura.
Gestur tubuhnya tak lagi lembut. Ada ketegasan dari pancaran matanya.
"Dan untuk anda nona Laura... Perlu anda ketahui, jika dari awal aku tahu alasan keluarga Adiyasa merancang pernikahan ini demi menyelamatkan bu Mira dari hukuman, maka tak perlu orang lain yang mencegahnya tapi aku sendirilah yang menolaknya... Karena tidak ada seorang anak pun yang mau jadi bagian dari orang-orang yang menyebabkan ibunya koma lalu meninggal dunia... Meskipun aku tahu, jodoh, maut dan takdir adalah rahasia Illahi..!"
"Dan jika sedari awal aku tahu kalian hanya memanfaatkan kemiskinan dan ketidakberdayaan ku, aku juga tak sudi jadi istri siri dan dicap perebut kekasih perempuan lain.....! Aku juga tidak akan bilang jika aku adalah korban, tapi setidaknya aku bukan orang yang egois seperti kalian yang dengan tega memperalat orang-orang lemah seperti kami karena tidak punya power hukum" ujar Maara pelan namun setiap kalimatnya mampu membuat Laura meradang.
"Jangan sombong kamu Maara!" bentak Laura emosi.
"Aku tidak sombong nona Laura dan tidak ada yang perlu aku sombongkan dari nafas pinjaman Sang Khalik ini! Aku hanya minta, tolong sampaikan pada suami anda untuk menjatuhkan talak pada ku secepatnya. Jangan mempersulit lalu membelengguku dalam ikatan pernikahan demi bisa menyiksa batinku.... Permisi, assalamu'alaikum..."
Lisa dan Maara memilih pergi, meninggalkan Laura yang diliputi amarah hingga wajahnya yang tadi putih bersih jadi merah padam seperti kepiting rebus.
...*******^*^*******...
"Apa rencanamu selanjutnya...?" tanya Lisa disela perjalanan mereka.
Maara membuang nafas pelan.
Memilih menatap jalanan yang padat.
"Setelah semuanya usai, aku ingin pergi dari kota ini... Aku ingin memulai hidup baru dan jauh dari bayang-bayang keluarga Adiyasa... Aku lelah Sa...." sahut Maara pelan.
Lisa menepikan mobilnya dipinggir jalan.
Menyerong ke arah Maara yang kini menatapnya bingung karena tiba-tiba berhenti.
"Kenapa Sa? Kamu mau beli jajan? Atau kebelet?" tanya Maara khawatir.
"Enggak.. Aku baik-baik saja...."
"Syukurlah.."
Lisa meraih tangan Maara yang dingin.
Menggenggamnya erat.
"Ra... jujur sama aku..."
Maara menatap lurus wajah Lisa yang serius.
"Kamu jatuh cinta dengan suamimu, Revan?"
Sebuah pertanyaan yang telah lama Lisa ingin tanyakan namun baru bisa ia sampaikan sekarang.
Maara menunduk, memandang jari-jarinya yang masih digenggam oleh Lisa.
Sedikit anggukan lemah Maara sudah bisa menjawab semuanya.
Tak perlu penjelasan lagi, Lisa sudah memahaminya.
Dia membawa Maara kedalam pelukannya.
Isak terdengar dari bibir Maara setelahnya diiringi bahu yang bergetar hebat.
Akhirnya, tangis itu pecah juga dipelukan sahabatnya.
"Aku bodoh kan Sa...? Harusnya aku membenci mas Revan... Harusnya aku nggak boleh jatuh cinta pada laki-laki yang tangannya tak bisa ku genggam.... yang raganya tak bisa ku dekap meski kami tinggal dalam satu atap dan diikat janji pernikahan.... Hatinya milik orang lain dan aku hanya seorang penyusup diantara mereka.... Dan ini begitu menyakitkan bagiku. Rasanya seperti menikam jantung sendiri... Dia bukan milikku, tapi namanya selalu ku sebut dalam doa...." isak Maara.
"Ra....."
Lisa terus mengusap punggung kurus itu dan menenangkan Maara. Kata-kata penyemangat apapun tak bisa merubah apapun. Yang harus dilakukannya sekarang adalah berdiri disisi Maara serta menemaninya dimasa-masa sulit ini.
...*******^*^********...
Seminggu berlalu...
Maara berjalan tenang, memasuki kantor firma hukum yang sebelumnya pernah dia datangi usai membuat janji sehari sebelumnya dengan sang pengacara.
"Selamat siang nona Maara... Silahkan duduk..." ujar Teguh yang menyambut Maara diruang kerjanya.
"Selamat siang juga, terima kasih pak Teguh... " angguk Maara.
Perempuan itu begitu tenang, hanya sebuah senyum tipis menghias wajah manisnya.
"Saya ingin mempercepatnya pak... Tolong bantu saya..." pinta Maara setelahnya.
Tak ada lagi air mata atau amarah dalam mata teduh itu.
"Baik... Mengingat saudara Revan mengabaikan mediasi awal dan tidak ada itikad baik, maka kita akan kirim surat resmi kepada pak Revan sebagai langkah selanjutnya...."
"Tolong kirim ke alamat rumahnya saja pak seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya... Saya tidak ingin dia terkena masalah jika dikirim ke kantornya... Biarlah saya pergi dalam senyap sama seperti pernikahan ini... Senyap dan tersembunyi... Saya terlalu lelah dengan banyaknya drama keluarga Adiyasa"
Teguh sekali lagi mengamati raut kliennya.
Sebagai pengacara yang telah lama menglalang-buana dalam hal perceraian, Teguh paham betul sikap yang kini Maara tunjukkan.
"Baiklah jika ini mau anda... Semoga suami anda tidak lagi mempersulitnya dan kooperatif..."
"Hmmm.... Semoga...." gumam Maara berharap yang sama.
Usai melakukan pertemuan yang berlangsung selama hampir 30 menit itu, akhirnya Maara izin pamit.
"Guh... Tolo~ng...." kalimat laki-laki yang baru saja masuk ke ruangan Teguh itu terhenti.
"Maara...?" gumamnya saat menyadari seseorang yang juga berada diruang Teguh.
Sudah lama dia tak pernah lagi bertemu perempuan manis ini sejak di pernikahan Lisa dan Rio.
"Kenapa Kenan?" seru Teguh karena laki-laki itu hanya berdiri mematung di depan pintu.
"Oh... Ah.. Aku mau tanya soal berkas kasus bu Erin... Tapi nanti saja..." sahut Kenan yang masih terpaku pada sosok Maara yang masih berdiri di depan pintu hendak keluar.
Teguh berjalan menghampiri rekannya itu.
"Kasih jalan klien ku dulu..." bisiknya kemudian.
"Oh... Eh... Klien? Kok?" tatapan Kenan berpindah antara Maara dan Teguh.
"Maaf nona Maara... Ini pimpinan firma hukum ini sekaligus rekan dan sahabat saya... Kenan Jayadi..." ujar Teguh tanpa menjawab pertanyaan Kenan.
"Selamat siang pak Kenan... " Maara melipat kedua tangan sebagai salam darinya.
"Selamat siang juga Maara..." sahut Kenan yang lebih terdengar seperti gumaman.
"Saya permisi pak Teguh, pak Kenan...Selamat siang, assalamualaikum.." ujar Maara pamit undur diri.
"Waalaikum sallam" sahut kedua laki-laki itu serempak.
Kenan secara reflek menarik diri dari ambang pintu karena tubuhnya yang tinggi tegap menghalangi langkah Maara yang hendak keluar.
Laki-laki itu sekali lagi menoleh kepada Teguh sebagai bentuk meminta penjelasan setelah Maara menghilang diujung koridor.
"Klienku... Udah gitu aja dulu..." ujar Teguh singkat.
"Tapi kenapa? Kok bisa? Setahuku dia masih lajang sementara kamu kan pengacara spesialis cerai... Kok bisa?"
"Kamu kok yakin banget dia lajang? Emang kenal dimana?" ujar Teguh sambil melenggang ke kursi kebesarannya.
"Dia itu sahabat Lisa, istrinya Rio.. Dan kami juga kebetulan ditunjuk mendampingi mereka saat nikah kemarin...." jelas Kenan panjang lebar.
"Oh... Berarti kamu kenal Revan dong?"
"Ya tentu kenal... Kan sering ketemu dipengadilan... Tapi kok ke dia? Apa hubungannya?" Kenan semakin bingung.
Teguh menyerahkan sebuah map kepada Kenan yang langsung dibuka oleh laki-laki itu.
Keningnya berkerut, matanya langsung menyipit serius kala membaca setiap huruf yang tertera di setiap lembaran map tersebut.
"Jadi benar selama ini mereka punya hubungan..."
"Lebih tepatnya, klienku Maara dinikahi hanya karena kedua orangtua Revan ingin menutupi sebuah kelalaian yang akhirnya menghilangkan nyawa manusia lainnya serta menyebabkan penuntut mengalami sesuatu yang lebih fatal lagi... Yaitu cindera rahim yang menyebabkan tidak bisa hamil dan memiliki anak..." jelas Teguh penuh emosi.
Kenan tanpa sadar meremas tepi map.
"Lalu apa laki-laki itu bersedia menceraikannya? Atau justru mempersulit? "
"Coba tebak?" Teguh justru melempar sebuah pertanyaan yang membuat dada Kenan semakin bergemuruh.
"Dia mempersulit rupanya" gumam Kenan yang diangguki oleh Teguh.
"Lakukan dengan maksimal... Tolong, bantu dia Guh..."
Teguh menaikkan kedua alisnya.
"Kamu menyukainya?" tebaknya kemudian.
"Jika aku bilang iya, apa kamu menganggapku laki-laki tak tahu malu karena menyukai istri orang?"
Teguh mendekatkan diri pada sisi meja.
Wajah serius Kenan sudah bisa menjawab semuanya.
"Okey... Aku akan kerahkan semua kemampuanku untuk membantunya..."
bersambung...