Chapter 18

Felix terlihat tidur di kursi kecil disana dengan kedua kakinya terangkat ke ujung ranjang, tidak lama suara deringan alarm dari Sophia membangunkan Florence yang terlelap, ia mengucek-ngucek matanya, seraya merentangkan kedua tangannya melihat kesebelah.

“Hummm… baby kau pindah?”tatap Flo memiringkan tubuhnya mendekat pada Felix.

Felix pun terjaga dia enggan merespon Flo, kini menatap datar padanya, “Cepat bersiap, kita akan kembali, aku masih banyak urusan.”tegas lelaki itu bangkit.

“Baby… cepat sekali, tunggulah sampai siang,” Flo pun turun dari ranjang, merapikan kaus dengan celana pendeknya berjalan mendekat pada Felix seperti biasa memluknya dari belakang.

“Sophia belum bangun, ayo kita mandi bersama.” Peluk erat Florence punggung Felix.

Seketika Felix menyeringai dan melepaskan kasar dekapan Flo, “Robin mencarimu, bagaimana 15 juta Euro mu sudah habis? Atau apakah memang itu tarif yang kau pasang dengan sekali berkencan dan tidur semalaman.” Felix tertawa.

“BABY—”Flo terlonjak, “A-apa?” Florence tergagap.

“Hubungan kita berakhir, jangan mengusikku lagi, atau karir mu akan hancur!” Seketika Felix melayangkan ponselnya memperlihatkan foto dari sebuah cctv, Flo sedang berciuman di depan kamar sebuah hotel bersama seorang lelaki bernama Robin.

Sontak saja Florence ketakutan, bagaimana bisa seperti ini, “Fel— aku dan Robin, tidak! Baby semua itu tidak seperti yang kau fikirkan, aku bisa jelaskan, dia mabuk dan—”

Felix masih tertawa santai, ia pun menggeser lagi foto pada ponselnya, kini memperlihatakan jelas Flo tengah separuh bertelanjang memakai pakaian disana dengan Robin menghadap pada layar depan cameranya. “Baby…itu tidak aku!”

 “PERGI SEKARANG! SEBELUM AKU BERUBAH FIKIRAN!” Pekik Felix tegas.

Florence mengepal kedua tangannya, “SIALAN, ROBIN! BEDEBAH!” Florence pun menjauh dari Felix, kini semua rencananya dengan Felix hancur, bisa-bisanya Robin membuka semuanya.

Ini sudah tertangkap basah dan mati telak, ii tidak bisa mengelak lagi Felix bukan lelaki bodoh, tidak mungkin bisa di sangkal, sial mau tidak mau ia pun mengemasi barang-barangnya untuk segera pergi dari sana.

Persetan dengan Sophia, Florence akan pergi dari sana sebelum Felix berubah fikiran dan membuat karirnya pun hancur, sungguh ia masih belum bisa terima ini, sungguh, walau dia melakukan itu diluar, dia begitu menyayangi Felix, dia benar-benar serius dengan lelaki ini.

Jatuh pada pesona manly yang begitu kental, sikap dingin dan seorang yang pintar dan handal dalam hal apapun menjadi daya tarik special untuknya.

“ROBINNNN! KAU HARUS MEMBAYAR SEMUA!” Geram Florence menatap pungung lelaki yang bediri santai disana menerbangkan asap pada benda yang ia hisap keluar jendela. Flo pun siap pergi, dia sempat menitikkan air mata saat semua impuannya kini hanyalah sia-sia.

Florence berdiri dari jauh, rasanya ingin meminta maaf dan pamit, namun potretnya dengan Robin tadi begitu menjijikkan untuk dia lihat bagaimana dengan Felix pasti dia juga merasakan itu.

Felix tahu Florence menatapnya di belakang, tidak menghiraukan, hingga kemudian pintu pun tertutup kembali Florence pergi dari sana.

Felix menyeringai lebar, berhasil mengakhiri hubungannya dengan Florence, yang dia sendiri terkadang yakin tidak yakin dari awal, apa lagi sudah lama dia dengar Flo membuka jasa berkencan, namun ia tidak terlalu mengubris itu sebab hubungan mereka tidak tahu akan bagaimana kedepannya, walau Flo sudah memaksa untuk mereka menikah secepatnya.

Felix pun meletakkan benda yang ia hisap kemudian berjalan mendekat pada Sophia, seketika ia naik ke atas ranjangnya, kini tidak ada lagi penghalang mereka, lelaki itu mengusik tidur Sophia, menggesekkan dagunya yang sedikit berambut kasar pada telinga Sophia, membuat tanga Sophia yang terlelap pun terangkat dan menepis, namun ia tetap belum bangun, rasanya kepalanya begitu berat sekali untuk bangun.

Felix pun mengulang lagi, kini mulai mengcup di pipinya, mendusel-dusel seperti bayi.

 “AAAAAaaaa…” Sophia memekik, di terkesiap bahkan separuh tubuhnya sudah hampir jatuh. “Aapa-apan Felix! Flo bisa lihat kita!” rapatkan Sophia giginya mengucap tertahan.

“FLO, LIHAT TEMAN MU, MEMBUKA CELANANYA DIDEPAN KU!” Teriak Felix.

Seketika Sophia pun turun dan berdiri, menatap tajam Felix, “KAU SAKIT JIWA!” lagi-lagi ia marah dan berucap pelan, kini melihat pada pakaiannya, di benar tidak memakai celana, “FELIX— KAU?” Sophia membola, ia ingat semalam Felix mengancam akan menghamilinya, lalu apa yang terjadi, Sophia memijati kepalanya yang masih terasa sakit berusaha keras mengingat malam tadi, apa yang terjadi, apa?

Namun sama sekiali ia tida mengingat apapun, tatapan Sophia melemah, “Felix kau benar melakukannya?” pegang Sophia perutnya.

“Kenapa tidak, aku sudah mengatakannya,kan?” lelaki itu tertawa, kini Felix menurunkan kedua kakinya, menarik Sophia mendekat, lalu memeluk pinggulnya , menempelkan pipinya di perut Sophia, “Hi boys and girl, tumbuhlah disana, setelah itu kita kembali ke Manila.”

Sophia menggeleng, “Lepaskan aku, bagaimana jika Flo keluar!”

“FLO KELUARLAH, DAN LIAT INI!” Pekik Felix lagi mempermainkan.

Sophia pun ingin menepiskan lengan Felix yang memelyknya, “Aku belum siap mati Felix apa lagi melihat kau mati, kau tahu jika ada yang tahu kau seperti ini, ada banyak bahaya di hadapanmu, lepaskan aku!”

Felix menyeringai lebar, “Aku sudah mengakiri hubungan ku dengan Flo, kau ingat semua ini karena mu—” SebabFelix tidak kuat melihat Sophia menangis dalam diam melihat dia dan Flo, “Jangan kecewakan aku! Dengar perkataan ku, jangan membantah jika kukatakan itu bahaya,”

“A-apa?” Sophia terperangah.

“Florence sudah pergi, aku hanya perlu membuka sebuah hal yang tidak penting untuk mengakhiri, tapi tolong, jangan sekalipun kau tidak mendengarkanku, tidak ada yang ku larang selain yang membahayakan mu, berhenti melakukan hal-hal bodoh, yang hanya akan menyelakaimu, tentang Nick, ada yang tidak beres dengannya, hindari menghubunginya dulu, sesuatu hal sednag terjadi padanya, jangan buat dirimu menjadi sasaran disana juga.”

“Felix—” Sophia menggeleng, dia tidak mengerti.

“Aku tidak minta kau mengakhiri hubungan mu denga Nick, semua butuh proses dan juga alasan agar kau tidak mati konyol di Pallezo, nikmati saja alurnya, aku akan mengawasimu, segera hubungi aku jika Nick menghubungimu, satu lagi… jika dia kembali, jangan perlihatkan atau perdengarkan kepadaku apapun yang akan kalian lakukan, aku takut aku tidak sanggup lalu khilaf melakukan sesuatu, biarkan ini berjalan seperti biasa, mungkin samapai aku menyelesaikan beberapa kasus saat ini, setelah itu kita pergi dari sini, dan kembali ke Desa.”

Sophia berkaca-kaca, “Apa aku akan mengandung anakmu?” Sophia menggerakk-gerakkan kedua pahanya merasakan pada titik dirinya apakah benar terjadi,dia kini tidak bisa menebak sebab ini antara sebuah keputihan atau sebab karena telah melakukan hubungan.

Felix pun tersenyum melingkarkan kedua tangannya, pada pinggul Sophia memangkas jarak mereka, “Bisa jadi, kau harus menjaganya, sebab ayahnya akan marah dan menghukummu, jika kau berani berbuat diluar perintahnya.”

“Tapi kenapa aku tidak sadar? Aku bahkan tidak mengingat apapun semalam.”

“Kau ingin mengingatnya?” Tatap Felix penuh makna, tapi Sophia menggeleng.

“Stop! Aku tidak perlu itu.” Ucapnya lirih, “Aku hanya butuh kau,” Sophia pun melingkarkan kedua tangannya memeluk Felix, menatap wajah tampan itu. “Kau disini, kau punyaku?”

Felix menempelkan dahi mereka, “Tentu,” kedua tanga Felix pun seketika mengusap pada ujung netra Sophia, wanita itu menangis, ia mengharu akhirnya mereka bisa merasakan ini.

Sesungguhnya Felix ingin tertawa semalam ia tidak sengaja memukul pada titik melemahkan di kepala Sophia, sebab ternyata Florence terjaga dan mencari Sophia dan Felix yang tidak ada di kamar setelah Dominique dan Elleza mencari Sophia yang tidak kembali.

Pagutan pun terjadi, kini dengan sadar dan aman, tautan lembut saling mengaliri cinta, dengan kedua tubuh mereka yang memeluk, tatapan netra keduanya penuh bahagia, tanpa perlu menjelaskan sudah bisa terlihat dari netramya Felix dia tengah berbahagia kini akhirnya wanita ini ia takhlukkan, keduanya akan menghadapi jurang didepan harus siap melompat saling menggenggam.

Felix pun mendorong Sophia membuatnya terlentang di ranjang, melepaskan pagutan mereka, sudah terekspose paha mulus itu disana, namun tidak berniat untuk apapun keduanya hanya sedang menikmati ini dengan hal-hal ringan, Felix pun mengukung Sophia, memeluknya lagi, ia tersenyum menatap wajah cantik di hadapannya, Felix pun menghujami banyak kecupan pada wajahnya.

“Jangan pernah pergi lagi…” ucapnya lirih.

Sophia mengangguk pelan mengambil jemari Felix, kemudian mengecupnya, “Maafkan aku,” seketika Sophia berhenti melihat pada sela-sela jemari Felix, ada sebentuk tulisan jemari manisnya, ia pun menarik itu untuk melihatnya jelas, sebuah huruf S berbentuk huruf indah ada disana.

Sophia tersenyum, “Ini aku? Kau membuatnya?”

Felix bersemu malau, ia pun turun dari tubuh Sophia, “Jangan merasa sombong, di cintai, ini sudah lama ada sejak aku dulu mencarimu… di Manila, ini hanya kelabilan anak remaja, tapi sial-nya mendarah daging, aku sulit membuka hati untuk wanita lain, terus membayangkan kakak kelasku itu.” Felix yang menatap langit-langitpun mengharu, “Sudah lama sekali sampai di hari ini, dan aku masih saja mencintai dia yang ku temui di masa kecilku.”

Sophia memiringkan tubuhnya memeluk Felix, ia tidak bisa berkata apa-apa selain merasakan haru akhirnya ia bisa memeluk nyaman tubuh ini.

“Aku tidak ingin bangkit, bisakah hari ini kita tidak pergi kemana-mana.” Bisik Sophia.

Felix ikut menghadap padanya, “Kita tidak boleh mengulur waktu, jika aku bisa menyelesaikannya cepat, kita pun akan cepat kembali, mematikan identitas kita.”

Sophia mengeluarkan air matanya, “Kita akan seolah mati? Kenapa sesulit ini?”

“Lalu kau ingin kita membuka semua, lalu benar-benar mati!?”

Sophia maju menempel pada dada Felix, “Berikan aku waktu, sampai siang, aku ingin seperti ini, yaya”

Felix pun memainkan rambut Sophia seraya tersenyum, “Sophia, jangan seperti ini kau membuatku terbawa suasana dan menjadi malas untuk pergi.”

Sophia pun tertawa, “Maka jangan pergi,“Sophia memainkan perut atletis Felix, memberikan tawaanya menggoda. “Aku ingin melakukan banyak aktivitas bersama mu hari ini.”

Felix tersenyum mengambil tangan Sophia, lalu mengecupnya, “Baiklah, kita tetap disini… sampai malam nanti.”

 

 

 

Next »

...Berikan vote hadiah like dan comment ❤...

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

jd Felix sering tidur donk ma pcrnya florens kok uda blg mandi bareng berarti sering hihh

2025-01-13

0

Nonna Mel

Nonna Mel

fellix cerdik bgt y mutusin florence dgn ngebuka aibnya lgsung keok gg pake lama aaaaaaaa fellix

2023-12-29

0

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

KLO LO SERIUS,, LO GK KHIANATI FELIX, LO BLM TAU SPRTI APA FELIX.. LBH KEJAM DRI JULLIAN..

2023-08-14

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 80 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!