Dalam sadar

Sophia terus berjalan di lorong kamar-kamar di atas karpet merah yang membentang panjang itu, seraya mengedar mencari apakah ada cctv disini, ia tidak menemukan namun dia sudah sampai disebuah kamar yang dia tahu kemarin Felix masuk kedalam sana.

Sophia menepiskan rasa malunya terserah nanti Felix akan menghinanya lagi atau tidak, Dia pun memutat knop pintu, cklak, Sophia bernafas lega pintu tidak terkunci sekilat mungkin Sophia pun masuk kedalam sana.

Tampak jelas lelaki itu masih tidur disana, bagaimana bisa ini sudah sangat siang, Felix tampak meringkuk menutup wajahnya dengan bantal.

Sekarang sophia harus apa? Bagaimana cara membangunkannya, Sophia pun mengunci pintu kamar Felix untuk dia lebih aman disana berjaga-jaga tidak afa yang masuk mendadak.

Beberapa langkah Sophia mendekat ke ranjang, masih terus menatap seketika Felix membuka matanya, ia memicing, jika tadi dia fikir ada Florence ternyata dia salah.

Felix pun memejam lagi menutupi kesadarannya seraya berfikir mau apa. Sophia kemari? ada apa, Ia merasakan senang mendapati wanita itu dikamarnya.

“Flo ini masih pagi kau mau apa? Kepalaku sedikit salit 15 menit lagi aku bangkit.” Ujar Felix yang berpura-pura memejam.

Sophia mengalihkan wajahnya, “Flo, apakah dia selalu kesini masuk ke kamar ini.”

“Flo, mendekatlah pijat kepalaku, sepertinya aku kurang sehat.”

Flo katanya sialan..

Sophia menahan dirinya, yang sedikit panas, namun bodohnya dia mendekat, melihat pada wajah tidur Felix yang seperti orang tidak sehat memang, kemudian menyentuh kepalanya, Ya benar tubuhnya hangat.

Dia demam, gumam Sophia…

Kini Felix tidak sersuara lagi, membuat Sophia sejenak berfikir, apa yang harus dia lakukan, terserah Felix menganggap dia Florence atau siapapun, dia akan mengompress lelaki ini.

Sophoa pun mengedarkan pandangannya, mencari-cari sesuatu, Ia bangkit ke arah lemari besar di sisi kamar itu, kemudian membukanya, mencari-cari kaus tipis miliknya kemudian dia ambil, dan bergegas ke kamar mandi.

Ada hati yang senang di ranjang melihat ekspresi khawatir Sophia, Dan Sophia pun bahkan ia tidak peduli saat Felix berpura-pura memanggilnya Florence, Felix membuka matanya melihat Sophia masuk kedalam kamar mandi, dan secepat kilat Felix menutup matanya lagi saat Sophia sudah datang dengan air hangatnya untuk mengompres.

Sophia sedikit ragu, namun ia naik satu kaki keranjang, berusaha membalik tubuh Felix, memeras kaus itu kemudian meletakkan lembut pada dahi Felix, Felix mencoba tenang tidak bereaksi apapun.

Namun bisa ia rasakan sentuhan lembut dari tangan wanita yang mengkhawatikannya itu, astaga dia menjadi ingin terus seperti ini tidak ingin beranjak.

“Kepala ku sakit, Flo!” Felix berujar itu lagi seraya memiringkan kepalanya lalu menyentuk kepalanya sendiri.

Membuat Sophia mengarahkan tangannya memijat lembut kepala Felix walau hatinya sakit lelaki itu terus saja mengudarakan nama Florence saat ini, Ia memijat lembut pelipisnya, bagian kepala hingga dahinya.

Felix benar-benar terbawa suasana, ia sangat menikmati ini, rasanya benar ingin terpejam lagi, Sophia pun menjadi lupa tujuan utamanya datang untuk apa seakan tidak tega dengan kondisi lelaki itu saat ini.

Tiba-tiba saja pintu terdengar di ketuk, suara Sergio diluar sama memanggil-manggil Felix sukses saja Sophia terlonjak dan seketika bangkit dari ranjang, berjalan cepat sekali masuk kedalam kamar mandi.

Kali ini Felix sukses tersenyum lebar atas Sophia yang berlari-lari, ketukan Gio semakin ramai membangunkannya, Felix pun melihat ke arah pintu kamar mandinya Sophia sudah masuk ke dalam sana, Ia pun segera turun untuk menemui Gio.

Menjatuhkan kompres itu ke ranjang Felix pun turun dan bergegas membuka pintu, Cklak. Pintu dengan daun besar itu pun terbuka.

“Kau baru bangun, kau lihat pukul berapa ini!” Tegur Gio.

“Tunggu 45 menit lagi, aku bersiap!”

“Kau sakit?” lihat Gio netra memerah Felix.

Felix pun mengusap pada tengkuknya, “Hanya sedikit, tunggulah aku akan mandi!”

“Aku bisa sendiri jika kau tidak sehat, kau sudah lama tidak beristirahat, istirahatlah hari ini, aku tidak mau kau jatuh atau kenapa-kenapa disana, pekerjaan kita berat hari ini, ada penyusup di pabrik, keberangkatan kita ke Barcelona di batalkan hari ini, aku fikir itu lelaki yang sama saat itu pernah menembaki beberapa karyawan.”

“Diamlah sialan, tunggu aku di luar sana, sebentar!” Plak… Felix pun segera menutup lagi pintu kamarnya, hendak bersiap, namun juga akan menikmati pagi ini bermain-main dengan Sophia.

Sophia menggigiti jemarinya ia mendengar jelas tadi percakapan antara Gio dan Felix di luar sana, kini ia yakin Felix akan masuk ke dalam toilet dan mungkin dia mencari Florence saat ini.

“Astaga, berikan aku jurus menghilang atau berubah menjadi kuman dalam waktu singkat Tuhan… “Gumamm Sophia.

“Flo… kau dimana?” Felix tertawa kecil diluar kamar mandi ingin membuat Sophia kesal. “Flo…” Felix pun memutar handle pintu dan memasukan kepalanya kedalam sana.

Sophia berada disebalik pintu closer, iia berjongkok tidak terlihat dari pintu masuk, “Oh mungkin dia sudah pergi…” ucap Felix masuk dan membuka pakaiannya.

Sontak saja membuat Sophia semakin bergidik, Sial… dia mau apa...

Lelaki itu semakin menahan tawa, melucuti satu persatu pakaiannya, kaus dalam celana boxer hingga kini ia akan membuka celàna dâlamannya, Sophia sudah tidak tahan ia pun bangkit.

“Aaaaa stop Feliiix!!!! Aku akan keluar!”

“SOPHIA! Kau mau apa di kamar mandi ku?” Felix berakting.

“Tidak, Tidak ada aku hanya tersesat saja! Aku keluar sekarang!”

“Tersesat bagaimana? apa kau melakukan perjalaan lewat lubang-lubang air lalu lolos ke kamar mandi ku, kau penyusup, apa yang kau lakukan disini! Apa rencana buruk mu!” tatap Felix serius.

Membuat Sophia menciut, menatap sendu pada lelaki itu, “A-aku tadi ingin menemui mu lalu, ada Gio karena itu aku masuk kedalam kamar mandi.”

“Siapa yang mengizini kau masuk ke kamar ku?  Siapa? Kau jangan sekali-kali masuk kedalam area privacy orang lain, aku tidak suka itu! bagaimana jika orang lain lihat atau Florence lihat!”

Sophia mengaangguk samar merasa bersalah memainkan bibirnya, dengan netra yang berkaca-kaca, Ia begitu sedih sebab Felix takut Florence marah.

Ya...itu tidak salah sih, dia adalah kekasihnya.

“Maaf,  aku pergi sekarang.”Saat seketika Sophia sudah mengeluarkan bulir beningnya, masih terus menunduk berusaha tidak melihat Felix.

“Sayang….kau di mana?” suara lembut itu mengudara dengan suara pintu yang terdengat terbuka.

Sial Florencie benar-benar datang, Sophia yang akan melangkah keluar pun mendadak berhenti, ia terlonjak takut, secepat kilat Sophia mengunci pintu kamar mandi itu.

Dia menatap takut pada Felix, membuat dia harus terjebak disini, Namun ini adalah sebuah kebahagiaan untuk Felix, Sophia sudah terjebak.

“Puas!” ujar Felix membuat Sophia semakin terpuruk. “Sekarang aku akan mandi.”

“Felix—”

“Apa aku sudah terlambat!”

“Felixx kau di kamar mandi???” ketuk-ketuk Florence.

“IYA aku baru saja masuk, tunggulah!” Teriak Felix pada Florencia

“Hemmm baiklah…”

Felix ingin melihat bagaimana si angkuh ini sekarang, apa dia masih bisa bersikap angkuh dan sombong dalam situasi ini.

“Mandilah di sisi sebelah sana, aku akan berbalik badan, tapi badan mu panas sekali, lebih baik kau mandi dengan air hangat.”

“Kau bukan siapa-siapaku jangan mengatur atau berpura-pura perhatian!”

Shit, Sophia tertampar, mulut iblis ini susah sekali di tebak terkadang dia bersikap baik terkadang juga begitu menusuk.

Sophia menarik nafasnya berat, sakit sih mendapati ucapan Felix seperti itu, namun ya kenyataanya memang benar, lagi pula kata-kata itu sering sekali.ia ucapkan pada Felix, kenapa semuanya seakan berbalik, atau Felix sedang membalasnya.

Felix pergi menuju closet ia menutup tirai disana dan mandi, Lelaki itu tertawa saat ini melihat Sophia terpuruk disana, di satu sisi Sophia sedang memastikan Florencia sudah pergi dari kamar agar dia bisa segera pergi dari sana.

Awwwww…suara pekikan reflek dari mulut Sophia, seketika membuat Sophia menutup mulut dan membuat Felix di dalam tirai menarik handuk dan berjalan melihatnya.

Tangan Sophia berdarah, engsel dari pintu kayu itu terbuka membuat tangan Sophia mungkin terkena sayatannya, darahnya begitu banyak,  membuat Felix mendekat.

“Bagaimana bisa?” lelaki itu pun menarik Sophia ke wastafle mencuci darahnya, tatapan perhatian jelas muncul pada wajah Felix.

Namun darah masih saja keluar, Felix pun mengulüm jemari itu. Membuat Sophia terbelalak, “Felix jangan!”

Netra Felix kembali menatap Sophia, kemudian melepaskan jemari Sophia dan meraih sebuah kapas disana, “Tidak ada obat disini, di luar mungkin ada, lain kali hati-hati.”

Sophia mengangguk, “Tidak apa-apa lanjuti mandi mu, ini hanya hal kecil.” Lihat Sophia pada kepala Felix yang masih berbusa.

“Kenapa kau kesini?” Tanya Felix mulai tidak menyebalkan.

Sophia menghela, astaga kini dia kembali bersikap baik, “I-itu, kucing itu Coco? Dia Coco bukan?”

Felix berkerut dahi. “Coco siapa? Dari mana bisa kau mengatakan kucing milikku adalah anak berbulu mu.”

“Aku tahu, aku sangat hafal dia seperti apa, mana mungkin begitu sama…bulu-bulu, hingga corak di ekornya sama persis! Hanya kau yang tahu dimana Coco aku titipkan, mungkin saja kau membawanya ke sini.”

Ckck. “Sophia kau fikir kau siapa?” Felix menyeringai lebar. “Dia Nino, bukan Coco! Kau jangan terlalu percaya diri, untuk apa aku mengambilnya.”

“Bohong— lihat aku, aku tahu kau berbohong!”

Felix semakin terkekeh, “Apa? Lihat kau? Lihat kau maka kau akan tahu aku sedang berbohong?” Kini Felix menatap wajah cantik itu melawan perkataanya.

Sial, wajah sedih yang selalu sendu itu menghanyutkan.

“Dia Coco ku!” Tatap Sophia bersitatap dengan Felix. “Kau mengambil milikku!” ucap Sophia pelan namun mengas.

Sophia, Felix tidak tahan lagi melihat pada wajah cantik yang kini menegas, netra coklat yang sendu, bibir merah muda yang menutup jutek.

Seketika Felix menahan dagu Sophia dan-- menyatukan bibir mereka, Sophia sedikit terlonjak atas perlakuan Felix yang sudah tidak lagi menguasai diri, Ia memagut Sophia kian memperdalam ciumannya.

Sophia berusaha mendorong, dengan netranya yang sudah membola, Namun Felix malah semakin dalam dan menahan, tangannya pun berpindah pada pinggang Sophia.

Sial...perlahan Sophia terbawa suasana, oleh hati yang sama-sama merindu, hati yang sama-sama meliki rasa, pagutan itu terbalaskan, keduanya saling mengabsensi Saliva.

Kini Sophia bakan melingkarkan keduanya pada Punggung Felix sangat menikmati rasa yang kini tengah mereka bagi.

Felix mengharu, kali ini Sophia sadar, kali ini Sophia tidak dalam keadaan mabuk, mengaliri rasa ini penuh perasaan, tubuh keduanya seakan saling menyambut oleh setiap sentuhan apapun.

.

.

Next »

.

.

.

.

.

...VOTE, Like, hadiah dan komentar (Maksa 😜)...

kalau mau cit-cat bisa ke IG saya* @Trisrahmawati.

 

Terpopuler

Comments

Nonna Mel

Nonna Mel

othor ada aj idenya

2023-12-28

0

Indun real14

Indun real14

mantap x kau thor😁... saya sukaa,,saya suka .👏👏👏

2022-05-05

0

Juliezaskia

Juliezaskia

thor pinter banget nih bikin kita jantungan,, banyak kejadian yg mengejutkan..

2022-03-22

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 80 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!