Kamar yang ditiduri Sophia masih begitu tamaram, gorden-gorden sengaja tidak dibuka oleh sang empunya kamar, namun Sophia yang biasa bangun pagi pun terjaga, tiba-tiba saja ia memukul kepalanya. “Pusing!” keluhnya.
Tiba-tiba dia ingat sesuatu, dia sedang berlibur di Spanyol, bukan di kamar appartementnya, “Oh sial!” Ia mengedar kesekitar tempat ini dimana, sepertnya bukan kamar yang ia tempati bersama Serra. Ia pun melihat pada dirinya, ia bertelanjang. “OMG... pakaian ku!.
Sophia frustasi ia pun bangkit, Kini ia sadar kemarin ia begitu banyak minum dan mabuk, lalu apakah dia bersama seseorang, “Ya Tuhan aku? bagaimana bisa aku menyerahkan tubuhku pada orang yang tidak ku kenal! Astaga Sophia mati saja kau!” Sophia menarik-narik rambutnya, tidak menimbang dia pun segera melompat dari ranjang, menarik selimut tebal itu terus menutupi tubuhnya.
Ia mencari pakaiannya, menyapukan pandangannya di ruangan itu, “Tidak ada! Mana pakaian ku” yang ada hanya sebuah kaus, Sophia lihat tergeletak di atas Kasur, terserah milik siapapun itu— dia tiak peduli itu Sophia pun mengambilnya kemudian memakainnya untuk segera kembari kekamarnya yang ia tempati bersama Serra. Beruntung kaus itu sejenis oversize cukup menutupi bawahnya.
“Terkutuk kau Sophia bagaimana bisa kau seperti ini, ini lebih tolol dari pelacur! kau digagahi orang asing!” Tidak peduli apapun yang terjadi dia harus pergi dari sini, pergi jauh-jauh dan tidak akan menampakkan wajahnya lagi di pantai atau tempat ini, ia akan minta Nicko untuk segera pergi dari tempat ini.
“OH NO!” ada bekas kiss marleher dan k dadanya, bagaimana jika Nicko melihat ini, Ya Tuhan, apa yang akan aku jelaskan!” Terserah fikirkan nanti dia harus pergi sebelum lelaki yang bersamanya semalam datang lagi.
Sophia pun berjalan kearah pintu, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka seorang lelaki tampan berhaduk keluar dari sana. “Mau kemana seperti itu!” tegur baritone itu membuat Sophia yang sudah didepan kamar mandi berhenti
“SIAL DIA! FELIX! Bagaimana bisa, bukan dia semalam, bukan dia!” terulang kembali diingatannya, lelaki itu memeluknya, lalu Sophia memagutnya, ”Oh no Sophia kau gila!!!” Sophia tidak terlalu ingat namun ia merasakan dirinya terhanyut oleh lelaki itu. Sophia yang sudah begitu malu pun berbalik dan melangkah menuju pintu dan—
“SOPHIA STOP!”
“Jangan tahan aku Felix aku sudah mempunyai kekasih.” Sophia pun berjalan cepat lagi dan BRUAKKKK….BUGH! OH GOD, SAAAAAAAAAKIT!” Dia terpelanting sempoyongan jatuh bersama lantai yang begitu basah.
Felix tertawa, “Aku sudah peringatkan kau, bukan?” Felix pun berjalan kearah Sophia seraya mengulurkan tangannya. “Dalam situasi ini, kau tidak bisa menghandalkan kekasihmu!”
Sophia begitu kesal mengalihkan wajahnya tidak mengindahkan tangan Felix. “Menyingkir aku bisa sendiri!” tegasnya.
Sophia yang masih dalam sisa hang over pun bangkit sendiri, dan BRUAKK… Lagi-lagi kakinya seakan di tolak untuk menapak pada lantai yang licin itu. “SIALLLL!” Sophia memukul lantai itu, semakin membuat Felix terbahak-bahak.
Felix tertawa dia mengendik acuh, meningglakan Sophia begitu saja, “Baiklah, mintalah bantuan kekasih mu untuk bangkit.”
“Berengsèk!” Sophia mengumpat pelan, perlahan bangkit lagi, kemudian memutar-mutar handle pintu namun sayangnya pintu itu tidak bisa terbuka, “Buka pintunya aku mau keluar!” bentak Sophia melihat kearah Felix yang sedang meraih pakaiannya.
Lelaki itu tidak mengindahkannya, ia dengan santainya, terus memakai pakaiannya dan kini melepaskan handuk miliknya, Lagi-lagi membuat Sophia mengumpat dan mengalihkan wajahnya, “Dasar otak mesum!” Felix tertawa disana dia sengaja mempermainkan Sophia nyatanya dia sudah memakain celan pendek saat ini.
“Buka pintunya! Aku mau keluar! Jika tidak aku akan melompat kebawah.” Lirik Sophia pada jendela yang tinggi memperlihatka suasana terang disebalik gorden.
“Lompatlah.” Felix pun meraih sebuah remot menekan sebuah tombol, membuat gorden jendela itu terbuka membuat suasana kamar menjadi hidup dan terang.
“Silahkan lompat, kita berada di lantai 7, tidak terlalu tinggi menurut ku, ketika kau melompat jika kau sedang mujur kau hanya patah kaki, jika kau tidak beruntung mungkin akan pecah kepala dan mayti”
“Astaga dia bahakan mendukungku untuk mati! sialan!” Sophia begitu kesal ia yang nyaris sudah seperti orang gila memakai kaus kebesaran tanpa pakain dalam, bahkan kini dipermainkan Felix, “Aku tidak suka bercandaanmu, tolong buka pintunya, kau tidak boleh menahan seseorang wanita yang memiliki pasangan.”
Felix semakin terkekeh, sudah memakai pakaiannya lengkap, “Aku menahan mu?” ckck, “Kau yang memaksa ingin ikut dengan ku, Sophia…” Felix tergelak, “Kau lupa siapa yang telah memperkòsaku?” Felix memiringkan lehernya memperlihatkan bekas-bekan yang dibuat Sophia.
“FELIIIIIIX!” Sophia benar-benar merasa malu rasanya ia ingin terbang dan menghilang besama debu-debu disana, apa benar dia yang melakukan itu semalam,apa saja yang mungkin ia katakana saat mabuk, arghtth..…, “FELIX,lupakan apapun yang terjadi tadi malam, ku mohon lupakan!”
“What, Lupakan? Dan kau fikir aku sudi mengingatnya? Kau sungguh percaya diri.” Cecar Felix cibiran.
Sophia mendesah, “Sial angkuh sekali manusia ini!” bathin Sophia. “Terserah, Ya maafkan aku apapun yang terjadi tadi malam, ku mohon buka pintunya—” Seketika Sophia terdiam, menatap lekat pada Felix, “Apa yang terjadi tadi malam? HAH?” Sophia shock mengulang perkataan Felix yang tentnag dia yang memperkósa lelaki itu.
Felix menyeringai lebar melihat Sophia dari kaca. “Kenapa sudah ingat rasanya?”
Sophia pun berjalan mendekat pada Felix, meyakini apa yang terjadi, “FELIX, APA YANG TERJADI?” Bentakknya, “Kau mencari kesempatan saat aku tidak sadar, kau—”
Felix berbalik menatapnya membuat dia diam seketika, “Kau berada dimana? Tidur dimana? Apa perlu aku putarkan seluruh cctv di tempat ini memperlihakan kepadamu, siapa yang memaksa siapa yang telah memaksa siapa, siapa yang memperkosa siapa, baik kita ajak kekasih muutuk memeriksanya bersama.”
“HA—NO! NO… Kau tidak waras, Jangan lakukan itu!” Sophia menutup mulutnya, merapatkan kedua kakinya, berfikir keras apakah mungkin dia melakukannya bersama Felix, Sophia Frustasi ia menjambak rambutnya. “Ku mohon, jangan beri tahu Nick…” tatap Sophia memelas.
“Kenapa harus memberitahunya, bukankah katamu lupakan? Ayo lupakan, kita sama-sama sudah dewasa, kau takut kekasih mu kecewa, lalu hubungan kalian berakhir?”
“Bukan itu— Iya baiklah lupakan malam tadi dan keluarkan aku dari sini.”
Felix terkekeh, “Kau yakin akan keluar seperti ini,tapi terserah itu urusan mu…” Felix pun berlalu acuh, “Didalam lemari ada pakaiann wanita lengkap, kau mungkin bisa memakainya, tapi kembali lagi terserah jika kau tidak takut dipertanyakan kekasihmu…” Felix mencibir Sophia yang begitU berantakkan tangannya terus menutupi ujung dada yang terlihat membentuk ****** disana dan bawahan baju yang pas namun sangat terbuka.
Cklak, Felix pun keluar begitu saja meninggalkan Sophia dikamarnya, Sophia pun menghentak-hentak kakinya, memijat pada pelipisnya yang masih sedikit pusing, “SOPHIAAA… KENAPA BISA SEPERTI INI.” Dia pun akan pergi ingin keluar persetan dengan tampilannya, namun ia ingat bagaimana jika bertemu Nicko dijalan dan ia melihat keadaanya. “ASTAGA!!....
Sophia pun mau tidak mau menerima tawaran Felix mengambil pakaian didalam sana, sebuah dress pantai, lengkap terbungkus dengan sepasang **********, “Punya siapa? Ah terserahlah…ia pun bergegas kekamar mandi untuk mebersihkan dirinya.
...•••...
(Felix pov)
Inilah yang aku tidak suka, Serra selalu suka memaksa sesukanya, wanita itu membuat aku bergabung dengan Nicko dan Sophia, aku tidak sedikitpun cemburu, aku hanya muak melihat mereka berbasa-basi, seakan-akan romantis, Baby kenapa kau minum? Kau tidak bisa minum? Telinga ku sakit, sialnya dia adalah bagian dari tugasku baiklah kita anggap ini sebuah keprofesionalitasan.
Oh shit, dua keadaan yang memuakkan, selain melihat Sophia dan Nicko, Serra lebih memuakkan, sudah lama sekali dia mendekatiku, aku juga pernah menjalani hubungan dengannya, What hubungan? Hanya dua minggu saat itu, No, aku tidak serius, itu sebab Jullian dan Gio saja yang memperiolok ku.
Sial, di tempat yang jauh aku harus melayani suara-suara Serra dan semua hal-halnya, dia mmelukku, menempel-nempel padaku.
Jelas, sama hal aku yang muak atas Sophia dan Nicko, mungkin Sophia pun sama, manusia normal mana yang suka mendengar rengekkan dan perangai-perangainya.
Hell, Sophia benar-benar mabuk, tolól sekali kekasihnya mala meningglakan dia, mau kemana Nicko! Aku tidak suka lelaki yang tidak bisa menjaga pasangannya, bagaimana jika Sophia jatuh, atau dilecehkan orang lain, pakaiannya… astaga, si tolol yang berengsek.
“Felix kau mirip Felix! Tidak bukan…
Aku tatap netra yang sudah berkabut itu jelas, sayup-sayup yang terbuka dan tertutup dari netra coklatnya sial, aku kembali terbawa suasana, dia memagutku, menyerahkan dirinya seakan bodoh kepadaku, dia menerikaan kebenciannya, dia meneriaki namaku, Sophia? Jelas tersirat bahwa aku masih ada dalam bagian terdalam hatinya atau mungkin otaknya.
Sial segala benteng yang sudah ku bangun kuat runtuh, ini sudah begitu rumit, Dia dan Nicho, begitupun aku dengan Florence.
.
.
.
#Author baper, aku tuh suka kaga tegan kalau di teriakin ayo... ayo.. padahal lagi pengen x istirahat..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Dewi Dina
Felix dan Sophia sama 2 masih cinta
2023-02-22
0
Tryn_123
lebih asyik kalo Mike di apk ini deh......
2022-03-26
1
Juliezaskia
seruu
2022-03-22
0