Sophia memasang mode awas, setelah membersihkan diri dan memakai pakaian yang ada dilemari kamar Felix, takut-takut jika lelaki itu masuk lagi kembali kedalam kamar, sedari tadi dia sudah berperang pada dirinya, menerka-nerka melihat pada tubuhnya, rasanya kesal sekali jika semalam adalah benar dia sudah melakukan yang tidak-tidak besama lelaki itu.
Tapi di rasa-rasanya tidak, jika iya ... pasti itu akan membuat reaksi yang tidak nyaman fikirnya, sial entahlah.. dia juga tidak bisa meyakinkan itu.
Kini melihat pada kaca, oh Tuhan bagaimana cara menutupi ini, pakaian yang ada tidak menutupi bekas-bekas disana.
Hingga tiba-tiba dia melihat ada sebuah syal di ranjang, dia berfikir rasanya tadi sebelum ia mandi tidak ada, apakah dia salah lihat, yang pasti syal dengan warna senada dengan pakaiannya, Sophia pun segera melilit pada lehernya.
“Apakah ini pakaian memang untukku?” Astaga kau jangan memebuat malu Sophia jangan tanyakan itu, jika kau tidak siap mendapati jawaban menyebalkan dari moncong iblisnya.
“Atau bisa jadi milik kekasihnya?” Terserah, aku tidak peduli tentangnya yang penting aku selamat.
Aetekah selesai, Sophia pun keluar, mengayunkan langkahnya unutk turun kebawah, sebab penginapan mereka ada digedung satunya lagi, wanita cantik itu mengedarkan tatapannya kesekitar melihat view indah dari sana, kolam-kolam dengan orang-orang berkumpul ramai memakai-bikini mereka, suasana yang lumayan ramai seperti diadakannya pool party disana.
Hingga ia pun kini berhenti saat sudah melangkah kan kaki di pasir-pasir, tepat disebuah restoran Mexico disana sudah ada Serra dan Felix yang menikmati sarapan mereka, angin-angin laut meniupkan rambut Panjang Sophia yang tergurai setengah basah. Dengan langkah malas dan sebal mlihat wajah menyebalkan Felix ia pun mendekati mereka.
Sudah terdengar sahut-sahut musik daerah itu, yang sangat meramaikan suasana pagi ini, Felix yang berbasa-basi membahas beberapa hal dengan Serra kini melihat Sophia berjalan menuju kemeja mereka, sekilas kilat ia mengalihkan wajahnya enggan melihat Sophia.
“Baby…” Panggil Nicko dari arah restouran yang terlihat tampan dengan outfit kemeja pantainya.
Sophia pun berbelok arah menemui Nicko, Ia mendekat pada lelaki yang berjalan cepat menghampirinya,”Nick— Im so sorry…”
Nicko merangkul sang kekasih, “Aku semalaman mengkhawatirkan mu, aku sudah mencari mu kemana-mana tapi seorang karyawan hotel mengatakan kau memesan kamar lain dan aku datang kesana kau menguncinya bahkan tadi pagi aku kesana kau tidak juga membukanya, Maaf harusnya semalam aku tudak menemui Sarga…”
Sophia membawa rangkulan Nicko masuk kedalam resto, mengurangi terkesiapnya, “Kau menyusulku semalam? Kesana?” Yakinkan Sophia lagi.
“Ehem…, aku yakin kau sangat mabuk berat dan mungkin sudah tertidur, aku sudah meminta seorang receptionis dibawah sana jika melihat seorang wanita mabuk yang berkeliaran segera menghubungi ku, tapi dia tidak menghubungiku, berarti kau aman…”
“OH LORD! Ya sangat aman, sangat teramat aman bersama si berengsek Felix!” Sophia menggeram bagaimana bisa seseorang mengatakan pada Nicko bahwa dia memesan kamar lain.
hey Sophia apa kau lupa kau sedang berada dengan siapa, dia Felix Sophia…dia Felix…kau bersembunyi di sarang amoeba melipat-lipat tubuhmu atau membuatnya menjadi partikel atom pun, dia selalu punya ide untuk mebuatmu baik-baik saja atau mungkin mengacaukannya.
“Ayo kita sarapan!” Nicko tidak membahas lagi da kini membawa tangan Sophia menuju ke outdorr restouran tempat Serra dan Felix berada.
Sophia hanya bisa pasrah dihadapkan oleh pemandangan yang memuakkan dan manusia yang menyebalkan, Serra melambaikan pada kehadiran Sophia, “Hi, kau meninggalkan ku tadi malam…” ujar Serra, saat Nicko menarik kursi mempersilahkan Sophia duduk.
Sophia tertawa kecil, “Maafkan aku, aku bahkan lupa dimana kamar ku…”
Serra pun tertawa lagi, “Tapi kau cukup pintar memesan kamar lain, jika aku mungkin sudah entah terjatuh dimana-mana saat itu.”
Sophia menganguk samar, “Iya sama aku sudah jatuh, jatuh kepelukan si bereesekkkkkkkk!” lagi-lagi Sophia menggeram, menoleh sekilas pada laku-laki yang tengah membaca koran harian Spanish. Lihatlah dia bagaimana bisa sebegitu tenangnya, sangat bisa bersikap seolah tidak pernah ada apa-apa, WHAT? Bukankah aku yang memintanya?
“Kau mau pesan apa baby?” Nicko melesap minuman hangatnya yang sudah ia pesan tadi.
“Quesadillas fritas.” Sebut Sophia nama makanan sejenis tortilla dengan isi. “Kau sudah memesan Nick?”
Serra bergeser, “Aku sudah memesanya untuk kami bertiga namun.” Timpalnya kemudian.
Sophia pun mengangguk, “Apakah teman-teman mu sudah kembali Nick?”
“Ya mereka sudah pergi dari sini, sebagian kembali, semenatara Sarga dan Iatrinya melanjutkan honeymoon mereka ke Maladewa.”
“Wow mereka ke Mala Dewa? Aku bahkan belum pernah kesana, aku sudah fikirkan akan kesana nanti berbulan madu, kalian tidak ingin berlibur kresana?”
Sophia mengendik, “Terlalu familiar dan sering di kunjungi, ya sebab tempanya memang sangat indah bak kepingan surga, tapi ku rasa aku tidak akan memilih destinasi itu.”
Nicko mengulas senyuman, “Lalu?”
“Dia ingin ke Alaska, aku tahu itu!” sambut Serra lagi, “Dia ingin melihat Gletser, air terjun jatuh dari gunung es, hutan belantara dengan pohon-pohon yang bersalu dan juga cahaya utara atau Aurora borealis, yakan kau ingin kesana bukan? Kau bahkan menulis itu dalam story mu aku pernah baca itu.”
“Itu dulu, ah sudahlah…”
Nicko mengambil tangan kekasihnya. “Nanti kita akan kesana…”
Serra pun menyeringai cibiran, llau menoleh kea rah Felix, “Kau tidak kembali ke Fillipjin? liburan ini?”
Felix melipat surat kabarnya, lalu kembali melesap minumannya, memberi gelengan pada pertantaan Serra, “Tidak.” Jawabnya singkat.
“Eh, bukankah kau juga dari Filliphina, Sophia? Kau tidak berniat kembali kesana?”
“Lain kali mungkin.” Sahut Sophia mengalihkan wajaha dari makhluk didepannya yang kini jelas terlihat.
“Oh ya aku belum memberitahukanmu bukan? kita akan menemui kedua ornag tua ku, mereka ingin bertemu dengan mu, Serra mungkin akan kembali lebih dulu..” Jelas Nicko.
Serra terkesiap, “Aku kembali sendiri?”
“Kenapa? Kau sudah dewasa Serra, aku juga ada pekerjaan di Madrid selama dua minggu, kau bahkan sering kesana bukan?”
Sophia pun memasang wajah herannya, “Pekerjaan ku Nick, aku hanya punya libur seminggu!” pungkasnya.
“Baby please, Mr, Anderson tidak mungkin memecatmu, hanya dua minggu, ku mohon aku akan menghubunginya nanti.”
“Tapi Nick—”
“Sophia, Please! ibuku sangat berharap kau datang.” Tatap Nicko meyakinkan.
“Nick aku ingin ikut, ya…” Kini Serra yang memelas, “Aku masih ingin berlibur.”
Sophia menarik nafasnya berat, ini sudah jauh dari harapan dia yang berharap biusa mengakhiri secara baik-baik, sepertinya dia semakin terjerembab dan semakin masuk kedalam, Ia masih begitu takut dengan -hal-hal yang serius, takut akan masa lalunya, walau dia yakin Nicko tidak peduli itu, lalu bagaimana dengan orang tuanya,
Atau jangan-jangan mereka tahu? Ya mereka pasti tahu, tapi kenapa mereka masih mau menerima ku, apa terpaksa karena putra tunggalnya ini?
Sebagai pengawal mereka Felix benar-benar hanya bisa acuh seolah tidak memperhatikan, ia kini semakin mengutuki keadaan saat Nicko bahkan akan pulang kekediaman Dominique dan bahkan membawa serta Sophia, sial semua tidak berakhir seperti yang ia fikirkan, walau dia bisa bersika[p tenang namun hati tidak seteguh sikap.
Ia muak melihat ini sangat muak! sepertinya Nicko dan Sophia begitu serius dengan hubungan mereka, tidak ada artinya sebuah rasa yang masih Sophia rasakan atau mungkin ia pendam, jika pada kenyataannya mereka sudah saling terikat pada orang lain.
Tidak! Felix tidak terlalu berharap lagi, biarkan ini berjalan sesuai jalurnya, mereka sudah pada hidupnya masing-masing tidak peduli itu apapun yang hati rasakan.
Felix masih mendengarkan Sophia,Nicki dan Serra yang berdebat untuk tinggal lama dan serra kembali, ia pun kini mengeluarkan sebuah kotak rokok dari sakunya kemudian mendorong kursinya menjauh untuk menghisap membiarkan mereka berdebat.
“Baby, ku mohon…!” Nicko memohon lagi, membuat Felix melirik seraya mengudaakan asapnya.
“Pokoknya aku ikut kalian.” Timpali Serra memaksa.
Tidak lama pramusaji pun menghantakan makanann merka membjuat mere berhenti berdebat sementara, “Uhum…makanan aku tidak ada?”
“Oh ya, baiklah aku akan kesana memesannya, sendiri.” Ujar Nicko bangkit.
“Aku juga mau ke toilet.” Ucap Serra bangkit, “Sophia kau bisa aja Felix bercerita dia pendengar yang baik.” Ujar Serra berlalu.
Sophia menyimpul senyuman cibiran, “No! terimkasih!”
Memebuat Felix terbahak, kemudian mematikan punting rokoknya, “Dia tidak hanya mengajakku bercerita, dia juga menagjakku tidur bersama.”
Sophia tersulut, dia mendorong meja hingga mmebuat beberapa makanan bergeser, “FELIX, jaga ucapanmu!”
“APA? yang mana lagi yang mau di jaga semua sedang ku jaga, bahkan kekasih mu saja aku sedang menjaganya saat ini.”
Sophia mendesah pasrah memang Felix sedari dulu tidak bisa jadi lawan berkonfrontasi. “Jka aku tahu kau aka nada disini aku tidak akan pernah datang.”tatapan Sophia melemah.
Namun Felix masih bisa tertawa, “Kau fikir aku mau, kau fikir aku suka ada disini?”
“Astaga Tuhan entahlah sudah berada bagian bumi lain masih saja bertemu dengan mu!”
Felix menyeringaikan cibiran, “Lalu kenapa? Apakah kau fikirkan kita akan berjodoh? Kau sangat lucu…hahaha lalu apakah kau fikir anjing dan kera berada dalam satu kebun binatang, lalu kemudian berpisah bertahun-tahun kemudian dipertemkan lagi di kebun binatang lain akan berjodoh, menikah lalu mempunya anak dan hidup bahagia?Huh….kisah yang indah.”
“TERSERAH!” Sophia memundurkan kursi memilih mengacuhkan Felix Ia sadar dia tidak akan pernah menang, malah akan semakin dipojokkan.
Begitu pun Felix memilih menghadap ketempat lain seraya memeriksa ponselnya. Kini ia ingin tertawa jika mengingat semua ucapan Sophia tentang perasaannya, tapi ya sudhalah, hidup keduanya harus berlanjut, Nicko juga adalah lelaki baik, apapun itu bagi Felix asal Sophia bahagia tidak lagi takut melangkahkan kakinya menuju masa depan hanya karena kekelaman hidupnya.
Tidak masalah dia tidak dipilih, mungkin saat itu Sophia terlalu awal untuk bisa belajar menerima dirinya sendiri, mungkin sekarang dia yang sudah berubah lebih baik pun mulai bisa membuka hati untu orang lain, tapi Sophia minta diperjuangkan? Felix menggeleng, biarkan Sophia menyimpan rasanya, Felix sudah cukup bahagia mengetahi Sophia pernah merasakan hal yang sama dengannya walau entah kapan itu..
Kini biarkan semuanya menjadi kenangan lalu, kenangan dia yang sudah lama menunggu Sophia sosok malaikat penyelamat dihidupnya, mencintai tanpa pernah tahu namanya dan dia berada dimana.
Tanpa mereka berdua sadar dua ekor burung-burung kecil naik keatas meja, mematukki makan diatas sana. “Burung…huh..hus..”Sophia pun berusaha mengusirnya, membuat Felix yang lebih dekat dengan meja pun membuat burung-burung itu pergi.
Keduanya saling nelihat pada makan Felix yang di patuki burung, terus berusaha mengusirnya. kemudian Felix mengangkat makannya, “Ku rasa Nicko suka makan ini.” Ia pun meletakan makanan itu pada sisi meja Nicko.
Sophia pun terperangah, “Kenapa kau memberikan makan itu kepada Nicko?”
“Kenapa kata mu? seseorang tidak akan mati memakan bekas patukan burung bukan?”
“Tidak akan mati, kenapa tidak kau saja memakannya?”
Felix mengendik acuh, mengambil makanan lain milik Nicko, “Aku alergi burung.”Jawab Felix kilat, begitu sangat tidak logika, jahat dan sangat menyebalkan.
“Alergi semacam apa itu? Oh tuhaaaaaan dan...dan aku alergi dia!!” Ia mengeram tertahan menggerutuki giginya.
Next »
...Dukung author dengan memberikan like, komentar dan hadiah ❤ **🤣......
...Gak lolos 2000 aku tetap up kok tenang, tapi tidak di porsir ya...masih sibuk sama bulan puasa**🤣🤩🤗...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Dewi Nurmalasari
wkwkwkwkkw
2024-02-01
0
Dewi Nurmalasari
giliran felix aja mati2an mau pergi cm gara2 lu ga layak untuk felix, giliran nicho malah mau pacaran
2024-02-01
0
Sulaiman Efendy
MALES BENAR DGN TOKOH SOPHIA YG MUNAFIK...
2023-08-14
0