Kilas Balik

“Aku akan menikah yah, Ma!” potong Felix tiba-tiba.

Kedua orang tua itu terperangah seketika, saling bertatapan meletakkan perlahan sendok yang mereka pegang, “Menikah?” ulang Sang ibu.

“Kalian akan menikah?”pastikan ayah lagi ucapan anak nya.

Sophia yang sedari tadi diam pun langsung menatap pada kelaki yang sikap nya selalu tidak tertebak itu, “Menikah?”ucap Sophia pelan.

“Ya kami akan menikah, Apakah kalian ingat kakak kelas ku di sekolah menengah atas yang pernah menyelamatkan ku ketika teman sekelasku mengikat kawat di leher ku, ingat?” angkat Felix leher nya menampilkan bekas luka lama nya. “Gadis itu adalah Sophia!”

“Apa?” Sophia terkesiap dengan ucapan Felix.

Kedua orang tua pun terkesiap mulai mencerna dan mengingat-mengingat kembali , “Kau menemukannya nak” terharu sang ibu yang mengingat Felix mencari gadis penyelamatnya itu sudah sejak lama.

“Bagaimana bisa kalian bertemu?” antusias sang ayah.

Sophia berkerut dahi, Apa maksud nya apa?

“Aku sudah tidak mencarinya lagi, aku bahkan sudah melupakan itu, ku fikir dia sudah menikah, hidup di negera lain atau mungkin sudah tidak ada di dunia, tapi dari semua jalan yang panjang aku menemukannya dengan cara yang tidak ku duga dan dia ada didekat ku diantara rang-orang terdekat ku!”

“Kau anak lelaki itu? Kau anak lelaki di Sekolah Sandriego itu!” ingat Sophia kini, ia benar-benar tidak habis fikir, rasanya ia limbung, pantas saja sikap Felix pada nya seolah sudah lama mengenalnya, dan bahkan ia sama sekali tidak ingat lagi akan kejadian itu, jika tidak diingatkan seperti ini.“Felix! Kenapa kau tidak mengatakan itu?”

Suasana meja makan menjadi membeku, Sophia menggit bibir nya, nafas nya terdengar berat, manik Felix yang biasa nya cemerlang kini tampak berbinar, tersirat kelemahan pada nya.

“Kau pindah dari kota itu sejak pernikahan ibu mu bukan?aku mencari mu di sana, dan kau tidak ada!” Felix mulai meruntuhkam kebekuan.

“Kau kerumah wanita itu?” naikan Sophia ujung bibir nya, “Dia bukan ibu ku!”

“Apa Maksud mu?” tatap Felix.

“Wanita itu menjual ku, seseorang membawaku ke Manila, dan menjadikan ku simpanannya, kau tidak jijik aku sudah tidur dengan 3 orang lelaki dan setiap hari aku bekerja memuaskan dengan cara ku meluapkan nafsu-nafsu orang yang membayarku, Felix buka mata mu!”

“Siapa orang ke-3 itu?”

“Felix, kau sakit jiwa!”sarkas Sophia.

“Hayden pemilik kelab itu bukan, mantan kekasih mu sebelum kau pindah ke Singapura dan bertemu Damian, bukan?”

“Kau bahkan tahu itu, Felix!” naikan Sophia ujung bibirnya, “Sungguh kau tahu aku bahkan merasa jijik dengan hidup ku, berhentilah Felix, kau akan menyesalinya”

Felix terkekeh, memajukan duduknya dengan kedua tangan di angkat ke atas meja, “Kau tidak tidur selain dengan kekasih mu bukan!”

“Felix apa maksud mu!! Kau buta! Baikalah aku akan katakan pada kedua orang tua mu siapa aku sebenar nya!” Sophia bangkit ia mendorong kursi siap pergi.

Felix tidak gentar, ia masih bisa tertawa di tempat nya, “Dan kau fikir kedua orang tua ku peduli itu!”

Sophia pun berbalik, menarik nafas nya berat, “Mana mungkin, tidak akan ada orang tua yang rela menikahi anak nya dengan seorang pèlacur”

Felix pun ikut bangkit, mendorong kursi dan jalan perlahan, manik nya masih menatap Sophia, melampirkan senyuman nya berjalan mendekat. “Kau tidak perlu bersusah payah Sophia, percayalah usaha mu akan sia-sia!”

“Felix ini tidak benar, kau salah jalan Felix!”

 

“Kau yang salah jalan Sophia, bukan aku!”

 

Netra Sophia kian membasah, kubangan yang sudah di tahan-tahannya itu pun akhirnya merembes keluar dari kelopak nya, “Aku akan pulang kerumah ku, ini alasan mu mebawaku kerumah orang tuamu, aku tidak peduli bagaimana pun caranya!”

“Tidak! Kita akan pulang ketika kau sudah ku. Nikahi!”

“Tidak Felix! Aku lebih baik mati dari pada menghancurkan kehidupan seseorang!”

“Kau seperti anak kecil Sophia, baiklah bagaimana jika kita mati bersama” Felix setenang mungkin masih dengan tawaan dan bercandaan nya.

Sophia benar-benar kehabisan kata-kata ia tidak sedikit pun berharap hubungan mereka akan sejauh ini, ia cukup sadar diri walau hanya membayangkannya saja ia tidak ingin.

•••

Beberapa hari berlalu, setelah sekian lama Felix menyembunyikan Sophia di pedesaan tempat tinggal orang tuanya, ini menjadi hari yang di tunggu-tunggu Sophia, hari dimana ia akan bertemu dengan makhluk paling peduli dan super menyebalkan dalam hidupnya di bandara Felix akan membawa serta Sophia dalam perjalanan kerjanya ke Italy.

 

Pagi-pagi sekali pekerja ayah Felix sudah di perintahkan untuk menghantar wanita itu ke Airport yang lumayan jauh dari desa yang mereka tinggali memakan waktu 3 jam perjalanan.

 

Suasana pagi tadi begitu mengharu biru, ibu dan nenek Felix yang sudah sangat menyayangi Sophia larut dalam air mata melepaskan Sophia pergi namun bukan hanya mata kesedihan saja namun bercampur dengan air mata bahagia keduanya akan bersama menemui ibu Shopia meminta restu setelah itu keduanya akan menikah secara sederhana dulu, sebelum keberangkatan ke Italia.

Penerbangan pertama di pilih Felix kembali ke Manila dari Jakarta, armada besi yang di tumpanginya baru saja mendarat setengah jam lalu, kini Felix baru saja keluar dari dalam pintu kedatangan International, ia menuju ke luar tempat pemberhentian parkir terminal keberangkatan menunggu Sophia di sana

Lelaki beroutfit casual dengan celana jeans dan sebuah kemeja lengan pendek itu sedang berdiri di sana memainkan ponsel nya dengan satu tangan memegang pada travel bag kecil milik nya.

Ia tidak pernah menunggu, ini menyebalkn bagi nya, berulang-ulang netra nya menyapu kesekitar melirik pada mobil-mobil yang behentin berharap Sophia sudah tiba.

Denting waktu terus mencuri waktu saat kini setengah jam sudah berlalu namun Shopia masih saja belum tiba, Felix terdengar menarik nafas nya berat berharap tidak ada apa-apa di jalanan panjang yang jauh menuju desa ke Bandara.

Ia terlihat gusar beberapa kali tangannya mengusap ke wajah, hingga pada detik keberikutnya, akhirnya sosok cantik itu terlihat oleh nya, ia sudah mendorong travelbag juga mengayunkan langkah dari sisi lain, sambil memegangi tas selempang nya di pinggang.

Felix begitu lega,  ia mengulum senyum netra nya bersinar segala kekonyolan nya sedang ia tepis kan, dia Sophia di wanita akan akan menjadi teman hidupku, ibu dari anak-anak ku, mengisi hari-hari ku, dia...iya dia yang sudah ku nanti dari lama.

Sudah hampir sebulan keduanya tidak bertemu, tidak saling menyapa atau mengusik seba Felix mematikan segala akses untuk Sophia dari dunia luar mengingat Damian bajungan yang tidak lain adalam mantan Sophia mungkin mengincarnya, segenap rasa haru dan bahagia tengah muncul kepeemukaan hati Felix.

 

Satu sisi lain sudah berdiri Sophia, netranay berbinar ia menatap Felix dari jauh tanpa menyurutkan langkah nya,  di ujung sana, Iya…dia lelaki itu yang selalu berusaha menjadikan ku wanita normal, memastikan kebahagiaan ku, hidup ku, memastikan yang keluar dari mata ku bukak lagi air mata kepedihan namun kebahagiaan. mewarnai dunia ku, mengisi sosok orang tua, keluarga, tempat tinggal, cinta kasih dan perhatian.

“Hai!” sapa Sophia kala kedua nya sudah bersitatap berjarak berapa meter dari Felix.

Felix mendekat, “Kau siap?” tanya lelaki yang memang tidak suka berbasa-basi itu, “Semua berkas mu sudah siap!”

Sophia tahu itu segala, passport, visa dan berbagau macamnya telah Felix siapkan, pun persiapan dokumen pernikahan mereka.

Kali ini Sophia melangkah lebih maju, ia menelan salivanya, “Kau sudah lama menunggu?”

Felix menggeleng tidak, kini tangan Felix akan menggandeng Sophia, dalam segala gejolak bathin nya. tiba-tiba Shopia menghempaskan tangan Felix, ia berusaha sekuat mungkin, sedatar dan setenangnya.

Ini mungkin akan menjadi keputusan terkahir Sophia akan ada baik dan buruknya, tapi Sophia yakin ini baik untuk Felix.

“Kita akhiri di sini!” ujar Shopia selembut mungkin, mengeluarkan semua dokumen dan segala surat-surat dari tas selempang nya.

Felix tersentak jika ia berfikir ini akan menjadi awal kisah mereka, namun Sophia mengatakan akan mengakhiri.

“Apa yang akan di akhiri, kita baru saja akan memulai nya!” tukas Felix kemudian menatap pada berkas-berkas yang Sophia sudah pegang.

Sophia mengulum senyum ia begitu sangat menahan dirinya untuk tidak lemah, sejurus kemudian, Sreetttttt sreeettttttt…

Felix terbelalak netranya membulat sempurna Sophia merobek Passport nya, merobek segala kertas di tangan nya.

“Sophia kau tidak waras!” tarik Felix kertas-kertas itu.

Sophia menarik sudut bibir nya, “Ini pilihan ku, maaf!”

Felix menghela nafasnya berat seketika harapannya hancur, “Apa mau mu! Kau bahkan mengatakan kepada ibuku kau mau menikah! Kau minta ini lebih awal!”

“Kau bisa sesuka mu, kenapa aku tidak bisa sesuka ku!” seringai Sophia padahal hati na tidak sejalan dengan ucapannya.

“Sophia kau mempermaikan keluarga ku, orang tua ku, kau tahu mereka mungkin sedang berdoa untuk kelancaran kita!”

“Mungkin doa mereka salah, pasti mereka berdoa meminta pasangan hidup yang terbaik untuk mu! Nyatanya aku kan bukan!”

Tatapan Felix tajam, Sophia benar-benar tertawa di semua harapan yang sedang Felix usahakan dan kini sudah ia musnahkan.

Sophia tidak bisa menatap Felix lama berkali-kali ia berusaha tetap saja manik Felik nyaris akan membuatnya lemah dan mengeluarkan air mata.

“Apa yang kau ragukan, kenapa selalu hanya itu alasan mu!”

“Aku meragukan banyak hal, kita jauh dan sangat jauh oleh banyak hal, mungkin saja aku mengidap penyakit menular Sèxual, aku pelacùr, keluarga ku tidak jelas, hidup ku berantakkan, kau tidak takut anak-anak mu lahir dari liang pelacùr?”

“Kau bukan pelacùr! Kau tidak melakukan itu!”

Sophia menyeringai, “Kau terlalu naïve! Omong kosong!” Sophia lagi-lagi bertempur dengan diri nya, tangisan nya di perjalanan dalam rencana yang ia pilih sudah membuat nya sesak.

Padahal rasa nya ingin sekali Sophia memeluk lelaki di depannya, tenggelam dalam dada nya, mengatakan aku merindukan nya, Felix ku yakin akan ada wanita baik sempurna dari segala sisi yang mungkin akan lebih pantas kau genggam di banding aku, akan ada malaikat-malaikat kecil yang keluar dari rahim suci bukan dari rahim ku.

“Biarkan aku dengan pilihan hidup ku, Felix, apapun alasannya semua sudah selesai!” Buang Sophia semua yang sudah di rebek nya ke dalam tempat sampah di dekat nya.

Felix frustasi, berulang-ulang ia memijat pelipis nya, semua rencana nya gagal, Sophia telah membuyarkan nya.

“Sophia lihat aku!” tarik Felix tangan Sophia.

Wanita itu melihat memaksakan diri mentap Felix, tahan-tahan Sophia. “Apa Apa yang kau harap dari aku melihat mu, kau fikir aku tidak bisa!”sekak Sophia lagi. “Ketahuilah Felix perasaan ku biasa aja tidak ada yang special dengan ini semua!”

“Kau bohong! Orang tua ku sering melihat mu menangis ketika melihat foto ku di pajangan! Kau merindukan ku Sophia, kau— Felix menghentikan kalimat nya.

“Kau apa?” lanjut Sophia menatap tajam Felix. “Kau fikir aku mencintai mu?” Sophia tergelak, “Aku hanya kasihan pada mu Felix!”

“Kau pembohong!”sentak Felix kemudian

“Aku tidak berbohong, aku lebih tertarik dengan ayah mu! Mungkin rasanya lebih hangat dan nikmat dari anak nya” Sophia mulai kehilangan akal untuk membuat Felix membenci nya cara gila ini seperti nya lebih bisa.

Felix menggeram tangan nya mengepal dia benci mendengar itu, begitu menjijikan, apa lagi sampai menyangkut ayah nya.

 

“Tampar!!! Ayo tampar, aku sudah Jujur pada mu, aku tertarik pada ayah mu, jika aku khilaf aku takut menyakiti ibu mu!”

Felix menggeram, ia kecewa, ia meledak, di tambah Felix ingat, ayah nya memang sempat mengirim sebuah foto Sophia dan ayah nya pada acara ulang tahun Sophia yang Felix buat saat itu, Potret keduanya yang begitu dekat dengan Sophia memeluk ayah Felix dari samping tanpa ada ibu nya.

“Kau ingat foto itu? Kau ingat?” tuding Sophia seakan mengerti, “Malam itu rasanya aku ingin membawa ayah mu ke ranjang, memberinya kenikmatan dan berbagi kehangatan!” Sophia kehabisan kata-kata ia jijik mengucap itu.

BRUUUUUAaaakkkkkkkkkkkk

Felix menendang Travelbag milik Sophia seketika, tatapannya nyalang, dadanya memenas jijik bercampur kekesalan yang menyala-nyala.

 

“KAU lebih hina dari sekedar pelacùr dan kotoran, Sophia!” ujar Felix begitu datar seketika berbalik mengayunkan langkah nya dan pergi.

Sophia memejam ia menahan kuat-kuat netra nya, Sophia memegangi dada nya, “Sakit!” ia begitu sakit melihat kekecewaan Felix tapi ini terbaik, kali ini dia menang, kali ini dia sukses membuat Felix membenci nya, sedetik kemuadian Sophia pun melangkah pergi, netra nya terus mengeluarkan bening dengan isakan yang di tahan.

“Semoga kau segera mendapatkan dia yang akan menggandeng mu, memberi kebahgaiaan kepada kedua orang tua mu, semua yang terbaik untuk mu, Felix!” genggam Sophia kalung yang di hadiahi Felix untuk nya, ia sengaja tidak mengembalikan ini mungkin bisa jadi bekal untuk hidup nya lebih baik dan mungkin nanti dia akan mengganti nya ketika hidup nya sudah lebih tertata.

Langkah Felix masuk kembali keterminal keberangkaran, ia bukan lelaki yang kuat pada akhirnya ia juga mengusap bulir bening di ujung netra nya, harapannya sia-sia semua keinginan nya buyar dan lenyap oleh kalimat-kalimat menjijikan yang Sophia utarakan.

Lagi-lagi benar tidak boleh terlalu berekspektasi lebih pada manusia, semua bisa jadi tidak sesuai harapan, pertemuan singkat ini menyadarkan banyak hal, ya seperti ini mungkin jalan terbaik untuknya.

Bayangan kebahagiaan itu hilang tidak ada lagi tawa Sophia, wajah kesal karena kekonyolan nya, pekikan ia yang memarahi nya, pun wajah sendu di balik semua keceriaannya.

Segala kebencian sudah menyelimuti otak dan membungkus hati Felix, bertahun-tahun ia mencari wanita yang pernah menajadi malaikat itu dan akhirnya ia menemukan dia, namun jika seperti ini hasil nya, tidak masalah setidak nya ia sudah tahu seperti apa akhir pencarian nya itu.

Felix menarik nafasnya berat, segala perencanaan akhirnya harus berubah, seketika keberangkatan dia ke Italia pun hari di lakukan hari juga, tidak ada tangan yang genggam tidak akan ada tangan yang yang ia gandeng seperti harapan nya.

Langkah Felix sendiri namun terasa berat dan hampa, pada akhirnya semua kembali pada tempat masing-masing, ia kembali lagi menatap pada jalanan nya, di hidup nya yang brutal dan terjal tanpa berniat akan merubah haluan lagi.

Sophia masuk ke dalam taxi ia bersiap akan memulai kehidupan baru meninggalkan semua dunia gelap nya, meninggalkan semua bayang-bayang Felix yang berusaha memberikan cahaya di kehidupan nya.

 

 Next »

Terpopuler

Comments

Tika Khanza

Tika Khanza

sama/Drool//Drool//Drool/

2024-09-26

0

Nonna Mel

Nonna Mel

gw baca lgi kangen ma felix n shopia/Chuckle//Chuckle/

2024-05-11

0

Nofta Putri

Nofta Putri

ending ny gmna sih torr felix,sopiabahagia juga kn

2024-04-28

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 80 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!