Di sisi lain Pallezo, Sophia dan Serra diajak ke Elleza untuk mengikutinya memeriksa studio pemotretannya di timur Pallezo, Florence sedang ada disana bersama para model-model lain melakukan sesi pemotretan sebuah brand local yang sedang naik daun di negara itu.
Jangan di tanya seperti apa penampilannya, dua pasang mata kini sedang menatap menciut pada diri mereka masing-masing, membandingkan pada Florence yang bertubuh indah, wajah yang cantik pintar, berkelas dan popular, semua itu sangat melekat pada Florencia.
Wajar saja Felix memilihnya untuk menjadikan kekasih,gumam Sophia.
Tiba-tiba Serra mendekat dan berbisik pada Sophia, “Jika kita berpenampilan seperti dia, berpoles make up yang banyak, aku yakin!Hadid sister kalah!”
Sophia mengendik acuh, tidak ingin merespon hati Serra yang memanas, ia memilih menarik sebuah kursi lipat disana untuk duduk, terus memperhatikan Elleza yang sedang berbicara pada tim managementnya disana.
Sophia menggigiti jemarinya, ia pun terus melirik pada Florence, berfikir jauh, seperti apa hubungan Felix dan Florence, kerap kali ia lihat Florence bersikap manis pada lelaki itu, mungkin saja memang mereka semanis itu.
Harusnya dia tidak perlu memikirkan itu bukan, dia memiliki Nick, tidak sepatutnya dia memikirkan lelaki lain, Sophia pun memeriksa ponselnya, kali ini mungkin Nick sedang sibuk, dia sama sekali tidak menghubunginya.
“Sophia!” Panggil Elleza tiba-tiba, membuat Sophia menoleh pada wanita yang tua nan cantik yang kini berjalan mendekat padanya.
“Ya Mom, ada apa?”
Wanita itu menatap serius pada Sophia. “Alice tidak datang, dia dalah pasangan Florence yang menjadi Ba, Brand ambassador untuk brand ini, sangat di sayangkan orang tuanya baru saja menghubungi anaknya mengalami kecelakaan, sementara pihak pengiklan juga Brand tersebut meminta hasilnya hari ini.”
“Lalu? Bukankah modelmu ada banyak Mom, mungkin saja salah satu dari mereka memilikii kriteria yang sama.”
“Tidak ada waktu lagi, jadwal mereka semua padat, beberapa sedang keluar, please! Bantu Mom hari ini,” Tatap Elleza memohon.
“Ta-tapi… Sophia tidak mungkin melakukan itu, yang mana ia bukan seorang model apa lagi punya pengalaman akan itu, Sophia juga tidak percaya akan dirinya untuk berpose atau melakukan apapun untuk terlihat menarik di potret.
“Aunty…Serra saja ya, mungkin Serra bisa.” Pinta Serra menatap Ellleza.
Elleza menarik nafasnya merangkul sang keponakan, “Serra,kau cantik, kau perfect dan berbakat, tapiii…yang di inginkan brand ini adalah yang tingginya seperti Florence juga Sophia, maaf sekali bukan Aunty tidak memilihmu, tapi kau pasti mengerti bukan?”
Sophia merasa gusar, benar-benar tidak yakin dia akan melakukan itu apa lagi bersanding dengan Florence.
Serra cukup mengerti itu, dian pun menangguk samar, “Sophia ini kesempatan! Apa lagi yang membuat mu ragu, ayo…bisa jadi setelah ini kau benar-benar menjadi model dan di pakai beberapa brand, ini jalur tercepat Soph, kau bahkan tidak perlu memulai dari bawah.”
Sophia tahu itu, tapi ini bukan passion-nya apa mungkin dia bisa melakukannya, “Mom, saya tidak yakin—”
“Please Sophia…”Elleza tampak gusar ia sudah bingung menghubungi kesana kemari, dia terdengar mendesah lelah, kini Florence pun tampak menjeda sesinya disana sebab tidak ada lawan untuk scene selanjutnya.
“Sophia! Please kali saja…” Ellleza mempon lagi, melampirkan wajah sedihnya, keadaan gusarnya. “Mom dan yang lain akan mengajari dan terus mengarahkan mu.”
“Sophia! Astaga apa yang kau fikirkan” Pungkas Serra geram padahal ini bisa menjadi sebuah kesempatan baik.
Sophia tidak butuh ini sebuah kesempatan atau bukan, ini bukan dunianya, tapi mana mungkin Sophia tega melihat orang lain kesusahan, apa lagi sampai memelas dan terus memohon kepadanya, yang mana wanita ini adalah ibu dari kekasihnya.
“Hanya kali ini kan Mom?” Yakinkan Sophia.
“Kau yakin mau? Kau yakin, hari ini dan lusa setelah itu selesai, kau tahu kau akan di bayar mahal oleh Brand ini, sebab kau akan menjadi halaman depan iklan productnya selama 2 bulan.”
Sophia tidak mengerti, “Selama itu aku akan bekerja disini?”
“Tentu tidak, hanya hasil photo dan videomu saja yang berjalan, setelah beberapa kali melakuan sesi pemotretan, kau hanya perlu mewakili brand tersebut memamerkan productnya di social mediamu sebagai penarik konsumen”
Sophia hanya bisa pasrah, dia hanya bisa diam dan mengikuti apapun yang Elleza perintah, kini ia sudah selesai di make-up, dan sedang memakai gaun malam yang cukup terbuka, beberapa orang tampak sibuk menata rambut Sophia, pakaian hingga aksesories yang akan Sophia gunakan.
Menakjubkan, Sophia tampak cantik sekali, simple tapi terlihat glamour, Elleza menatap speechless padanya, begitupun crew dan tim-nya, dia terlihat sangat berpotensi menjadi model, wajahnya yang khas cukup baik untuk menjadi sebuah brand ambassador untuk product ini.
Florence menyambutnya baik, saat kini Elleza sudah mengarahkan dia untuk bersama Florence, melanjutkan sesi pemotretan mereka, sedikit kaku dan gugup perlahan-lahan Sophia mulai terbiasa, bergerak cepat berganti pose dalam hitunga detik pun mulai ia kuasai.
Lihatkah, dia bahkan begitiu cepatnya mengimbangi Florence yang memang sudah profesional.
Elleza pun mengabadikan moment ini lewat video social medianya, sengaja untuk di perlihatkan pada sang anak dan anggota keluarganya.
Beberapa menit video aktivitas Sophia di bagikan, seketika mendapytkan respon menyenangkan dari Dominique, Nicko dan yang lain namun Felix begitu kesal akan ini, jelas saja ini memperlihatakan tubuh Sophia cukup jelas, Felix yang sedang mengidentifikasi di sebuah gudang bersama Gio dan Simon pun mengumpat disana.
“Untuk apa kesini jika hanya untuk seperti ini!” umpat lelaki itu kesal mendapati foto Sexy Sophia.
“Apa maksud mu?” sambar Gio tidak mengerti.
“Tidak ada!” Felix pun melemparkan lagi ponselnya kemeja.
Namun Gio sangat paham akan itu pasti tentang Sophia, “Sophia? Bagaimana bisa dia ada disini? dan Nicholas, astaga bagaimana bisa!”
“Dia takut saat melihat mu, takut kau akan membongkar tentang aku dan dia…terserah aku tidak peduli itu bagaimana bisa terjadi, yang aku takuti dia menjadi sasaran Damian lagi.”
Gio berangsur duduk, begiti pun Simon, “Damian Del rigaz brother?”
Felix melempar berkas yang sedang ia periksa, “Kau lihat jamur ini pernah di budidaya di utara Spanyol, kau ingat Kakek Gill dia merupakan pembudidaya jamur beracun ini bukan untuk pembuatan sejenis pembersih toilet dan racun-racun dalam kejahatan lain, beberapa bereffect halusinasi, gila, bahkan mati, lalu dia tertangkap dan di asingkan kesuatu tempat sebelum pindah bersama sang istri ke Thailand.” Jelas Felix.
“Lalu bagaimana bisa kau berfikir itu Damian?”
“Aku belum bisa pastikan, hanya saja jika tentang jamur aku menebak pada keluarga mereka yang sangat ahli dalam dunia peracunan, bisa jadi Damian ada diSpanyol dan tahu Sophia disini bersama Nicholas dan ada aku juga yang membawa lari Sophia dari dia saat itu.”
“Siapa Sophia dan Damian?” tanya Simon, “Apakah Sophia adalah menantu dari Dominique?”
Felix bedehem kemudian bangkit, “Bejaga-jagalah mulai sekarang, Damian bukan orang sembarangan, permainannya sangat halus, bahkan tidak meninggalkan jejak.”
Dorrr Dorrr… Felix menembaki botol-botol anggur yang sudah di suntik cairan racun, memebuat suara pecahan yang sangat nyaring dan bising.
...•••...
Malam hari di Palezzo, suasana disana mulai sepi saat dimana para penghuni Pallezo sudah beristirahat, Sophia baru saja membuka pintu kamarnya, tiba-tiba kucing kesayangan Felix keluar dari sana, Sophia pun mengejarnya keluar.
“Coco…Nono..kembali pada mama sayang…” Kucing itu semakin lari sekencang mungkin saat Sophia mendekatiunya, “Handsomenya Mama ayo darang…” uajr Sophia terus berusaha menangkapnya hingga ke teras belakang Pallezo.
Suana di belakang sudah sangat sepi, tidak tampak lagi pelayan disana, hanya beberapa penjaga Pallezo yang terlihat berjaga di halaman luas dengan kolam berenang besar itu, Coco semakin berlari, dia seperti meminta Sophia mengejarnya.
“Hey ini sudah malam, besok saja kita bermainnya, mam mau tidur Coco.”
Tiba-tiba saja Coco turun pada undakan tangga, membuat Sophia pun panik, tempat itu luamya gelap, tidak ingin kucing itu hilang dan dia di marahi Felix, Sophia perlahan turun kesana, langkahnya ragu-ragu menapakkan kaki pada lantai yang sudah bukan keramik coklat muda halaman Pallezo, melainkan lapisan semen kasar.
“Mau apa kau disana?” suara itu terdengar jelas, membuat Sophia seketika menoleh.
Dia terkesiap, “Felix! I-itu Coc…eh Nino lari kebawah sana!” jwab Sophia takut-takut.
Tatapan Felix serius dia tampak menatap tegas, “Bagaimana bisa kau membuatnya turun, jika tidak bisa menjaga-nya dengan baik jangan di bawa, biarkan dia di tempatnya!” Felix turun perlahan ketempat Sophia berada.
Sophia takut mulit Felix memang seberacun itu, kena dihati, “Ma-af.. dia keluar saat aku membuka pintu.”
“NINO!!! NONO…!!!”Felix semakin turun dan mengedarkan pandanganya kesekita tempat gelap dengan hawa dingin akan turun hujan saat ini, diikuti Sophia di belakang, “Nino..” miauww… Ninoo…” Felix pun berbelok ke sisi Gudang bawah Pallezo.
Sophia tuidak menyurutkan langkahnya, ia lebih berani sebab sudah ada Felix, “Nino sayang… kau di mana? Ayo keluar…”
Seketika Sophia berhenti, saat meilhat sebuah ruangan denga pintu sedikit terbuka dan Felix mendorongnya lebar masuk kedalam sana, Felix terus memanggili Kucing itu, mengedarkan pandnagannya kedalam ruangan tamaram dengan lampu kuning untuk pencahayaannya.
Beberapa saat Sophia berhenti didepan pintu yang di tarik daru luar untuk membukanya, takut untuk masuk namun Felix tidak juga keluar dari dalam ruangan itu.
“Apa yang ia lakukan di dalam?” Sophia berpegang pada daun pintu besar terbuat dari besi itu mengintip Felix didalam sana.
“FELIXX!!” panggi Sophia lelaki itu, memasukan kepalanya, namun sama sekali tidak ada suara, hingga membuat Sophia pun memberanikan diri masuk kedalam sana, ia menayunkan langkahnya kedalam ruangan itu, tempat itu tampak seperti gudang, memiliki ukuran yang cukup luas, pencahayaan tamaram, dan timbukan barang-barang yang rapi dan usang.
“Kenapa kau masuk!” tegur Felix saat sudah menggendong kucingnya.
“AAAaa… kau sudah menemukannya, sini berikan pada ku!”
Felix mengelak, “Tidak kau tidak bisa menjaganya dengan baik, seketika Felix jalan duluan mendahului Sophia yang seketika cemberut menekuk wajahnya, mengumpat disana.
“Kenapa aku, aku hanya membuka pintu lalu dia lari, kau fikir aku mau bersusah payah disini.
BRUAKKKKKKKK……Sophia yang menunduk kesal sebab di marahi Felix pun terkesiap, seketikan pintu besi itu tertutup dengan lampu nyang tiba-tiba mati.
“FELIXXXX….FELIX…” Sophia memekik histeris, “FELIX!!!” jantungnya seakan berhenti dan panik, “FELIXXX JANGAN KURUNG AKU!!” Sophia menangis ketakutan, suasana menjadi sangat horror sama sekali tidak ada cahaya disana, dengan hawa dingin dari sinding-dinding tua terbuat dari tanah.
“Berisik!” Lampu ponsel Felix menyala, tampak sosok lelaki itu menggendong kucingnya, Sophia pun berhambur memeluknya.
“Ku fikir kau mengurungku! Kenapa pintunya tertutup?”
“Mana aku tahu, mungkin angin kencang membuatnya tertutup, pintu ini tidak pernah di tutup sebab sangat sulit membuka daun besinya, Sial bahkan lampunya mati,”
Sophia melepaskan dirinya dari Felix, “Kau membawa ponsel, ayo hubungi maintence Pallezo atau penjaga diluar.”
Felix menunjukkan layar ponselnya, “Tidak ada signal…”
“Felix yang benar saja, akan jadi apa kita disini?” tatap Sophia takut.
“Jika kau bisa menjaga Nino dengan baik, ini semua tidak akan terjadi!!” bentak Felix.
Sophia menyesali itu, astaga salah ku lagi, “Aku juga tidak mau Nino lari, Nino kenapa kau nakal sekali!”
Felix seketika pun perlaha duduk melantai, menyandar pada dinding, “Kau yang nakal! Kau membuat kami terjebak disini, kau tidak tahu aku kurang sehat dan butuh istirahat,”
Sophia pun semakin merasa bersalah, ia menunduk, “Kecoa!! Felix kecoak Astaga Kecoaaaaaa!” tIba-tiba saja Sophia berteriak.
“Berisik! Hanya kecoa!” Sophia yang menepi lagi-lagi memajukan bibirnya, namun tempat ini benar-benar membuatnya bergidik, jangan-juangan ada tikus, lipan, atau ular.
“Kau sudah makan Nino?” Felix malah menagcuhkan Sophia sibuk pada anak berbulunya.
Sophia seperti orang bodoh berdiri disana takut untuk melantai, menyeramkan jika tiba-tiba makhluk yang ia takuti muncul, netranya terus mengedar menatap awsa pada ruangan gelap hanya bercahayakan lampu ponsel Felix.
Ciiit….cit…”TIKUS…TIKUS….AAAAA FELIX TIKUS! Sophia menjatuhkan dirinya pada Felix, melihat beberapa tikus-tikus besar lewat, ia menduduki dirinya pada paha Felix berpegang pada leher lelaki itu membuat kucing mereka jatuh dari tubuh Felix
Felix menahan tawa terus bersikap cool, “Sophia kau membuat Nino jatuh! Astaga kau seperti anak kecil saja! Turun dari pangkuan ku!” pegang Felix pinggang wanita itu nenahan Sophia agar tidak jatuh.
Sophia menggeleng, “Ada kecoa, tikus, sebentar lagi ada lipan atau ular...” Sophia benar-benar ketakutan bisa terasa dari getaran tubuhnya, “Aku tidak mau turun, jangan turunkan aku, ku mohon!” Sophia semakin memeluk erat leher Felix.
Felix menahan tawa hanya hal-hal seperti ini yang membuat mereka bersama, semudah itu Sophia di kibuli bahkan ia tidak melihat Felix lah yang menarik pintu dan mematikan lampu disana.
“Mau sampai kapan kau seperti ini?” ujar Felix padahal dia suka Sophia berpangku dan memeluknya seperti ini.
Sophia menggeleng, “Aku tidak akan turun, aku tidak mau turun!... ku mohon jangan turunkan aku.” Lirih Sophia menatap pada wajah datar itu.
Felix bedehem, Memanggil kucingnya untuk datang, sang kucing pun datang, naik ke perut Sopia, Felix pun mengusap-usapnya, mendekatkan wajahnya pada kepala sang kucing, begitu jelas wajah lelaki itu dihadapan Sophia, mencium kepala kucingnya gemas.
Sedetik kemudian Felix menoleh pada wajah Sophia yang melihatnya, wajah keduanya saling beradu hanya jarak beberapa centi, membuat Sophia salah tingkah.
“Tidurlah Nino!” ujar Felix pada sang kucing yang ia tempalkan seketika pada Sophia lalu mengecup sekilas Nino namun mengenai pipi Sophia.
Sophia terkesiap, semanis itu sikap lelaki menyebalkan ini, tapi begitu ambigu dia menciumku, atau kucingnya?
Lelaki ini benar memejam, ia menyandar kedinding seraya menahan tubuh Sophia dengan lengannya, lagi-lagi menahan tawa, atas tingkahnya.
Next»
...Berikan dukungan pada author dengan memberika Like, vote hadiah dan comment ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Nonna Mel
fellix cerdas bgt mencari kesempatan
fellix itu cool dan gentle mkanya shopi,lorence dan serra ser seran klo dkrt fellix haha🤣🤣
2023-12-29
0
Dewi Dina
Felix yang terlalu pintar dan Sophia yang sangat penakut
2023-02-24
0
Fafa Ayyubi
sofia sok jual mahal
2022-06-03
0