Chapter 17

“Sudah bicara mu, sudah? Jadi Kau menganggap aku yang salah?” tatap Felix.

Sophia masih menangis, “Aku tidak pernah bilang kau salah, tidak pernah menyalahkan kau untuk ini, ya aku salah aku salah! Aku yang salah!”

Seperti wanita yang mengemis cinta Sophia terus menggami tangan Felix, “Aku tidaak sanggup—” bibirnya bergetar, “Hati ku sakit melihat kau dan Flo, entah perasaan apa ini tapi aku tidak kuat Felix aku tidak kuat… saat bersama Nick pun sekarang kau dan Flo yang menjadi bayangan ku.”

Felix mendengus, “Kau baru sekarang! Kau baru sekarang merasakan itu, bagaimana aku yang bertahun-tahun Sophia, bagaimana? Kau egois memberikan penolakan yang tidak masuk akal, kau membuat kita berakhir, kau tidak tahu seperti apa keluarga ku sakitnya, kecewanya—Mereka bahkan sudah begitu menyayangimu seperti aku dan Fania, kau tahu adikku itu bahkan mencari mu di Jakarta, tapi sayang kau sudah bersama Nick, Kecewa ya… hanya itu yang dia dapati.”

“Felix— itu terlalu awal, terlalu mendadak, bagaimana bisa aku mengotori keluarga terhormat kalian dengan noda-noda ku, aku bahkan benci dengan hidupku. tentang Nick, kau sendiri tahu orang tua Jullian yang membuat ini, bagaimana bisa aku menolak niat baik wanita yang memohon kebahagiaan untuk ku dan menangisi masa laluku.” Hikss hiks…

 

Sesungguhnya hati Felix sakit melihat Sophia menangis, matanya pun sudah berkaca-kaca bercampur perih dari air hujan yang lolos deras ke matanya.

Satu langkah Felix maju menarik Sophia,

“BABY…kau dimana?”teriak suara Florence di depan kaca mobil.

Sontak saja membuat Felix menarik cepat tubuh Sophia ke sisi mobil lain segera berjongkok.

“Sophiaaa!! Feliiix kalian di dalam?” Intip Florence jendela gelap itu memegangi payungnya. “Felixx!! Oh Tuhan kalian dimana?”

Keduanya berjongkok, Felix memasukan Sophia kedalam pelukannya berusaha membuatnya tidak tersirami hujan secara langsung, satu telapak tanganya mengusap air mata di netra Sophia.

Sophia sedikit menepis, “Bangkitlah temui dia, dia mengkhawatirkan mu.”

Felix menggeleng, “Kita bangkit bersama.”Bisik suara serak itu.

Sophia sudah bertekad dengan dirinya akan mengakhiri ini, dia pun bangkit membiarkan Felix masih berjongkok, lelaki itu menatap pada punggung Sophia, dalam keadaan seperti ini Felix tidak mungkin mengejar Sophia akan sangat bahaya untuk Sophia sendiri.

Masih terus mengetuk-ketuk kaca mobil seraya mengedarkan pandangannya kesekitar Florence tiba-tiba terkesiap melihat Sophia yang muncul dalam keadaan sudah basah kuyup.

“SOPHIA!” Teriak Florence seraya berjalan mendekat memayungi. “Kenapa hujan-hujanan, Sophia?”

Sophia meraup wajahnya seraya tersenyum, “Tadi aku mencarimu.”

“Ya Tuhan, aku juga mencari mu, juga Felix dia kemana?”

Feli memutar ke arah lain, memeluk dirinya berlari ke arah mobilnya, “Ayo masuk, kita pulang sekarang!” teriak lelaki itu seolah tidak terjadi apa-apa.

“Felix astaga baby, kau juga basah-basahan!”

Felix siap masuk menatap pada keduanya, “Aku menunggu kalian sedari tadi, ayo pulang sekarang!”

“Tidak! Kita menginap di sini malam ini,” Flo membuka pintu mobil meminta Sophia memegang payung, Ia pun mengambil tasnya didalam sana.

“Flo aku tidak bisa!” Felix enggan sebab dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Sophia.

Ia melihat ke arah Sophia, wanita itu sudah enggan menatapnya, hati Felix sakit, ia tidak suka melihat ini, dia lebih baik di benci Sophia dari pada harus melihat dia sakit seperti ini.

“Baby please! Sekali ini saja kau menuruti keinginan ku, kau basah, Sophia juga, perjalanan kembali membutuhkan waktu 1 jam lebih aku juga tidak ingin sakit sekarang sudah basah, kau selalu membawa pakaian cadangan di mobil bukan? Ku mohon menginaplah malam ini disini.”

Sophia tidak lagi peduli apapun itu ia tidak biaa berkata apa-apa sebab dia hanya seperti pemain cadangan saat ini, keputusan ada ditangan Flo dan Felix.

...•••...

Akhirnya mereka pun menginap disana dengan Felix yang terus berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki masalahnya bersama Sophia.

Sebuah kamar type biasa mereka tempati malam ini bertiga, semua kamar penuh menyisahkan satu itu, dan itupun sebab ada seseorang yang membatalkan bookingannya, Ada banyak tamu-tamu yang menginap disana karena hujan yang cukup lebat di tambah jalan menuju kembali terbilang sulit.

Ketiganya sudah mengeringkan tubuh dan mengganti pakaian, ini menjadi hal aneh untuk Felix berada di dalam kamar bersama kekasih dan juga wanita yang penting dihidupnya.

Sophia benar-benar menghindari Felix dia sudah naik ke atas ranjang memeluk sebuah selimut tebal memejam disana, sementara Flo menyibukkan dirinya melakukan perawatan kulitnya.

Tidak ada yang mewah di kamar itu selain ranjang deluxe, bangku kecil dan sebuah televisi di dinding, sudah berkali-kali Felix berniat turun dan tidur di mobil, namun ia menahan trus berharap ada celah bisa bersama Sophia.

“Tidur ayo!” ajak Flo spontan.

Felix yang sedang menghisap rokokelektriknya terkesiap, “Tidur?”

Flo mengendik, “Ayo tidur, tidak ada apapun di kamar ini, dimana lagi mau tidur jika tidak diranjang, ini cukup besar untuk kita bertiga, yang pasti aku di tengah.”

“Omong kosong, aku akan tidur di mobil!”

“Tidurlah disini, kau terlalu naive! Ayo naik Felix!”

Felix mengendik, “Terserah, aku tahu cara apa yang harus aku lakukan.” Acuhkan Felix, Florence kembali menghisap benda elektriknya.

“Humm.” Flo tahu Felix pasti akan menolak itu, Flo pun mendekatkan dirinya pada Felix, seketika duduk di pahanya melingkarkan kedua tangannya pada leher Felix, siap.melahap bibir Felix.

“Flo! Tidurlah,” elak Felix mengalihkan wajahnya.

Ada netra yang menangis di tempat, dengan bayangan memuakkan dari kaca pintu toilet di hadapannya, lelaki itu dipeluk, Flo bebas dengannya.

“Aku mau kau, ayolah…”

Seketika Felix meletakkan barang-barang miliknya, kemudian membuat Flo bangkit, “Aku mau tidur!” Ia pun menepi di sisi lain ranjang membelakangi tubuh Sophia, membuat Flo terkekeh.

“Akhirnya kau naik juga.. “

Tuhan aku mau tidur… ku mohon….bawa nyawa ku cepat terbang dari sini…

Tidur bertiga, dengan lelaki yang kau tangisi dan kekasihnya, dada ini begitu panas, apalagi membayangkan Florence memeluk Felix, sentuhan-sentuhan permukaan kulit merek saling menghangatkan.

Sebuah senyuman terukir pada bibir Sophia, anggaplah ini kado terindah, bukankah? melupakan itu butuh sesuatu yang sakit sebagai tamparan kuat supaya bisa hidup lebih baik.

Sophia pun menutup matanya dengan bulir bening yang lolos ke pipinya, “Hah aku bahagia untuk mu Felix.”

...•••...

Beberapa jam berlalu, Felix terjaga oleh pergerakan Florence yang turun dari ranjang, dan terdengar masuk ke dalam kamar mandi.

Felix yang tadi benar terpejam pun menoleh, Ya benar Flo masuk ke kamar mandi, Felix hanya bisa melihat punggungnya, punggung dari hati yang membuat tubuh terpaksa menahan pergerakan apa lagi berbalik.

Tidak lama Flo pun keluar, ia tampak memejam seraya berjalan, tiba-tiba dia yang siap naik ke ranjang pun menggeser Felix, membuat lelaki itu beringsut ke tengah dan nyaris mendekati Sophia.

Flo kembali memejam, setelah berhasip membuat Felix di tengah, lelaki itu pun tertaea menahan bisa-bisanya dia mendapatkan kesempatan tidur tanpa jarak bersama Sophia.

Felix pun bergerak pelan sekali menarik sebuh bantal membuat pembatas di kepala Flo, “Hey baby, terimakasih.”

Seketika Felix pun berbalik, ia mendekat pada Sophia, mengusap pada rambutnya, Sophia. Cepat sekali tersadar, dia pun langsung berbalik, menatap wajah yang tersenyum itu.

Pertanyaan bagaimana bisa terjadi pun tertahan, Ia terlanjur sakit, Felix terkekeh pelan. “Flo menggeserku sampai sini.”

“Menjauh dari ku!”kesal Sophia.

Felix seketika menyentuh bibir Sophia dengan jemarinya, mengisyaratkan kan diam, namun Sophia sudah kembali tersayat ia kembali memejam merasakan perih lagi, bersiap acuh.

Felix pun memainkan jemarinya pada pipi Sophia, mengusap kelopak matanya, alis hingga kini dagu, “Maafkan aku,”ucap suara serak itu, Felix bergeser lagi membuat tubuh. Keduanya pun kini tanpa jarak.

“Lepas!” ujar Sophia tanpa suara, kau membuat bahaya.

Felix menggeleng ini, jelas saja menjadi kekhawatiran untuk Sophia, lelaki itu sudah malai sangat berani bahkan dia tidak takut akan Flo.

Sophia menepis kasar,  baiklah dia saja yang pergi, ia pun memutuskan ke toilet, meninggalkan Felix tanpa melihat wajahnya.

Sophia pun masuk kedalam sana, matanya begitu mengantuk, ia pun menarik banyak handuk didalam kamar mandi, ia akan melapisi bathup tua besar disana dan tidur didalamnya.

Tidak lama Felix pun membuka pintu, shit padahal sudah di kunci umpat Sophia, “Keluar aku mau tidur!” tunjuk Sophia bathupnya.

Felix dengan santai melangkah semakin mendekat setelah mengunci pintu, ia menyeringai lebar membuat Sophia mundur.

“Jangan mendekat! Jangan cari masalah dengan ku, aku bahkan tidak pernah mencampuri urusan mu!”

Felix tersenyum, “Maka kita akan mencampuri itu malam ini.” Tatapan Felix penuh arti, seketika ia memeluk Sophia. “Jangan pergi,” bibir iblis itu pun berucap lembut. “Ku mohon.”

Lihat reaksi tubuh Sophia, ia tegar tidak membalas pelukan Felix yang sudah memeluknya semakin erat, “Aku mungkin akan cepat meminta Nick menikahi ku, dan belajar mencintainya, maaf jika beberapa waktu ini aku merepotkan mu.”

Dada Felix memanas, “Tidak ada Nick atau siapapun, hanya ada kau aku!”sanggah Felix.

“Omong kosong, bukan urusmu!” lantang Sophia. “Kau bukan saudari, keluarga atau siapapun untuk ku, tidak ada yang terikat oleh kita!”

Felix kesal, seketika ia menarik tubuh Sophia mendekat seraya menarik pakaiannya, “Maka malam ini kau akan terikat olehku luar dalam?”

“Felix pakaianku!” Felix benar-benar menahan Sophia ke dinding dan melepaskan pakaiannya begitu cepat, “Feliiix kau sudah tidak waras?

Sophia memberontak, namun sentuhan tangan-tangan itu membawanya terbang,”Feliiiix—”ujar Sophia saat pinggulnya di remasi Felix seraya bermain di leher Sophia

Lagi-lagi dia seperti wanita gampangan saat bersama Felix, bulir beningnya mengalir deras, “Aku akan teriak!”

Felix melepaskan kecupan-kecupannya, menatap Sophia, “Lakukan jika kau Berani.” Kini wajah lembut Felix menatap lamat-lamat wajah cantik Sophia, seketika ia pun memiringkan wajahnyanya beraksi lagi, meluumat habis bibir Sophia melepaskan celananya,

“Felix! Jangan! aku sakit kelamin!”dorong Sophia.

Felix menyeringai, “Kau mengulangi tipuan bodoh mu lagi, tidak akan mempan, cara lembut sudah tidak mempan menahan mu, maafkan aku jika ini harus terjadi? maaf jika kau akan hamil anakku, jangan mimpi Nick akan bersama mu, sekalipu Dominique membunuhku, tidak akan pernah” Felix mulai bermain dengan bibirnya lagi, bergerilya kasar dengan tangannya satunya yang tidak mengunci, kini Sophia hanya bisa mengeluarkan air mata merasakan tubuhnya di tahan.

kau murahan Sophia, tetap murahan…

 

.

.

.

Next »

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Next »

Terpopuler

Comments

Juwita Maimunah

Juwita Maimunah

aku ga pernah bosan baca novel ini bertahun2 aku lup aku ulang baca lagi

2025-01-31

0

Herlinawati Ana

Herlinawati Ana

dan akhirnya Dede bayi jadi Solusi 😁

2025-02-11

0

Nonna Mel

Nonna Mel

fellix gg ad takutnya tapi aq suka 🤣🤣

2023-12-29

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 80 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!