Sophia tidak menyandar ia duduk tegak, dengan tangan yang masih melingkar pada leher Felix supaya tidak terjatuh, kedua kaki di tekuk tidak ingin turun ke kelantai saking takutnya pada kecoa dan binatang-binatang dibawah sana.
tidak tahu apakah lelaki itu tidur atau tidak yang pasti lengan kokohnya disebalik punggung Sophia menahan sangat kuat, sialnya Sophia tidak berani melihat pada wajah di hadapannya, yang ia lihat malah pandangan gelap disana, juga anak berbulu mereka yang memilih tidur melantai.
Bukan Felix jika tidak membaca gesture lawan, “TIDUR atau tidak turun dari pangkuanku!” tarik lelaki itu kepala Sophia untuk menyandar pada dadanya.
Sophia tersandar pasrah papa dada Felix, jantungnya berpacu sangat kencang, seakan ada yang mengalir deras pada tubuhnya, tapi Felix biasa saja entah mungkin dia punya alat pengendali jantung sebab padahal dia merasakan bahagia rasa yang berkecamuk bahagia namun tetap saja tenang.
Sophia berusaha memejam, kini menurunkan tangannya pada leher berpindah pada tubuh lelaki itu tanpa memeluk, nyaman itu yang palong mendominasi perasaan Sophia saat ini, ia benar-benar terpejam.
Bisa Felix lihat netranya yang menutup tenang tanpa pergerakan, barulah tangan Felix terangkat melonggarkan dirinya untuk kemudian memeluk wanita itu dan ikut memejam, sialnya perasaan itu semakin dalam Felix rasakan ia menjadi semakin egois untuk tetap bersama meski kemungkinanoitu sulit.
Dagu Felix menempel pada kepala Sophia, sedikit ragu ia kecup kepala lembut tudak ingin membuat sang pemilik raga terjaga, “Kenapa kau mencium ku lagi!” sekak Sophia membuat oukulan itu menyadarkan Felix.
Astaga memalukan bagaimana bisa dia sadar, “Turun! Memalukan sekali mana mungkin aku melakukan hal-hal seperti itu, kau yang menyandar padaku, bagaimana bisa saat aku bergerak kata mu aku menciummu!”
Sophia menggerutu dia mana mungkin mau turun tapi dia tidak bodoh jelas sekali lelaki itu memeluknya, Sophia berdehem, tidak ingin berdebat, ia memilih tidur lagi, namun ia lihat tanga Felix kini memeluk jelas, sudah lah Sophia terlalu lelah berdebat.
“Tadi aku pemotretan besama Ibunya Nichk.” Sophia yang tidak bisa tidur pun memulai cerita,
Felix mendengus, “Bagus, tapi jik aku jadi Nick aku tidak akan membiarkan calon istriku seperti itu, mengekspose tubuh mereka, aku tidak suka berbagi,”
“Florence!” tembak Sophia, sepertinya Felix sedikit amnesia, atau mungkin ia terbawa rasa tidak sykanya melihat Sophia berpose-pose indah disana.
Felix tersadar dan dia kini merasa tersiram comberan, memalukan sekali bagaimana dia bisa lupa Florence adalah seorang model, “Ah.. iya dia— itu memang sudah profesinya, aku juga sudah sering melarnagnya tapi tidak bisa melarang yang sudah menjadi dunianya,” Elak Felix.
Sophia memajukan bibirnya, sedikit tidak suka, “OH, baguslah!”
“Tidur Sophia, jangan ajak aku bercerita!”
Sophia pun mengangguk, lalu menyandar lagi pada dada lelaki itu, haruskah ku katakana ini sandaran dan tidur ternyaman, Sophia mengulum senyum, sesekali dia mengingat Nick apakah saat ini dia sedang menghubyngi ponselnya, dari seharian Nick tidak menghubungi apakah sesibuk itu?
Maaf Nick maafkan aku, terkadang Sophia merasa bersalah namun ia percaya dia dan Nick akan menikah, Felix hanya sekedar ornag di masa lalunya, dan hubungan ini hanya kedekatan tanpa menjurus ke sebuh ikatan apapun.
Rasanya Felix tidak ingin pagi cepat datang, ia masih menikmati moment ini, melihat wajah cantik itu tidur, wajah polosnya yang selalu saja lemah dan mudah sekali terkecoh olehnya, tangan Felix terangkat ia mengusap-usap pada rambut Panjang Sophia, memberikan rasa nyamannya, membuat Sophia pun semakin tenggelam dalam tidurnya.
Namun langit terang sudah naik kepermukaan, meloloskan cahayanya lewat celah-celah Gudang disana, Felix pun terjaga, ia ada pekerjaan pagi, kesuatu tempat memeriksa sebuah pusat perbelanjaan yang disana yang sedang dalam masalah.
Tapi dia yang sudah pegal memangku Sophia, rasanya tidak ingin membiarkan dia terbangun, hanya dialah satu-satu wanita yang mampu memebuat Felix suka mengulur waktunya, di mengulur waktu lagi membiarkan Sophia tidur dan terbangun sendiri seraya puas-puas memperhatikan wajahnya.
Beberapa menit kemudian Sophia pun terjaga, ia mengusap pada bibirnya yang terbuka mngedar kesekliling, sudah terang Sohia pun melompat pada tubuh Felix.
“Sudah siang…”ujarnya terlonjak bangkit
Felix pun berangsung bangkit memebersihkan punggung celananya yang kotor, “Sudah siang dua kali, ayo keluar! Terserah jika kau tidak mau!”
Sophia terkesiap, “Kau sudah minta tolong orang lain untuk membuka pintu? Pukul berapa dia datang menolong,?”
Felix melengos begitu saja tidak mengindahkan Sophia berbicara dengan mudahnya dia menarik pintu dan terbuka, membuat netra Sophia membola.
“Terbuka? Katamu tidak ada yang bisa membukanya? Kau berbohong, kau mempermainkanku sengaja membuat ku berlama-lama dan terjebak bersama mu disini!” Sophia merasa kesal telah di kerjai, “Kau berengsekk Felix, kau berengsekkk!”
“Sssst!” Felix memerintah Sophia diam, “Kapan aku menjebakmu, kau yang terlalu lama bangun, seseorang sudah sedari tadi membuka pintu, tapi kau tidur seperti orang mati.”Jelas Felix tidak mau kalah.
Sophia menarik nafasnya, dia kurang yakin akan tetapi tidak mungkin untuk tidak percaya, untuk apa juga Felix menahannya di sini dan tersika memangkunya semalaman didalam sana.
“Dasar tidak tahu berterimkasih!” celetuk Felix seketika membungkuk mengambil Coco kemudian keluar dari sana.
Sophia tertampar, ia pun mengikuti Felix dari belakang, “Felix tunggu!” panggilnya.
“Tidak perlu meminta maaf aku tidak perlu maaf dari mu! Kau sudah sering melakukannya!” Felix menyindir Sophia seakan membuka lagi kisah lama dia yang menolongnya membawa Sophia ke Desa.
“Felix— aku rindu kau…” ucapan tulus itu lolos tak tertahankan dari bibir Sophia.
Membuat langkah Felix yang menaiki undakan tangga berbatu menggendong Coco pun berhenti.
“Aku rindu kau…terserah kau ingin mengatakan aku tidak tahu malu, aku menjijikkan mengatakan ini pada lelaki yang memiliki Pasangan tapi sungguh aku rindu kau, aku sudah tidak kuat lagi berbohong… “lirih Sophia menunduk.
Kau tahu ini rasanya seperti apa? Seperti kau sedang berada di gurun pasir dan kau menemukan satu gelas air dingin di tengah-tengah teriknya tempat itu.
Sedetik kemudian langkah Felix berbalik, Ia membawa paksa Sophia masuk kedalam gudang itu, bruakk...membuat pintu kembali tertutup.
Felix terharu akhirnya bibir angkuh itu mengungkapkan rasanya, “Katakan sekali lagi!” Felix membuat Sophi berdiri ke dinding menatap-nya dalam dan serius, “Katakan Sophia!”
Sophia menatap lemah pada netra yang menegas itu, seketika ia memeluk tubuh di hadapannya, “Aku rindu kau…”Sophia menempel pada dada Felix yang sedang bergemuruh, memeluknya lebih dalam dan melingkarkan erat tanganya di sebalik punggung Felix.
Aku tidak sad boy, tidak!
Tapi nyatanya sekeras apapun hidup dan lingkungannya lelaki juga bisa luluh pada wanita yang ia cintai, Felix berkaca-kaca ia pun menyambut tubuh Sophia, ia menarik nafasnya dalam seakan tidak percaya Sophia mengutarakannya.
Felix terus mendekapnya, menenggelamkan dia didadanya, lelaki itu menempel pada ceruk Sophia meresapi aroma-aroma khas pada pundak wanitanya.
Hati bertaut pada tempatnya, tapi lupa akan situasi semestinya, keduanya menepiskan apapun yang tengah mengikat dan terikat.
”Jangan lepaskan! Jangan lepaskan Sophiaaa, ku mohon!” Ujar Felix benar-benar tidak ingin moment ini berakhir.
Sophia menggeleng ia pun tidak ingin melepaskan tubuh ini, seakan saling memiliki, ia begitu merindukannya, ingin terus seperti ini mengaliri rasa yang telah lama keduanya pendam dan membuat tersiksa.
Next »
...Berikan vote, like, hadiah dan komentar.....
Lagi.... 🤭 ⤴️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Nofta Putri
kalo sopia,ama felix,ku mohon thoor jangan ada masalah di antara keluarga nicko ,sopia,felik,dan anggota lain ny ,,pliiizz/Frown//Frown/
2024-04-28
0
Nonna Mel
nah kan fellix langsung sosor klo sma shopi ayo shopi fellix klisn hrus berjuang utk cinta kalian
2023-12-29
0
Cucu Ulpah
ayo perjuangkan cinta kalian berdua felix❤sofia
2022-10-15
0