Acara Fashion show sedang dimulai, Sophia mendapatkan tempat di barisan depan sementara Felix dan Florence di sisi belakang bagian tamu vvip yang sama, Sophia sangat bersyukur dia berada didepan jadi dia tidak perlu melihat apapun yang di lakukan kedua orang di belakang sana, yang ada malahan dia yang menjadi pemandangan keduanya sebab berada didepan.
Musik-musik mengiringi langkah para model yang berlenggak-lenggok indah di catwalk, tepuk-teput tangan memriakan acara di tepian pantai yang di sulap menjadi tempat menakjubkan itu, berada di antara para model, tamu-tamu terhormat dunia fashion hingga beberapa pengisi panggung hiburan, Sophia bersikap setenang mungkin walaupun rasanya ia sudah siap berlari dari sana sebab tidak percaya diri.
Hingga di beberapa menit kemudian salah seorang lelaki di sebelah Sophia tampak menyapa berbasa-basi padanya, lelaki dengan setelan jas hitam berdasi pita itu mengulurkan tangannya dan Sophia pun, dengan senang hati Sophia pun menyambutnya.
Sudah jelas Felix tidak menyukai acara semacam ini, sedari tadi saja dia sudah terus menjadikan Sophia sebagai sorotannya, apa lagi saat ini Sophia berbincang dengan lelaki itu, Felix menarik nafasnya berat bersikap setenang mungkin padahal rasanya udah kesal.
“Barbara benar-benar berbakat ya, kau lihat design dari tangan-tangannya biasa saja namun menjadi sangat luar biasa jika sudah sampai sini.”
Felix bedeham, netra-nya masih terus memantau Sophia, tidak telalu menghiraukan Florence yang terus menatap ke panggung membahas itu dengannya, hingga di menit berikutnya Sophia bangkit, entah akan kemana, dia keluar dari celah khusus untuk keluar, sedetik kemudian lelaki yang berada di sebelah Sophia tampak mengikutinya beberapa jauh di belakangnya.
Fikiran Felix seketika berfikir buruk, menerka-nerka akan kemana dia dan kena lelaki itu mengikutinya, Felix pun kemudian bangkit, membuat Florence terkesiap, “Baby mau kemana?”
“Aku akan ke toilet, tetaplah disini.” Sohia pun memberikan anggukan, membiarkan Felix pergi ke arah penginapan yang berada di depan pantai.
Sophia mengkah pelan di pasir-pasir itu dengan belum menyadari lelaki yang tadi mengikutinya, hingga lelaki itu menyapa Sophia dan membuat berbalik, “Anda akan kemana,nona?”
Sophia berbalik melengkungkan senyuman, “Hi, aku akan ke toilet, kenapa?” Percakapan keduanya membuat sorotan mata Felix menajam.
“Toilet ada disebelah sana!” tunjuk lelaki itu, “Jika anda mau saya akan menghantarkan.”
“Ah tidak, saya tidak mau merepotkan.” Tolak sopan Shopia.
“Ayo, saya sama sekali tidak keberatan—”
“MOMMY! teriak seorang lelaki beriringan tangisan seorang bayi yang begitu pecah pada gendongan lelaki itu, membuat Sophia dan kenalan barunya menoleh. “Ayo kembali, anak kita ingin menyusu, aku tidak tahu kenapa di begitu rewel.” ucap Felix, seketika memberikan bayi yang menangis itu pada Sophia, membuat wanita yang terperangah itu dengan pasrah menerima dan menggendongnya.
“Felix—”
“Ayo kita kembali, kau lihat asimu sudah tumpa-tumpah.” Ucapan spontan Felix menatap dada berisi Sophia, terdengar menggelikan untuk lelaki yang baru Sopia kenal itu.
Dalam situasi berisik tangisan bayi dan kebingungan Sophia lelaki itu mengangguk dan izin pergi seketika, sepertinya ia salah berkenalan dengan wanita.
Sophia menatap pada lelaki yang berlalu itu juga bergantian pada Felix yang menahan tawa puas,“FELIX! ANAK SIAPA INI!” pekiknya
“SUSUI cepat!” Ucapnya terkekeh.
Sophia menggoyang-goyangkan tubuhnya berusaha mendiamkan bayi itu, entah siapapun bayi ini semua wanita pasti akan reflek mendiamkan jika menghadapi bayi dalam gendongannya menangis. “SUSUI APA! DADAMU yang bersusu! jangan bercanda!” Sophia mengeram.
“Susui moomy!” lelaki itu masih saja tertawa dengan puasnya.
Tatapan Sophia menajam, “OH AKU TAHU! Kau sengajakan! Iya sengaja karena lelaki tadi dekat dengan ku, kau iri bukan?” Sophia mengulas cibiran.
“IRI??” Felix semakin terkekeh. “Untu apa aku iri pada mu, kau fikir kau siapa?”
“KAU munafik! Jelas-jelas kau iri, iri kan melihat ku bersama lelaki lain akan ke toilet, kau iri aku tahu! Kau mencemburuiku… jika saja tadi kau tidak datang aku dan dia pasti sudah bersenang-senang di toilet!” ucap Sophia menyeringaikan cibiran.
Seketika tawa Felix memudar, dia menarik tangan Sopia seketika, “Aku bukan lelaki bodoh yang mudah kau panasi dengan ucapan mengarang mu! Kau sudah pernah berbohong seperti ini gantilah yang lain!” Felix menatap tajam dengan tangan Sophia yang di pereratnya.
Sophia tertampar, Felix mengingat kebohongannya dulu tentang ayahnya dan dia, tidak menimang Felix mengambil bayi tadi dari gendongan Sophia kemudian menarik paksa tangan Sophia untuk cepat mengikutinya entah kemana, hingga sampai ke sebuah restoran, Seorang wanita mendatangi Felix seraya tersenyum mengambil anaknya, Felix berterimkasih, kemudian menarik lagi tangan Sophia yang masih terperangah.
“Aku akan ke toilet, kau mau membawa ku kemana?”
“Bersenag-senang!” ucap Felix santai menggiring Sophia keluar dari resto dan kini menujur ke tempat parkiran, membuat Sophia bingung, terus menarik-narik tangannya, “SaKit Felix, kau mau apa? kita bisa dilihat Flo seperti ini!”
“Masuk!” pekik Felix mmebuka pintu kabing penumpang.
“Acaranya belum selesai, aku akan kembali kesana!”
“MASUK KATAKU SOPHIA!” bentak Felix lagi, membuat Sophia bergidik ngeri saat suara dan tatapan iti menegas, mau-tidak mau Sophia pun masuk ke dalam mobil, menjatuhkan tubuhnya pasrah disana. “KAU DI HUKUM, TETAP DISINI SAMPAI AKU KEMBALI!”
Bruakk…
“FELIX! Felix!” Sophia berusaha membuka pintu aka tetapi ia tidak berhasil, ia benagkit kdepan mencari tombol untuk membukana, namun tetap tidak bisa Felix membuat Mobil menyala namun entah bagaimana ia mengunci pintunya tanpa bisa Sophia buka di dalam sana.
“Apa sih maunya, kenapa dia hobby sekali menyiksaku! Sementara dia bebas bersenang-senang bersama Florence, mereka bermesraan, bercerita membahas keseruan dia disana dan aku, sial aku adalh tunangan seseorang, calon menantu bosanya, bagaimana bisa di seperti ini.” Arghhhh Sophia menggeram memukul-mukul pintu mobil.
Ia benar-benar merasa seperti peliharaan, salah…ini seperti budak wanita yang tidak di bebasakan haknya, Tidak ada hal yang lain yang bisa Sophia lakukan selain pasrah menunggu nmereka kembali kesana.
Seketika Sophia melihat pada kaca, lelaki yang bersamanya tadi berlari-lari masuk kedalam mobil, dia tampak memegangi bibirnya yang lebam biru dan berdarah, sontak saja Sophia shock, ada apa dengan lelaki itu.
“ASTAGA! Apakah si lelaki tidak waras itu yang melakukannya, ya Tuhan, aku hanya bercanda, bukankah kau tahu aku bercanda bagaimana bisa dia melakukannya.” Dari sisi yang jauh kini terlihatlah Felix disana lelaki itu berjalan membawa kantung belanjaan menuju mobil.
Sophia seketika memasang sikap pura-pura tenang dan acuh, kembali duduk dengan santai didalam sana, hingga semenit kemudian Felix datang membukakan pintu, “Minumlah!” berikannya bungkusan itu pada Sophia.
Seketika Sophia tersulut. Menatap sebal Felix, “KAU APAKAN LELAKI TADI, Felix!”
“Bukan urusan mu, cepat minum dan makan rotinya!” perintah Felix memilih berdiri diluar menatap pad sekita pinggiran laut beratapkan langit malam yang terang.
“Itu menjadi urusanku, kau kan sudah tahu aku hanya bercanda!” jujur Sophia kemudian.
Felix menyeringai, “Dan ak pun hanya bercanda, jangan di fikirkan, lagi pula kau tunangan anak dari bos ku, aku hanya menjaga mu, tidak lebih, sebaiknya kau janagn terlalu percaya diri, dan berfikir aku melaukan itu karenamu.”
Sophia menyeringai, “Oh ya ku fikir kau tidak sadar.” Ucap Sophia seraya melesap minumannya, namun jika seperti ini dia menjadi bingung, benarkah sebab Nick dan Dominique, hemmm ya benar! Dia bahkan tampak bahagia bersama Flo, astaga Sophia apa yang di fikiran mu selama ini.
Sophia merasa kelu memendam sakit, mengalihkan wajahnya ke sisi jendela lain seraya menelan minumannya yang mendadak terasa sakit saat ia telan, ternyata perih ya…ketika pernah menolak untuk bersama lalu ketika orang yang sudah kita buat kecewa itu memilih kebahagiaannya sendiri, memalukan.
“Pergilah! Flo mencarimu! Aku tunggu kalian disini.” lihat Sophia pada jendela mobil sisi pantai.
Felix tidak mengindahkan dia tetap berdiri diluar sana bertumpukan kedua tangannya di atap mobil, keduanya melihat pada deburan ombak yang sama dari sisi lain saling tidak menjawab lagi.
Apa yang sedang di kejar ombak kenapa dia begitu sangat sibuk berkejar-kejaran? Padahal tepian pantai tidak pernah pergi atau berlari darinya, apakah seperti kita padahal terikat dihati yang sama dan tak mana-mana namun selalu saja berhadapan dengan ketidakjelasan ..
...•••...
1 jam berlalu, acara fashionshow itu baru saja selesai setengah jam lalu, kini Florence sedang berada di lobby sebuah penginapan disana, di menunggu dan berteduh dari hujan yang tiba-tiba saja deras saat ini, entah dimana Sophia dan Felix diterus menghubungi keduanya, apakah mereka juga sedang berpencar dan berteduh.
Di sebuah tempat parkiran di dekat pantai Sophia dan Felix sudah masuk dalam mobil, keduanya menunggu Florence disana, tidak ada percakapan apapun anatara keduanya Sophia memilih memeluk dirinya menatap pada hujan sementara Felix mengedar melihat kesekitar mencari Florence.
“Khawatir? Turun jemput dengan payung mu.” Sindir Sophia, tahu Felix memperhatikan siapapun yang berlari-lari ke parkiran.
Rasanya aku ingin keluar berhujan-hujanan, berteriak, berlari di tepi pantai, rasanya aku benci keadaan ini padahal semuanya sudah berhenti tapi kita di pertemukan lagi, malah dengan rasa ku yang berlebih saat ini.
Seketika Felix pun turun, Sophia mencelus melirik sekilas pada dia yang keluar, Ya…Felix benar menghkhawatirkan Florence, sebuah senyuman terukir pada bibir Sophia dengan kilatan panas yang menyayat ke hati.
Saat Felix turun akan menjemput Florence sudah membawa payungnya, Sophia pun turun, beberapa puluh meter Felix mendengar suara Sophia yang menutup pintu, Felix pun berbalik, melihat Sophia membawa tas-nya keluar hujan-hujannan.
Felix pun membatalkan rencananya menjemput Florence, malah berbalik emngejar Sophia. Wajah lelaki itu menegas seperti biasa, dengan langkah yang cepat mengejar Sophia ynag entah akan kemana.
Jika orang lain berada di posisiku akankah merasakan yang sama? Aku mejadi orang ke tiga di antara mereka berdua, mundur di tarik, maju pun sulit, Seketika Felix berhasil mencekal tangan Sophia, dan menarik kasar tubuhnya hingga berbalik.
“Apa yang kau lakukan, kau kenapa hobby sekali membuat masalah!” lelaki itu bediri memayungi,
Sophia menatap tajam,” Apa aku hanya ingin pulang, masalah apa yang aku cari!”
“Omong kosong jangan membuat repot dirimu hanya karena kau cemburu pada Florence, aku hanya bersikap sewajarnya, dia pergi bersama ku, di seorang wanita, apa mungkin aku meninggalkan dia yang entah dimana, bagaimana jika dia kenapa-kenapa.”
“Cari saja! Cari!... aku tidak ada urusan dengan mu, aku hanya ingin pulang, masalahnya dimana? Ini tidak ada urusannya dengan cemburu, persetan antara kau dan Florence!” Sophia mengehmpas payung Felix yang memayunginya, payung pun tejatuh membuat keduanya tersiram basah. “Terserah, untuk semua yang disini, aku akan segera kembali, tadinya aku benci melihat kau lagi, tapi setelah ku lihat kau sudah bahagia, ya aku rasa semua sudah jelas, aku tidak perlu lagi merasa bersalah, ternyata memang semesta pun tidak membuat kita bersama meski sudah ada kesempatan kedua.”
Sophia menyeka airmatanya, si angkuh itu pun menangis di hadapan Felix tidak ada jiwa setegar karang, tidak ada tembok kokoh yang seolah kuat itu, kini ia harus meluapkanya, Sophia harus benar mengakhiri ini hubungan rumit ini, sebelum semua pecah dan membuat kacau semuanya, Felix diam tidak begeming menatap pada wanita yang memangis itu.
“Aku tidak lagi ingin disini, aku berat, ternyata aku tidak cukup kuat meliat ini, aku akan pulang biar aku tunggu Nick disana, atau mungkin mengkhiri semunya.” Satu tarikan tangan Felix yang kuat melemah, dan Sophia pun mengambil tangan lelaki itu, seraya tersenyum, “Kau lelaki hebat, kau lelaki baik, kedua orang tua mu membentukmu dengan baik, mungkin memang Tuhan memantaskan jodohmu, bukan dengan ku,” Sophia masih menggenggam tangan Felix, tanpa menyurutkan air matanya, seraya tersenyum. “Kau pantas besama Flo, menikahlah seperti rencana awal kalian, jika nanti ada pertemuan ketiga ke empat, semoga tidak akan ada hal-hal seperti ini lagi, ku harap kita berdua sudah biasa saja saling sapa, membahas keluarga, tanpa pernah terselipkan lagi sebuah rasa di dalamnya.
Next »
...📢Berikan Like, vote hadiah dan comment...
...(Wajib😂)...
...MinalAidzin walfaidzin yaa guys, maafkan aku yang sengaja atau tidak disengaja...
...🌼🌼🌼...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Herlinawati Ana
🤣🤣🤣dpt dr mana kw bayi itu felixleo🤣🤣
2025-02-11
0
Dewi Nurmalasari
wkwkwkw ngakak felix otaknya sengklek
2024-02-04
0
Nonna Mel
terlalu sulit egonya pada besar" pdhl sling cinta tpi udh punya pasangan masing" tapi aq yakin "CINTA AKAN MENEMUKAN JALANNYA"
Felli klo km bneran syang ma sophi ayo perjuangkan sblum sophi dan nick memasuki altar
2023-12-29
0