Serra meminta Nicko mengambilkan mereka minuman, lelaki itupun segera bangkit mengusap pada rambut sang kekasih berjalan cepat menuju ke bar, tiba-tiba saja ia berhenti lelaki dengan celana pendek dan kemeja santainya itu terkesiap.
“Felix, kau sudah disini.” Tegur Nicko pada Felix yang duduk di bangku barnya,” Nicko tertawa. “Kenapa kau tidak memangil kami, sudah berapa lama kau disini?”
Felix melesap kembali vodkanya kemudian menyringai, “Tidak perlu sungkan lanjutkan acaramu,” Jawabnya santai.
Nicko pun memesan beberapa botol anggur kemudian siap kembali sudah membawa beberapa minumannya,“Bergabunglah bersama, acara ini milik teman ku, dia berbulan madu di sini.”ujar Nicko.
Seketika Serra bangkit ingin membuat pesanan tambahan, namun tiba-tiba saat ia melihat kearah belakang netranya membola ia menutup mulutnya, “FELIX? di disini…? oh wow, Felix…. Sophiaa pangeran ku ada disini, I don’t believe it!” Serra segera bangkit dari bangkunya begitu antusias dan berlari kearah mini bar itu.
Sophia terperangah, matanya membelalak, FELIX? Lelaki itu? Dia… sudah di sudut bumi lain bahkan dia masihbisa bertemu Felix, Sophia merunduk kembali menyandar pada bangku pantai itu, menggigiti jemarinya ini situasi buruk saat ia lihat benar itu adalah Felix yang sama.
Sungguh sial kenapa ada dia, kenapa harus bertemu lagi, namun Sophia sadar memang dia berada di lingkungan yang akan membuatnya kembali bertemu dengan Felix, walau tidak tahu pastikapan dan dimana dan inilah waktunya.
Beberapa menit kemudian dan tidak disangka Serra menarik-narik Felix membawa mereka semua kembali ketempat Sophia berada. “Ayo…bergabunglah bersama kami.” Serra membuat Felix duduk bersamanya, sementara Nicko duduk dikaki Sophia.
Felix melihat raut kebingungan Sophia, wajah cantik yang menggigiti jemarinya, tidak ada hal lain yang akan dilakukan selain berpura-pura tidak saling kenal dan tidak pernah terjadi apa-apa.
“Sophia, kenalkan ini Felix, orang kepercayaan ayah ku, bahkan dia lebih mempercayai lelaki ini dari pada anaknya sendiri.”Nicko membuat tangan Sophia terangkat, kemudian disambut Felix.
“Felix…” lelaki itu benar-benar bersikap tenang sekali, bahkan saat tangan mereka bertautan
“Sophia.”balas Sophia cepat melepaskan.
“Apa yang membawamu kesini, ku fikir aku akan jadi obat nyamuk berada diantara mereka berdua, dan astaga Felix, aku masih tidak percaya…I miss you so badly.” Keduanya pun terlibat pembicaraan, Serra menyibukkan dirinya dengan Felix membahas banyak hal.
Felix berusaha tenang menghadapi gadis yang memang pernah ia pacari dan dekat dengannya, namun sungguh ia tidak suka dengan gadis itu dia terlalu over, segalanya berlebihan tidak hanya cara bersikap, cara berbicara bahkan teriakannya yang seharusnya tidak perlu disuarakan ia selalu suarakan.
...•••...
Suasana menjadi canggung untuk Sophia, ia bahkan menjadi tidak nyambung saat Nicko aja berbicara, melihat kearah Serra dan Felix mereka seintens itu komunikasinya. “Aku ingin tidur Nick.”
“Tunggulah sebentar acara bahkan belum dimulai.”
“Sophiaa… aku tidak lagi iri dengan mu!”Teriak Serra wanita seksi itu.
“Ya Nikmatilah, selamat bersenang-senang.”Balas Sophia.
Sophia mendesah pasrah, Ia pun menarik vodka yang di pegang Nicko muak dengan keadaan ini, melihat Serra menempel-nempel pada bahu Felix dan Felix biasa saja, membuat Nicko membulat.
“No! kau tidak minum ini.”
“Sedikit.” Sophia menarik paksa menuang pada gelasnya yang sudah kosong, menggerakk-gerakkan gelas bertangkainya kemudian ia minum.
Netranya mengalihkan dari Serra dan Felix namun otaknya tidak bisa membuatnya focus, tawaan Serra membuat Sophia kesal kembali menuang vodkanya lagi,
“No, baby kau tidak boleh minum terlalu banyak.”
Suara larangan Nicholas sangat jelas didengar Felix, ia pun sangat tahu Sophia tidak bisa minum, ini jelas semata-mata karena Sophia kesal karena kedatangannya mungkin
“Let me on this once, Nicholas!” Sophia menyeringai.
Nicko mau tidak mau membiarkan itu, entah sudah berapa banyak Sophia minum ia bahkan sudah merasa mual n berusaha amun ia tahan. Aku ingin berlibur dengan tenang, aku ingin liburan, tidak bisakah aku tidak didalam situasi ini, aku tidak peduli kau akan bersama siapa tapi tidak dihadapanku.
Cih, Sophia mulai dikuasai alcohol, Ia kembali memutar moment yang berlalu, saat netra serius Felix dengan serius ingin membawanya melangkah kekehidupan kebih baik, menyelamatkannya dikepulauan Caviaritz, mencium dahinya saat ia akan bertempur melawan del rigaz bersaudara.
Sophia memajukan bibirnya, ternyata jika orang yang pernah menomor satukan kita kemudian semua berhenti karena keadaan, lalu kita lihat dia bersama yang itu sakit, itu menyakitkan, perih tidak bisa dijelaskan.
Lalu apa yang tidak bisa dilupakan? Jelas bukan orangnya namun moment dan rasa yang membekas, dan belum bisa tergantikan walau ada orang lain yang sudah memberi rasa yang lebih indah.
...•••...
Malam pun semakin larut pesta pun kian meriah saat ini Serra sudah membawa Felix di tempat berdansa, menggerakkan tubuhnya di depan sana menarik-narik Felix, sementara Sophia masih menyandar di tempatnya, terus menegak minumannya, melihat kearamian.
Nicko kewalahan. “Ada apa dengan mu, kau tidak seperti ini.”
“Biarkan aku—” ugh..Sophia sudah bersendawa. Serra dan Felix terlihat begitu dekat, apa peduliku, apakah dia yang Serra katakan adalah mantan terindahnya, ya dia…
Tempat ini layaknya surga dunia bagai pecinta clubbing, suara disc jokey semakin memecah tepat dibelakang Sophia, seorang teman Nicko pun memanggil lelaki itu, membuat Nicko berbisik pada sang kekasih.
“Aku akan menemui Sarga, kau jangan kemana-mana…aku akan kembali”
Sophia mengangguk, memasarhakan minumannya yang di tarik Nicko. Netranya yang sudah berkabut namun masih bisa melihat jelas Serra terus memeluk Felix, wajah mereka berhadapan.
“Aku tidak iri tidak, kau sengaja kan ingin memarkan kepadaku, sengaja…” racau Sophia.
Felix yang sedari tadi melirik keadaan Sophia pun melihat ia sedang ditinggalkan Nicko, kemudian lelaki itu mengajak Serra kembali ke bangku mereka, sayangnya Sophia tidak lagi pada kesadarannya, ia bangkit dengan sempoyongan, pakain seksi yang membalut tubuhnya semakin terlihat bersinar dibawah pantulan-pantulan laser di tempat itu.
Dia mengangkat tangannya, mengikuti music yang seakan memaksanya untuk bergerak, “Berengsek, kenapa harus bertemu dia, kenapa… kau sudah lupa aku, kemarin kau mengajak aku menikah, tinggal di Italia dan sekarang bagaimana bisa kau ada di Spanyol…”haha..
Sophia tiba-tiba berjongkok, kepalanya begitu berat dengan kakinya yang berdiri saja seperti tidak menapak, “Haha, aku sudah katakan aku tidak menyukaimu, tidak…tapi kenapa kau semakin—“Uhuk…uhuk…” Sophia nyaris ingin mengeluarkan isi pertunya.
Tiba-tiba seorang lelaki datang memegang tubuh Sophia, membuatnya berdiri, Sophia mengulas senyuman, menyambut uluran tangnnya,“Aduh… kepalaku sakit…” Tapi lagi-lagi dia bergerak saat music semakin kuat. “Yay…kau mau mengajak ku berdansa, kekasih ku disana.”ujar Sophia menatal lelaki itu.
“Kenapa kau minum?”
“Kau mau—Felix, kau Felix?” Sophia tertawa, memegang pipi lelaki itu, sekali lagi ia melihat kearah bangku, Serra ada disana bersama Felix, ia itu Felix.”
“Kau benar-benar mirip dia, tenang kau jauh lebih tampan, dia bersama temanku, aku fikir dia sudah tidak lagi akan ku lihat…di brengsek…oh no, no aku yang berengsek, TIDAK! Dia berpura-pura mencintaiku dia hanya kasihan.”
“Dia kekasihmu?”
Sophia menggeleng-geleng, “Kekasihku N.I.C.K— Sophia mengeja namanya seraya tertawa. “Tapi aku merindukan dia, dia yang sudah ku lupakan…kenapa dia datang— Sophia merengkuh pingang lelaki yang bersamanya di tempat dikermaian orang-orang yang berdansa itu.
“Lalu dia siapa?”
“F.E.L— Uhuk…uhuk.. “Aku benci kau Felix, aku benci kau!”
Waktu semakin larut, Nicko mencari-cari dimana Sophia yang pergi dalam keadaan mabuk, Sophia masih tertawa bersama seorang lelaki, “FELIX… FELIX…”
“Kenapa kau terus menyebut nama dia.” Bisik lelaki itu pada telinga Sophia mengaliri helaan hanganya membuat Sophia meremang berjalan pergi dari tempat berdansa itu, menuju kedalam sebuah kamar di Resort itu.
“Aku benci dia, benci dia…” Sophia terlentang di atas sebuah ranjang berbulu lembut terus meneriakan nama Felix mengumpat hingga memakinya, saat setelah baru saja ia memuntahkan lelaki itu semua isi perutnya.
Tiba-tiba saja tempat itu gelap gulita, “Apakah aku buta?”
“Kita buat kau melupakan rasa benci mu pada lelaki bernama Felix itu.” Lelaki itu menaiki Sophia menyatukan bibir mereka, Sophia benar-benar mabuk parah, dia bahkan membalas pagutan lelaki yang ia tidak kenali itu.
Ciuman itu menuntut sebab rasa mint bercampur alcòhol yang semakin mencipatakan rasa tagih, oleh tubuh Sophia yang menyatu dengan lelaki itu tidak memakai pakaiannya lagi sebab ia yang memuntahkan isi perutnya tadi.
“Felix… aaa dia melenguh merasak titik dirinya di sentuh, tiba-tiba lelaki itu berhenti tidak ingin menjadi pecundang memperkósa wanita màbuk.
“Kau membencinya kenapa kau selalu menyebut namanya, bahkan saat kau seperti ini?”
Sophia menggeleng, ia tidak terlalu tanggap apa yang di ucap lelaki itu, “Dia bersama Serra mereka bercinta—”
Lelaki itu tidak mengindahkan ucapan Sophia ia pun mengecup keningnya, beralih turun pada telinganya, membuat Sophia meremang dan melenguh, “FEEELIX…” Lagi-lagi nama itu mengudara, “Felix…kenapa bau mu seperti Felix, kalian memakai parfum yang sama,”
Netra Sophia terbuka dan tertutup, tubuhnya meremang, lelaki itu memeluk erat Sophia bermain pada lehernya, menguasai dia yang patah hati melihat Felix dan Serra bersama, namun sentuhan itu berhenti saat dibagian dadanya,“Kenapa berhenti Felix.. sial ,aku bahkan merasakan kau disini walau ini mimpi!”
Sophia yag malah menjadi lebih agresif dia yang berusaha memimpin lelaki itu, membuat sang lelaki menahan itu, tidak tega sebab dia tidak tega dan tidak ingin jadi pecundàng memanfaatkan Sophia hanya begitu frustasi oleh keadaan membayangkan Felix bersama Serra.
“Tidurlah!”
“Aku mau—Felix, lihat aku, aku butuh kau disini.”tubuhnya dipasrahkan otaknya sudah dilumpukan oleh Alkohòl dan bayang-bayang lelaki bernama Felix itu.
Sophia menangis, “Aku rindu kau…Felix, aku rindu kau…aduh kepalaku sakit”Membuat lelaki itu menjadi emosional, menangkup wajah Sophia, memagut bibir mereka.
“Cium aku lagi Felix!” Sophia tidak mau dilepaskan dan meracau lagi.
Lelaki itu pun memaksa menenggelamkan Sophia dalam pelukannya. “Tidurlah, besok kita habisi dia.”
... •••...
Dalam alam bawah sadarnya Felix kembali muncul dihadapannya, dia melihat lelaki itu berciuman dengan Serra, saling berpelukan dan menatap panuh rasa, Sophia menangis dalam tidurnya.
“Aku katakan, Tidak! saat itu, tapi kenapa kau tidak meperjuangkan ku?” Gerutunya meracau hingga terdengar membuat orang disebelahnya tersadar.
Lelaki itu terjaga, memiringkan wajahnya menatap lamat-lamat wajah cantik yang terpejam karena mabuk itu, kemudian menutupi tubuh plosnya dengan selimut, ia mengulas senyuman melihat Sophia kemudian bangkit keluar dari kamar itu.
Next »
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Nofta Putri
hanya laki2 nama ny.felix bukan sihh
2024-04-28
0
Dewi Nurmalasari
ini si Felix itu sndri bukan sih
2024-01-31
0
Nonna Mel
nah kn akhirnya fellix tau isi hati shopia
2023-12-28
0