"Ohh Sandra, duduklah." Vincent yang menjawabnya. Dia langsung terlihat senang. Di satu meja panjang ini bisa menampung 6 orang dan dia tak segan langsung merapat di sebelah Vincent.
"Thanks..." Dia tidak membawa makanannya, tampaknya dia hanya ingin bergabung untuk ngobrol.
"Ini Sandra, spesialis kardiotoraks baru." Kami masih bicara English agar Dr. Joshua bisa mengikuti pembicaraan kami.
"Aku sudah pernah bertemu Dokter Andreas, yang ini dokter... " Dia mencoba mengingat-ingat apa dia bertemu dokter Joshua..."
"Saya Joshua,..." Dr. Joshua yang ramah mengenalkan diri dan bagian dia bekerja.
"Ohhh kau dokter yang ada di banner, kupikir aku melihatmu dimana. Kau Korean?" Dokter Joshua mengiyakannya.
"Ini Melisa, Head Finance."
"Ohh hai Melisa. Senang bertemu." Dia tersenyum padaku dan langsung kembali memusatkan perhatiannya ke Vincent.
"Vincent Sayang, Mama bilang sudah lama tak bertemu denganmu. Dia mengundangmu ke rumah..." Saat dia manggil honey, Joshuà tersedak makanannya sendiri, Andreas tersedak minumannya. Aku diam saja dan menghela napas.
"Kenapa kalian, ... Kami teman lama sudah biasa memanggil sayang. Ya kan sayang. Lagipula dia ini single, kupanggil sayang tak mengapa..."
"Ohhh tidak, ada lada pedas tadi." Andreas mencari alasan tidak jelas.
"Maaf...maaf...maaf." Sementara Joshua membungkuk kecil minta maaf.
"Jangan memanggilku sayang Sandra, aku bersama seseorang sekarang."
"Siapa?"
"Melisa,..."
"Ohh Bu Melisa?! Yang disampingmu ini?" Wanita cantik menunjukku dan aku cuma tersenyum padanya.
"Maafkan aku, kami teman lama dari sejak kuliah, sejak dia masih belasan tahun yang lalu. Kalian sudah mau menikah?" Dia langsung bertanya hal yang pribadi di meja makan. Dia memang benar terus terang ya.
"Sandra. Mari kita bicara yang umum saja."
"Ohh yang umum. Baiklah. Tapi apa aku diundang, kalian tidak mengundangku. Kau kejam sekali." Dia mendorong bahu Vincent. Mereka benar-benar teman akrab heh. Aku saja belum berani seakrab itu.
"Kami belum berencana menikah..." Aku yang menjawabnya sekarang.
"Ohh begitu rupanya." Sekarang mungkin dia mencium kesempatan. Tapi mungkin dia seumur dengan Vincent. Aku tak tahu mungkin juga adik kelasnya. Dia terlihat masih muda.
"Baiklah-baiklah, maafkan aku." Dia minta maaf dan mengubah topik pèmbicaraan kemudian. Dan dia senang mendominasi pembicaraan. Senang bercerita tentang dirinya, tapi dari pembicaraannya dia mengambil topik khusus, kebanyakan dia memakai istilah khusus yang hanya dimengerti oleh orang yang punya pendidikan kesehatan, plus menyombongkan dia yang meniti karier di rumah sakit terkenal di Singapura. Mungkin dia sengaja ingin menyisihkanku dari pembicaraan. Aku tak perduli, aku makan dan mataku melihat ke layar ponsel.
"Aku masih punya kerjaan, aku kembali dulu." Mendengar dokter Sandra berceloteh cukup menyebalkan. Dia berisik. Aku minta diri dari meja makan. "Dokter Joshua, Andreas, dokter Sandra, saya duluan."
"Jangan lupa dosis obatmu." Vincent mengingatkanku. "Aku juga harus kembali. Ayo..." Tapi akhirnya si Bambang mengikutiku juga. Mungkin dia takut aku marah.
"Aku juga harus kembali" Menyusul Andreas yang juga pergi.
"Saya juga masih ada pekerjaan, mari Dokter Sandra..." Giliran Joshua yang pamit. Semua orang cabut dari sana. Nampaknya sudah cukup mendengarkan dia menceritakan tentang dirinya.
"Ayo, aku juga harus kembali." Kami bersama-sama menuju lift akhirnya. Kantorku dan Vincent terletak di lantai paling tinggi, kami tinggal berdua karena mereka semua sudah ke lantai mereka masing-masing.
"Kau marah?" Vincent mengikutiku ke ruangan. Mungkin dia bertanya karena aku mendiamkannya sepanjang perjalanan. Sebenarnya karena aku ingin dia bercerita sendiri siapa Sandra.
"Tidak, kenapa aku harus marah."
"Karena aku dipanggil sayang..." Dia duduk di meja didepanku. Dia senang sekali duduk disana.
"Siapa Sandra, kalian punya hubungan khusus nampaknya. Dia salah satu teman mesramu kan..."
"Dulunya, sudah lama, sebenarnya mungkin sudah 10 tahun aku tak bertemu dengannya."
"Kenapa dia kesini? Tampaknya dia punya pekerjaan bagus di Singapore."
"Kepala Unit Bedah jantung menawarinya bergabung karena dia menguasai metode baru bedah jantung non invasive, kita akan jadi rumah sakit pertama yang menerapkannya di Indonesoa dan dia bilang orang tuanya sekarang sudah sering tak stabil kondisinya."
"Ohh begitu...Nampaknya dia masih sedikit menyukaimu." Aku tersenyum.
"Kau cemburu?" Aku cuma tersenyum kecil mendengar pertanyaannya. Aku belum menerimanya, sebenarnya aku tak punya hak untuk cemburu. "Aku senang kau cemburui..."
"Aku tak tahu kau adalah perayu ulung, sana pergilah aku masih punya banyak pekerjaan." Dan aku menghindar, aku masih ingin melihat apa aku bisa mempercayainya dengan adanya wanita itu.
"Obatmu mana."
"Iya nanti aku minum. Itu ada disana" Aku menunjuk sebuah kotak obat.
"Sekarang saja, nanti kau lupa..."
"Kenapa kau jadi bawel sekarang."
"Itu antibiotic kau harus meminumnya. Kau tak ingin infeksi terjadi dan kau harus disuntik antibiotic yang lebih keraskan?" Otakku berkata caranya mengatakan itu menyiratkan hal lain. Mungkin otakku saja yang terlalu banyak berpikir tak benar sekarang, tapi tetap saja mukaku langsung panas. Sial! "Kenapa mukamu merah?" Dan dia memajukan wajahnya melihat wajahku yang bersemu.
"Tak ada... Kau salah lihat. Pergilah keluar, aku sedang sibuk." Aku berdiri dan mendorong bahunya menjauh supaya pergi dengan satu tangan yang kubisa. Dia membuatku malu.
"Aku hanya berkata tentang suntikan antibiotic yang lebih keras." Tiba-tiba wajahnya mengatakan dia nampaknya mendapatkan kesimpulan. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan." Dia tersenyum lebar.
"Tidak ada, apa yang kupikirkan. Pergilah sana!" Dia menangkap satu tanganku yang mendorongnya. Menyisipkan tangannya ke pinggangku. Membuatku tak berdaya dan mengunci pinggangku ke dekatnya. Jantungku langsung berdebar keras.
"Dok...." Napasku terhenti sekarang.
"Sayang jangan mendorongku nanti tanganmu sakit." Dia duduk dimeja dan dengan lengannya mengunci pinggangku, aku tak bisa bergerak, dia terlalu dekat, tangan yang satunya dengan terampil membuka kotak obat kecilku.
"Kau terlalu banyak berpikir sayang. Katakan saja dengan berani apa yang ada di pikiranmu itu dan kau akan mendapatkannya." Dia berkata dengan pelan sambil menatapku. Kurasa aku perlu kejut jantung setelah ini untuk menormalkan irama jantungku. Aku akan ke dokter Sandra. Mukaku sekarang pasti sudah semerah tomat. "Buka mulutmu..."
"Ak...aku bisa ...aku bisa minum sendiri." Terbata-bata menjawabnya.
"Aku tak akan berkata sekali lagi..." Kata-kata tenangnya membuat nyaliku ciut. Aku membuka mulutku.
"Gadis pintar..." 3 jenis pil itu masuk ke mulutku.
"Minum..." Dia memberikan air minumku. Aku tak punya pilihan selain menurutinya.
"Dok..." Dia benar-benar akan memberiku serangan jantung saat jarinya menyentuh bibirku dan membersihkan sedikit air yang tersisa. Kurasa kakiku lemas sekarang. Aku berusaha menahan tubuhku tak terlalu dekat, lenganku membuat pertahanan terakhir dengan menekan dadanya
"Sayang, jangan berpikir macam-macam, pikiranmu itu berbahaya." Apa yang harus kujawab. Otakku buntu, sementara wangi parfumnya tercium samar olehku. Apa dia akan menciumku.
"Aku ...tidak... Lepasin." Dia tersenyum kecil.
"Tidak lepasin? Oke aku disini. Kenapa kau sangat takut, kau bukan gadis 17 tahun lagi, atau karena sudah lama..." Dia menaikkan alisnya meminta penjelasan dan aku terkunci dimatanya sekarang.
"Dok...lepasin, aku gak bisa napas." Dia tersenyum lebar mendengar rengekan putus asaku.
"Napas sayang..." Tapi tetap tidak mau melepaskanku.
"Kan udah minum obatnya. Lepasin."
"Aku menikmati sekali menyuapimu obat. Kenapa kau begitu kaku... itu hanya minum obat."
"Dok..."
"Apa..."
"Deg-degan..." Dia ngakak.
"Sini kupeluk. Kenapa kau mengemaskan sekali." Dan itu berakhir dengan aku dipelukannya. Akhirnya aku bisa bernapas. Kupikir tadi dia akan menciumku. Itu dekat sekali...
"Udahan lepasin." Sekarang dia melepaskanku. Sambil masih mengulum senyum.
"Aku ada meeting sampai malam diluar, kita ketemu besok lagi oke."
"Iya, pergilah."
Dia pergi dan sekarang aku kehilangan. Dia benar-benar bukan perayu ulung lagi, tetapi perayu veteran. Aku tak punya cara menghadapinya...
Eitss jangan ngehalu kamu jadi Melisa ya.
Udah minum obat? Sono pergi cuci kaki terus bobo... Ntar disuntik kalo bandel ya ama Dokter Bambang.
😅🤣 Vote, Hadiah , plus jempol jangan lupa 🥳🥳🥳
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
roempoet liar soe
hey.. kamu bukan lagi 17 tahun
😀😀😀😀
2022-10-17
1
Aurora
Dokter aku ga suka disuntik, big no😥😓😢
2022-08-29
0
𝔔𝔲𝔢𝔢𝔫 𝔅𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔯𝔞𝔱𝔲
klo bisa g usah visual kak author,,ambyar haluq gara² visualnya😁🤣🤣
2022-05-01
0