"Tak ada yang bisa kau lakukan disini, orang Pak Herman bilang, kita udah bayar biaya aman. Kalau adikmu tes urinnya bersih besok, maka dia akan jadi saksi saja, kasih keterangan. Lagipula dia sudah ngomong sama dan bayar biaya perlindungan polisinya."
"Gak bisa ketemu hari ini Pak ." Aku ingin tanya apa dia benar pakai sabu.
"Gak bisa bu, saya udah ngamplop tenang aja, biar dia ditahan ya aman gak bakal dikerjain, itu ikut proses. Saya akan monitor, tadi udah ngomong sama penyidik, pas ditangkep di ruangan karaoke itu ada 7 orang, satu temennya itu emang udah diincer, ketemu 2 gram, tapi bukan dia yang pegang untungnya, tapi kalo positif tesnya ya pasti dipersulit juga. Walaupun di proses assessment-nya biar gak dikerjain kita harus bayar juga, tapi lebih ringan jauh dari yang udah positif..." Orang Pak Herman bernama Rudy menjelaskan padaku.
"Dia gak akan kenapa-kenapa. Suruh aja dia nginep beberapa hari supaya dia tahu bergaul gak bener itu akibatnya jelas."
"Kalau dia positif."
"Well, ya kamu sabarlah. Mungkin akan jelimet. Tapi katanya dia udah ngaku gak, ya kemungkinan besar engga." Vincent menenangkanku.
Anak ini benar-benar membuatku sakit kepala. Pas dia keluar dia harus balik kerumah, tak ada alasan apapun buat membantah lagi.
"Benar kata Pak Vincent, Ibu disini juga tak bisa apa-apa. Saya yang akan pantau perkembangannya. Malah lebih baik saya yang maju, daripada Ibu yang nanti maju malah diminta lebih macem-macem lagi."
Aku menghela napas. Menyerah, jika aku tak pulang maka Mama akan bertanya kenapa aku tak pulang.
"Ayolah pulang." Vincent berdiri. Aku harus menyeret diriku sekarang. Sementara orang Pak Herman juga pamit pulang.
"Jika mukamu seperti itu Mamamu akan tahu ada masalah. Lebih baik kamu tenangkan dirimu sementara semuanya ada yang urus. Saya yakin Ardy cuma lagi sialnya. Anak umur segitu semuanya coba-coba, mudah-mudahan dia belum tergoda nyobain." Dari dulu aku takut Ardy nyobain, aku wanti-wanti dari awal. Dunia kampus sekarang sangat berbahaya. Yang gituan dikasih gratis buat coba dulu baru setelah kecanduan bayar.
"Mama sudah tidur saat aku pulang, ini sudah jam 10. Saya merepotkan Dokter disini, ... Makasih Dok." Aku masih bertanya-tanya kenapa dia membantuku sampai disini.
"Kau yakin bisa menyetir? Biar Pak Tino bisa mengantarmu pulang."
"Saya bisa. Saya banyak merepotkan. Sudah cukup. Makasih Dok."
"Saya sudah tak bisa menghitung berapa lusin kamu bilang terima kasih dalam berapa jam ini." Aku tertawa kecil, apa lagi yang bisa kukatakan. Sekarang aku malah harus memikirkan bagaimana membayar biaya polisi ini dan berapa.
"Saya memang sudah merepotkan, saya tak tahu bagaimana membalas kebaikan Dokter." Dia meluangkan waktu untuk menemaniku sampai malam, kenapa dia melakukan itu.
"Itu bukan apa-apa. Pulanglah sekarang." Dia memberiku kunci mobil. Aku menatap sosoknya. Dia mengulung bajunya sampai siku, membuatnya terlihat berbeda dari penampilan biasanya yang rapi dengan dasi dan jas dokter. Aku tersenyum sebelum masuk mobil dan berjalan menjauh dengan dia menatap kepergianku.
Sudahlah mungkin dia hanya ingin berbuat baik dan sedang ingin membantu.
\=\=\=\=\=\=
Orang Pak Herman pengacara pribadi Dokter Vincent memang sangat membantu. Dia mengurus semuanya bahkan dia bilang aku tak perlu datang sampai hasilnya keluar nanti.
Hanya Lenna yang tahu berita tentang Ardy.
"Jangan membocorkannya, kakak sudah punya orang mengurusnya. Kau mengerti?"
"Kakak sudah punya orang, berarti Ardy akan bebas?"
"Orang itu bilang jika hasilnya negatif akan cepat keluar, dia bisa mengurusnya. Kalo siang ini selesai. Mungkin sore atau paling lama besok Ardy bisa pulang." Aku pagi-pagi sebelum berangkat bicara pada Lenna.
"Iya kak, kalau mau bantu jemput Ardy. Lenna bisa."
"Gak kakak yang jemput. Dia harus ditatar dulu sebelum pulang ke rumah."
"Ohh, mungkin Ardy gak sengaja ikut mereka Kak. Jangan dimarahi terlalu banyak." Lenna yang baik hati ini tetap kasihan ama adek satu-satunya itu.
"Kakak harap juga begitu. Sudahlah kakak pergi kerja dulu..."
"Iya kak."
Tangisan bayi yang menggema dari kamar Jenny diatas mengantar kepergianku. Aku melihat Jenny bangun bolak balik bahkan tengah malam untuk anaknya. Menjadi Ibu itu tak mudah... Yang kulakukan sekarang adalah mendukungnya.
Yosan yang datang sementara melihat anak dan istrinya bilang padaku dia akan segera mencicil biaya yang aku bantu, apa boleh buat keluarganya juga terkena musibah.
Kurasa dia suami yang baik. Walaupun belum terlalu mapan, tapi kariernya dan attitudenya akan berkembang. Semoga mereka didepan akan semangkin baik. Hanya itu doa kecilku untuk mereka.
Sementara aku mengkhawatirkan jumlah yang harus kukeluarkan untuk pengurusan Ardy.
"Pak Rudy, berapa kisaran biaya yang harus saya keluarkan untuk ini?" Aku berupaya mengetahui berapa yang aku harus bayar.
"Ehmm nanti ada rinciannya bu dari Kantor. Pak Herman nanti yang bicara. Kalo gak positive sih bisa ditekanlah. Kita lihat hasilnya dulu hari ini, Ibu udah kasih 10 juta itu udah cukup buat operasional. Detail lainnya nanti saya urus, Pak Herman yang kasih rincian ke Ibu nanti."
"Ohhh begitu." Bisa dipastikan jika digabung dengan biaya konsultasi hukumnya pasti tidak kurang dari 20 juta.
Pagi-pagi dapet pikiran sarapan keluar duit itu rasanya sesuatu. Kepalaku langsung sakit, cape hati, cape kantong. Moodku langsung turun ke dasar.
Jika dia positive, biaya itu bisa melonjak berapa kali lipatnya buat bebas rehab atau minimal belasan juta buat deal hakim dan jaksa kalo sampai ke P21 buat hukuman ringan.
Astaga! Mungkin aku perlu mesin cetak uang setelah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Lia Kiftia Usman
kakak yg mengayomi, yg empatinya tinggi, tanggungjawab...kakak sebenar2nya kakak
2023-06-23
0
Mebang Huyang M
kasiannya kau Melisa da bisa bantu ini, hahaha. ..
2023-03-08
0
Ning cute
ribet emang urusan sama polisi... tetep UUD... ujung ujungnya duit 😵💫
2023-03-07
0