"Ini apa?! Kenapa malah ada laporan biaya perbaikan alat sebesar ini. Ini gak ada di anggaran?!" Satu lagi orang yang tiba-tiba ngajuin anggaran mendadak begini. Salah satu kepala unit yang menghadap minta tambahan anggaran langsung menerima limpahan emosiku pagi-pagi.
"Tapi ini mendesak Bu."
"Tanda tangan Pak Direktur sana! Kok bisa rusak terus, biarpun saya baru disini , saya tahu ini bukan sekali bagian kamu tiba-tiba ngajuin biaya perbaikan alat sebesar ini, saya sudah 11 tahun di unit Keuangan, mana ada ini 2x rusak dalam jangka waktu belum 2 tahun. Saya kasih remarks! Saya ingin siapa yang tanggung jawab dan laporannya, siapa operatornya, alasan kerusakan, langkah antisipasinya! Ini harus lengkap laporannya... Saya tidak bisa terima alasan karena rusak doang! Saya ingin meeting khusus soal bagian Dokter ke Pak Direktur." Aku melempar dokumen pengajuan dana itu kembali ke kepala Unit.
Aku berkuasa atas uang, biarpun kepala unit ini adalah dokter senior, aku berhak menyetop permintaan dana, bahkan memarahi mereka, aku tak tahu teknis tapi aku bisa meminta keterangan teknis yang logis, supaya mereka menghargai maintenance unit mereka sendiri. Penjaga uang perusahaan, dan komitmen ini yang diperlukan para komisaris saat aku memegang kendali keuangan.
"Bu, kenapa harus sampai ke Pak Direktur ini kan cuma perbaikan alat MRI rusak? Jangan ke Pak Direktur Bu. Saya lengkapi Bu permintaannya." Sekarang dia menatapku dengan jeri. Mungkin tak menyangka aku berani memarahinya dan naik ke Direktur.
"Ohh cuma,... jadi berapa ratus juta ini cuma. Fine! Saya sendiri yang akan bawa ini ke Direktur."
"Tapi Bu,..." Aku mengambil dokumennya.
"Sihlakan keluar."
"Baik saya akan bikin laporannya ke Ibu. Jangan ke Pak Direktur Bu..." Dia ingin mengambil dokumen pengajuan itu dariku. Dia tiba-tiba takut. Berarti ada masalah disini. Atau mungkin Pak Direktur itu lebih menyeramkan dariku. Aku belum lama disini, aku belum pernah liat Bambang marah-marah.
"Tidak, saya berubah pikiran. Saya ingin audit internal soal ini sekarang." Jika aku memakai komite audit, Direktur jelas akan tahu masalah ini.
"Bu kok audit? Kenapa tiba-tiba jadi audit." Sekarang dia ketakutan. Aku melihat mukanya yang kuatir, mungkin dia melindungi orang yang menyebabkan kerusakan ini. Aku akan membuat komisi audit memeriksa sampai ke SOP-nya.
"Biar jelas. Jika tak ada masalah saya akan tandatangan, sihlakan keluar. Dokumen ini saya ambil."
Sekarang dokter di depanku tak bisa bicara. Aku jadi benar-benar ingin tahu apa disini. Dan setelah aku melakukan audit internal ini tak ada seseorang disini yang akan berani berpikir bahwa head keuangan mereka yang muda ini juga mudah dihadapi.
\=\=\=\=\=
"Kau meminta audit? Audit apa..." Aku sampai ke ruangan Direktur dan membawa dokumenku sendiri. Karena ini MRI unit rusak 1 akan membuat antrian di unit lainnya, aku juga tahu ini mendesak tapi aku perlu seseorang bertanggung jawab. Dia melihat dokumen yang aku bawa.
"MRI machine ini sering rusak, dalam 12 bulan ini ada 2x pengajuan, ada biaya perbaikan diajukan ratusan juta, diluar maintenance, ini bukan hal normal saya ingin audit SOP, siapa yang bertanggung jawab dalam laporan lengkapnya, baru saya release tandatangan biayanya." Dia meneliti laporanku.
"Saya tidak tahu ini pernah rusak, ini unit baru. Oke saya akan setuju audit ini, tapi ini mendesak banyak pasien mengantri jika satu rusak, saya kasih note approvalnya tapi ini tetap akan masuk audit. Kamu akan dapat laporannya dari internal auditor segera." Dia langsung menelepon bagian auditor yang satu lantai dengannya, auditor datang dan mengambil dokumen menerima perintah. Kerjanya efisien.
"Oke itu aja Dok. Saya keluar dulu..." Aku bersiap pergi setelah auditor keluar.
"Pak Rudy sudah laporan ke kamu?" Aku tak jadi pergi.
"Dia bilang, mungkin paling cepet sore ini selesai, paling lama dalam dua hari kalo hasilnya clear, dia kasih notice kalo udah bisa saya jemput."
"Ohh oke. Ya sudah, semoga clear cepat. Mau temani saya makan siang?" Mana berani aku menolak ajakan makan siang sekarang, malah aku harus bayar makan siangnya. Dia sudah banyak membantu.
"Ohh ya oke Dok, nanti ketemu di lobby aja?"
"Iya." Dia tersenyum. Entah apa arti senyumnya itu.
"Saya keluar dulu Dok."
●●
Makan siang itu berlangsung damai dan tenteram. Maksudku dia memilih topik ringan, banyak bercanda dan tak mencoba apapun misal menggoda dengan tujuan apapun. Dia berlaku sopan dan gak menyebut kebaikan yang sudah dia lakukan.
Ketika aku yang berinisiatif membayar dia langsung menolaknya. Dia bilang tak ada aturannya bawahan bayar atasan. Aku jadi kepikiran kenapa dia baik hati begitu. Sampai sore...
Bambang itu bikin aku mikirin dia.
Menjelang sore, sebuah pesan dari Pak Rudy mengatakan sekitar jam 6 sore Ardy sudah bisa dijemput. Aku menghela napas lega, mengucap syukur masalah ini tidak membesar akhirnya. Aku segera keluar kantor jam 5, berharap bisa mengurai kemacetan untuk menjemput Ardy.
"Mau jemput Ardy?" Kebetulan aku bertemu dengan Bambang di depan lift. "Pak Herman bilang sudah beres casenya."
"Iya Dok, makasih, kalo engga saya gak tahu saya harus gimana." Dia tersenyum saat melihatku tersenyum lega.
"Sudah lega ya..."
"Banget." Aku sudah bisa tertawa sekarang. Sakit kepalaku tiba-tiba hilang.
"Jangan diomelin dulu. Dia juga tahu dia udah bikin salah..."
"Iya. Makasih Dok..." Dia cuma mengangguk. "Saya pergi dulu.."
"Iya hati-hati."
Aku pergi dengan perasaan lega. Sampai di kantor polisi Pak Rudy sudah duduk bersama Ardy. Adikku itu dia tidak tahu betapa paniknya aku.
"Pak Rudy, makasih Pak."
"Siap Bu, sudah tidak ada lagi masalah. Dek Ardy, jangan sampai balik ke sini lagi. Hati-hati bergaul." Pak Rudy bahkan memberikan satu dua patah kata buat Ardy. Semoga dia sadar dan berhenti membuat kesulitan lagi untukku.
"Ayo pulang,..." Aku ingin mengomelinya, tapi mungkin dia juga mendapatkan shock therapynya buat ini. Dia cuma mengiyakan ketika aku menyuruhnya masuk mobil.
"Aku minta maaf nyusahin Kakak..." Dia yang memulai bicara akhirnya. Aku melihat padanya, mukanya terlihat lusuh. Setengahnya kasihan tapi setengahnya lagi sakit hati karena memikirkan bill yang harus kubayar. Tidur di penjara, itu yang didapatkannya karena salah bergaul.
"Kamu tuh emang seneng banget bikin kakak susah. Kamu masuk ke sana sekali lagi, bakal kubiarin kamu dipenjara bertahun-tahun. Gak akan kujemput lagi. Kamu denger itu. Kamu tahu berapa harus bayar polisi dan lawyer karena kamu salah bergaul... Kamu pikir kakakmu ini punya pabrik emas."
Dia diam mendengar aku merepet. Aku menghela napas panjang meredakan emosiku sendiri,...
"Sudahlah, jangan bikin masalah lagi. Jangan kasih tahu Mama. Cuma Lenna yang tahu..." Dia diam saja menerima omelanku.
Tak ada yang bicara kemudian. Lenna yang melihatnya pulang dengan baik hati menyuruhnya mandi lalu makan.
Aku tak akan mengomelinya lagi untuk malam ini.
🧡🧡🧡🧡🧡
"Pak Herman, saya mau tanya biaya yang saya harus bayar." Aku menelepon Pak Herman siang hari karena penasaran berapa jumlah tagihan advokasinya.
"Oh soal itu, sudah dicover Pak Vincent, Ibu coba ke Pak Vincent saja."
"Lhoo kok dicover Dokter Vincent Pak, kan saya yang berperkara?"
"Ehmm... Soal itu mungkin lebih baik Bu Melisa tanya langsung ke Pak Vincent, saya hanya menerima permintaan klien."
"Saya minta jumlahnya Pak." Baiklah mungkin dia tak ingin aku memikirkan harus membayar sekarang, aku bisa menganti jumlahnya pas gajian. Uang cash ku memang sudah menipis.
"Itu juga saya tidak bisa kasih rincian, Ibu bisa tanya ke Pak Vincent. Itu beliau pesan, saya tidak bisa kasih rincian apapun ke Ibu." Aku spechless sekarang.
Kenapa dia tak mengizinkan aku tahu jumlah tagihannya. Dia tak mau aku membayarnya, kenapa? Dia punya tujuan apa? Personal atau bisnis?
Aku mencarinya ke kantornya di jam makan siang.
"Luna, Dokter Vincent ada, bisa bicara?" Aku bertanya kepada seorang sekertaris juga assistennya.
"Bentar ya Bu Mel."
"Pak, Bu Melisa mau ketemu." Melisa menutup telepon. "Masuk aja Bu."
"Ohh oke."
Aku masuk dan dia sedang melihat sesuatu di komputernya.
"Iya? Ada apa Bu Melisa?" Dia bahkan mempertahankan panggilan resmi, sopan.
"Saya mau tanya berapa jumlah yang saya harus bayar ke Dokter. Bill-nya Pak Herman." Dia melihatku sebentar dan matanya kembali ke layar.
"Ohh, dia pengacara pribadi saya. Anggap saja itu bantuan. Tak ada yang perlu dibahas lagi." Dia bahkan bicara tak melihatku. Matanya konsentrasi ke laptop.
"Saya tak bisa berhutang begitu ke Dokter? Izinkan saya tahu jumlahnya. Saya harus membayar, Dokter sudah cukup membantu saya."
"Tak perlu, bukan jumlah yang besar. Tak perlu dibahas lagi. Anggap saja tak ada hutang apapun." Dia tetap bertahan dengan tak mau memberitahuku tentang jumlah bill-nya. Dan bahkan tak memperdulikan keberadaanku.
"Dok, saya tetap harus membayar. Itu tak etis, bagaimana saya bisa menerima sesuatu begitu saja." Dia menghela napas. Aku juga ikut menghela napas.
"Hmm... sebagian benar. Tapi sebagian salah."
"Maksudnya?"
"Baiklah kita pakai pengganti saja."
"Hah?"
"Besok Jumat malam sepulang kantor, satu kali makan malam."
"Makan malam?" Bagaimana menganti bayaran pengacara dengan satu kali makan malam?
"Setelah itu anggap saja lunas, setelah itu kau tak punya hutang apapun. Even jika kau ingin mencari masalah denganku di rapat komite boleh, aku tak berniat memanfaatkan itu untuk melancarkan sebuah urusan kantor yang lain. Jika kau menggangap aku punya maksud lain di urusan kantor. Dan bukan untuk memanipulasi kedekatan personal jika itu yang kau takutkan. Itu saja, aku sadar terlalu banyak spekulasi yang berputar di otakmu. Jelas. Dan aku agak sibuk hari ini. Bisa kita bicara besok malam saja..." Vincent bicara cepat sehingga aku menahan napas mendengar kecepatan dia bicara.
"Oke." Aku masih kesulitan mencerna yang dia bicarakan.
"Oke. Kau boleh keluar." Dia bahkan mengusirku. Efisien sekali.
🧡🧡🧡🧡
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nailarin Safeera
Akhirnya bisa makan malam juga
2023-12-18
1
Lina Maryani
yg penting deal mkn mlm ya dok...🤭
2022-03-20
0
Maya Sari Niken
aku ga suka pake bnget visual vincent
2022-02-07
0