Aku tak tahu apa arti tiap cengiran Bambang ini. Tapi demi Tuhan kuharap dia bukan tipe baperan plus pendendam. Setengahnya aku tetap berpikir dia terlalu tampan dan muda untuk menjadi direktur sebuah rumah sakit.
Menunggunya bicara adalah sebuah siksaan. Padahal aku sudah mengerahkan upayaku untuk meminta maaf.
"Sudahlah lupakan, kita disini untuk pekerjaan. Saya juga minta maaf menabrak Anda." Dan aku menghela napas lega, ternyata dia tidak mempermasalahkannya.
"Terimakasih Pak. Saya benar-benar tidak mengetahui Bapak atasan saya."
"Anda baru dipromosikan dari cabang bukan."
"Iya Pak."
"Hmm, muda sekali, sudah promosi menjadi Kepala Bagian." Kenapa dia tidak menyebutkan dirinya sendiri, terlalu muda untuk Direktur.
"Saya 34 tidak muda lagi Pak. Saya sudah berkarier lebih dari sepuluh tahun di grup ini." Aku berbangga hati dengan pencapaianku, tak ada yang tahu berapa banyak kerja kerasku.
"Ohhh saya pikir Anda lebih muda dari itu. Ternyata kita hanya beda 5 tahun." Aku tersenyum. Ternyata si Bambang ini belum kepala empat. Dia lebih mengesankan untuk orang yang belum kepala empat.
"Baiklah, kita langsung ke pekerjaan saja."
Selamat, setidaknya dia tidak mengambil hati atas kekurang ajaranku.
\=\=\=\=\=\=
"Masih belum berkeluarga? Masa?" Aku baru tahu si Bambang itu single dari Dhea assistenku disini.
"Iya Bu, ... workaholics. Mendewakan kerjaan. Pak Director punya bisnis jaringan apotek dan klinik sendiri lho Bu. Plus dia itu partner penasihat pengacara untuk kasus khusus malpraktik."
"Gay ya?"
"Kayanya sih engga Bu, cuma ya orangnya ya gitu suka kerja, mungkin dia anggep cewe itu ganggu waktu dia. Tapi katanya udah pernah cerai sih. Banyak yang tergila-gila sama dia. Beberapa dokter pernah terlibat pacaran ama dia. Tapi gosipnya Pak Direktur itu anti komitmen punya. Tapi kayanya ehmm... deg-degan ya Bu kalo pacarnya kaya gitu... Terlalu h*ot."
Aku tersenyum mendengat perkataan Dhea. Iya sih, terlalu sulit untuk menolaknya, dengan brewoknya yang kadang dibiarkan sedikit tumbuh itu. Kau bisa membayangkan banyak hal.
"Hmmm... ya sudahlah, biarin aja bukan urusan kita. Masing-masing punya hidup masing-masing."
"Ibu kan single Bu. Tak tertarik ikut bursa calon Bu?" Dhea menggodaku.
"Saya lebih tertarik ketenangan hidup... Ya sudah, saya mau pulang dulu ya. Jangan lupa minta anak-anak kerjakan yang saya minta. Bilang kita meetingkan besok."
"Siap Bu."
Aku bersiap-siap pulang. Ada masalah di rumah, Ardy adik bungsuku itu, aku harus bicara dengannya sepulang ini.
Sudah jam 7 malam. Lumayan pulang jam segini walaupun masih macet tapi setidaknya lebih sedikit lebih cepat daripada pulang jam 6.
Seseorang tiba disampingku saat aku didepan lift. Ternyata Bambang, kenapa otakku suka sekali menyebutnya Bambang.
"Oh Bu Melisa, sudah mau pulang." Dia berbaik hati menyapaku duluan. Udah ganteng, mapan, bule, suara baritonnya bikin lemes. Gimana dia gak tenang-tenang aja ya, yang nyerahin diri sama dia sukarela banyak. Tinggal pakai, otakku sekarang ikut membayangkan banyak hal soal Bambang ini.
"Iya Pak, ..." Aku tersenyum padanya. "Oh ya sapu tangannya saya bersihkan dulu, nanti saya kembalikan ke Bapak." Tapi old school karena masih pake sapu tangan. Kayanya itu generasi Papa Mama aku. Generasi sekarang bawa tissue doang.
"Kuno ya..." Dia tersenyum begitu membahas sapu tangan, karena dia masih mengingat yang kukatakan tadi pagi.
"Saya... saya...maksud saya sekarang jarang yang bawa saputangan Pak. Saya minta maaf lagi... Itu jangan ambil hati Pak."
"Itu menang kuno." Dia tertawa sendiri. Lumayan ternyata dia bisa menertawakan dirinya sendiri. Aku jadi tidak begitu tegang lagi.
Lift berdenting dan dia mempersihlahkan aku masuk terlebih dahulu. Dia punya sopan santun yang bagus.
"Mau temani saya makan malam dibawah?"
"Ehh? Makan malam? Sekarang?" Aku harus pulang ngomong ke Ardy gak bisa mampir kemana-mana lagi sekarang.
"Maaf gak bisa ada urusan keluarga Pak..."
"Ohh, anak udah berapa?" Pertanyaan klise orang Indonesia, sepertinya bule ini memang native Jakarte ternyata. Aku meringis sendiri...
"Saya single bahagia Pak..." Dia mengangguk tapi kemudian tak bertanya lagi. Aku tahu mungkin dia menghindari single yang mengharapkan dia. Takut disangka PHP. PHP in Head finance itu repot urusannya.
"Kalau begitu saya duluan Pak. Malam Pak"
"Iya malam..." Aku meninggalkannya dan berjalan lurus ke lift basement.
Dia tipe anti komitmen. Dan dia gak tahu akupun anti komitmen, apalagi berpikir nyari affair ke orang seperti dia, itu gak akan terjadi. Lift berdenting kami sudah mencapai lantai dasar kemudian.
"Kamu bisa gak sih jangan bikin masalah terus Dy? Kamu kemanain uang yang udah kakak kasih? Kamu pikir kita keluarga kolongmerat?! Bisa gak sih kamu mikirin kakak juga!?"
Aku marah-marah ke adik bungsuku itu. Sejak tujuh tahun lalu setelah Papa sepenuhnya pensiun aku yang menanggung pengeluaran keluarga. Uang tabungan Papa habis karena tiba-tiba Papa ternyata menderita gagal ginjal karena diabetes dan komplikasi yang sudah lama dia derita.
Pun itu tak menolong karena akhirnya setelah berjuang tiga tahun Papa meninggal.
Gajiku besar iya, tapi bebanku juga besar. Mukai dari pengeluaran rumah, biaya kuliah dua adikku, sampai ke biaya pernikahan adik keduaku bahkan aku yang menanggung. Untungnya tahun ini akhirnya dari tiga adikku tinggal Ardy yang sudah menjalani semester empat. Aku baru bisa sedikit bernapas lega.
Dan Ardy ini menang terlaludimanja karena dia anak laki satu-satunya dan bungsu.
"Udah Mel, biar Mama yang kasih." Uang Mama juga dari aku. Apa bedanya...
"Dia udah minta tambahan ke aku Ma. Dia ngabisin uang kaya dia tuh anak orang kaya. Mama jangan iyain terus Ma."
"Kakak tuh bawel banget sih, emamg orang gak butuh sosialisasi. Ini Jakarta Kak, aku gak mau jadi orang kuper!" Dan dia sangat senang membantahku karena dia tahu Mama akan meredakanku. Bukan sekali dia minta uang untuk kasus yang bisa membuatku naik darah.
"Eh Dy, kalo mau ngabisin duit pake duit kamu sendiri. Gue biayain lo biar lu bisa nyari duit sendiri. Kuliah yang bener sono, IPK pas-pasan, belajar gak bener, pacaran, clubbing kaya anak orang kaya, lu kalo ngulang mata kuliah lagi jangan harap gue mau bayar! Sono drop out sekalian!"
Ardy diam dengan kemarahanku. Tapi menatapku dengan sengit.
"Sudah Mel, nanti Mama yang bayar gak pa pa..."
"Ma, jangan belain dia mulu Ma. Cape aku dengernya. Itu duit aku yang cari, emang buat dia foya-foya."
"Makanya cari laki kaya.... Jangan kaya' janda tua bawel, minta duit dikit aja ngomelnya ke ujung dunia."
"Lu ngomong apa hah!" Aku mendatangi Ardy dan sekarang berdiri depan Ardy. "Coba ulang sekali lagi! Beli beras sekilo aja gak pernah, berani lu ngomong lagi?!"
"Udah ...udah! Ardy!" Sekarang Mama berteriak.
"Kenapa? Lu pikir gue gak berani?! Janda tua bawel!" Dan sebuah tamparan melayang ke mukanya. Dia melihatku tak percaya, dia pikir aku tak berani menghajarnya...
"Gue benci sama lu!" Dan dia pergi dari rumah.
"Pergi lu gak usah balik lagi!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Dahlia Anwar
iya si Gedeg banget Ama Ardy dia engga tau aja capek nya cari uang 😭
2023-04-05
2
Yanti Alisha
AQ banget ini
2022-10-02
0
Neng Alifa
adek saya kaya gitu. beuhhh habis itu 😄
2022-09-28
0