Akhirnya aku diizinkan pulang. Andreas melakukan cek terakhir, memastikan aku mengetahui apa yang tidak boleh kulakukan. Lenna sudah datang, dia yang akan membawa mobilku sekarang.
"Ya sudah kerja dirumah dalam dua hari ini. Tangannya bener-bener dijaga jangan banyak gerak. Kau dilarang menyetir dulu dalam sebulan ini oke. Sementara kau harus pakai sopir." Tak boleh menyetir? Tak mungkin Lenna yang harus mengantarku bolak balik.
"Gak boleh nyetir?"
"Gimana kamu nyetir tangan begitu. Ntar aku kasih bola khusus buat latihan memperkuat tangan."
"Hmm..." Andreas melihatku yang kebingungan.
"Minta saja sopir kantor. Kau mau ikut denganku boleh, ...tapi kadang jadwal pulang kita beda kan." Dia melihatku sebelum bertanya. "Minta aja sama Pak Vincent, Pak Vincent itu kekasihmu ya?"
"Bukan... Bukan..." Aku langsung menggeleng kepala sambil melambaikan tangan.
"Kau tahu dia khawatir sekali padamu kemarin."
"Iyakah?"
"Pas kamu pingsan didepan aku sambil netes-netes, dia juga mau jalan pulang depan lift. Mukanya panik sekali liat kamu. Dia yang gendong kamu ke UGD lhoo, sementara aku harus megangin tangan kamu, kami berdua pikir kamu bakal kena hemorrhagic shock¹ karena kehabisan darah pas kamu pingsan atau ada luka dalam entah kebentur dimana. Tapi ternyata bukan karena tekanan darah kamu masih normal, dan ternyata cuma karena kamu takut darah." Andreas mengelengkan kepalanya.
"Aku bikin heboh ya..." Aku meringis membayangkan Vincent yang menggendongku.
"Bukan heboh lagi, satu UGD tegang karena Dokter Vincent bolak-balik disitu, dia gak berani masuk ruang operasi tapi bawel nanya sama perawat. Baru kuliat kali itu Dokter Vincent sepanik itu padahal kan dia ya dokter juga. Plus dia nungguin kamu setelah itu. Langsung ada gosip kamu pacarnya, kamu bikin satu RS patah hati, jadi kemarin ada kasus percobaan pembunuhan plus hari patah hati se RS..." Aku tertawa, mukaku panas karena mendengarnya.
"Hmm... aku bukan pacarnya."
"Sebentar status Director tampaknya akan berubah." Sementara Andreas terus menggodaku.
"Jangan ngaco..." Dia hanya tertawa melihatku tak bisa menjawab apapun.
"Sudah beres..." Orang yang dibicarakan masuk ke ruangan kami. Aku melihatnya sekarang, pertama kali kulihat dia hanya memakai kaus polo putih dengan jeans gelap. Kenapa dia tampan sekali dengan busana casual saja. Brewoknya sedikit panjang, bagaimana rasanya jika tanganmu menyentuhnya, mungkin ada aliran listriknya... Otakku belakangan sering konslet kemana-mana kalo mikirin Dokter Vincent.
"Sudah Dok, Bu Melisa bisa istirahat dirumah saja. Kalau begitu saya harus ke pasien lain dulu." Andreas pergi sambil mengedipkan matanya, membuatku mengulum senyumku sendiri.
"Oh ya ini Lenna adikku,..." Aku memperkenalkannya ke Lenna.
"Ohh Lenna, Kakakmu sering cerita soal kamu."
"Iya Dok. Makasih buat bantuan Dokter juga. Kakak bilang Dokter yang bantu Kakak."
"Lenna bisa bawa mobil? Kakakmu belum bisa menyetir sementara."
"Bisa Dok."
"Kalau begitu pulanglm istirahatlah, Rabu kembalilah ke kantor. Aku akan meminta sopir kantor yang rumahnya dekat sana menjadi sopirmu."
"Thanks." Aku menatapnya dan tak bisa tak tersenyum.
"Istirahatlah yang baik. Rabu kita bertemu lagi."
"Iya."
"Kak aku bawa mobil ke lobby dulu. Kita ketemu di lobby ya..." Lenna dengan cepat menghilang dari ruangan. Adikku itu dia sengaja membiarkan aku berdua dulu dengan Vincent.
"Len..." Aku bahkan tak punya kesempatan memanggilnya. "Dia kenapa cepet banget perginya..." Jantungku langsung deg-degan ditinggal berdua dengan Vincent. Aku menghadap ke arahnya.
"Ya udah, saya nunggu Lenna di lobby dulu deh. Makasih ya Dok.." Sebenarnya aku tak berani berharap banyak pada ini. Aku takut jika aku jatuh tapi dia tak mau berkomitmen, itu akan menyakitkan.
Walaupun mungkin dia mau. Tapi aku tak mau memulai duluan. Dia sendiri yang bilang dia hanya berteman dengan wanita. Aku akan berusaha membohongi diriku menganggap kebaikan ini sebagai pertolongan biasa dan melihatnya sebagai atasan yang baik hati.
Aku mengambil tas kecilku bersiap untuk pergi.
"Mel,..." Dia menahan tanganku. Aku hampir terlonjak kaget.
"Iya kenapa..."
"Kenapa kamu kaget begitu."
"Engga." Aku hampir tak berani melihatnya. Dia duduk di bed dan memegang tanganku. Aku menarik tanganku, dan selangkah mundur. Sial! Apa yang dia inginkannya, tak tahukah dia ini terlalu mendebarkan.
"Saya...mau bicara...Bisa kamu duduk sebentar" Dia berhenti bicara, kurasa jantungku berenti berdetak, rasanya hampir seabad. Aku duduk di bed disampingnya tak berani terlalu dekat.
"Kemarin saya sadar sesuatu,..." Aku diam terhipnotis begitu saja pada suaranya dan menunggunya bicara tapi tak berani menatapnya.
"Saya ... sadar, saya takut kehilangan kamu. Semalaman saya berpikir kenapa saya bisa banyak berpikir tentang kamu. Saya begitu panik ketika tahu kamu terluka, semua pikiran jelek mampir ke saya, dan menjadi sadar saya tak mau kehilangan kamu. Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa tapi bisakah kamu tak usah menghindar lagi..." Akhirnya Bambang ini mengakuinya. Dia meminta hatiku tapi aku takut pada apa yang akan terjadi.
"Dok,... Saya tak berani jatuh ke orang yang mengatakan di awal dia hanya berteman dengan wanita. Saya cukup kuat buat berdiri sendiri, dan sudah saya katakan ... putus cinta itu sangat menyebalkan, saya katakan terus terang ke Dokter. Saya sekarang takut jika ada yang memulai karena saya tahu sakitnya putus, jadi jika dokter tak yakin untuk bisa belajar berkomitmen, lebih baik tak usah memulai. Saya sudah bilang saya tak ingin jadi teman mesra dokter, maaf saya terang-terangan begini, tapi kita dikantor punya karier disini, jika sesuatu terjadi, misal saya sakit hati ke dokter, keadaan di kantor ini gak akan baik ...." Jadi jika kau tak berniat untuk berkomitmen, lebih baik jangan menyentuhku sama sekali. Itu yang ingin kukatakan.
"Orang berubah ... Saya belajar untuk berubah, dulu saya punya banyak keinginan yang ingin saya capai. Sekarang mungkin saya sudah mencapai banyak hal yang saya inginkan. Tapi mungkin saya masih alergi dengan orang yang sengaja mencari perhatian. Saya rasa saya terlalu lama sendiri, berada di top management, jadi kadang tidak peka terhadap perasaan orang lain . Tapi... " Dia berhenti dan menghela napas. Lalu tertawa kecil sendiri.Aku yang melihatnya pun bercampur aduk antara deg-degan dan binggung mau bilang apa.
"Saya benar-benar tak pandai merayu... Kalimat saya pasti membingungkan, saya sadar tiap orang punya harapan masing-masing. Tapi saya pastikan saya tidak akan punya dua wanita, atau cerita Ibu saya tidak setuju sama kamu. Itu tidak akan terjadi...Komitmen perlu pengenalan bukan. Saya tidak tahu apa saya bisa memenuhi harapan kamu, ...Saya tahu kamu punya trauma, saya pun sebenarnya tak ingin gagal lagi. Pun Mama saya membuat saya pusing, tiap menelepon selalu mengatur jadwal makan malam dengan seseorang..."
"Mengatur jadwal makan malam?" Aku binggung. Kenapa memang jika makan malam dengan Mamanya?
"Mengatur kencan buta..."
"Ohhh...." Aku tertawa sekarang. Ternyata bujang lapuk disuruh kawin lagi. Emak-emak memang selalu begitu. Mungkin mereka hanya ingin sang anak punya teman hidup saat dia tak ada lagi di dunia. Itu tak bisa disalahkan.
"Saya berani menemui orang tua kamu, atau mengajak kamu menemui Mama saya, sebenarnya malah bagus biar Mama saya tidak kuatir lagi...Tapi saya orang yang praktis, mungkin sibuk, tidak romantis. Kadang mungkin akan menempatkan pekerjaan di daftar atas prioritas. Mungkin ada banyak kekurangan saya, saya tidak tahu kamu bersedia menerima ini atau tidak. Gimana kalau kita coba jalan saja dulu."
"Saya juga tak bisa jawab sekarang... Saya tidak akan menghindar, tapi saya juga tidak bisa bilang iya..."
"Tak apa, saya hanya lega bisa mengakui ini ke kamu. Tak usah hindari saya. Asal kamu jangan tergoda yang lain. Saya kepikiran, saya ngeliat kamu duduk sama dokter-dokter ganteng itu kemarin, saya benar-benar kepikiran. Apalagi Andreas, dekat rumahnya sama kamu...?"
"Andreas memang ganteng. Dia single kayanya plus umur kita gak begitu jauh ... Dokter Joshua juga ganteng, aku seneng dikerubuti dokter-dokter ganteng kemarin, satu cafetaria iri sama aku..." Aku sengaja menyebutkannya untuk menggodanya. Dan dia menatapku tanpa bicara tanpa membalas, tampaknya sekarang dia tak tahu cara membalasku. Dan entah kenapa aku menyukai reaksinya itu, rasanya menyenangkan menertawakannya...Sekarang aku bisa sedikit santai menghadapinya.
"Fine... Aku pulang dok. Makasih buat pengakuan jujurnya." Aku berdiri dari tempat dudukku. Melihatnya masih duduk di bed. Dia menangkap tanganku dan menarikku lebih dekat.
"Kenapa..." Sekarang kenapa dia pegang tangan.
"Aku bakal kepikiran gak liat kamu dua hari besok..." Sekarang pipiku memanas. Dan jantungku mulai berdetak cepat karena kami sangat dekat.
"Lebay..." Aku tertawa kecil. Entah darimana aku punya keberanian mengatakan itu. Dan tiba-tiba dia berdiri dan membawa aku dalam pelukannya. Aku hanya bisa terbelalak ketika tangannya mengunci dan memelukku erat. Pelukan ini setelah sekian lama tak ada seseorangpun yang bisa memelukku lagi...
"Saya gak lebay. Aku lega kamu gak pa pa..." Dia mengatakan itu sambil mengelus rambuţku. Aku goyah ketika dia melepas pelukan eratnya. Dan sekarang menatapnya yang tersenyum lega.
"Aku pulang dulu..." Dan aku tak yakin aku sanggup tak memikirkannya mulai saat ini.
💝💝💝💝💝
Istilah khusus:
¹Hemorrhagic shock : Kejang yang terjadi ketika tubuh mulai mematikan dirinya sendiri karena kehabisan darah. Gejala awal termasuk penurunan suhu tubuh, tekanan darah, kehilangan kesadaran, kenaikan tiba-tiba detak jantung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Bungan Ajang
aku suka liat cowok bule brewokan😍 tapi aku gak suka liat suamiku brewokan🤣🤣 pasti ku cukur smpai habiss alamakkk🤣
2022-10-10
0
Neng Alifa
aaaahh saya butuh laki'' matang 😳😳
2022-09-28
0
Aurora
Aku ga suka cowok brewokan, kalau suamiku udah jenggotan kumisan...bawaannya pengen banget nyukurinnya😀
2022-08-29
0