Kepalaku sakit, Mama menangis semalaman karena aku menampar Ardy dan anak kesayangannya itu kemudian tak pulang sampai tiga hari ini.
Aku merasa bersalah.
Tapi kelakuan Ardy tak bisa ditolerir lagi. Tak bisakah dia tak terlibat pergaulan anak-anak orang kaya itu. Uang mereka tak punya seri, tapi aku bahkan mobilpun cuma punya mobil dari faselitas kantor. Tak bisakah dia sedikit meringankan beban yang kupikul sendiri. Aku menyesal menyetujui permintaannya untuk masuk ke universitas itu. Harusnya kukirim saja dia ke Jogja atau Malang.
Andai Papa masih ada... Mungkin aku masih bisa cerita padanya. Aku tak punya kesabaran menghadapi Ardy. Tapi Papa selalu punya celah bicara dengan Ardy, sementara Mama terlalu lemah hati terhadap apapun yang Ardy minta.
Aku baru selesai meeting di kantor pusat. Ini baru jam dua tapi rasanya benar-benar lelah. Janda tua bawel! Mungkin benar apa yang dikatakan Ardy... aku bukan single bahagia, tapi aku janda tua bawel.
Aku pernah menikah. Pernikahan impian, diumurku ke 24, princess meet prince story. Suamiku anak orang kaya berumur 28, hidupku terjamin. Tapi mimpiku itu hanya bertahan tidak sampai setahun karena di bulan ke enam akhirnya aku tahu suamiku punya dua wanita simpanan lainnya plus pacar tak resmi. Rasanya aku seperti orang bodoh dibohongin mentah-mentah...
Tidak! Aku tak akan membiarkan diriku hidup dalam kebohongan besar macam itu.
Setelah itu hidupku berubah 180°, kehidupan mimpi itu berakhir, aku bercerai, memulai karierku dari bawah. Tak lama Papa mulai sakit-sakitan, Mama juga tak stabil kondisinya karena terpengaruh Papa.
Bertahun-tahun aku berusaha sekuat tenaga untuk bekerja mendapatkan pengakuan karena aku bisa melihat aku akhirnya yang harus berdiri menyokong keluargaku. Aku janda, reputasiku sudah tak mendukung lagi untuk mendapatkan pangeran. Yang bisa kulakukan adalah berdiri menyokong diriku sendiri.
Luka akibat perceraian cukup membuatku melihat cinta berbeda. Kepercayaanku hancur, statusku janda yang kadang membuat orang berpikir aku gampangan mau diajak terlibat hubungan sesaat.
Akumulasi pengalaman hubungan pribadi yang gagal selama bertahun-tahun cukup membuatku yakin lebih baik berdiri di atas kaki sendiri. Aku telah menutup diri karena banyak kekecewaan yang aku alami.
Kupikir akhirnya, bahagia itu adalah melihat keluargaku tercukupi. Aku tak muda lagi, ... cukuplah berbakti buat Mama. Membuatnya bahagia di penghujung hidupnya. Tak kurang satu apapun.
Tapi setiap jalan memiliki tantangannya sendiri. Hidup tak pernah mudah bukan.
"Bu, sekertaris bilang Pak Vincent minta meeting anggaran jam 4." Dhea menyambutku langsung dengan jadwal meeting internal.
"Oke. Jam 4 kan. Mana yang harus saya tandatangan." Pekerjaan masih menumpuk, sudahlah Ardy bukan anak kecil, nanti juga kalau uangnya habis dia pulang minta duit.
Meeting anggaran dengan beberapa kepala unit berlangsung panjang sampai lewat jam 6, karena mereka punya banyak permintaan.
Di akhir meeting sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselku. Dari Lenna, adikku.
'Kak, Mama kayanya kambuh lagi.' Aku menghela napas dan memijat kepalaku membacanya. Sementara yang lain sudah keluar aku masih duduk.
Mama punya penyakit maag yang sudah menahun. Jika dia kambuh, bahkan dia tidak bisa bangkit dari tempat tidur, tidak bisa makan, kadang berakhir dia harus opname.
Aku menelepon Lenna.
"Obat masih ada? Minta resep ke dokter Rina, kayanya bisa langsung tebus kan." Lenna yang bisa kuandalkan sekarang. Dia selalu bisa membantuku.
"Bisa kak, ini aku udah di apotik. Sisa satu, aku beli lagi."
"Ya udah. Nanti bentar aku pulang." Aku menutup telepon.
"Ada yang sakit?" Ternyata si Bambang masih disampingku. Kupikir tadi dia sudah keluar.
"Engga, cuma mama yang maagnya kambuh lagi?"
"Ohh, gastritis, GERD, tukak atau IBS?" Kalau ngomong ke dokter pasti langsung detail pertanyaannya.
"Dulu diagnosisnya GERD."
"Kalo parah opname aja, biar bisa ditangani."
"Engga udah ada resep yang biasa."
"Diresepin Prilosec?"
"Iya kayanya, saya lupa nama obatnya..." Aku tak bisa mengingat nama obat yang dia hapal di luar kepala tentu saja. Perhatian juga ke rekan kerja si Bambang.
Teleponku berdering dari Mama kemudian. Lenna di apotik apa dia baik-baik saja. Aku langsung mengangkatnya.
"Iya Ma."
"Mel, cari adek kamu kenapa dia belum pulang Mel. Telepon Mama gak diangkat." Aku menghela napas.
"Iya ntar Mel cari. Mama istirahat aja. Ntar aku pulang." Anaknya lakinya itu udah gede, udah bisa jaga diri sendiri. Selalu diperlakukan kaya anak kecil. Aku tak habis pikir. Tapi bagaimanapun itu anaknya.
"Pak Vincent masih ada yang mau dibicarakan."
"Tidak, sudah semua tadi." Dia diam sebentar. "Kamu perlu bantuan soal Mamanya? Biar dokter Hendra periksa Mama kamu, bawa aja kesini. Kalo parah opname aja."
"Engga, Mama cuma banyak pikiran aja... Makasih Pak . Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya Pak. Malam Pak." Aku harus mencari Ardy sekarang. Bawa balik pulang anak kesayangan Mama itu.
"Iya malam..." Aku menghilang dari ruangan kembali ke ruanganku sendiri. Mencoba menelepon Ardy, tapi dia tidak mau mengangkat teleponku tentu saja. Anak ini dia tak tahu Mama memikirkannya sampai sakit.
Berkali-kali menelepon tak membuahkan hasil aku kesal. Adikku itu tak pernah menghargai apa yang aku usahakan buat dia.
Aku pulang, dijalan aku coba lagi. Sampai ke basement ketika akhirnya ditelepon balik oleh Ardy.
"Pulang! Mama sakit mikirin kamu gak pulang anak kesayangan..." Aku langsung ke inti pembicaraan tanpa tedeng aling-aling lagi.
"Aku gak mau pulang. Aku mau ngekos tinggal sendiri. Gak usah ngurus aku lagi,..." Dan mendengar kata-katanya langsung membuatku sakit kepala.
"Gak bisa! Enak aja, Mama mana setuju kamu ngekos, seenak kamu pulang malem, seenak kamu kelayapan, sakit tambah sakit tuh Mama. Kamu jangan macem-macem. Pulang sekarang!"
"Aku bisa hidup sendiri. Cape dengerin kakak sama Mama tiap hari, pokoknya aku gak mau pulang. Kirim 5 juta ke rekening aku sekarang, aku nyari kos! Aku tinggal di apartment temen aku, kakak gak usah repot ngurus aku!"
"Lu pikir gue ATM lo, lu jangan macem-macem!Pulang sekarang! Kasian Mama!" Seenaknya minta 5 juta dia pikir gue metik duit di pohon!
"Terserah kakak aku gak akan pulang! Bye!"
"Ardy!" Dia menutup teleponku begitu saja.
"Hati-hati!"
"Ehh!" Seseorang mendorong bahuku ke samping, aku tak memperhatikan jalanan ramai area parkir, hampir saja aku keserempet mobil.
"Liat-liat kalau jalan, jangan sambil teleponan..." Sejak kapan dia ada dibelakangku. Apa dia dengar semua perkataanku.
"Maaf. Makasih Pak." Tiba-tiba aku merasa malu sia mendengarkan semua yang kukatakan. Dan mataku memanas karena kesal mendengar Ardy ingin kos. Dia pasti membuat Mama sedih dan ini adalah kesalahanku karena menamparnya.
"Apa kamu baik?"
Kalimat itu. Sudah lama sekali tak ada seorangpun yang bertanya apa aku baik-baik saja. Kenapa aku tiba-tiba merasa terpuruk begini.
"Saya baik. Makasih Pak, ... Saya harus kembali. Makasih lagi..." Tiba-tiba aku merasa ingin menangis. Aku berbalik dan langsung meninggalkan Boss ku itu dengan cepat karena air mataku tiba-tiba tak memberiku waktu.
Aku tak perduli kesopanan lagi, lebih tak baik jika tiba-tiba aku menangis didepannya, akan lebih memalukan lagi. Profesional mana yang menangis didepan atasannya.
Aku hanya ingin menangis di mobil sendiri.
Karena selama ini aku juga sendiri.
Semuanya akan baik-baik saja, aku hanya perlu menguatkan diriku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Mebang Huyang M
mampir ya thor. nu cerita kyk kehidupan nyata. dlm bersaudara klu kepala keluarga udh da ada. yg sering terjadi salah satu anaknya pasti jadi tulang punggung keluarga.
2023-03-07
0
Ning cute
jadi anak perempuan pertama itu memang berat .😓
2023-03-07
0
Gabrielle
Greget sm Ardy, mamanya ngebela lagi.
Kasus Ardy ini..jgn selalu di turutin apa maunya...ksh pelajaran.
2022-08-29
0