"Sean udah berapa anaknya Mel." Aku bicara pada Mama selepas Sean pergi.
"Satu Ma." Kujawab singkat pertanyaannya.
"Dia masih inget jengukin Mama, baik banget Sean."
"Dia emang selalu baik." Tapi apalah daya dia bukan jodohku. Hubungan kami tak pernah disetujui oleh keluarganya.
"Kamu gak pengen cari lagi Mel. Ngapain kamu sendiri aja sampai sekarang, kamu masih muda. Masih bisa dapetin yang lain. Mama tinggal sama Lenna aja bisa Mel. Ngapain kamu nungguin Mama, pikirin diri kamu sendiri."
"Nantilah Ma, nunggu aja kalo ada gak kemana." Aku menghindari topik ini, pernikahan bukanlah hal yang mudah. Salah-salah membuat masalah baru yang lebih rumit.
Mama melihatku tapi tak bisa bicara banyak. Dia harusnya tahu sakit hatiku, putus dengan Sean saja membuatku terpukul. Rasanya kepercayaan diriku terbuang entah kemana.
Hanya karena aku janda dan bukan dari keluarga berada. Rasanya tak adil. Tapi aku sadar keadilan itu adalah masalah dimana kau berdiri. Jadi sudahlah, mendapatkan Sean sebagai sahabat adalah keadilan yang kudapatkan.
Tak ada yang perlu disesali.
Besok akhir pekan untungnya. Mama pulang, aku bisa mengambil jadwal free siang hari. Tapi setelah itu aku harus berhadapan dengan pertanyaan Mama kenapa Ardi belum pulang.
Seseorang mengetuk pintu. Mungkin ada tamu dari bangsal sebelah berkunjung. Aku melihat ke ke samping dan yang kudapatkan adalah ... Bambang!?
Ngapain si Bambang kesini. Salah jurusan mungkin.
"Dok? Kok disini?" Aku masih tak percaya dia ada disini.
"Saya kebetulan lewat mau ke rumah Mama saya."
"Kok tahu ruangan saya."
"Kamu yang nyebutin ke dokter Sean." Ohh, iya aku nyebutin depan dia ya.
"Mau jenguk sebentar boleh?" Ohh aku tak sadar menghalangi jalannya.
"Ehh, iya..."
"Siapa ya Mel?" Mama langsung kepo melihat penampakan bule.
"Ini Dokter Vincent, pimpinan rumah sakit tempat Mel kerja Ma."
"Dokter Vincent, makasih udah kesini."
"Gimana kondisi Ibu." Dia menyalami Mama. "Ini ada sedikit makanan,..." Dia menyerahkan padaku. Ini makanan yang boleh dimakan Mama cereal, yogurt, dan roti. Hmm... dokter emang tahu gimana bawain makanan.
"Udah baikan, udah boleh pulang besok kata dokter..."
"Cerealnya nanti makan jangan pakai susu. Susu gak baik buat luka lambung."
"Ohh, iya. Thanks Dok." Bahkan dengan baik hati mengingatkan jangan pake susu.
"Dok, bahasanya fasih banget ya. Kaya orang Indonesia asli." Langsung emak kepo kok bisa si Bambang ngomongnya lancar pake banget.
"Saya lahir di Bali, jadi bahasa Ibu saya bahasa Indonesia. Ngomong Bali pun bisa Bu." Ohh begitu baru tahu juga. Aku hanya menguping sementara aku memasukkan bawaannya ke lemari samping bed Mama.
"Ohh begitu, pantesan."
Dia bicara dengan Mama mengenai sakitnya. Memberikan saran seperti layaknya dokter. Aku hanya mendengarkan, membiarkan mereka bicara. Nampaknya Mama senang dengan keramahannya. Ada yang berbeda, di kantor biasanya dia bersikap lugas, dan bicara apa yang perlu dibicarakan. Ternyata dia punya sisi lain...
"Kalau begitu, saya kembali. Jaga kesehatannya Ibu." Tak lama dia pamit.
"Terima kasih Dok..."
"Saya antar ke depan Dok." Aku mengikutinya keluar ke depan.
"Adikmu udah pulang." Tiba-tiba dia bertanya soal Ardy.
"Belum..." Sekarang semua urusan keluargaku tiba-tiba diketahui olehnya.
"Hmm susah ya." Dia menatapku dengan simpati. Aku tak tahu harus bicara apa.
"Nanti juga dia pulang kalau duitnya habis."
"Menyelesaikan sesuatu menggunakan uang bukan hal yang bagus. Kamu gak bisa duduk bicara dengan adikmu?" Sekarang aku merasa dia bukan orang yang tepat untuk membicarakan ini.
"Saya bisa atur. Makasih Dok..."
"Sorry, mungkin saya terlalu ikut campur yang bukan urusan saya." Aku diam saja. Akhirnya dia tahu bukan tempatnya mengomentari itu.
"Makasih sudah kesini Dok... Terima kasih sudah meluangkan waktu." Dia tersenyum kecil.
"Kalau perlu bantuan apapun. Jangan segan bilang." Entah kenapa alasannya dia bilang begitu. Mungkin kasihan padaku. Apa yang perlu dikasihani? Kenapa dia perlu mengasihaniku. Karena aku sendiri? Aku bisa mengurus urusanku sendiri selama ini.
"Makasih Dok. Saya tidak berani menyusahkan Dokter." Dan aku hanya bisa berterima kasih untuk rasa kasihannya.
Itu bisa membuat sedikit terhibur mungkin.
🧡🧡🧡🧡
Ardy benar-benar membangkang kali ini.
Sudah dua Minggu sejak Mama pulang dia tidak mau pulang ke rumah. Mama mengiriminya uang untuk kos. Dia tidak bisa bertahan terhadap permintaan anak bungsu tersayangnya itu. Aku mengurut dada kesal saat Lenna memberitahuku. .
Terserahlah! Asal dia menyelesaikan kuliahnya walau dengan nilai pas-pasan yang penting dia kuliah.
Sementara Mama sedang sumringah bersama Lenny yang pulang kerumah dengan cucu pertamanya. Ada tangisan bayi di rumah ini, dan itu sedikit menghiburku. Keponakan pertamaku, walaupun kemungkinan besar aku tak akan punya anak sendiri, aku akan punya banyak keponakan dari adik-adikku. Aku sudah punya pangkat level dua sekarang. Seorang Bibi.
"Kamu udah ngekos kuliah yang bener, kalau ada laporan kamu bolos awas kamu." Dia diam saja ketika Sabtu dia pulang ke rumah dan aku menempatkannya dalam sidang.
"Ardy, denger gak!?"
"Iya-iya ... Bawel." Dia masih mengambil kesempatan untuk mencoba kesabaranku.
"Kamu ngekos dimana? Mama udah tahu alamatnya?"
"Udah, deket kampus." Ada rumah mau nge-kost, biar bebas gak ada yang ngomelin lagi. Tapi kalo abis duit merengek juga ke orang tua. Kenapa adek yang satu ini pikirannya gak kebuka.
"Ngekost tuh hati-hati, kalo ikut temen tuh liat temennya bener gak. Jangan ikut temen gak bener yang ngobat, sekali kena ngobat gak ada lagi penawarnya. Abis duit kamu, kena masuk cidukan polisi, tahu berapa duit masuk penjara." Aku masih merepet ngasih tahu adekku itu. Terserahlah dia mau ngekost asal jangan bikin masalah.
"Iyalah kak, aku tahu diri juga kali..."
Dia pergi dari sampingku. Gak tahan mungkin aku omelin terus. Aku ngomel juga demi kebaikan dia. Tapi adekku ini dari kecil dimanjain gak pernah dikerasin. Ngomong keras dikit langsung tersinggung. Belum tahu dia kerja nanti gimana.
Aku jadi menghela napas kepikiran. Mudah-mudahan gak ada masalah membiarkan dia nge-kost.
\=\=\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Maya Sari Niken
30 thun ketuaan tuh muka dr vincent
2022-02-07
0
Estri Maulidza
dapet lh ilmu tentang sakit asam lmbung ..
2021-11-09
1
🇵🇸nGutanG🇮🇩🏀♌
anak kalau selalu d bela,akan cenderung egois
2021-06-28
4