Kurasa semalam aku bermimpi...
Mimpi yang begitu melenakan. Bersandar di lengan yang hangat itu adalah mimpi indah, dan tindakan yang terlalu berani, membuatmu pikiranmu mengawang dan bibirmu tersenyum. Aku kelewatan tapi dia sama sekali tak keberatan. Entah apa artinya, tapi aku sadar itu hanya sesaat.
"Terima kasih sudah mengantarku." Saat kami sampai dan aku harus berpisah dari sandaran lengan yang hangat itu. Aku bisa berpura-pura ini hanyalah pengaruh wine.
"Bukan apa-apa, terima kasih juga buat makan malamnya." Aku tersenyum, malam sudah berakhir dan aku takut akan memimpikannya lagi keesokan harinya.
Sekarang matahari sudah tinggi jadi mari kembali pada kenyataan. Hidup adalah sebuah hal yang harus diperjuangkan.
Sabtu ada pekerjaan jadi mari ke kantor, kecuali Minggu, Sabtu biasanya aku ke kantor tapi tak sampai sore. Mendapatkan sebuah karier bagus adalah sebuah anugerah yang harus dijaga. Aku bersyukur untuk itu dengan menjaga semua tanggung jawabku.
Aku memakai pakaian sedikit berbeda, gaun casual dress motive corak bunga-bunga berwarna dominan peach yang kusukai. Aku merasa cantik, seperti kupu-kupu yang terbang memamerkan sayapnya. Setengahnya aku merasa aku masih terpengaruh anggur semalam.
Soal Bambang. Aku tahu dia berbahaya, dia hanya mencari teman dan aku tak mau jadi temannya. Cukup semalam meminjam lengan hangatnya bercerita seolah kami adalah seorang teman dekat, tapi itu sudah cukup karena aku jelas bukan teman yang penurut.
"Bu Melisa, pagi... cantik sekali hari ini." Seseorang menyapaku.
"Dokter Andreas, pagi juga. Terima kasih..." Aku langsung tersenyum pada dokter tampan itu. Salah satu dokter favorit disini. Kurasa dia lebih muda dariku, aku tak tahu umurnya. Tapi tetap saja dokter spesialis bedah orthopedic ini sangat tampan, kepala unit Orthopedic and Traumatologi. Bahkan jika disandingkan dengan si Bambang mereka selevel.
Dan My Godness, yang ini bisa membuatmu ingin sengaja jatuh dan terkilir, mendapat gendongannya dan pijatannya yang menyembuhkan . Pikiranku membuat permainannya sendiri sekarang. Dam*n dokter-dokter tampan ini kenapa belum punya label semua. Apa mereka terlalu senang berteman, tampaknya dengan label mereka sebanding dengan artis korea sekarang, property fans milik bersama.
...
Dokter Andreas 🤣🤣🤣 Jangan histeris 😁😁😁...
...Well, kayanya dia lebih ganteng dari Bambang. Dr Andreas, I lop you full 🥰🥰🥰❤❤❤😅...
Property Milik Bersama - Jangan Saling Klaim 🤣
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
"Mau ke lantai atas?" Dia menekan lantai yang sama denganku.
"Iya mau ada meeting dengan Pak Vincent."
"Oh oke."
"Gimana ngantor disini? Sebelumnya di Tangerang ya."
"Yah, sama aja lah. Cuma beda tempat aja." Disini lebih banyak tempat cuci mata.
"Saya juga tinggal di Tanggerang, ..." Dia menyebutkan sebuah perumahan di sana.
"Ohhh gak jauh kita ternyata..." Kejutan ternyata dia punya tempat tinggal yang tak jauh dariku.
"Ohhh iyakah. Sangat kebetulan sekali ternyata Bu Melisa." Kami tiba di lantai atas dan keluar bersama sambil mengobrol kecil.
Bambang rupanya keluar ruangannya dan bicara dengan assistennya, dia tentu melihat aku lewat bersama Andreas. Tapi karena cukup jauh aku tidak menyapanya.
"Kalau begitu saya ke ruangan saya." Aku menuju cluster ruanganku sendiri yang terpisah dari cluster ruangan Director.
"Baik Bu Mel..." Aku mengucapkan salam perpisahan padanya. Merasa tersanjung hanya karena dia mengatakan aku cantik, nampaknya akhir pekan ini akan banyak hal bagus terjadi.
"Bu, internal auditor sama Pak Vincent minta meeting soal case service MRI yang kemarin abis jam makan siang."
"Ohh, ya udah. Jam 1 kan..." Sepertinya aku akan pulang lewat jam 3 hari ini, tapi karena ini sidang auditor aku hanya mendengarkan laporan untuk memberikan approval, tanggung jawab sudah beralih ke Director.
Aku mengecek ponsel dan menemukan bahwa ada pesan dari Lenna. Ardy entah pergi kemana dari pagi. Dia sedang libur semester bukan.
'Biarkan saja Len, dia gak akan berani macam-macam lagi. Dia bukan anak kecil. Kakak cape ngawasin dia kaya bayi.'
Perkerjaan berjalan seperti biasa kemudian. Jam makan siang aku bertemu dengan Andreas lagi di cafetaria.
"Bu Mel, saya duduk disini ya..." Aku sejenak terpaku karena dia tiba-tiba duduk didepanku. Aku langsung melihat sekelilingku. Menjadi awas jika ada seseorang yang menatapku dengan tatapan kebencian. Penggemarnya yang cemburu...
"Kenapa Bu Mel? Apa saya panggil Mel aja ya... Gak enak panggil Bu."
"Dokter Andreas..." Aku mau protes, karena beberapa orang gadis perawat dan dokter sepertinya menatap ke arah kami. Seperti ada hawa dingin yang menyasar ke arahku.
"Panggil Andreas aja,..." Dia melihatku yang masih menoleh kesana kesini. "Kenapa? Kok lihat kanan kiri Mel..."
"Takut ada yang bakal ngirim surat kaleng, ngempesin ban..."
"Hah?" Dia tak mengerti perkataanku.
"Kenapa kamu duduk sini, ntar saya diteror penggemarmu." Sontak dia ngakak. Sementara aku menjadi lebih canggung karena lebih banyak orang melihat ke arah kami.
"Kupikir kenapa, apa mereka seberani itu ngacem top executive..." Dia masih tertawa. "Saya sebenarnya kesini minta perlindungan. Setiap saya makan saya gak tahu kenapa banyak yang mau semeja sama saya. Sampai saya pusing dengar celotehan mereka."
"Ohh begitu. Terima kasih sudah sangat terus terang..." Aku meringis.
"Saya bercanda."
"Kurasa gak bercanda." Dia tertawa lagi melihatku mendelik memandangnya.
"Saya belum pernah kenalan secara pribadi dengan Bu Mel. Suprise melihat orang yang begitu muda bisa duduk di top executive. Dirumah sakit ini banyak orang-orang muda hebat."
"Itu kerja keras Dok. Saya sudah 10 tahun di group ini. Tadinya saya memegang Cabang Tangerang yang lebih kecil."
"Begitu, saya tadinya berharap saya ditempatkan di Tangerang juga. Lebih dekat ke rumah, tapi ternyata saya ditempatkan ke sini. Saya juga baru sekitar 6 bulan disini, tadinya pegang di Surabaya, lalu saya minta ke sini."
"Ohh begitu."
"Can I join you two?" Seseorang datang mendekati meja kami, dan bicara dokter cakep lagi. dr. Joshua Woo, Kepala Unit Bedah Plastik dan Rekonstruksi. Ini jadi kepala bedah plastik estetik baru juga, yang ini import dari Korea langsung. Dia cuma bisa Inggris, Indonya masih spelling...
Aku meringis padanya, kenapa kepala unit kece-kece dan single ini berkumpul semua di mejaku.
"Dokter Joshua, sihlakan dok." Dan aku mempersihlakannya duduk dan mengikutinya bicara dengan bahasa yang dia mengerti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Anita Candra Dewi
menurutku wajah dr andreas kek org india, apa krn brewokan ya
2024-11-06
0
gian rasyid
kagak bakal histeris
yg bikin histeris visual di Alexa...kalo d sana....oh my God
2023-10-19
2
Ika Yulia
kupikir brewok terkeren disandang Nicholas thor, ternyata ada yang lain
2023-09-04
0