"Sejak kapan Papa pergi." Si Bambang tiba-tiba bertanya.
"Sudah lewat tiga tahun."
"Sakit?"
"Diabetes kronis jadi gagal ginjal dan komplikasinya."
"Itu pasti berat buat Mama kamu, perjalanan penyakit ginjal tidak mudah. Tak heran dia tidak stabil kondisinya."
"Iya begitulah."
"Bapak masih lengkap orangtua." Aku balik bertanya untuk membalas obrolannya.
"Masih, Mama untungnya sehat. Papa juga sehat. Walaupun Mama kadang punya kekhawatiran berlebihan terhadap anaknya kukira." Aku rasa aku tahu apa yang dikhawatirkan Mamanya. Kapan anak gue punya keluarga.
"Saya bisa menebak kekhawatirannya." Aku jadi ingin tersenyum dan menertawakannya. "Mungkin Pak Vincent juga harus coba mendengarkan..." Dia tertawa mendengar sindiran balikku.
"Mungkin..." Dia ikut tersenyum, tak tahukah dia kalau senyumnya itu bisa merontokkan dunia banyak wanita. Benarkah tak ada yang bisa mencapainya.
Tapi bagaimanapun cinta itu hanya perasaan sesaat. Butuh lebih dari cinta untuk mempertahankan hubungan. Butuh tanggung jawab, kesetiaan dan komitmen.
Kami saling memandang, mungkin kami berdua tak percaya cinta. Tapi kami di pemahaman yang sama terhadap keluarga, kami tak pernah meninggalkan keluarga kami bagaimanapun beratnya.
"Kapan-kapan mau makan malam dengan saya." Bambang tiba-tiba bertanya.
"Makan malam?"
"Iya kita bisa ngobrol lebih banyak."
"Ehmm saya, ..." Aku tak yakin bagaimana menjawab ajakan seperti ini. Makan malam adalah punya tendensi konsekuensi yang berat. "Saya rasa mungkin Pak Vincent belum tahu siapa saya."
"Maksudnya..."
"Saya akan terus terang, takut Pak Vincent salah menyangka pada saya. Saya tak tertarik pada pembicaraan hubungan personal apapun dari siapapun. Kecuali Anda Keanu Reeves atau Brad Pitt, atau sekelas dewa Thor .." Sekarang dia tertawa terbahak-bahak. Itu perkataan serius, dan tidak lucu, apa yang dia tertawakan.
"Hei, saya masih ada hubungan sepupu dengan dua orang itu." Dia membalasku sambil tertawa, tapi untungnya dia tak menggangapku tidak sopan.
Aku cuma meringis lebar dengan candaannya. Aku terlalu takut terlibat dengan tipe-tipe penghancur seperti ini. Sekali bermain api kau akan terbakar, seperti ngegat merindukan api. Tidak hidupku sudah terlalu banyak masalah untuk ditambah lagi punya harapan terlibat sesuatu dengan tipe penggila kerja seperti ini.
Dia mungkin menganggap wanita sebagai bagian dari jadwal kerja untuk memulihkan kondisinya. Semacam cara memulihkan fisik, tapi tidak mau ada ikatan emosi didalamnya. Seperti teman dengan manfaat dan mungkin sebagai balasannya dia menyediakan dukungan finasial atau pengaruh. Tidak menerima bantahan tidak setuju, atau rengekan. Cuma keinginannya harus dipenuhi dan dia akan memberikan sesuai kesepakatan. Itu pikiranku terhadapnya. Terlibat dengannya adalah sebuah bencana emosional yang harus dihindari...
"Ini bukan undangan kencan, hanya obrolan rekan kerja. Tenang saja, saya tidak berniat macam-macam. Jika saya macam-macam pun saya ngomong dulu." Itu kondisi bagaimana, macem-macem ngomong dulu. Nanti kalo akunya meleleh duluan gimana. Mengerikan, aduh merinding... menakutkan.
"Jawaban saya tetap tidak untuk makan malam,... Saya tidak mau terlibat personal pertemanan pribadi dengan Anda. Cukup di batas rekan kerja. Banyak yang bersedia terlibat dengan Pak Vincent, ini saya cuma mendengar sirkulasi gossip kantor. Ini bukan ketidaksukaan pribadi, tapi saya hanya ingin bekerja dengan tenang, tidak berniat terhubung dengan siapapun. Saya sudah punya cukup masalah..." Aku menjawabnya terang-terangan karena dia juga terus terang. Dalam usia kami, kami sudah belajar membuat sesuatu lebih sederhana dan jelas kurasa.
Sekarang dia melihatku dan tersenyum. Sementara tangannya terlipat didepan dada. Astaga dia memang ganteng tapi terlalu berbahaya. Dia diam saja dan membuat pikirannya sendiri dan terus terang itu membuatku merasa takut.
"Saya nampaknya punya label buruk di mata Bu Melisa."
"Saya tidak perduli label Anda Pak Vincent, yang penting kerjaan kita lancar. Bisakah kita berdamai, jangan bicarakan ini lagi, saya hanya ingin berkerja dengan tenang. Itu saja... Plus itu lebih menghemat waktu Anda karena tidak perlu bertanya lagi apa saya mau makan malam dengan Anda..." Sekarang aku memohon. Agar dia tidak mengajakku makan malam lagi.
"Well,...well...well..." Sikapnya membuatku merinding. Dia bukan orang yang akan semudah itu menyetujui tampaknya, tidak menyerah begitu saja walaupun dengan jelas-jelas aku menolaknya walau hanya untuk sekedar makan malam.
"Sudahlah, ayo makan. Hari ini cafetaria makanannya cukup enak."
Dia merubah topik ke pembicaraan lebih ringan. Dan kemudian ada beberapa dokter kepala unit yang bergabung dengan kami. Itu cukup membuatku bernapas lega.
Lain kali aku harus makan dengan seseorang, tak boleh duduk sendiri.
🧡🧡🧡🧡🧡
"Bu ada dokter Sean mau bertemu."
Ahhh Dokter Sean? Aku sudah mau pulang, mau melihat Mama secepatnya. Sean, dokter ganteng ini adalah mantan pacarku bertahun-tahun lalu, dia bekerja di rumah sakit tempatku bekerja dulu. Spesialis bedah thorax. Tapi kami tak disetujui Mamanya karena statusku. Empat tahun lalu dia sudah menikah dan punya satu anak, kami memutuskan tetap jadi teman saja.
"Hai Mel,..."
"Sean. Kau ada disini."
"Iya ada seminar. Gimana kantor baru?"
"Baik, kerjaannya sama aja, cuma skalanya lebih besar disini."
"Mamamu masuk opname ya. Rina bilang dia kambuh lagi."
"Iya ini mau balik ke sana sekalian ke tempat Mama."
"Ohh ya udah, aku juga harus balik ke RS." Kami keluar bersama kemudian sambil ngobrol seperti biasa.
Dan aku berpapasan dengan Bambang di lift. Dia melihat keakrabanku dengan Sean. Aku terpaksa menyapanya. Kenapa aku harus ketemu dengan dia lagi.
"Sore Dok." Kuputuskan memanggilnya Dok saja dari pada Pak. Lebih resmi. Dia cuma mengangguk. Sean tidak memperdulikan Vincent masih tetap mengobrol denganku dengan akrab. Karena dia tidak tahu siapa Vincent.
"Aku parkir di B4, kita ketemu di RS aja oke."
"Oke aku di B2, aku di tempat Mama, Magnolia B5. Duluan ya..." Aku turun duluan.
"Oke ketemu di RS." Sean melambai padaku.
Dan ternyata si Bambang parkirnya di lantai yang sama.
"Ternyata Dokter ganteng itu alasan sebenarnya." Sebuah celetukan keluar langsung begitu lift tertutup. Si Bambang tersenyum padaku begitu aku melihat kepadanya.
"Kenapa Dok? Ohh Sean, dia teman lama, udah punya anak satu." Aku tahu maksud sindirannya tentu saja.
"Ohh..."
"Saya pulang dulu Dok. Mau lihat Mama di RS. Sore Dok. Mari...." Dia bahkan tidak sempat menjawab. Aku membungkuk sedikit dan langsung pergi.
Kubiarkan dia menatap kepergianku. Dia perlu tahu bahkan aku tak berani terlibat apapun dengannya. Jadi aku lebih baik menghindar sejauh-jauhnya sekarang.
Pak Dokter Vincent, kita tidak akan terlibat hubungan apapun selamanya. Bahkan hanya makan malampun tidak akan pernah terjadi.
Lebih baik aku lari sejauh jauhnya dari tipe penghancur seperti dia, tak memberinya kesempatan mencoba apapun walaupun cuma makan malam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
medi media
keren
2022-01-24
1
PyMelatii Axcel
mungkin beginilah ya contoh kisah kasih dokter di RS . tipe tipe org yg highclaass pasti akan bertemu cinta yg highclass pula.
remahremahn kayak aku gini emg kebanyakan ngehalu Pgn ngemilikin yg model gitu 😂😂
2021-11-08
3
Sari Nanda Pratiwi
terkadang aku berterima kasih dengan pengalaman pahit di masa lalu.
karena itu menjadikan ku perempuan yg lebih kuat,brani & mandiri.
2021-11-03
1